INICIAR SESIÓNHai bestiku. Terima kasih bersedia membaca novelku ini, terutama yang setia membaca dari bab 1 sampai bab 36. Pelukan hangat buat kalian yang setia. Please jangan lupa gemnya. Aku sangat membutuhkan gemnya.
Diandra merasakan perih di lengan nya betapa kagetnya melihat banyak goresan dipenuhesan i tetdarah ,"Gelangnya hilang." bisiknya tidak berani bersuara keras takut menjadi perhatian mereka yang ada di kamar. Seketika tubuhnya lemas,'Tidak masalah jika diambil Sabrina, kalau terjatuh dan diambil....' belum selesai Diandra berbicara dalam hati Feliks menghampiri nya, "Jangan khawatir, gelangnya aman." bisik Feliks. Tubuh yang semula lemas karena khawatir langsung tenang kembali. "Atas saran pak Lukito,gelang giok yang berhasil diambil Sabrina langsung direbut oleh para pengawal," ujar Feliks. Diandra tersenyum kecil,"Rasanya aku hampir pingsan ketika tahu gelangnya hilang dari pergelangan tanganku." "Untuk sementara kamu di dalam kamarku. Para pengawal akan berjaga-jaga diluar, Tidak ada yang boleh masuk ke kamarku tanpa ada ijin dari saya." Diluar kamar terdengar suara ribut-ribut dan teriakan Sabrina," Kembalikan gelang giok mami," Jessika mencari kotak P3K, mengambil jod
Kemegahan gerbang rumah besar yang terpampang di depannya tidak saja kekaguman ada ketakutan merayap di hati kecil Diandra begitu mobil memasuki halaman.Tangannya langsung meraih tangan Feliks menggenggam erat,"Yaang,aku takut," bisik Diandra. Feliks membelai tangan yang menggenggamnya,"Jangan takut,aku ada di sampingmu," "Dari gerbang rumah bisa aku rasakan entitas kepemilikannya," "Rumah besar adalah kebanggaan mami.Waktu dibeli ada beberapa gubuk di lahan seluas lapangan sepak bola,papi membongkar gubuk -gubuk meninggalkan satu gubuk dimana papi dan mami tinggal.Tahap demi tahap papi dan mami membangunnya, jadilah seperti sekarang."ujar Feliks. Feliks diam sejenak,"Aku tidak tahu bagaimana nanti sepeninggalnya mami,"katanya sambil menghela nafasnya. Mobil berhenti, pintu mobil dibuka oleh beberapa pria berbadan tegap dengan wajah datar tanpa senyum, Diandra menoleh ke arah Feliks seolah ingin bertanya siapa mereka. "Mereka pengawal pribadi yang akan mengawal kamu kemana
Feliks melepaskan jemarinya dari tangan ibu Jelita, tangan dingin dan tidak lagi bernyawa. Suara monitor dekat ranjang ibu Jelita lenyap tinggal kesunyian yang mencengkam, menyedihkan hati. Dokter Suratman menepuk bahu Feliks,"Maaf,saya mengharapkan dik Jelita bisa membaik, Tuhan lebih berkuasa atas hidupnya.Silahkan hubungi keluarga yang lain,' "Terima kasih dok. Dokter telah berbuat yang terbaik. " Diandra menatap kedua orang yang bercakap-cakap, tangan Feliks mengepal kuat tanda menahan amarahnya.'Aku harus menenangkan dirinya,bisa fatal jadinya kalau ia tidak mampu mengekang amarahnya,'batin Diandra lalu beranjak menuju ke kamar IGD. Feliks melihat Diandra, mengatakan sesuatu pada dokter Suratman yang kemudian memanggil perawat,"Berikan jas pelindung, biarkan nyonya Feliks masuk." Perawat melakukan yang diperintah dokter kemudian menyilahkan Diandra mendekati ranjang ibu Jelita. Diandra langsung memeluk Feliks, mereka saling berpelukan,"Beb,mami sudah pergi. Satu kata saja y
Diandra menggeliat ketika bibir Feliks intens bermain di bibirnya."Bangun tukang tidur," bisik Feliks. "Uhh... rasanya masih ingin tidur." "Sudah jam dua belas siang, kamu tidak lapar?" "Lapar bisa ditahan tapi ngantuk sulit ditahan," ujar Diandra, menarik bedcover memejamkan kembali matanya. "Aku pesan makanan, mau pesan apa?" Tidak ada jawaban, Feliks menoleh lalu tersenyum mendengar dengkur halus Diandra. 'Pasti ia lelah, kita melakukannya lepas kendali , mungkin suasana kamar, ranjang empuk , suasana hati ...mmm.. atau kami resmi suami isteri, membuat kami liar bahkan Diandra terus mencengkram kuat pinggulku.....' batin Feliks teringat permainan cinta mereka semalam, menyisakan denyut-denyut yang mengenakkan di bawah sana. Feliks meraih buku menu, memesan beberapa makanan dari minuman melalui room service. Terdengar keluhan Diandra, tangannya terangkat seolah melindungi dirinya,"Jangan...!" "Beb...kamu mimpi?" Diandra terlihat gelisah, tangan satunya mencengkram erat ge
"Yaang, kita kemana?" tanya Diandra ketika melihat mobil tidak menuju ke apartemen yang disewa Feliks selama sebulan. "Kita sesuatu tempat?" "Yang romantis?" tanya Diandra dengan tatapan mata berbinar-binar. "Hum, romantis, eksotis dan misterius," "Kok misterius? Ada horor nya?"tanya Diandra,mata yang sebelumnya berbinar-binar berubah ketakutan. "Humm..kalau malam hari," "Ogah ahh. Lebih baik ke apartemen saja," Feliks tertawa kecil, "Bukankah setiap malam horor?" Mengetahui arti maksud "horor" versi Feliks, Diandra langsung memukul-mukul lengan Feliks disambut Feliks dengan tertawa geli melihat kelakuan isterinya. Mobil memasuki kawasan hotel berbintang lima yang terkenal ikonik dengan gaya kolonial. "Wah... ikonik banget!"seru Diandra, takjub melihat keindahan seluruh bangunan hotel berlantai tiga. "Kamu suka?" "Suka,tapi horor nggak?" "Yang pasti di kamar kita pasti horor," goda Feliks. Diandra ingin protes,suara sopir berbahasa Inggris dengan logat Mela
Sebagai eksekutif tertinggi yang memimpin perusahaan, bertanggung jawab atas arah strategis perusahaan setiap sebulan mengadakan pertemuan formal diadakan rapat direksi dimana Feliks menerima laporan dari para direktur dilanjutkan rencana strategis ke depan. Brandon menginterupsi agenda membahas audit rapat tapi tidak disetujui sebagian peserta rapat membuat rapat memanas. Kewibawaan Feliks dalam memimpin rapat akhirnya merendam nyali Brandon. 'Dasar keturun Buular beludak! ' maki Feliks dalam hati menatap tajam ke arah Brandon. "Audit internal perlu didukung audit eksternal perusahaan untuk independensi, objektivitas, dan kredibilitas yang tidak dimiliki audit internal, serta memenuhi persyaratan kepatuhan hukum. "Bapak tidak percaya audit internal?!"bentak Brandon. "Saya ingin keuangan perusahaan transparan untuk meningkatkan kepercayaan pihak investor, bank, dan pemerintah." Setelah perdebatan panjang akhirnya rapat direksi sepakat dilakukan audit eksternal. Feliks tahu kepen
Pikiran Oom Feliks yang sedang melayang ketika sedang mencari cinta pertamanya dikejutkan dengan suara pak Tikno. "Tuan, saya akan membersihkan ruang kerja," "Silahkan. Kalau sudah selesai. Tutup pintunya,"kata Oom Feliks, membuka laci meja kerjanya mengambil segompok uang memberikan ke pak Tikno
Saat memasuki ruang kerjanya,mata Oom Feliks langsung tertuju ke kursi kerjanya, tempat ia dan Diandra memuaskan keinginan liar mereka. Diandra duduk di atas pangkuan Oom Feliks, posisi yang sangat disukai Oom Feliks benar-benar membuatnya kehilangan kewarasan, miliknya bisa masuk ke pusat terdalam
Oom Feliks yang merebahkan dirinya di sofa langsung berdiri, Diandra menghambur , mereka saling memeluk. “Aku merindukan daddy.” “Daddy juga sangat merindukanmu.” “Mengapa daddy tidak ke apartemen?” “Katanya ingin melihat kantor daddy,” “Humm.. kantornya indah dan elegan, seperti pemiliknya.”
Oom Feliks meninggalkan ruangan makan, naik tangga, kamarnya terletak di lantai dua, bersebelahan dengan kamar opa dan omanya. Masuk ke dalam kamar yang sudah lama ditinggalkan, aroma wangi pengharum ruangan khas keluarga Kartamihardo menyergap hidung Oom Feliks. Menatap ranjang besar, seprei biru







