Mag-log in“Hoam!” Aku menguap berkali-kali semenjak duduk di depan computer.
Rasanya aku sangat mengantuk. Semalam tidurku tak nyenyak gara-gara misteri ketukan pintu depan. Bapak dan Ibu bahkan tidak mendengarnya. Apakah ada makhluk tak kasat mata yang menggangguku? Dih! Serem! Pagi ini langit mendung. Matahari masih enggan muncul, menyisakan udara dingin yang menyusup melalui celah pintu toko. Aku sudah datang lebih awal seperti biasa, tapi Mas Herman belum terlihat batang hidungnya. Aku menyiapkan sumpah serapah untuknya. Mentang-mentang aku anak baru, dia seenaknya mempermainkan waktu. Pukul sembilan lewat, barulah dia muncul. Dengan gaya sok asik, dia membawa sebuah bingkisan di tangannya. Mau nyogok aku, pasti. Tapi aku tidak mudah dibodohi. “Pagi, Ros! Tumben sepi.” Dia masuk ke toko kemudian melepas jaketnya. “Ini ada oleh-oleh buat kamu dari Ibuk.” Jumat adalah hari pendek, sebentar lagi dia pergi jumatan. Enak sekali dia menjadi seorang laki-laki. Datang terlambat dan pulang lebih awal. Aku harus menyiapkan banyak stok sabar untuk menghadapi kelakuan Mas Herman “Hem!” jawabku singkat. Aku sibuk menyetaples makalah yang pagi ini datang tiada henti. Banyak sekali tugasku hingga rasanya tubuh ini lelah. “Nanti aku bantuin, istirahat dulu.” Mas Herman langsung duduk di depan komputer. Dia sangat santai dan malah memutar musik. “Katanya mau bantuin, Mas? Kok malah main game?” Aku heran mengapa banyak lelaki yang suka main game. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang putus dari pacaranya hanya karena lebih suka bermain game di ponsel daripada balesin chat pacarnya. “Bentar lagi. Tinggal dikit gitu, kok.” Mas Herman masih melanjutkan permainannya. Rasanya kepalaku sudah ingin meledak. Aku sampai lupa sarapan karena pagi ini dia bilang datang terlambat. Sampai di toko sudah ditunggu beberapa mahasiswa. Aku tidak sempat memakan bekalku dan sekarang aku kelaparan. “Aku lapar, mau makan dulu. Tolong jagain lilinnya. Eh, kertasnya.” Pagi ini terasa panas meski mendung. Aku menghidupkan kipas angin supaya tidak kepanasan, tetapi kertas fotokopi yang sudah kurapikan tanpa sengaja tersenggol hingga membuatnya berantakan. “Sudah, nanti biar aku saja. Kalau mau makan ya makan aja. Kalau kamu mati kelaparan nanti dikira aku yang bunuh kamu.” Aku segera mengambil tas kemudian membuka kotak bekal. Aku membawa nasi goreng dan ayam suwir sisa dari hajatan semalam. Sayang sekali kalau nasinya dibuang, mending dimanfaatkan menjadi nasi goreng. Aku mulai memakan nasi goreng suapan demi suapan. Tidak lupa aku mengambil air mineral yang ada manis-manisnya. Di toko ini disediakan galon supaya kami bisa minum sepuasnya. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Aku menutup bekal makanku, tetapi aku tidak menyangka jika sedari tadi ada seseorang yang memandangku sedang berdiri di dekat Mas Herman. Aku segera membuang muka dan membelakanginya. Bisa bisanya aku lupa jika makan di sini bisa kelihatan dari toko. “Siapa itu, Man? Imut banget.” Lelaki yang tidak kuketahui namanya itu masuk ke toko. Eh siapa dia? Tidak ada yang boleh masuk kecuali mau print dan fotokopi. “Anak baru, baru seminggunan di sini,” jawab Mas Herman tak acuh. “Kenalin, dong! Biar ada teman kencan.” Kudengar lelaki itu merayu Mas Herman, tetapi tidak ditanggapi sama sekali. “Kenalan aja sendiri!” Mendengar percakapan mereka membuatku bergidik ngeri. Lelaki kalau ngomong tanpa saringan. Padahal sudah jelas aku mendengarnya. Aku segera membereskan bekal makanan kemudian memasukkannya ke dalam tas. Tidak lama kemudian lelaki itu mendekat. “Ehem, boleh kenalan, Dek?” tanyanya. Aku menoleh ke belakang dan menggeleng. “Nggak boleh!” “Idih, galak amet. Jadi berasa tertantang!” “Mas! Suruh temanmu pergi. Geli banget aku dengernya!” Seumur-umur aku tidak pernah dekat dengan lelaki, kecuali teman kerja. Lelaki itu melongo mendengar ucapanku. “Keluar, gih! Denger sendiri kan?” ucap Mas Herman. “Yaelah, Man! Kenalin napa? Kamu kan dah punya pacar.” “Rosita. Nanti mau kuliah di sini juga.” “Udah lulus sekolah berarti, dah cukup umur lah ya, kalau diajak kencan.” Dia mengerlingkan mata hingga membuatku ingin muntah. “Maaf, aku mau cuci tangan dulu.” Aku pergi meninggalkannya yang masih kepo denganku. Namun, hingga setengah jam lebih aku tidak keluar. Aku sengaja menunggu sampai lelaki itu pergi. Setelah tidak mendengar suaranya, aku keluar dan kembali ke toko. Kulihat wajah mas Herman memerah, bukan karena tersipu malu. Sepertinya dia sedang marah. Banyak sekali pelanggan yang menunggu, tetapi aku malah meninggalkannya cukup lama. “Ngapain, sih, Ros? Katanya cuci tangan, kok lama banget?” tanya Mas Herman sambil memfotokopi. “Cuci piring dulu. Banyak piring yang belum dicuci di belakang. Nanti Pak Bos marah.” Aku tidak sepenuhnya berbohong. Memang ada banyak piring dan sendok sisa kemarin yang belum kucuci. Aku lupa karena terlalu buru-buru kemarin, apalagi Mas Herman pulang dulu. Tidak lama kemudian terdengar suara qiro'ah dari masjid, sebentar lagi azan zuhur berkumandang. Mas Herman buru-buru pergi. Untung saja tidak ada tugas untukku. Aku bisa bersantai-santai ria sambil menonton film. Aku mencari folder yang kemarin kulihat, tetapi entah mengapa sudah tidak ada. Sepertinya Mas Herman sengaja menghapus atau mungkin menyembunyikannya. Menyebalkan! Aku menghidupkan radio yang berada di bawah meja kasir. Jam istirahat salat Jumat terasa sangat sepi. Tidak ada mahasiswa maupun orang yang fotokopi. Perutku kenyang, rasanya aku sangat mengantuk. Aku sudah menguap berkali-kali, tetapi kutahan supaya tidak terpejam. Sesaat aku merasa nyaman, tiba-tiba ada seseorang yang menggoyang-goyangkan lenganku. “Mbak, bangun! Saya mau ngeprint.” “Astaghfirullahalazim!” Seketika aku terperanjat. Ternyata aku tertidur cukup lama. Sekarang sudah jam satu siang. Namun, mengapa Mas Herman belum juga datang? Aku segera berdiri dari duduk. Seingatku tadi sedang main ponsel sambil rebahan. Tidak menyangka jika tertidur dan menghasilkan pulau kapuk yang indah di bantal. Aku segera membalik bantalku sebelum wanita di depanku melihatnya. “Mbak! Ambil fotokopi!” Lelaki yang tadi datang lagi. “Iya, sabar, Mas! Mau ngeprint dulu.” Aku mengabaikannya yang masih teriak-teriak. Aku mendahulukan wanita yang tadi telah membangunkanku. Jika bukan karenanya, aku pasti sudah menjadi tontonan di toko ini. Setelah wanita itu pergi, aku tidak melihat lelaki itu. Mungkin dia tidak sabar dan pergi begitu saja. Lebih baik aku melayani pelanggan yang lain. Setelah semuanya beres, aku kembali duduk. Mas Herman kemana, ya? Sudah setengah dua dan belum kembali juga. Aku belum salat Zuhur. Tidak lama kemudian terdengar suara motor Mas Herman. Dia kembali bersama temannya tadi. “Mas, aku mau salat Zuhur dulu! Kamu ke mana, sih? Lama banget!” “Maaf, tadi ada yang bagi-bagi nasi sedekah Jum’at. Aku makan dulu sampai lupa kalau harus balik ke toko. Untung Irfan datang menjemput. Katanya dia mau ambil fotokopi, tetapi kamu tidur. Pas bangun malah melayani yang datangnya belakangan. Dia jadi kesel, ‘kan?” Eh, apa? Dia melihatku tertidur? Rasanya aku benar-benar malu. “Sejak kapan ke sini? Kenapa nggak bangunin aku?” Dia bisa saja membangunkanku, kenapa tidak melakukannya? “Aku kasihan lihatnya, apalagi kayaknya tidur nyenyak banget. Aku takut ditegur Malaikat Izrail kalua gangguin bidadari surga.” Dia menjawab dengan senyuman. “Maksud kamu apa?” Aku mulai berkacak pinggang. “Kamu doain aku cepet mati?” “Bukan gitu, baru digombalin aja marah, apalagi dibangunin? Bisa-bisa kamu cekik aku dan langsung dijemput Malaikat Izrail.” Jadi, dia gombalin aku? Enggak ngefek! Aku berbalik meninggalkan Mas Herman dan Irfan. “TUnggu! Mau ke mana, Dek?” Irfan masih saja bertanya. “Mau salat.” “Jangan lupa cuci muka yang bersih, ilernya udah kering.” Aku memegang pipiku, terasa kasar bekas iler yang mengalir. Sial! Rasanya aku ingin menceburkan diri ke pantai Kartini. "Ada apa, Fan? Kenapa Rosita kabur?" Suara Mas Herman terdengar pelan saat aku menuju toilet.“Hoam!” Aku menguap berkali-kali semenjak duduk di depan computer.Rasanya aku sangat mengantuk. Semalam tidurku tak nyenyak gara-gara misteri ketukan pintu depan. Bapak dan Ibu bahkan tidak mendengarnya. Apakah ada makhluk tak kasat mata yang menggangguku? Dih! Serem!Pagi ini langit mendung. Matahari masih enggan muncul, menyisakan udara dingin yang menyusup melalui celah pintu toko. Aku sudah datang lebih awal seperti biasa, tapi Mas Herman belum terlihat batang hidungnya.Aku menyiapkan sumpah serapah untuknya. Mentang-mentang aku anak baru, dia seenaknya mempermainkan waktu. Pukul sembilan lewat, barulah dia muncul. Dengan gaya sok asik, dia membawa sebuah bingkisan di tangannya. Mau nyogok aku, pasti. Tapi aku tidak mudah dibodohi.“Pagi, Ros! Tumben sepi.” Dia masuk ke toko kemudian melepas jaketnya. “Ini ada oleh-oleh buat kamu dari Ibuk.”Jumat adalah hari pendek, sebentar lagi dia pergi jumatan. Enak sekali dia menjadi seorang laki-laki. Datang terlambat dan pulang lebih awa
Lelaki yang menabrakku memungut beberapa kertas yang jatuh tadi. Wajahnya tampak panik, terlihat jelas keringat bercucuran di pelipisnya. “Duh, malah luntur tulisannya. Bisa minta tolong diprint dan difotokopi, Mbak? Saya buru-buru ini. Sudah ditunggu sama dosen. Saya bisa mengulang tahun depan jika tidak segera membawanya ke kampus,” katanya panik.Aku melirik jam dinding. Menyebalkan sekali bukan? Lantai yang sudah kubersihkan jadi kotor lagi.“Maaf, Mas. Toko udah tutup.” Aku mencoba menjelaskan, berharap dia paham. Bagaimanapun, aku juga punya kehidupan di luar toko dan sekarang sudah waktunya pulang. “Please, Mbak. Rumah saya jauh. Dosennya juga hanya seminggu sekali ke kampus. Saya tidak bisa menunggu selama itu.”Aku mulai merasa kasihan melihatnya memohon. Sepertinya dia tidak membawa kendaraan dan berjalan dari kampus hanya demi fotokopi revisi skripsi dari dosen, tetapi aku bisa pulang terlambat jika menolongnya. “Mbak, jangan kelamaan mikir, dong! Tolong bantuin saya.”
“Mas Herman?” Aku mengernyitkan dahi. “Yups,” jawabnya. Aku belum pernah melihat perempuan ini meski sudah bekerja selama satu minggu. Apa dia pacarnya Mas Herman? Ah, ngapain juga aku pusing mikirin dia. Bukan urusanku juga mau pacarnya, selingkuhan, istri atau apa pun itu. “Mas Herman kuliah, Mbak. Bimbingan skripsi katanya.”Sebelum pergi, Mas Herman berpesan kalau dia sedang bimbingan skripsi jika ada yang mencarinya. Dia sudah sampai bab tiga dan akan segera selesai secepatnya. “Mau ambil fotokopi, Mbak?” Wanita itu menggeleng kemudian sibuk dengan ponselnya. Beberapa pelanggan sudah tak terhitung datang dan pergi dari toko ini, tetapi dia sabar menunggu meskipun Mas Herman tak kunjung pulang.“Dek, aku balik dulu, deh. Mas Herman kelamaan. Nanti bilangin suruh telepon aku, ya! Ponselnya tidak aktif.” Wanita itu akhirnya menyerah juga. Dia mengambil tasnya kemudian pergi tanpa menyebutkan nama.Hari ini toko ramai sekali. Aku bahkan tidak sempat memegang ponsel. Apalagi meno
“Kamu siapa?” tanya lelaki itu sambal mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.Pria itu berjalan mendekat, menatap sekeliling toko sebelum mengarahkan pandangannya kembali padaku. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tas punggungnya, lalu meletakkannya di atas meja.“Mas Herman mana?” tanyanya pelan, tapi nadanya terdengar agak mendesak.“Mas Herman belum pulang. Tapi, kalau Mas mau menitipkan sesuatu, nanti saya sampaikan.”Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu membuka map biru yang sepertinya berisi skripsi. Kertas-kertas di dalamnya penuh coretan tinta merah.“Saya baru saja selesai sidang, Mbak. Skripsi ini harus segera direvisi dan diprint ulang. Tapi, saya nggak punya waktu banyak. Saya benar-benar butuh bantuan Mas Herman,” ucapnya, suaranya terdengar frustasi.Aku mengangguk meski sebenarnya tidak begitu paham. Tapi aku sedikit tahu bagaimana susahnya revisi skripsi bagi mahasiswa yang baru selesai sidang. Bukan hal aneh kalau mereka panik dan ingin semuanya cepat se
“Mbak, fotokopi jadi 25 lembar. Diperkecil, perpanjang, bolak-balik, dan pakai kertas buram.” Seorang lelaki muda memakai jas almamater warna hijau memberikan sebuah makalah kepadaku. Pagi ini terasa panas meskipun aku sudah menghidupkan kipas angin. Mungkin mesin fotokopi ini grogi didampingi dan disentuh oleh gadis manis sepertiku. “Maaf, Mas. Kalau bolak-balik nggak bisa pakai kertas buram. Bisanya pakai kertas putih.” Aku menolak dengan halus. Kata Mas Herman aku harus bersikap santun terhadap pelanggan karena mereka adalah raja. Lagian zaman sekarang mana ada fotokopi pakai kertas buram? Bahannya sangat tipis dan sering membuat mesin reject. Aku tidak bisa mengoperasikannya jika mesin rusak. Apalagi aku baru belajar satu minggu di sini, masih sangat kaku dan belum mahir. “Biasanya sama Mas Herman bisa, Mbak,” ujar lelaki itu.Aku menggaruk kepala yang berbalut jilbab segi empat ini. Lelaki di hadapanku ini sepertinya sangat perhitungan. Padahal biasanya laki-laki itu tidak pe
“Duduk!” perintah lelaki di hadapanku ini. Dia adalah pemilik restoran tempatku bekerja, Pak Arkan.Aku langsung duduk tanpa berani menatap wajahnya. Kulihat tadi saat masuk mukanya sudah merah padam. Kali ini kesalahanku masih sama seperti sebelumnya. Kupikir dia sudah hafal dan bisa memakluminya lagi, tetapi ternyata semua di luar dugaanku. Pak Arkan marah besar.“Ini yang terakhir, Rosi!” Pak Arkan menggebrak meja di depanku, wajahnya merah padam.Panci gosong itu tergeletak di antara kami, seperti benda mati yang bersaksi atas semua kesalahanku. Aku menahan napas, tenggorokanku tercekat. Semua kata tertahan di bibirku. Aku tahu, kali ini tidak ada ruang untuk alasan. Namun, tanpa pekerjaan ini, apa yang akan terjadi padaku?Brak! Pak Arkan sekali lagi menggebrak meja di depanku hingga membuatku terperanjat. Kupegang dadaku yang mulai berdebar-debar.“Astaga, Rosi! Ini adalah kelima kalinya kamu menggosongkan panci saya. Gajimu satu bulan nggak akan bisa menggantikannya. Mulai s







