เข้าสู่ระบบHai bestie, mohon maaf dua hari tidak menulis. Dimalam hari dengan tubuh lemah aku mencoba menyelesaikan bab 67 yang sudah kubuat tapi tidak selesai karena tubuhku yang lemah, semoga bab 68 bisa saya rilis tepat waktunya. Tolong gem nya please.
Diandra terbangun, betapa kagetnya melihat dirinya ada di kursi cinta.'Hum, aku tertidur dengan tubuh telanjang, untung masih subuh,' batin Diandra. Mematikan lampu dan jakuzi , membungkus tubuhnya dengan handuk menuju ke kamar tidur. Seluruh tubuhnya, terpantul di keempat dinding bahkan di plafon, Diandra melepaskan handuknya menatap tubuhnya yang terlihat lebih montok , buah dadanya yang berdiri tegak, pinggulnya yang bulat, lalu menggeraikan rambut panjang ikalnya.Keseluruhan tubuh Diandra nampak menggoda di dinding kaca, Diandra mengagumi tubuhnya, 'Aku bangga akan tubuhku, baik Feliks dan Mike selalu mengagumi tubuhku,'bisiknya sambil memperagakan beberapa pose bagaikan model majalah dewasa, memasang senyum nakal di bibirnya yang kemerahan.Diandra mengganti senyum, tersenyum manis penuh kehangatan ,"Ini senyuman asliku, yang selama ini aku sembunyikan hanya Mike yang pernah melihatnya jika aku tersenyum penuh kepuasan. Hum... tidak! Feliks juga, tapi setelah menjadi Ferdy Mihar
Menjelang subuh mereka masuk kota Jakarta Selatan langsung menuju ke hotel disambut oleh bell boy mengurus barang bawaan Diandra yang langsung menuju ke counter resepsionis menunjukkan ponselnya. "Miss Diandra Putri Fiona, silahkan ke kamar 2202," Ujar resepsionis pria memberikan kartu . "Kartu kamar dan lift."Ujar nya sambil tersenyum. "Terima kasih," Diandra masuk kedalam, membuka pintu penghubung,"Mbak Kinasih tidur sama baby boy disini ya. Ibu tidur di kamar satunya. Ibu ingin sendiri." Mbak Kinasih mengangguk. "Kalau mau minum atau Snack buka saja kulkas,"ujar Diandra lalu menunjuk ke arah kulkas kecil. "Kamu istirahat, tidak perlu bangun pagi-pagi, nanti sarapan nya ibu minta di antar ke kamar," "Baik Bu,ibu juga istirahat,ibu terlihat capek banget." Diandra tersenyum mendengar ucapan tulus dari mbak Kinasih, "Terima kasih, selamat beristirahat." Diandra menuju ke pintu penghubung, menutup dengan perlahan-lahan , meletakkan tas jinjing di sofa langsung membaringkan tub
Selama perjalanan ponsel Diandra berdering terus, Rieke menelponnya beberapa kali. Akhirnya Diandra tidak sampai hati, mengangkat ponselnya,"Hallo," Rieke: ["Kamu jahat, kenapa kamu resign mendadak?]" Diandra:["Aku capek menghadapi pak Mihardo."] Rieke: ["Aku pernah katakan kalau kamu resign saya juga akan resign."] Diandra: ["Ini masalahku,aku tidak ingin melibatkan kamu untuk resign. Kamu...."] Rieke:["Kamu sekarang dimana?"] Diandra:["Aku dalam perjalanan ke Jakarta"] Rieke:["Apa?Kamu memang jahat!Kamu biarkan aku sendiri disini."] Diandra:[" Ini kesempatan terbaik untuk kamu sebagai desainer perhiasan. Tunjukkan dirimu kamu bisa, jangan hanya jadi bayangan aku. Apa yang aku buat,kemana aku pergi kamu selalu jadi bayangan aku. Jadilah dirimu!"] Rieke:["Aku tidak ingin jadi partner Gracela, bisa -bisa aku dijadikan tumbalnya." Diandra:["Mumpung Gracela sedang cuti,kamu tunjukkan dirimu kepada pak Mihardo,kamu desainer yang bisa diandalkan."] Rieke:['Lalu. kalau
Diandra menunduk, sebagian wajahnya tertutup masker,memperhatikan mas Priyanto yang sibuk menyolder liontin sepasang angsa. "Mbak , sudah menempel sempurna tanpa celah." Diandra membungkukkan badannya, mengambil jepitan melihat keseluruhan,"Sudah lebih bagus nempel nya dari pada tadi malam." ujar Diandra sambil meneliti liontin sepasang angsa membayangkan jika sudah selesai diberi batu permata kecil dimata sepasang angsa." "Bisakah saya ampelas sambungannya?" tanya mas Priyanto. "Silahkan, saya ingin melihat hasilnya." Dengan lembut mas Priyanto mulai mengempelas liontin sepasang angsa , Diandra menegakkan tubuhnya,"Saya ke ruang kerja, nanti saya balik." bisik Diandra lalu membalikkan tubuhnya. Di depan pintu berdiri pak Mihardo menatap ke arah Diandra, wajahnya terlihat menahan amarah. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya . Suara bariton pak Mihardo terdengar dengan nada tinggi. Diandra tidak merespons, malah akan melewati pak Mihardo. Mas Priyanto yang sedang sibuk m
Diandra dan Rieke tidak melanjutkan tidur mereka yang tertunda. Mereka duduk di sofa tanpa berkata-kata, Diandra sudah mulai tenang, Rieke sibuk dengan kukunya. Mbak Kinasih sudah di kamar meneruskan tidurnya ketika Hafid meminta mereka meninggalkan ruang tamu sewaktu pak Mihardo datang ke mess mereka. "Uh... sudah pagi,mau minum kopi? tanya Rieke. "Diandra menengok ke jam dinding,"Baru jam lima pagi, terlalu pagi untuk minum kopi." "Ok. Aku bikin untuk diriku sendiri," ujar Rieke lalu berdiri. "Rieke, bisakah kamu duduk sebentar,aku ...mmm.. mau cerita tentang masa laluku." Rieke menatap wajah Diandra,"Apakah hatimu sudah siap?" Diandra mengangguk,"Satu syarat yang aku minta, biarkan aku mengeluarkan semua luka -luka lama dan aibku , jangan kamu interupsi. Sesudahnya silahkan sikapmu terhadap aku, memakiku tidak bermoral, terserah! " "Ok. Aku siap mendengarkan dan mengunci mulutku rapat -rapat." Ujar Rieke. Diandra duduk tegak, sejenak terdiam, berusaha menata hatiny
Diandra terbangun dari tidurnya, tenggorokannya terasa kering,'Apakah aku bermimpi? Semalam terasa nyata,aku merasakan kenikmatan meskipun tidak mencapai puncak.' Tangannya mengambil tumbler, ternyata kosong "Uhh,aku lupa mengisinya,"ujarnya lalu berdiri meninggalkan ranjang keluar kamar menuju ke pantri. Keisengan nya muncul ingin melihat keadaan mess utama,jam di dinding ruang tamu menunjukkan jam 01.15.Perlahan menuju ke jendela, menyibak tirai terlihat teras mess utama gelap. Di penjar remang -remang dilihatnya api rokok, "Hum... mungkin satpam menjaga mess utama,"bisik Diandra lalu akan menutup tirai. Tangannya tiba-tiba berhenti sejenak ketika terdengar suara batuk. Diandra kembali menyibak tirai memperhatikan sosok yang duduk di teras yang masih terbatuk-batuk disertai nafas tersengal-sengal. "Oh.. Tuhan! Mengapa dia duduk di teras mess utama? " bisik Diandra. Pikiran liar Diandra mulai keluar dari benaknya,"Mungkin dia menjaga Gracela dan ibu Iswara dari amukan para
Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak dih
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand
Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi. “Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terl







