공유

Darurat

작가: Nooraya
last update 최신 업데이트: 2026-01-14 21:54:39

Semua berubah menjadi kacau dalam hitungan detik.

“Panggil ambulans. Cepat!” perintah Tuan Adrian pada salah satu pengawal.

Aku berlutut di samping Tuan Bakrie. Wajahnya pucat, napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Tanganku gemetar saat mencoba menyentuh lengannya, memastikan apakah masih ada denyut nadi atau tidak.

Ternyata, denyut itu masih ada, akan tetapi sangat lemah.

“Tuan, bertahanlah,” bisikku panik, meski tidak tahu apakah ia bisa mendengarku.

Tuan Adrian berlutut di sisi lain ayahnya. Wajahnya yang tadi tampak tenang, perlahan mulai runtuh. Tangannya menggenggam tangan Tuan Bakrie, seolah takut pria itu akan menghilang begitu saja.

“Tunggu dulu, Pa. Ini semua belum selesai.” Meski diucapkan lirih, suaranya tetap terdengar jelas di telingaku.

Aku menatap Tuan Adrian, kebingungan. Entahlah, aku tidak mengerti maksud ucapannya.

Sementara itu, Nyonya Vanya berdiri tidak jauh dari kami. Wajahnya pucat dan jemarinya gelisah hingga tanpa sadar ia menggigit kukunya sendiri. Ke
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Kabar Pagi

    Sejak semalam, setelah kembali ke Rumah Jelita, aku sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, bayangan wajah pucat Tuan Bakrie kembali muncul, seolah menolak pergi dari pikiranku.Entah sudah berapa kali aku memeriksa ponselku. Layarnya tetap sunyi, tidak ada satu pun kabar yang masuk.Bahkan hingga pagi menjelang, ketika cahaya matahari mulai menyusup ke dalam kamar dan menerangi dinding-dinding putih di sekitarku, ponsel itu masih sepi dari notifikasi Tuan Adrian, atau dari siapa pun yang bisa memberiku kabar.Aku sempat berpikir untuk mengirim pesan lebih dulu, sekadar menanyakan keadaan Tuan Bakrie. Namun, selalu saja jariku terhenti di udara.Ada sesuatu yang menahanku, seperti perasaan sadar akan posisiku sendiri yang tidak memberiku cukup keberanian untuk melangkah lebih jauh.Akhirnya, aku bangkit dari tempat tidur.Tenggorokanku terasa kering, hendak minum, tetapi gelas di atas meja sudah kosong. Sehingga, tidak ada pilihan lain bagiku selain m

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Darurat

    Semua berubah menjadi kacau dalam hitungan detik.“Panggil ambulans. Cepat!” perintah Tuan Adrian pada salah satu pengawal.Aku berlutut di samping Tuan Bakrie. Wajahnya pucat, napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Tanganku gemetar saat mencoba menyentuh lengannya, memastikan apakah masih ada denyut nadi atau tidak.Ternyata, denyut itu masih ada, akan tetapi sangat lemah.“Tuan, bertahanlah,” bisikku panik, meski tidak tahu apakah ia bisa mendengarku.Tuan Adrian berlutut di sisi lain ayahnya. Wajahnya yang tadi tampak tenang, perlahan mulai runtuh. Tangannya menggenggam tangan Tuan Bakrie, seolah takut pria itu akan menghilang begitu saja.“Tunggu dulu, Pa. Ini semua belum selesai.” Meski diucapkan lirih, suaranya tetap terdengar jelas di telingaku.Aku menatap Tuan Adrian, kebingungan. Entahlah, aku tidak mengerti maksud ucapannya.Sementara itu, Nyonya Vanya berdiri tidak jauh dari kami. Wajahnya pucat dan jemarinya gelisah hingga tanpa sadar ia menggigit kukunya sendiri. Ke

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Kejutan

    Setelah kemarin berhasil mengantarkan makanan sampai ke tangan Tuan Adrian secara langsung, pagi ini aku bangun dengan semangat yang berbeda. Ada rasa antusias yang membuat langkahku terasa lebih ringan saat bersiap memasak makan siang untuknya.Usai sarapan, seperti biasa, aku menuju dapur. Baru saja aku menata bahan-bahan di meja, ponselku yang tergeletak di sana tiba-tiba berdering. Nama Kak Danu muncul di layar.Aku langsung tahu, ini pasti penting.Aku mengangkatnya. “Iya, Kak?” jawabku ramah.“Nona Melati,” suara Kak Danu terdengar datar dan formal. “Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Tuan Adrian. Untuk hari ini dan beberapa hari ke depan, Nona tidak perlu menyiapkan makan siang untuk beliau.”Tanganku terhenti.“Kenapa?” tanyaku pelan.“Tuan Adrian sedang melakukan perjalanan bisnis selama beberapa hari. Jadi, beliau tidak akan berada di kantor.”Entah kenapa, ada sedikit rasa lega saat mendengarnya.“Oh ... begitu. Aku pikir ... karena Tuan Adrian tidak mau bertemu denga

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Tanpa Perantara

    Pagi di Rumah Jelita berjalan seperti biasa. Cahaya matahari masuk melalui celah manapun di rumah ini.Aku berdiri di dapur, mengenakan celemek, dan menyiapkan bahan-bahan dengan gerakan terukur. Tanganku bergerak seperti biasa, mencuci, memotong, dan juga menata.Namun, ada sedikit yang berbeda hari ini. Pikiranku tidak lagi setenang hari-hari sebelumnya.Aku memasak, bukan karena kebiasaan, bukan pula karena harapan. Hari ini, aku memasak dengan kesadaran penuh.Setiap bahan yang kugunakan kuperiksa dua kali. Setiap langkah kucatat di kepalaku, seolah aku sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar makanan.Sesekali, aku melirik jam di dinding. Masih cukup pagi, jadi tidak perlu terburu-buru.Aku kembali menekuni masakanku.Mulai hari ini, aku tidak akan lagi menitipkan apa pun pada siapa pun. Masakan ini akan kuantar sendiri kepada Tuan Adrian, atau setidaknya sampai ke tangan Kak Danu selaku orang kepercayaannya.“Melati.”Suara itu datang tiba-tiba dari bel

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Hati yang Tidak Pernah Sampai

    Bab 115Sendok Tuan Adrian masih tertahan di udara. “Memangnya, sebelum ini kamu memasak sesuatu untukku?”Pertanyaan itu melayang ringan, nyaris terdengar biasa. Namun bagiku, kalimat itu jatuh seperti benda berat yang menghantam dada.Aku menatapnya tanpa berkedip, berusaha mencerna maksud di balik kata-katanya. Senyum tipis yang tadi sempat muncul di wajahku perlahan memudar.“Saya ...,” suaraku tercekat, “... memasak setiap hari untuk Tuan.”Ruangan itu kembali sunyi. Tidak ada yang bersuara, dentingan alat makan pun tidak ada.Tuan Adrian menatapku tajam, tetapi tidak keras. Lebih seperti ... heran“Setiap hari?” ulangnya pelan.Aku mengangguk. “Iya. Sudah seminggu ini.”Ia kembali menyendok makanan. “Kamu yakin?” tanyanya singkat, lalu menyuapkan makanan itu ke mulutnya.Aku terdiam.Tuan Adrian kembali mengungkapkan, “Aku hanya sekali menerima makanan darimu, dan itu sudah seminggu yang lalu melalui sopir pribadimu. Setelah itu, aku meminta Danu menyampaikan padamu agar tidak p

  • Gadis Kesayangan Tuan Adrian   Di antara Perempuan yang Mencintai

    “Amara, Melati. Kalian di sini rupanya.”Nyonya Vanya tetap membiarkan tangannya bertengger di lengan Tuan Adrian, seolah sengaja mempertahankannya agar aku dan Nona Amara dapat melihatnya dengan jelas.Tidak ada yang segera bergerak. Kak Danu pun menahan tombol lift agar pintunya tetap terbuka.Nona Amara menyahut, “Kalian mau pergi?” Nada bicaranya santai, nyaris terdengar tanpa emosi.“Kami akan pergi makan siang,” jawab Nyonya Vanya singkat.“Oh ... pas sekali,” ujar Nona Amara.Aku menoleh sekilas ke arah Nona Amara untuk mencoba membaca ekspresinya. Namun, ia hanya menampilkan senyum tipis yang sulit kuterjemahkan.“Bagaimana kalau kita makan bersama saja?” lanjutnya. “Hari ini kami membawa makan siang cukup banyak.”Nyonya Vanya menyahut, “Maaf, tapi kami sudah memesan restoran.” Ia kemudian menarik lengan Tuan Adrian, berniat melangkah keluar dari lift.Awalnya, aku mengira Tuan Adrian akan mengikutinya. Namun, ia justru tetap berdiri di tempat.Kening Nyonya Vanya mengerut. “

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status