Home / Romansa / Gadis Persinggahan / Bab 39: Sandiwara Sang Predator

Share

Bab 39: Sandiwara Sang Predator

Author: Alyantha_Z
last update Last Updated: 2026-01-01 16:14:31

Pintu besi gudang tua itu berderit nyaring, suara logam yang beradu seolah merobek kesunyian mencekam di kawasan industri Marunda. Adrian menerjang masuk dengan napas memburu, diikuti oleh dua petugas keamanan yang tampak ragu melihat kegelapan pekat di dalam ruangan luas itu. Mata Adrian liar mencari sosok istrinya di antara bayang-bayang mesin tua yang berkarat dan tumpukan peti kayu yang membisu.

Ketika tatapannya jatuh pada Tri yang berdiri mematung di bawah cahaya lampu bedah yang menyilaukan, Adrian hendak berlari mendekat. Namun, langkahnya terhenti seketika oleh perintah yang lebih tajam dari peluru.

"Berhenti di sana, Mas! Jangan melangkah lebih jauh!" teriak Tri. Suaranya melengking penuh peringatan, ada nada keputusasaan yang belum pernah Adrian dengar sebelumnya.

Adrian mematung di batas bayangan. Baru saat itulah ia menyadari keberadaan dr. Pandu yang berdiri kaku di samping kursi laboratorium tua, dan sesosok pria lain yang sedang duduk denga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Persinggahan   Bab 40: Pecahnya Sang Cermin

    Keheningan yang mencekam menyelimuti gudang Marunda setelah pernyataan Tri. Adrian membeku, matanya membelalak tak percaya pada keputusan istrinya. Di sisi lain, Raihan Azizi tampak seperti seorang konduktor yang baru saja menyelesaikan simfoni agungnya, ia menikmati setiap detik kehancuran mental yang terpancar dari wajah kedua korbannya."Keputusan yang bijaksana, Putri," bisik Raihan sembari menjauhkan jarum suntik v.2.5 dari leher Tri. Ia memberikan isyarat kepada dr. Pandu untuk menurunkan senjatanya. "Cinta memang selalu menjadi katalis yang paling bisa diprediksi dalam setiap eksperimen kemanusiaan.""Tri, tidak! Jangan lakukan ini!" Adrian meronta dalam cengkeraman orang-orang bertopeng pesuruh Om Robert. "Aku lebih baik melupakan segalanya daripada membiarkanmu kembali ke tangan iblis ini!"Tri menoleh perlahan ke arah Adrian. Air mata yang tadi menggenang kini telah jatuh, namun di balik jejak basah itu, ada kilatan mata yang berbeda, kilatan mat

  • Gadis Persinggahan   Bab 39: Sandiwara Sang Predator

    Pintu besi gudang tua itu berderit nyaring, suara logam yang beradu seolah merobek kesunyian mencekam di kawasan industri Marunda. Adrian menerjang masuk dengan napas memburu, diikuti oleh dua petugas keamanan yang tampak ragu melihat kegelapan pekat di dalam ruangan luas itu. Mata Adrian liar mencari sosok istrinya di antara bayang-bayang mesin tua yang berkarat dan tumpukan peti kayu yang membisu.Ketika tatapannya jatuh pada Tri yang berdiri mematung di bawah cahaya lampu bedah yang menyilaukan, Adrian hendak berlari mendekat. Namun, langkahnya terhenti seketika oleh perintah yang lebih tajam dari peluru."Berhenti di sana, Mas! Jangan melangkah lebih jauh!" teriak Tri. Suaranya melengking penuh peringatan, ada nada keputusasaan yang belum pernah Adrian dengar sebelumnya.Adrian mematung di batas bayangan. Baru saat itulah ia menyadari keberadaan dr. Pandu yang berdiri kaku di samping kursi laboratorium tua, dan sesosok pria lain yang sedang duduk denga

  • Gadis Persinggahan   Bab 37: Bayangan di Pintu Rumah

    Malam itu, kediaman Tri dan Adrian yang biasanya menjadi perlindungan paling aman terasa seperti sangkar kaca yang rapuh. Setelah kekacauan di Basemen 3 Rumah Sakit Graha Medika, Adrian memperketat keamanan di seluruh area rumah, namun Tri tahu bahwa bagi pria seperti Raihan Azizi, tembok tinggi dan kamera pengawas hanyalah tantangan kecil yang menyenangkan.Tri berdiri di dapur, menuangkan air panas ke dalam cangkir tehnya dengan tangan yang masih dibalut perban tipis. Pikirannya terus berputar pada fakta bahwa Raihan telah bebas. Om Robert benar-benar telah melampaui batas, dia tidak hanya mendanai riset ilegal, tapi juga membebaskan pemangsa paling berbahaya langsung ke arah keponakannya sendiri."Kamu harus istirahat, Tri. Polisi sedang melacak keberadaan Om Robert dan dr. Pandu. Mereka tidak akan bisa keluar dari Jakarta," ujar Adrian, memeluk Tri dari belakang. Suaranya terdengar lelah, penuh beban kekecewaan terhadap keluarganya sendiri."Mas... Rai

  • Gadis Persinggahan   Bab 36: Pilihan Sang Nakhoda

    Suara desis gas kimia yang keluar dari pipa-pipa ventilasi di langit-langit Basemen 3 terdengar seperti ribuan ular yang sedang mengancam. Asap putih pekat, yang membawa aroma tajam antara amonia dan belerang, mulai turun menyelimuti lantai laboratorium yang dingin. Lampu darurat berwarna merah di sudut ruangan berputar-putar, memberikan efek dramatis yang mengerikan pada dinding-dinding kaca bilik isolasi yang berderet di jantung kegelapan Rumah Sakit Graha Medika.Tri Ananda Putri berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh hiruk-pikuk kepanikan. Di sebelah kanannya, layar monitor server utama berkedip-kedip liar. Bilah progres penyalinan data menunjukkan angka 58%. Di sana terdapat seluruh bukti komunikasi Om Robert, daftar investor gelap, dan yang paling penting, bukti otentik bahwa pembebasan Raihan Azizi dari penjara adalah hasil manipulasi hukum yang didanai oleh Yayasan Medis Harapan Kita.Data itu adalah satu-satunya cara untuk menyeret Raihan kembali ke

  • Gadis Persinggahan   Bab 35: Jantung Kegelapan Basemen 3

    Udara di lantai Basemen 3 terasa beberapa derajat lebih dingin dibandingkan lantai-lantai di atasnya. Bau ozon dan cairan pembersih kimia yang menyengat memenuhi lorong yang hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip gelisah. Tri melangkah dengan mantap, diikuti oleh tim audit independen dan dua orang petugas keamanan internal yang kini berada di bawah perintah langsung Adrian.Di belakang unit incinerator yang menderu panas, terdapat sebuah dinding panel logam yang tampak menyatu dengan struktur gedung. Tri berhenti di depan pembaca kartu magnetik yang tersembunyi."Kartu aksesnya tidak berfungsi, Dok. Sepertinya aksesnya sudah diputus secara manual dari pusat," lapor salah satu petugas keamanan setelah mencoba kartu ID standar rumah sakit.Tri tersenyum tipis. Ia sudah mengantisipasi ini. Ia mengeluarkan ponsel rahasianya dan menghubungkannya ke port bypass kecil yang sudah diidentifikasi Dina sebelumnya. "Dina, buka gerbang neraka ini sekarang."

  • Gadis Persinggahan   Bab 34: Badai di Ruang Direksi

    Ruang rapat di lantai teratas Rumah Sakit Graha Medika memiliki dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan cakrawala Jakarta yang angkuh. Di tengah ruangan, meja oval dari kayu jati hitam mengilap dikelilingi oleh para pemegang kekuasaan Yayasan Medis Harapan Kita. Tri duduk di samping Adrian, mengenakan blazer biru tua yang memberikan kesan otoritas yang dingin. Di seberang mereka, Om Robert duduk dengan tenang, sementara dr. Pandu berdiri di sudut ruangan sebagai staf ahli riset.Atmosfer ruangan itu sangat berat. Hanya sepuluh menit sebelum rapat dimulai, sebuah email anonim telah mendarat di kotak masuk setiap anggota direksi kecuali Robert dan Adrian. Email itu berisi dokumen digital yang sangat detail mengenai skandal malpraktik dan riset ilegal yang melibatkan dr. Pandu di masa lalu."Selamat pagi, rekan-rekan direksi," Adrian membuka rapat dengan suara beratnya. "Agenda hari ini adalah pengukuhan dr. Tri Ananda Putri sebagai Direktur Medis baru Graha Medika.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status