LOGINLangit Eldoria mulai berubah jingga ketika kereta kuda yang ditumpangi Kaelan dan Elara berhenti di depan kediaman keluarga Wynslade.Perjalanan itu mereka lakukan tanpa pengawalan kerajaan.Elara sempat beberapa kali mempertanyakan keputusan Kaelan. Namun pria itu hanya menjawab bahwa dirinya tidak datang ke Eldoria sebagai panglima perang atau perwakilan Kerajaan Asterion.Ia datang sebagai seorang pria yang hendak meminta restu dari ayah wanita yang akan dinikahinya.“Aku tidak membutuhkan pasukan hanya untuk meminta izin menikahi putrinya,” ucap Kaelan saat kereta mereka memasuki wilayah Eldoria.Elara tersenyum kecil mendengarnya. Elara menyadari, mungkin Kaelan sudah tahu bagaimana keluarganya di Eldoria memperlakulannya. Sehingga pria itu tidak ingin terlalu lama berbasa-basi. “Apakah kita akan langsung pulang begitu mengabarkan hari pernikahan kita?” tanya Elara sembari menghela napas pelan. Baru berpisah beberapa jam dari bayinya ia sudah merasa rindu. Kaelan menoleh sekila
Dua bulan telah berlalu sejak tangisan pertama Evan memenuhi kamar calon permaisuri Asterion.Musim semi mulai bergeser menuju awal musim panas. Taman istana kembali dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran, sementara kehidupan di dalam istana perlahan kembali seperti sediakala.Namun bagi Elara, dua bulan terakhir terasa seperti mimpi.Putranya tumbuh sehat. Luka persalinannya telah pulih, dan setiap hari ia mulai terbiasa dengan peran barunya sebagai seorang ibu.Pagi itu, Elara sedang duduk di ruang keluarga pribadinya sambil menggendong Evan.Bayi laki-laki itu telah tertidur pulas di dadanya. Wajah mungilnya terlihat begitu mirip dengan Kaelan, terutama bentuk hidung, alis, dan garis wajahnya.Hanya mata hazel keemasan yang diwarisinya dari Elara.“Kau benar-benar tidak pernah kehabisan cara untuk membuat Ibu tersenyum,” bisik Elara sembari mengecup kening putranya.Pintu ruangan tiba-tiba diketuk.Elara menoleh, lalu berseru, “Masuk.”Seorang kepala pelayan dan Maera muncul bersama
Seruan bidan kerajaan menggema hingga ke lorong-lorong Istana Asterion.Pagi itu, seluruh penghuni istana yang sejak semalam menunggu di luar kamar calon permaisuri akhirnya mengembuskan napas lega.Tangis bayi yang nyaring memecah kesunyian.Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat, meski lahir lebih cepat dari perkiraan tabib kerajaan.Kaelan, yang sedari tadi berdiri mematung di depan pintu dengan kedua tangan menyilang di depan dada langsung melangkah begitu tabib menganggukkan kepala."Paduka."Tabib tua itu menunduk hormat. "Ibu dan bayinya selamat."Kalimat sederhana itu seketika meruntuhkan seluruh ketegangan di wajah Kaelan.Pria yang selama bertahun-tahun tak pernah gentar menghadapi ribuan musuh di medan perang itu justru merasakan lututnya hampir kehilangan tenaga.Ia masuk tanpa menunggu siapa pun mempersilakan.Di atas ranjang, Elara tampak sangat pucat. Rambut hitam kecokelatannya basah oleh keringat, sementara napasnya masih terdengar berat akibat persalinan yang m
Kereta kuda berlapis baja hitam dengan lambang serigala perak khas Valmorra akhirnya melewati gerbang besi raksasa. Istana Valmorra berdiri megah dan angkuh di atas bukit, dikelilingi oleh kabut tipis dan hutan pinus yang sunyi. Sangat kontras dengan Istana Asterion yang selalu terasa hangat dan dipenuhi cahaya matahari. Bagi Valeska, tempat ini adalah rumah barunya, sekaligus awal dari pembuktian bakti cintanya pada Aldric. Sebagai pengantin baru, Aldric memperlakukan Valeska dengan sangat terhormat. Sepanjang perjalanan hingga jamuan sambutan di istana barunya, Aldric tetap menampilkan sosok suami yang sempurna. Ia menggandeng tangan Valeska, membantunya menuruni kereta, dan memperkenalkan Valeska kepada para pelayan setianya sebagai Permaisuri masa depan Valmorra.Hingga malam semakin larut, dan mereka harus melalui malam pengantin di kamar utama.Di bawah temaram lilin-lilin aromaterapi, di atas ranjang bertabur kelopak mawar merah, Aldric memenuhi kewajibannya sebagai seorang s
Hari yang dinantikan Valeska tiba. Lonceng di menara bertalu sejak fajar menyingsing, suaranya menggema membelah langit musim semi yang cerah. Jalanan sepanjang istana dipenuhi oleh kelopak bunga mawar yang ditaburkan oleh rakyat, menyambut hari pernikahan Putri Valeska dengan Pangeran Aldric Varkashan dari Valmorra. Sebuah persatuan dua kekuatan besar yang sempat diragukan. Valeska berdiri di depan cermin besar setinggi manusia. Gaun pengantin putih bersih berlapis sutra melekat indah di tubuhnya, dihiasi ribuan mutiara kecil yang berkilau setiap kali ia bergerak. Tiara emas bertatahkan berlian sudah terpasang kokoh di atas rambut pirangnya yang disanggul anggun. Senyum bibirnya merekah saat menyadari hari itu ia akan menjadi ratu semalam. Pintu kamar rias terbuka perlahan setelah ketukan tiga kali.Melalui pantulan cermin, Valeska melihat sosok pria berbadan tegap melangkah masuk. Senyumnya seketika memudar, berganti dengan raut wajah datar. Kaelan datang mengenakan jubah pangl
Lampu gantung kristal di aula utama Istana Asterion berpendar megah, memantulkan cahaya keemasan pada piring-piring perak dan gelas berkilau. Aroma daging panggang berempah dan anggur manis memenuhi udara, berbaur dengan alunan musik dawai yang lembut. Malam itu, seluruh petinggi kerajaan berkumpul untuk merayakan jamuan penyambutan Aldric Varkashan. Namun, bagi sebagian orang, kehangatan di dalam ruangan itu terasa terlalu semu.Di meja utama, Aldric duduk tepat di sebelah Valeska. Pria berambut hitam kebiruan itu telah menanggalkan kemeja kasualnya tadi sore, dan menggantinya dengan jubah beludru hitam berbordir benang emas khas bangsawan Valmorra. Tangan prostetik besinya tersembunyi dengan di bawah sarung tangan kulit hitam yang elegan."Cobalah ini, Sayang. Daging rusa ini dimasak dengan madu hutan Asterion. Kau pasti menyukainya," ucap Valeska manis. Ia memotong seiris kecil daging dan mengarahkannya ke bibir Aldric.Tanpa ragu sedikit pun, Aldric mencondongkan tubuh menerima
Udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Elara berjalan di lorong bagian barat istana membawa nampan perak berisikan gaun sutra, botol parfum kristal, dan satu set perhiasan yang memiliki desain senada berhiaskan batu sapphire. Semua perhiasan itu adalah milik mendiang ibunya. Langkahnya berhe
Jantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, beru
Hawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya. Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal ya
Rasa panas di pipi Elara akibat tamparan Seraphine benar-benar membuatnya merasa terhina. Perlakuan itu sangat tidak pantas karena sesungguhnya, dialah putri di kerajaan Eldoria. Bukankah ibu tiri dan saudara tiri seharusnya menghormati Elara? Mengingat keberadaan mereka di istana itu telah menggan







