LOGINFeliks memeluk pinggang Diandra dari belakang,membelai dengan lembut, tangan kekar bergerak liar ke atas membelai kedua bukit milik Diandra. "Baby.... sweety..." "Humm.... "Milikmu masih enak, membuat aku ketagihan," Diandra menggelinjang ketika jemari Feliks mempermainkan kedua p**"ng nya, merapatkan kakinya ketika gelenjar nikmat berdenyut -denyut di miliknya. Diandra memejamkan matanya, merasakan jemari Feliks bermain di kedua bukit dan pucuknya,setiap jemari Feliks seakan menyimpan listrik yang membuatnya menggelinjang membawa gelombang di bawah sana merayap perlahan-lahan ke pusat perutnya. "Akhhh..." "Beb, aku masih ingin," bisik Feliks sambil menekan tubuhnya ke tubuh Diandra. Diandra merasakan sesuatu yang keras di antara pahanya, berdenyut-denyut bersamaan dengan denyut di miliknya yang meronta ingin dimasuki. Diandra membalikkan tubuhnya, menatap Feliks. Tatapan mereka bertemu, tatapan penuh hasrat dan gairah. "Kamu semakin cantik jika sedang bergairah,"bis
"Lepaskan tanganmu!" Teriak Diandra berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Feliks. "Harum tubuhmu menggodaku," "Aku katakan lepaskan !" Feliks melepaskan kedua tangannya dari pinggang Diandra yang langsung menyelinap keluar dari ruang kerja Feliks sambil menahan tangisnya, jantungnya berdetak kencang, dibawah perutnya berdenyut denyut menuntut hak nya, membuat Diandra tidak fokus. Mencari ponselnya, ingin menghubungi taksi online ,Diandra berdiri tegak,'Oh ,tasku tertinggal,' batinnya lalu membalikkan badannya berlari kecil kembali ke ruang kerja Feliks. Tanpa mengetuk pintu dibukanya pintu dilihatnya Feliks duduk dengan santai di sofa tunggal,"Ini yang kamu cari?" tanyanya sambil menggoyang -goyangkan tas jinjing di tangannya. Tergopoh -gopoh Diandra akan mengambilnya tanpa melihat ke bawah, sepatu high heels nya kembali tersangkut di karpet. UPS! Diandra sempoyongan hampir terjatuh. Sekali lagi tangan kekar Feliks menyelamatkannya , memegang tubuh Diandra, menariknya deng
Sejak itu Feliks tidak pernah menemuinya demikian juga dengan Mike Kaiser setiap menelponnya jawabannya,"Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar." membuat hati Diandra gelisah, 'Apakah dia sibuk atau melupakanku? Apa artinya hubungan kita selama ini?'batin Diandra. Sudah dua hari tidak ada khabar dari Feliks demikian juga Mike Kaiser, sebelas dua belas, sulit dihubungi,'Apakah nomorku diblokir? Tapi mengapa?' batin Diandra. Ingin keluar kamar sekedar jalan-jalan tidak bisa karena pengawal selalu berjaga-jaga diluar. Baby boy semakin rewel, kadang-kadang tantrum karena terkurung terus di kamar. Sudah dua hari tidak ada khabar dari Feliks demikian juga Mike Kaiser, sebelas dua belas, sulit dihubungi,'Apakah nomorku diblokir? Tapi mengapa?' batin Diandra. Ketidak datangan Feliks ke kamarnya menjadi pikiran Diandra di malam hari dikala sedang berbaring di ranjang,membuatnya sulit tidur, kembali pada halusinasinya,payahnya ia bercinta dengan Feliks habis-habisan,'Sial, mengapa aku s
Sedang makan siang pintu diketuk,mbak Kinasih membuka pintu, terpaku di depan pintu setelah sadar berusaha untuk menutup kembali Tangan besar dan kokoh menahannya dan dengan percaya diri masuk ke dalam kamar ditatap Diandra dengan wajah tidak senang. Baby boy yang sedang makan, langsung meninggalkan piring makan, berdiri di dekat kursi Diandra,"Jangan ganggu mommy!" Feliks tersenyum kecil melihat tingkah baby boy,"Nak, selesaikan makan mu." "Opa ahat, baby tidak suka!" "Baby boy, duduk kembali ditempat mu dan selesaikan makan mu !" Perintah Diandra. "Baby boy jaga mommy," "Sayang, mommy tidak apa-apa,opa datang untuk melihat apakah kita suka makanan yang telah dipesan oleh opa." Ujar Diandra "Baby boy suka makanan yang opa pesan?" tanya Feliks. Bukannya menjawab pertanyaan Feliks malah menatap dengan tatapan polos khas seorang anak kecil,"Opa jangan ahat sama mommy." "Opa janji akan baik -baik sama mommy baby boy," "Janji?" "Hemm, janji," jawab Feliks lalu mengangkat tubuh
Diandra tidak mampu bergerak, mundur tidak mungkin Diandra terjebak antara dinding dan tubuh Feliks ,sedikit saja dia bergerak tubuhnya dan tubuh Feliks bisa bersentuhan. Diandra tahu apa yang akan terjadi. Hanya mampu menatap sepasang mata Feliks yang menatapnya penuh rindu,"Aku merindukan mu," bisik Feliks lirih disertai nafasnya berembus di telinga Diandra. Diandra mengepalkan tangannya kuat-kuat,"Aku... tidak merindukanmu,"bisik Diandra tepat di wajah Feliks. Feliks tersenyum kecil melihat tingkah Diandra.Tanpa disadarinya, Diandra dengan kekuatan penuh mendorong dirinya, Feliks sedikit goyah ,para bodyguard langsung berjaga di belakang tubuh Feliks. Feliks mengangkat satu tangannya seolah-olah mengatakan tidak apa-apa dan tanpa Diandra sadari Feliks mengangkat tubuh Diandra langsung menggendongnya ala bridal style masuk ke dalam kamar yang langsung tertutup. "Jangan ambil mommy ku !" teriak baby boy langsung berlari -lari ke arah pintu menggedor-gedor dan menendang kaki
Sambil makan burger dan cream sup, pikiran Diandra menerawang jauh,'Aku harus cari akal seandainya kami berpapasan dia tidak mengenal kami. ' Tiba-tiba Diandra teringat sesuatu, dibukanya tas jinjing, mencari, bernafas lega,'Ada,' batinnya dihitungnya sisa empat. 'Kalau baby boy dan mbak Kinasih mungkin mereka tidak kenal,tapi diriku? Hoody penyamar yang sempurna,'batin Diandra. "Mbak, tolong jaga baby boy ada yang ibu lupa, sebentar saja. Tunggu di sini jangan kemana-mana." "Baik Bu," "Baby, kamu jangan kemana-mana, dengar sama mbak Kinasih. Mama ada perlunya sebentar." Pesan Diandra wanti-wanti ke baby boy. Baby boy yang sibuk makan ayam goreng kesukaannya hanya mengangguk, Diandra tersenyum melihat gaya makannya, teringat seseorang yang tadi dilihatnya. Cepat-cepat meninggalkan gerai makanan kembali ke gerai pakaian. "Ada yang bisa dibantu ?"Sapa pramu dengan sapaan yang mungkin telah beribu-ribu kali diucapkan lalu memasang senyum profesionalnya. "Saya mencari switer
Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak dih
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand
Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi. “Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terl







