ログインMenjelang pagi, Feliks terbangun dari tidurnya yang tidak lelap, meskipun ia telah menumpahkan semua beban dan masalah yang dihadapi pada tubuh Diandra yang menerima keliaran nya dengan pasrah. Feliks melepaskan pelukannya pada pinggang Diandra, bangun menuju ke kulkas kecil meraih botol mineral lalu meneguk sampai habis. Ditatapnya tubuh telanjang Diandra yang terlentang dalam tidur pulasnya penuh kepasrahan , senyum kepuasan,nampak di wajahnya yang cantik . Feliks menarik selimut menutupi tubuh telanjang Diandra, tersenyum mengingat mereka menghabiskan malam itu dengan berganti-ganti posisi.Diambilnya laptop kemudian duduk tegak, matanya intens pada angka -angka yang bermunculan di layar laptop,'Semoga aku menemukan aliran dana Oom Javier,'batinnya, mengetuk-ngetuk meja sambil matanya tetap tertuju pada layar. "Yang...." Feliks mengalihkan matanya dari laptop ke suara manja Diandra. "Tidurlah,aku...." "Semalam kita lepas kendali, sampai kamu lupa pakai pengaman. Ambilkan pil
Di basement,pak Tikno sudah menunggu, membuka pintu mobil,"Pulang," ucap Feliks begitu masuk,melonggarkan dasinya, menggulung lengan panjang, Pak Tikno menatap majikannya dari kaca spion, tahu bahwa majikannya sedang kesal,dari gosip yang beredar dikalangan supir ia tahu bahwa majikannya telah difitnah. Ponsel Feliks berdering, dengan malas dilihatnya log panggilan,'Oma' batinnya. Sekejap hasratnya untuk menemui Diandra hilang,"Ke rumah sakit Mitra Sehat!"perintah Feliks. "Tidak jadi ke apartemen?" tanya pak Tikno. "Saya katakan ke rumah sakit! mengapa kamu bilang ke apartemen?" bentak Feliks. "Maaf tuan.." jawab pak Tikno. "Lewat tol!"perintah Feliks membuat pak Tikno sejenak gugup berusaha tetap tenang mengarahkan matanya ke jalan raya yang padat. Feliks mengambil ponselnya, membuka, jempolnya bergulir,"Hallo Oma," sapa Feliks berusaha menekan kemarahannya. "Saya sedang otw ke rumah sakit. Maaf, baru selesai konferensi pers." Kening Feliks berkerut, ekspresi marah n
Feliks sedang duduk di sofa menikmati aroma kopi hitam, menyeruput perlahan, memandang tubuh Diandra yang tergeletak di ranjang , tiba-tiba berubah posisi ke samping, meraih guling kadang -kadang bisa beberapa ganti posisi "Kalau tidur selalu bergerak, mencari posisi yang nyaman,"bisik Feliks kemudian tersenyum mengingat kebiasaan Diandra, kakinya yang mulus sering diparkir di paha, di perut Feliks. "Kalau aku lama disini, bisa-bisa ngak kantor," bisiknya lagi ,meneguk kopi sampai habis. Ponselnya berdering, "Ada apa Hafid menelpon, belum waktunya jam kantor,'bisik Feliks. Terdengar suara dari seberang,"Pagi." sapanya. "Mengapa tidak panggil sekuriti?" "Siapapun yang membuat obat di kantor, harus diamankan! Apalagi mereka bawa wartawan." "Apakah dengan kedatangan ku akan menyelesaikan masalah?" "Meredam masalah? Semalam ibu Sabrina nelpon, dengan tuduhan menculik Brandon, kalau menurut mereka aku yang menculik mengapa tidak melaporkan ke polisi?" Feliks menatap Diandra
Ponsel dokter Suratman berdering,"Permisi saya terima telpon dari staf rumah sakit." Kening dokter Suratman berkerut, tangannya mengepal kuat,"Katakan peraturan rumah sakit ,pasien masih harus diobservasi." "Siapa yang membocorkan ibu Jelita sudah siuman dan kondisinya sudah stabil." "Dokter Clara?" "Katakan ke dokter Clara, saya akan bertemu dengannya setelah ia selesai praktek." "Baik, siapapun itu tidak berhak menjenguk ibu Jelita." Kening dokter Suratman berkerut, lalu menoleh ke arah ibu Jelita,"Pak Javier dan Sabrina ngotot ingin bertemu dengan ibu." "Laksanakan seperti yang telah dokter perintahkan!" "Mereka katakan mereka ada hak di rumah sakit ini." "Yang punya saham , saya bukan mereka! Aneh, biasanya tidak peduli mengenai kesehatanku tiba-tiba peduli, pasti ada maksud tertentu, memaksa ingin menjenguk dengan alasan haknya sebagai anak!" Dokter kembali menelpon,"Katakan saja ibu Jelita sendiri mengatakan tidak mau diganggu,kalau ngotot ancam akan panggil satpam." F
"Maaf,aku terlalu liar." "Hum, ada masalah di kantor?" tanya Diandra lalu mendesis, menggeliat geli ketika Feliks membersihkan milik Diandra dengan air dingin. "Tidak." "Mengapa kamu sampai diluar kendali? Obrak sana obrik sini seperti ingin mengeluarkan semua beban yang kamu sebut sampah." Feliks menatap Diandra,ada keraguan di matanya. Diandra bisa membaca yang tersirat di mata Feliks. "Kamu anggap aku apa? Hanya tempat kamu membuang sampah masalahmu dengan mengobrak abrik habis tubuhku?" protes Diandra berusaha merapatkan kakinya. "Oma," "Oma memarahimu?" "Tidak!" "Ahh.. geli," Diandra kembali menggeliat kemudian tangannya meraih tangan Feliks ketika kembali jari Feliks membelai milik Diandra. "Cukup, jangan diterusin, nanti kebablasan." "Kita simpan untuk nanti malam," kata Feliks sambil tersenyum nakal. "Tumpahkan sampah yang masih menyangkut di pikiranmu. Aku hanya mendengarkan,aku tidak punya hak untuk memberi jalan keluar. Feliks merebahkan dirinya di samping Diand
Kekacauan terjadi di paviliun,raungan ambulans menghentikan aktivitas mereka, semua saling menatap. "Nyonya tua pingsan," "Nyonya tua lagi sarapan sama tuan muda Feliks," "Di paviliun," Beberapa pelayan meninggalkan pekerjaan mereka, berlari kecil ke paviliun. Di pintu mereka dicegat kepala pelayan,"Kembali ke rumah utama! Kalian tidak diperlukan disini." Perintahnya tegas. Di paviliun Javier dan isterinya , Sabina menatap Feliks yang berjuang menyelamatkan nyawa Omanya. Feliks menelentangkan tubuh Oma di lantai, memberikan napas buatan,ketakutan terlihat di wajahnya tapi berusaha tetap tenang. Merasa usaha nya tidak berhasil, Feliks melakukan kompresi dada, menekan dada oma. "Ia takut kalau Oma kesayangannya meninggal, tempat ia berpegang pasti goyah," ejek Sabina. "Ia kembali pada asalnya,sampah haram yang dipungut Oma." Ujar Javier dengan nada mengejek. Dada Feliks bergetar menahan marah mendengar ocehan kedua orang yang seharusnya prihatin melihat Oma pingsan. Tena
Pikiran Oom Feliks yang sedang melayang ketika sedang mencari cinta pertamanya dikejutkan dengan suara pak Tikno. "Tuan, saya akan membersihkan ruang kerja," "Silahkan. Kalau sudah selesai. Tutup pintunya,"kata Oom Feliks, membuka laci meja kerjanya mengambil segompok uang memberikan ke pak Tikno
Saat memasuki ruang kerjanya,mata Oom Feliks langsung tertuju ke kursi kerjanya, tempat ia dan Diandra memuaskan keinginan liar mereka. Diandra duduk di atas pangkuan Oom Feliks, posisi yang sangat disukai Oom Feliks benar-benar membuatnya kehilangan kewarasan, miliknya bisa masuk ke pusat terdalam
Oom Feliks yang merebahkan dirinya di sofa langsung berdiri, Diandra menghambur , mereka saling memeluk. “Aku merindukan daddy.” “Daddy juga sangat merindukanmu.” “Mengapa daddy tidak ke apartemen?” “Katanya ingin melihat kantor daddy,” “Humm.. kantornya indah dan elegan, seperti pemiliknya.”
Oom Feliks meninggalkan ruangan makan, naik tangga, kamarnya terletak di lantai dua, bersebelahan dengan kamar opa dan omanya. Masuk ke dalam kamar yang sudah lama ditinggalkan, aroma wangi pengharum ruangan khas keluarga Kartamihardo menyergap hidung Oom Feliks. Menatap ranjang besar, seprei biru







