MasukSeruan bidan kerajaan menggema hingga ke lorong-lorong Istana Asterion.Pagi itu, seluruh penghuni istana yang sejak semalam menunggu di luar kamar calon permaisuri akhirnya mengembuskan napas lega.Tangis bayi yang nyaring memecah kesunyian.Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat, meski lahir lebih cepat dari perkiraan tabib kerajaan.Kaelan, yang sedari tadi berdiri mematung di depan pintu dengan kedua tangan menyilang di depan dada langsung melangkah begitu tabib menganggukkan kepala."Paduka."Tabib tua itu menunduk hormat. "Ibu dan bayinya selamat."Kalimat sederhana itu seketika meruntuhkan seluruh ketegangan di wajah Kaelan.Pria yang selama bertahun-tahun tak pernah gentar menghadapi ribuan musuh di medan perang itu justru merasakan lututnya hampir kehilangan tenaga.Ia masuk tanpa menunggu siapa pun mempersilakan.Di atas ranjang, Elara tampak sangat pucat. Rambut hitam kecokelatannya basah oleh keringat, sementara napasnya masih terdengar berat akibat persalinan yang m
Kereta kuda berlapis baja hitam dengan lambang serigala perak khas Valmorra akhirnya melewati gerbang besi raksasa. Istana Valmorra berdiri megah dan angkuh di atas bukit, dikelilingi oleh kabut tipis dan hutan pinus yang sunyi. Sangat kontras dengan Istana Asterion yang selalu terasa hangat dan dipenuhi cahaya matahari. Bagi Valeska, tempat ini adalah rumah barunya, sekaligus awal dari pembuktian bakti cintanya pada Aldric. Sebagai pengantin baru, Aldric memperlakukan Valeska dengan sangat terhormat. Sepanjang perjalanan hingga jamuan sambutan di istana barunya, Aldric tetap menampilkan sosok suami yang sempurna. Ia menggandeng tangan Valeska, membantunya menuruni kereta, dan memperkenalkan Valeska kepada para pelayan setianya sebagai Permaisuri masa depan Valmorra.Hingga malam semakin larut, dan mereka harus melalui malam pengantin di kamar utama.Di bawah temaram lilin-lilin aromaterapi, di atas ranjang bertabur kelopak mawar merah, Aldric memenuhi kewajibannya sebagai seorang s
Hari yang dinantikan Valeska tiba. Lonceng di menara bertalu sejak fajar menyingsing, suaranya menggema membelah langit musim semi yang cerah. Jalanan sepanjang istana dipenuhi oleh kelopak bunga mawar yang ditaburkan oleh rakyat, menyambut hari pernikahan Putri Valeska dengan Pangeran Aldric Varkashan dari Valmorra. Sebuah persatuan dua kekuatan besar yang sempat diragukan. Valeska berdiri di depan cermin besar setinggi manusia. Gaun pengantin putih bersih berlapis sutra melekat indah di tubuhnya, dihiasi ribuan mutiara kecil yang berkilau setiap kali ia bergerak. Tiara emas bertatahkan berlian sudah terpasang kokoh di atas rambut pirangnya yang disanggul anggun. Senyum bibirnya merekah saat menyadari hari itu ia akan menjadi ratu semalam. Pintu kamar rias terbuka perlahan setelah ketukan tiga kali.Melalui pantulan cermin, Valeska melihat sosok pria berbadan tegap melangkah masuk. Senyumnya seketika memudar, berganti dengan raut wajah datar. Kaelan datang mengenakan jubah pangl
Lampu gantung kristal di aula utama Istana Asterion berpendar megah, memantulkan cahaya keemasan pada piring-piring perak dan gelas berkilau. Aroma daging panggang berempah dan anggur manis memenuhi udara, berbaur dengan alunan musik dawai yang lembut. Malam itu, seluruh petinggi kerajaan berkumpul untuk merayakan jamuan penyambutan Aldric Varkashan. Namun, bagi sebagian orang, kehangatan di dalam ruangan itu terasa terlalu semu.Di meja utama, Aldric duduk tepat di sebelah Valeska. Pria berambut hitam kebiruan itu telah menanggalkan kemeja kasualnya tadi sore, dan menggantinya dengan jubah beludru hitam berbordir benang emas khas bangsawan Valmorra. Tangan prostetik besinya tersembunyi dengan di bawah sarung tangan kulit hitam yang elegan."Cobalah ini, Sayang. Daging rusa ini dimasak dengan madu hutan Asterion. Kau pasti menyukainya," ucap Valeska manis. Ia memotong seiris kecil daging dan mengarahkannya ke bibir Aldric.Tanpa ragu sedikit pun, Aldric mencondongkan tubuh menerima
Tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan. Sebagian hanya mengajarkan, kapan seseorang harus berhenti mengejar, dan mulai menerima seseorang yang benar-benar menginginkannya. Sore mulai turun di atas Istana Asterion. Lorong-lorong istana yang biasanya ramai, kini lengang karena sebagian besar penghuni istana tengah sibuk mempersiapkan jamuan makan malam, untuk penyambutan calon suami Valeska-Aldric Varkashan. Aldric berjalan perlahan melewati taman belakang istana. Tatapannya menyapu setiap sudut, seakan sedang mencari seseorang. Hingga akhirnya ia menemukan sosok yang selama ini ingin ia temui.Dari kejauhan, ia melihat Elara sedang berdiri dengan seorang pria berbadan tegap berlutut di hadapannya. Pria di hadapan Elara mengelus dan mengecup perut bulat Elara, sebelum akhirnya pergi menjauh melalui gerbang sebelah timur istana. Elara tampak tersenyum saat melihat punggung besar Kaelan menjauh. Pemandangan yang membuat dada Aldric berdenyut nyeri karena perasaan iri. "Ba
Belati di tangan Valeska masih bergetar. Setetes darah mengalir tipis di sepanjang leher putihnya, membuat napas seluruh penghuni aula seolah ikut tertahan.Raja Arcturus menatap putri bungsunya dengan mata yang memerah. Dalam puluhan tahun memimpin Asterion, ia pernah menghadapi peperangan, pemberontakan, bahkan ancaman pembunuhan. Namun tidak ada satu pun yang mampu mengguncang hatinya sedalam melihat darah putri kesayangannya."Hentikan!" suara Arcturus terdengar serak. "Ayah akan merestui hubungan kalian."Kalimat itu menggema di seluruh aula.Seketika aula kembali hening. Semua bangsawan sontak saling berpandangan. Beberapa bahkan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.Valeska membeku."Benarkah?" bisiknya lirih. Sementara kedua sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman samar dengan mata berkaca-kaca. Arcturus menganggukkan kepala pelan. Meski berat memberikan restu atas hubungan Valeska dengan Aldric, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Nyawa Valeska jauh le
Udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Elara berjalan di lorong bagian barat istana membawa nampan perak berisikan gaun sutra, botol parfum kristal, dan satu set perhiasan yang memiliki desain senada berhiaskan batu sapphire. Semua perhiasan itu adalah milik mendiang ibunya. Langkahnya berhe
Jantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, beru
Hawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya. Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal ya
"Kyaaaaa!" Suara jeritan lolos dari bibir mungil Elara saat air dingin menyentuh kulitnya. Ia terperanjat dan memeluk tubuhnya. Rasanya baru sebentar dia beristirahat dan memejamkan mata, meski dia tidak benar-benar menikmati waktu istirahatnya. "D-dingin..." lirih Elara sembari menggigil.Dingi







