Mag-log in“Mbak, fotokopi jadi 25 lembar. Diperkecil, perpanjang, bolak-balik, dan pakai kertas buram.” Seorang lelaki muda memakai jas almamater warna hijau memberikan sebuah makalah kepadaku.
Pagi ini terasa panas meskipun aku sudah menghidupkan kipas angin. Mungkin mesin fotokopi ini grogi didampingi dan disentuh oleh gadis manis sepertiku. “Maaf, Mas. Kalau bolak-balik nggak bisa pakai kertas buram. Bisanya pakai kertas putih.” Aku menolak dengan halus. Kata Mas Herman aku harus bersikap santun terhadap pelanggan karena mereka adalah raja. Lagian zaman sekarang mana ada fotokopi pakai kertas buram? Bahannya sangat tipis dan sering membuat mesin reject. Aku tidak bisa mengoperasikannya jika mesin rusak. Apalagi aku baru belajar satu minggu di sini, masih sangat kaku dan belum mahir. “Biasanya sama Mas Herman bisa, Mbak,” ujar lelaki itu. Aku menggaruk kepala yang berbalut jilbab segi empat ini. Lelaki di hadapanku ini sepertinya sangat perhitungan. Padahal biasanya laki-laki itu tidak pernah memikirkan masalah uang. Bukankah setiap makalah sudah ada iuran kelompok? Dasar pelit! “Tapi saya nggak bisa. Mas Herman lagi kuliah, mau nungguin? Entar habis zuhur baru ke sini.” “Ya sudah. Pake kertas apa aja lah! Yang penting jadi fotokopinya.” Mas Herman adalah lelaki yang menjadi rekan kerja di toko ini. Dia sudah bekerja selama tiga tahun. Sebentar lagi dia selesai kuliah dan hari ini dia ada bimbingan skripsi. Dia masuk kelas reguler, masuk setiap hari Senin-Jumat di waktu pagi. Sedangkan jika nanti sudah kuliah, aku diminta masuk kelas siang supaya kami bisa bergantian menjaga toko. Pemilik toko fotokopi ini seorang ASN yang bekerja di sebuah kantor pemerintah. Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya. Beliau hanya mampir sesekali ketika pulang dari kantor untuk mengecek keadaan toko. Semua sudah dipercayakan kepada Mas Herman. Sudah satu minggu aku bekerja di toko fotokopi ini. Meskipun tidak punya pengalaman, aku diterima karena toko ini kekurangan pegawai. Pegawai yang lama hamil dan resign dari pekerjaan ini. Aku diajari menggunakan mesin fotokopi dalam waktu sehari. Karena kecerdasanku, aku bisa langsung memahaminya meski belum sepenuhnya mahir. Siang itu aku belajar fotokopi dari siang sampai sore. Aku belajar memfotokopi banyak hal. Mulai dari makalah, buku, KTP, dan banyak lagi yang lainnya. Selain itu aku diajari mengoperasikan komputer. Padahal sebelumnya aku tidak pernah menyentuh benda yang bentuknya mirip televisi itu. “Mbak, bisa cepet nggak?” Lelaki di hadapanku menyadarkanku dari lamunan. “Mau diambil kapan?” tanyaku sembari menerima makalahnya. “Nanti aku ambil jam sembilan, sudah harus jadi.” “Dua puluh lima lembar ‘kan?” Aku mencoba memastikan kembali. Lelaki itu mengangguk kemudian pergi tanpa meninggalkan uang sepeser pun. Di toko ini sudah biasa melayani pembeli tanpa DP. Terkadang yang membuatku kesal adalah ketika sudah cepat-cepat menyelesaikan fotokopi, tetapi ternyata tidak segera diambil. Aku segera memfotokopi makalah ini sebelum jam sembilan. Aku pernah dimarahi pelanggan karena salah paham. Mereka berkata, “Mbak, fotokopi jadi tiga-tiga, ya.” Aku memfotokopi menjadi 33 lembar. Padahal yang dimaksud adalah setiap halaman difotokopi menjadi 3 lembar. Aku ingin tertawa, tetapi takut dosa. Akhirnya kusembunyikan kertas fotokopi yang berlebihan itu. Aku takut Pak Bos marah karena keteledoranku. Jika aku dipecat, maka aku tidak bisa kuliah tahun depan. Aku tidak mau menjadi perawan tua karena menunda-nunda kuliah. Setelah lelaki itu pergi, beberapa mahasiswa datang lagi. Mungkin karena jarak kampus ke toko ini tidak terlalu jauh, mereka lebih suka jalan kaki. “Ngopi, Mbak!” ucap seorang mahasiswa kemudian duduk di kursi tunggu. “Maaf, Mas. Di sini tidak jualan kopi. Adanya minuman dingin.” Sepersekian detik mereka tertawa terbahak-bahak. “Mbaknya baru, ya?” Aku hanya mengangguk. “Ngopi buku ini, loh, Mbak.” Dia mengeluarkan sebuah buku tebal dari ranselnya. Wajahku memanas. Ingin rasanya aku menghilang dari toko ini. Kupikir dia mencari minuman, ternyata mau fotokopi. “Sini, Gaes! Tadi suruh fotokopi halaman berapa?” “Aku bab metode penelitian.” “Aku statistik.” “Aku bagian rumus-rumus tadi.” Aku bingung jika melayani pelanggan seperti mereka. Lebih mudah fotokopi makalah daripada buku. Aku harus bisa menyesuaikan ukurannya supaya hasil fotokopi nanti bisa pas dengan kertasnya. “Tulis sini aja, ya, Mas. Halaman berapa sampai berapa, nanti aku fotokopi setelah ini.” Aku menyerahkan sebuah pulpen dan kertas bekas fotokopi yang tidak terpakai. “Bisa nyela nggak, Mbak? Ditungguin sama dosennya, nih.” Lelaki di hadapanku memelas. “Duh, gimana, ya?” “Bisa ya, Mbak. Kami tunggu di sini, deh.” Akhirnya kuletakkan makalah yang baru kupegang beberapa saat. Terpaksa aku melayani pelanggan yang menunggu daripada yang ditinggal pergi. “Makasih, Mbak. Moga betah ya kerja di sini.” Mereka pergi setelah berhasil mendapatkan fotokopi buku tersebut. Aku mengerutkan kening. Memangnya kenapa? Di sini cukup nyaman bagiku. Aku lebih baik bekerja meskipun gaji tidak seberapa daripada menjadi menjadi beban keluarga dan nganggur di rumah. Aku menyelesaikan fotokopi makalah lelaki berjas hijau itu tepat pukul sembilan. Namun, dia belum juga kembali. Aku menatap jam dinding, detiknya terasa lambat dan toko semakin sepi. Di luar, cuaca terasa semakin panas, tapi tiba-tiba angin dingin masuk lewat pintu depan yang terbuka lebar. Pintu toko berderit. Aku mengangkat kepala, berharap melihat sosok lelaki yang tadi menitipkan makalah, tapi bukan dia yang muncul di ambang pintu. Sosok itu berdiri kaku, mengenakan kemeja putih yang terlihat terlalu formal untuk suasana siang ini. Wajahnya teduh, tapi sorot matanya tajam. Siapa dia? Mau apa? Jantungku langsung berdegup kencang.“Hoam!” Aku menguap berkali-kali semenjak duduk di depan computer.Rasanya aku sangat mengantuk. Semalam tidurku tak nyenyak gara-gara misteri ketukan pintu depan. Bapak dan Ibu bahkan tidak mendengarnya. Apakah ada makhluk tak kasat mata yang menggangguku? Dih! Serem!Pagi ini langit mendung. Matahari masih enggan muncul, menyisakan udara dingin yang menyusup melalui celah pintu toko. Aku sudah datang lebih awal seperti biasa, tapi Mas Herman belum terlihat batang hidungnya.Aku menyiapkan sumpah serapah untuknya. Mentang-mentang aku anak baru, dia seenaknya mempermainkan waktu. Pukul sembilan lewat, barulah dia muncul. Dengan gaya sok asik, dia membawa sebuah bingkisan di tangannya. Mau nyogok aku, pasti. Tapi aku tidak mudah dibodohi.“Pagi, Ros! Tumben sepi.” Dia masuk ke toko kemudian melepas jaketnya. “Ini ada oleh-oleh buat kamu dari Ibuk.”Jumat adalah hari pendek, sebentar lagi dia pergi jumatan. Enak sekali dia menjadi seorang laki-laki. Datang terlambat dan pulang lebih awa
Lelaki yang menabrakku memungut beberapa kertas yang jatuh tadi. Wajahnya tampak panik, terlihat jelas keringat bercucuran di pelipisnya. “Duh, malah luntur tulisannya. Bisa minta tolong diprint dan difotokopi, Mbak? Saya buru-buru ini. Sudah ditunggu sama dosen. Saya bisa mengulang tahun depan jika tidak segera membawanya ke kampus,” katanya panik.Aku melirik jam dinding. Menyebalkan sekali bukan? Lantai yang sudah kubersihkan jadi kotor lagi.“Maaf, Mas. Toko udah tutup.” Aku mencoba menjelaskan, berharap dia paham. Bagaimanapun, aku juga punya kehidupan di luar toko dan sekarang sudah waktunya pulang. “Please, Mbak. Rumah saya jauh. Dosennya juga hanya seminggu sekali ke kampus. Saya tidak bisa menunggu selama itu.”Aku mulai merasa kasihan melihatnya memohon. Sepertinya dia tidak membawa kendaraan dan berjalan dari kampus hanya demi fotokopi revisi skripsi dari dosen, tetapi aku bisa pulang terlambat jika menolongnya. “Mbak, jangan kelamaan mikir, dong! Tolong bantuin saya.”
“Mas Herman?” Aku mengernyitkan dahi. “Yups,” jawabnya. Aku belum pernah melihat perempuan ini meski sudah bekerja selama satu minggu. Apa dia pacarnya Mas Herman? Ah, ngapain juga aku pusing mikirin dia. Bukan urusanku juga mau pacarnya, selingkuhan, istri atau apa pun itu. “Mas Herman kuliah, Mbak. Bimbingan skripsi katanya.”Sebelum pergi, Mas Herman berpesan kalau dia sedang bimbingan skripsi jika ada yang mencarinya. Dia sudah sampai bab tiga dan akan segera selesai secepatnya. “Mau ambil fotokopi, Mbak?” Wanita itu menggeleng kemudian sibuk dengan ponselnya. Beberapa pelanggan sudah tak terhitung datang dan pergi dari toko ini, tetapi dia sabar menunggu meskipun Mas Herman tak kunjung pulang.“Dek, aku balik dulu, deh. Mas Herman kelamaan. Nanti bilangin suruh telepon aku, ya! Ponselnya tidak aktif.” Wanita itu akhirnya menyerah juga. Dia mengambil tasnya kemudian pergi tanpa menyebutkan nama.Hari ini toko ramai sekali. Aku bahkan tidak sempat memegang ponsel. Apalagi meno
“Kamu siapa?” tanya lelaki itu sambal mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.Pria itu berjalan mendekat, menatap sekeliling toko sebelum mengarahkan pandangannya kembali padaku. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tas punggungnya, lalu meletakkannya di atas meja.“Mas Herman mana?” tanyanya pelan, tapi nadanya terdengar agak mendesak.“Mas Herman belum pulang. Tapi, kalau Mas mau menitipkan sesuatu, nanti saya sampaikan.”Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu membuka map biru yang sepertinya berisi skripsi. Kertas-kertas di dalamnya penuh coretan tinta merah.“Saya baru saja selesai sidang, Mbak. Skripsi ini harus segera direvisi dan diprint ulang. Tapi, saya nggak punya waktu banyak. Saya benar-benar butuh bantuan Mas Herman,” ucapnya, suaranya terdengar frustasi.Aku mengangguk meski sebenarnya tidak begitu paham. Tapi aku sedikit tahu bagaimana susahnya revisi skripsi bagi mahasiswa yang baru selesai sidang. Bukan hal aneh kalau mereka panik dan ingin semuanya cepat se
“Mbak, fotokopi jadi 25 lembar. Diperkecil, perpanjang, bolak-balik, dan pakai kertas buram.” Seorang lelaki muda memakai jas almamater warna hijau memberikan sebuah makalah kepadaku. Pagi ini terasa panas meskipun aku sudah menghidupkan kipas angin. Mungkin mesin fotokopi ini grogi didampingi dan disentuh oleh gadis manis sepertiku. “Maaf, Mas. Kalau bolak-balik nggak bisa pakai kertas buram. Bisanya pakai kertas putih.” Aku menolak dengan halus. Kata Mas Herman aku harus bersikap santun terhadap pelanggan karena mereka adalah raja. Lagian zaman sekarang mana ada fotokopi pakai kertas buram? Bahannya sangat tipis dan sering membuat mesin reject. Aku tidak bisa mengoperasikannya jika mesin rusak. Apalagi aku baru belajar satu minggu di sini, masih sangat kaku dan belum mahir. “Biasanya sama Mas Herman bisa, Mbak,” ujar lelaki itu.Aku menggaruk kepala yang berbalut jilbab segi empat ini. Lelaki di hadapanku ini sepertinya sangat perhitungan. Padahal biasanya laki-laki itu tidak pe
“Duduk!” perintah lelaki di hadapanku ini. Dia adalah pemilik restoran tempatku bekerja, Pak Arkan.Aku langsung duduk tanpa berani menatap wajahnya. Kulihat tadi saat masuk mukanya sudah merah padam. Kali ini kesalahanku masih sama seperti sebelumnya. Kupikir dia sudah hafal dan bisa memakluminya lagi, tetapi ternyata semua di luar dugaanku. Pak Arkan marah besar.“Ini yang terakhir, Rosi!” Pak Arkan menggebrak meja di depanku, wajahnya merah padam.Panci gosong itu tergeletak di antara kami, seperti benda mati yang bersaksi atas semua kesalahanku. Aku menahan napas, tenggorokanku tercekat. Semua kata tertahan di bibirku. Aku tahu, kali ini tidak ada ruang untuk alasan. Namun, tanpa pekerjaan ini, apa yang akan terjadi padaku?Brak! Pak Arkan sekali lagi menggebrak meja di depanku hingga membuatku terperanjat. Kupegang dadaku yang mulai berdebar-debar.“Astaga, Rosi! Ini adalah kelima kalinya kamu menggosongkan panci saya. Gajimu satu bulan nggak akan bisa menggantikannya. Mulai s







