ANMELDENAtmosfer di dalam ruangan rahasia itu mendadak menjadi pekat, seolah oksigen ditarik paksa keluar hingga ruangan tersebut terasa seperti hampa udara. Xavier berdiri di ambang pintu, bersandar kaku pada bingkai kayu tebal. Kemeja hitam yang dipakainya sedikit terbuka pada bagian atas, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun tidak beraturan.Meskipun wajah pria itu masih sepucat mayat akibat sisa-sisa serangan Gerd dan gangguan kecemasan yang belum sepenuhnya mereda, namun tatapan matanya tetap tajam mengunci pergerakan Aura hingga gadis itu tidak bisa berkutik."Seharusnya kau menuruti perintahku untuk tidur, Aura." Suara Xavier terdengar rendah, bergetar halus oleh kombinasi rasa sakit fisik dan amarah yang berusaha ia tahan.Dia melangkah maju, menyeret kakinya yang terasa berat. "Tapi kau justru dengan lancang masuk ke ruang kerjaku ... dan melanggar aturan ku."Aura menelan kasar air liurnya. Kakinya terasa gemetar, namun ia berusaha tetap mempertahankan posisinya yang berdir
Aura terpaku. Tenggorokannya terasa tersumbat saat mendengar kalimat itu dari bibir pucat Xavier. Seolah pria itu ingin berkata, 'dunia ini bukan hanya tentang dirimu, dan kamu harus mencaritahu semuanya sendiri.' Kata yang mungkin terdengar biasa, tapi bagi Aura itu adalah sebuah tantangan dan dia harus mencaritahu sendiri."Xavier, katakan padaku ... ada rahasia apa sebenarnya tentangku yang tidak aku ketahui?" cecar Aura, yang sejenak melupakan kalau saat ini kondisi Xavier sedang dalam keadaan sakit.Xavier tidak menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, memejamkan mata perlahan, menahan rasa sakit yang menyesakkan. Garis-garis keletihan di wajah tampannya tampak semakin jelas di bawah temaram lampu kamar."Kau ingin aku mencaritahu sendiri tentang semua kebenaran yang kau sembunyikan itu, Tuan Valerius?" "Tidurlah, Aura. Ini sudah terlalu malam, kau harus istirahat," bisik Xavier parau, mengabaikan tatapan mata menuntut yang dilemparkan istrinya."Bag
Tubuh jangkung Xavier roboh tepat ke arah Aura. Tanpa memikirkan perih di pipinya yang masih berdenyut, Aura langsung menahan beban tubuh pria itu dengan sekuat tenaga.Napas Xavier terdengar berat, sementara tangannya masih mencengkeram erat bagian ulu hatinya. Serangan Gerd dan stres berat kembali menghantamnya."Xavier! Buka matamu, Xavier!" pekik Aura dengan gemetar. Langkah kaki yang tergesa memecah ketegangan di taman belakang. Mina pelayan senior di kediaman Valerius, bersama dua pengawal bertubuh tegap datang dengan langkah setengah berlari. Raut wajah mereka terlihat panik. Tanpa menunggu diperintah lagi, kedua pengawal itu langsung mengangkat tubuh Xavier dan membawanya ke kamar utama yang terletak di lantai dua.Aura mengekor di belakang dengan jantung yang berdegup kencang. Pikiran dan perasaannya kini bercampur aduk menjadi satu adonan yang membingungkan."Xavier, apa sebenarnya yang terjadi padamu?" gumam Aura di tengah rasa khawatirnya yang mencekik.Pria yang beberapa
"Aku bilang berlutut!" bentak Eleanor dengan suara yang mulai meninggi, memecah keheningan di area taman belakang.Keanggunan dan ketenangan yang semula ia pertontonkan, akhirnya menguap menjadi arogansi seorang wanita penguasa yang penuh dengan keangkuhan."Kau tidak memiliki hak untuk berdiri sejajar denganku di rumah ini! Kau harus tahu diri dan tahu dimana semestinya posisimu!" Jari telunjuk wanita yang berusia sudah tidak lagi muda itu menunjuk pada tanah halaman yang ditumbuhi oleh rerumputan hias.Degg.Jantung Aura berdetak kencang, ada kecewa dan amarah yang bergemuruh di dalam sana. Namun ia tidak mempunyai niat untuk membalas Eleanor saat itu juga."Ambilkan teh hangat untukku, dan serahkan dengan posisi berlutut di hadapanku." Wanita itu semakin menjadi, seolah ia mencari kepuasan di dalam penderitaan Aura.Jemari Aura mengepal dengan kuat, hingga buku-bukunya nampak memutih. Hinaan tentang dirinya yang dijual oleh Bramasta memang menghantam ulu hatinya, tetapi diperlakuka
Dua jam berlalu seperti kedipan mata yang begitu cepat. Ketika deru mobil Rolls-Royce berwarna hitam berhenti di pelataran utama kediaman Valerius, atmosfer di dalam mansion pun berubah sepenuhnya. Udara mendadak terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum.Eleanor Valerius melangkah masuk dengan langkah anggun dan wajah yang terlihat tenang. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengenakan gaun haute couture berwarna abu-abu gelap dengan perhiasan mutiara yang berkilau sempurna. Setiap gerakannya memancarkan wibawa bangsawan yang dingin, angkuh dan perfectionist.Xavier berdiri dengan arrogant di atrium utama, menyambut ibunya dengan ekspresi datar yang sudah terlatih. Di sampingnya, berdiri Aura dalam balutan gaun sutra simpel berwarna krem, hasil riasan kilat dan perintah ketat dari Xavier. "Xavier ... Putraku," ucap Eleanor Valerius. Suaranya halus namun memotong kesunyian dengan presisi yang mengerikan. Sorot matanya yang tajam menyapu ke sekeliling sebelum
Aura tersentak pelan. Senyum sinisnya membeku seketika, saat melihat sosok tinggi tegap berdiri di ambang pintu kamarnya.Xavier Valerius.Pria itu berdiri memakai kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga ke siku. Tampak sempurna, dominan dan tidak tersentuh seperti biasanya. Namun jika Aura memperhatikannya dengan lebih jeli, ada guratan samar pucat di sekitar rahangnya dan manik matanya yang sedikit lebih meredup dari biasanya. Ya, saat ini Xavier masih bertarung habis-habisan melawan rasa sakitnya, tapi dia memaksakan diri untuk terlihat kuat di depan Aura dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa padanya."Siapa yang kau maksud tadi, kelinci kecil?" Xavier mengulang kembali pertanyaannya.Dia berjalan perlahan, berusaha agar langkah kakinya yang masih sangat lemas tetap seimbang demi bertemu dengan Aura.Mina yang melihat tuannya, langsung menundukkan kepala dalam-dalam. "T-Tuan Muda....""Keluarlah, Mina." Suara Xavier terdengar dingin, lebih parau dari biasanya."Baik, Tuan,"
Malam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap
Kepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memuta
Semburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjad
Malam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yan







