แชร์

Bab 4. Sangkar Emas

ผู้เขียน: Ray Moon
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-06 19:14:40

"Hah!"

Lisa menikam Adam yang sedang tertidur dengan sekuat tenaga..

Jlep!

Pisau itu menembus bahu Adam, tetapi pria bertubuh kekar itu justru tersenyum mengejek. "Kamu pikir bisa mengalahkan orang sepertiku dengan pisau kecil ini, Nona?"

Lisa menelan ludah melihat sepasang mata Adam yang mendadak menatapnya dengan tajam. "Bo… leh aku pergi?"

"Mmmm!" Adam menggeser tubuh besarnya untuk memberi jalan.

Lisa yang tadinya ketakutan perlahan menyadari satu hal, di balik tubuh besar dan kejam itu, Adam memiliki kekuasaan yang mutlak. 

Rasa takut Lisa hilang dan berganti menjadi rasa tunduk yang aneh. Ia melangkah keluar dari kamar Adam menuju kamarnya sendiri dengan senyuman puas di bibirnya.

"Hai, kamu sudah kembali!" sambut Matilda cemas di depan pintu kamar.

"Ya, aku kembali," jawab Lisa dingin lalu melangkah masuk lebih dulu.

Melihat ekspresi wajah Lisa, Matilda menyipitkan mata keheranan. "Kamu tidak apa-apa? Kenapa tersenyum? Bukankah tadi kamu ingin kabur?"

"Tidak. Aku sekarang tahu, kalau menyukai pria kejam seperti dia artinya harus menghadapi bahaya, aku tidak peduli. Aku tidak akan pergi ke mana pun."

Lisa melontarkan kata-kata penurut itu dengan suara tajam. Sikap patuhnya yang aneh membuat Matilda terkejut.

Tiga hari berlalu sejak malam ketika Lisa diperkosa di ruangan serba merah itu. Tubuh Lisa mulai pulih. Memar ungu di kulitnya mulai memudar menjadi warna kekuningan. Namun, kondisi psikologisnya justru membuat Lisa menjadi sangat terobsesi pada Adam.

Setiap pagi, pintu besi kamar mereka terbuka. Seorang pelayan mendorong troli berisi makanan mewah seperti keju impor, stroberi segar, dan semangkuk kaldu hangat. 

Bagi staf Klub Kurara yang diperlakukan seperti budak, hidangan itu hanyalah fasilitas dari manajemen agar kondisi fisik Lisa tetap terjaga dengan baik. Namun bagi Lisa, sajian mewah itu adalah bukti bahwa Adam Kurara memperhatikannya dan menganggap dirinya lebih berharga daripada pelayan lainnya.

"Kamu memakan makanan itu seperti menerima hadiah berharga, Lisa," kata Matilda sinis saat melihat Lisa memotong daging panggang dengan hati-hati. "Dia hanya memberimu makan agar kamu siap bekerja untuknya lagi nanti. Sadarlah sebelum dia memanggilmu."

Lisa berhenti makan. Garpunya tertahan di depan bibir. Tanpa rasa marah, ia menoleh dan tertawa kecil dengan tenang, membuat Matilda merasa merinding.

"Kamu tidak paham, Matilda," bisik Lisa dengan mata berbinar. "Dia tidak akan mengirim makanan mewah di nampan perak untuk orang yang tidak dia hargai. Dia memang kasar. Dia tidak tahu cara menunjukkan perhatian dengan cara yang lembut. Sikap keras itu adalah caranya menandai bahwa aku adalah miliknya. Dia membutuhkanku."

Matilda terdiam dengan tubuh gemetar ketakutan. Ia menjatuhkan kuas riasnya hingga terdengar bunyi denting yang nyaring. "Dia menyukaimu dengan cara memukulmu dan menggigit bibirmu sampai berdarah! Itu adalah tindakan sadis! Dia merusak mentalmu agar kamu menjadi penurut di panggungnya!"

"Kalau begitu, aku akan menjadi penari favoritnya," jawab Lisa datar dan dingin. Ia mengambil satu suapan lagi lalu menatap pantulan dirinya di cermin. "Malam ini, aku akan memberinya pertunjukan yang bagus. Aku akan memastikan dia tidak melirik wanita lain lagi di Klub Kurara ini."

Matahari tenggelam dan lampu neon klub mulai dinyalakan. Suara musik keras dari lantai bawah mulai menggetarkan lantai. Area belakang panggung menjadi sangat sibuk dan penuh tekanan.

Malam ini, Matilda diperintahkan mendandani Lisa dengan pakaian yang sangat terbuka, yaitu gaun sutra hijau zamrud yang seksi. 

Setiap langkah Lisa memamerkan lekuk tubuhnya yang mulus. Dengan tangan gemetar, Matilda memakai perona mata gelap untuk membuat tatapan Lisa terlihat tajam. Bibir Lisa diberi lipstik merah darah yang tebal untuk menyembunyikan bekas luka gigitan Adam.

"Kamu terlihat sangat cantik dan seksi, Sayang," bisik Matilda. "Pria-pria di luar sana pasti akan menyukaimu. Tetaplah fokus pada musik dan jangan mencari keberadaan Adam."

Lisa bangkit dan berdiri tegak di atas sepatu hak tinggi warna emasnya sambil tersenyum bangga. "Aku tidak menari untuk pria-pria di luar sana, Matilda. Aku menari untuk satu-satunya pria yang penting bagiku."

"Lisa! Panggung tiga! Tampil dalam tiga puluh detik!" teriak kru panggung.

Lisa melangkah keluar dengan gerakan anggun. Saat ia mendekati panggung utama, suara pembawa acara terdengar dari pengeras suara: "Dan sekarang... penari utama kita... The Divine Lisa!"

Penonton di lantai bawah yang gelap dan penuh asap langsung bersorak keras sambil menghentakkan kaki. Tirai terbuka dan lampu strobo hijau dan putih menyorot tepat ke arah Lisa.

Lisa melangkah maju dan mengabaikan lautan pria yang berteriak sambil melemparkan uang kepadanya. Matanya langsung melihat lurus ke arah ruang VIP di lantai atas.

Adam ada di sana. Ia duduk di tengah sofa kulit hitam berbentuk U, dikelilingi oleh anak buah berjas dan pejabat tinggi kota. Ia mengenakan setelan jas abu-abu dengan kancing atas terbuka sambil memegang cerutu yang berasap. Saat Lisa muncul, Adam menyipitkan mata dan mengawasi setiap gerakan Lisa dengan tatapan penuh rasa kepemilikan.

Saat musik berdentum keras, Lisa melilitkan lengannya pada tiang besi di tengah panggung. 

Tanpa rasa canggung, ia menari mengikuti irama musik, berputar dan bergerak naik-turun dengan sangat anggun. Ia melengkungkan punggungnya, membiarkan rambutnya menjuntai, lalu menggerakkan pinggulnya mengikuti ketukan musik yang berat.

Lisa sengaja mengarahkan tariannya ke arah ruang VIP di atas sambil terus menatap Adam. 

Saat ritme musik semakin cepat, ia merentangkan kakinya pada tiang besi sehingga rantai emas di kulitnya terkena cahaya lampu. Penonton di bawah menjadi heboh dan melemparkan banyak uang ratusan dolar ke panggung.

Di ruang VIP, Adam mengisap cerutunya dalam-dalam dan membusungkan dada. Senyuman puas di wajahnya semakin lebar. Ia bisa merasakan bahwa semua pria di ruangan itu merasa iri kepadanya. Mereka menginginkan Lisa, tetapi wanita itu hanya milik Adam. Lisa adalah aset dan pekerja yang paling berharga baginya.

"Dia benar-benar hebat, Kurara," seorang komisaris kota tertawa sambil menepuk bahu Adam. "Di mana kamu menemukan wanita seperti itu? Aku bayar dua kali lipat dari tarif biasa untuk menjualnya selama satu jam."

Ekspresi wajah Adam seketika berubah menjadi sangat dingin. Suasana di ruang VIP mendadak menjadi tegang.

 Secara perlahan, Adam memutar kepalanya dan menatap tajam pejabat tersebut dengan tatapan mengancam. "Lisa tidak melayani siapapun," kata Adam dengan suara berat yang penuh ancaman. "Jika kamu menyentuhnya atau berani menanyakan harganya lagi, aku akan menghancurkan karier politikmu di kota ini."

Komisaris itu ketakutan dan langsung mengangguk cepat saat Adam bangkit berdiri. 

Adam membuang cerutunya. Matanya tetap tertuju pada Lisa yang sedang menyelesaikan pertunjukannya di lantai panggung diiringi sorakan histeris penonton.

Adam berbalik ke arah kepala pengawalnya dengan wajah penuh gairah. "Bawa dia ke kantorku sekarang. Kosongkan ruangan itu. Aku tidak ingin ada siapa pun yang mengganggu kami malam ini."

Di belakang panggung, Lisa yang masih terengah-engah didatangi oleh dua pengawal berbadan besar. "Tuan Adam menginginkanmu di kantornya sekarang, Lisa."

Jantung Lisa berdebar gembira. Tanpa memperdulikan Matilda yang berdiri terpaku sambil menutup mulut karena merasa ngeri, Lisa bergegas mengikuti pengawal menaiki tangga pribadi yang dijaga ketat.

Pintu kantor Adam dibuka. Ruangan itu sangat sunyi dan kedap suara dari bisingnya klub di bawah. 

Adam berdiri memunggungi pintu sambil melihat pemandangan kota di balik jendela kaca besar.

"Kamu menari dengan sangat bagus malam ini," puji Adam tanpa berbalik dengan suara rendah.

"Aku menari untukmu, Adam," bisik Lisa lembut. Tubuhnya sedikit menggigil karena ruangan ber-AC. "Aku ingin membuatmu bangga."

Perlahan, Adam membalikkan badannya. Lampu meja menerangi sebagian wajahnya yang tegas. Menatap pakaian seksi berwarna hijau zamrud yang dikenakan Lisa, matanya dipenuhi nafsu melihat tubuh wanita itu yang terbuka. Tanpa mengucapkan kata pujian, ia melangkah mendekat, melepas jam tangan peraknya, lalu melemparnya ke meja kerja.

"Kamu ingin membuatmu bangga?" bisik Adam sambil melangkah mendekati tepat di depan Lisa.

Tangan besar Adam mencengkram bagian belakang leher Lisa dengan kuat dan memaksa kepala gadis itu mendongak menatapnya. 

Senyumannya terlihat kejam. "Kalau begitu, berlututlah, Lisa. Buktikan padaku seberapa besar kamu patuh menjadi milikku sebelum aku menyiksamu lagi."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Luinna Hart
adam posesif
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 48. Akhir Kisah Lisa

    “Bagus sekali,” bisik Adam sambil tersenyum lebar mendengar kesepakatan Lisa atas idenya. Tanpa membuang waktu, ia memimpin Lisa menuju ruangan VIP tertutup, diikuti oleh sekumpulan pria kaya yang rela merogoh kocek sangat dalam demi menyaksikan aksi liar sang penari.Di dalam ruangan berlampu remang itu, dentuman musik bertempo lambat mulai mengalun. Lisa melangkah ke tengah ruangan dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menggoda. Dengan riasan serba hitam yang menyeramkan sekaligus memikat, setiap liukan tubuhnya malam itu terasa mematikan. Ia menari bagai iblis yang sedang merayakan kebebasan. Setiap gerakannya membius semua mata, namun tak seorang pun diizinkan menyentuhnya. Lisa menari bukan lagi untuk menyenangkan orang lain, melainkan untuk menegaskan kekuasaannya di atas panggung itu.Usai pertunjukan eksklusif yang membuahkan tumpukan uang bagi Kurara, Adam menghampiri Lisa di ruang belakang. Matanya berbinar melihat keuntungan besar yang baru saja diraupnya."Kamu luar

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 47. Memulai aksi Baru

    “Dia pikir aku pulang tanpa rencana,” kekeh Lisa lalu melangkah meninggalkan Matilda yang masih menatapnya dengan sinis.Lisa memang kembali ke Kurara, tapi tidak dengan wajahnya yang dulu. Sesampainya di ruang make-up, dia segera berhias, tapi tidak sebagai gadis penurut seperti yang sudah pernah ditunjukkannya. Di sana Lisa menggambar wajahnya sebagai iblis.Dengan makeup serba hitam, dia mulai terlihat begitu mempesona hingga Adam yang tak sengaja melintas berdecak kagum melihat penampilan Lisa yang baru.“Wah! Kamu sangat cantik,” ucap Adam sambil menepuk tangannya.“Adam, sejak kapan kamu di sana?” tanya Lisa dengan tatapan mata yang tajam tapi mempesona.“Kamu benar-benar luar biasa, Lisa,” ulang Adam sambil meraba dadanya yang berdegup kencang.“Kamu suka?”“Ya, sangat suka. Kamu harus ke kamarku malam ini dan kita harus membakar lagi cinta lama kita yang sudah padam.”Lisa tak menjawab. Dia hanya meninggikan alisnya, mengetahui pria ini mulai berbirahi melihat penampilan baru

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 46. Kembali Ke Kurara

    “Injak gas. Kita harus lepas dari pengawasan mereka!” perintah Adam membuat supirnya segera melaju membelah jalanan sepi itu.Lisa terus menatap ke arah Mikail yang mengejar mobil Adam dengan tatapan dingin. Dia seakan tau isi kepala pria yang merupakan ayahnya itu. “Aku rasa dia memang benar-benar gila!” ketus Lisa saat mobil yang dia kendarai hampir ditabrak MIkail.“Harusnya kamu ikut dia saja,” kekeh Adam sambil menggelengkan kepalanya.“Tidak mau! Dia memang pria jahat. Kalau dia baik, tidak mungkin kalau sia sampai meninggalkan ibuku seorang diri!”“OH! Aku tidak tahu cerita itu. Aku turut prihatin mengetahuinya,” tutur Adam sambil menghentikan tawanya.Lisa lalu mengingat lagi apa saja yang dilakukan Mikail selama ini padanya. Dia bahkan harus berkali-kali mencari pekerjaan saat masih duduk di bangku sekolah demi sesuap nasi untuknya dan sang ibu padahal di luaran sana semua orang selalu berkata kalau Mikail, ayah Lisa adalah orang yang kaya raya.Mobil Mikail dan Viktor saling

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 45. Mengejar Cinta Lisa

    “Aku memilih…” Lisa terdiam lalu memutar wajahnya ke arah Mikail."Lisa..." panggil Mikail lembut memohon agar Lisa memilihnya.Namun, panggilan itu seolah tak menyentuh hatinya. Lisa justru menoleh ke arah Slatan, pria berbaju dokter yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajah Slatan begitu tampan, matanya memancarkan kecemasan yang tulus. Tetapi bagi Lisa, pria itu tetaplah orang asing. Kehadiran Slatan terlalu terlambat untuk menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menganga.Setelah memandangi Mikail dan Slatan, kepala Lisa perlahan menoleh ke arah Adam. Pria yang selama ini menjadi sumber dari trauma terbesarnya, sekaligus pria yang menanamkan rasa cinta yang beracun di jiwanya. Perlahan namun pasti, kaki Lisa melangkah mendekati sosok tinggi besar itu.Melihat langkah Lisa, senyum licik perlahan melebar di wajah Adam."Aku memilih Adam," bisik Lisa dingin, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Adam sebelum merengkuh tubuh pria itu."Tidak!" teriak Mikail begitu lantang, suaranya pe

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 44. Adam Kembali

    "Tolak tawaran manis dokter itu, Lisa, sebelum kau menyesal karena telah mempercayai dongeng yang mereka ciptakan!” teriak Adam sebelum sebuah suara dentuman keras memotong keheningan saat pintu utama kediaman Mikail hancur berkeping-keping diiringi desakan tembakan senjata api.Asap mesiu membumbung tinggi di ruang tengah. Adam Kurara melangkah masuk melintasi jejak para pengawal Mikail yang bersimbah darah. Jas hitam mewahnya tampak bernoda, sementara sepasang matanya menyala penuh intimidasi dan dominasi mutlak.Mikail bergegas keluar dari ruangan bersama senjata terkokoh di tangannya sedang Slatan melangkah paling depan untuk menjadi tameng bagi Lisa."Adam Kurara!" bentak Mikail dengan nafas terengah. "Berani sekali kau menginjakkan kaki di rumahku!"Adam terkekeh pelan, sebuah senyuman kejam terukir di wajah tampannya yang dingin. "Tuan Mikail yang terhormat. Aku hanya datang untuk menagih apa yang menjadi hakku. Dua puluh lima juta dolar. Bayar seluruh utang judi bajinganmu itu

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 43. Dokter Slatan

    “Kenapa?” Mikail merasa heran. Alis tebalnya bertaut menatap pantulan wajah putrinya dari cermin. “Bukankah kau baru saja bilang kalau kau menyukainya? Slatan pemuda yang cerdas, sopan, dan yang terpenting, dia bisa melindungimu saat aku tidak ada.”Senyum di wajah Lisa seketika luntur. Ia menundukkan kepala, memandangi jemarinya yang masih berbalut perban tipis. Tangannya perlahan meremas ujung gaun tidurnya dengan gemetar.“Ayah sepertinya lupa dari mana Ayah memungutku,” suara Lisa penuh dengan kepahitan. “Aku ini tawanan Kurara. Berbulan-bulan aku dipaksa melayani tamu, ditonton oleh mata-mata liar lalu disentuh dengan kasar... Harga diriku sudah hancur lebur, Ayah. Aku sudah rusak,” isak Lisa mengingat masa lalunya yang kelam.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status