ANMELDEN"Hah!"
Lisa menikam Adam yang sedang tertidur dengan sekuat tenaga..
Jlep!
Pisau itu menembus bahu Adam, tetapi pria bertubuh kekar itu justru tersenyum mengejek. "Kamu pikir bisa mengalahkan orang sepertiku dengan pisau kecil ini, Nona?"
Lisa menelan ludah melihat sepasang mata Adam yang mendadak menatapnya dengan tajam. "Bo… leh aku pergi?"
"Mmmm!" Adam menggeser tubuh besarnya untuk memberi jalan.
Lisa yang tadinya ketakutan perlahan menyadari satu hal, di balik tubuh besar dan kejam itu, Adam memiliki kekuasaan yang mutlak.
Rasa takut Lisa hilang dan berganti menjadi rasa tunduk yang aneh. Ia melangkah keluar dari kamar Adam menuju kamarnya sendiri dengan senyuman puas di bibirnya.
"Hai, kamu sudah kembali!" sambut Matilda cemas di depan pintu kamar.
"Ya, aku kembali," jawab Lisa dingin lalu melangkah masuk lebih dulu.
Melihat ekspresi wajah Lisa, Matilda menyipitkan mata keheranan. "Kamu tidak apa-apa? Kenapa tersenyum? Bukankah tadi kamu ingin kabur?"
"Tidak. Aku sekarang tahu, kalau menyukai pria kejam seperti dia artinya harus menghadapi bahaya, aku tidak peduli. Aku tidak akan pergi ke mana pun."
Lisa melontarkan kata-kata penurut itu dengan suara tajam. Sikap patuhnya yang aneh membuat Matilda terkejut.
Tiga hari berlalu sejak malam ketika Lisa diperkosa di ruangan serba merah itu. Tubuh Lisa mulai pulih. Memar ungu di kulitnya mulai memudar menjadi warna kekuningan. Namun, kondisi psikologisnya justru membuat Lisa menjadi sangat terobsesi pada Adam.
Setiap pagi, pintu besi kamar mereka terbuka. Seorang pelayan mendorong troli berisi makanan mewah seperti keju impor, stroberi segar, dan semangkuk kaldu hangat.
Bagi staf Klub Kurara yang diperlakukan seperti budak, hidangan itu hanyalah fasilitas dari manajemen agar kondisi fisik Lisa tetap terjaga dengan baik. Namun bagi Lisa, sajian mewah itu adalah bukti bahwa Adam Kurara memperhatikannya dan menganggap dirinya lebih berharga daripada pelayan lainnya.
"Kamu memakan makanan itu seperti menerima hadiah berharga, Lisa," kata Matilda sinis saat melihat Lisa memotong daging panggang dengan hati-hati. "Dia hanya memberimu makan agar kamu siap bekerja untuknya lagi nanti. Sadarlah sebelum dia memanggilmu."
Lisa berhenti makan. Garpunya tertahan di depan bibir. Tanpa rasa marah, ia menoleh dan tertawa kecil dengan tenang, membuat Matilda merasa merinding.
"Kamu tidak paham, Matilda," bisik Lisa dengan mata berbinar. "Dia tidak akan mengirim makanan mewah di nampan perak untuk orang yang tidak dia hargai. Dia memang kasar. Dia tidak tahu cara menunjukkan perhatian dengan cara yang lembut. Sikap keras itu adalah caranya menandai bahwa aku adalah miliknya. Dia membutuhkanku."
Matilda terdiam dengan tubuh gemetar ketakutan. Ia menjatuhkan kuas riasnya hingga terdengar bunyi denting yang nyaring. "Dia menyukaimu dengan cara memukulmu dan menggigit bibirmu sampai berdarah! Itu adalah tindakan sadis! Dia merusak mentalmu agar kamu menjadi penurut di panggungnya!"
"Kalau begitu, aku akan menjadi penari favoritnya," jawab Lisa datar dan dingin. Ia mengambil satu suapan lagi lalu menatap pantulan dirinya di cermin. "Malam ini, aku akan memberinya pertunjukan yang bagus. Aku akan memastikan dia tidak melirik wanita lain lagi di Klub Kurara ini."
Matahari tenggelam dan lampu neon klub mulai dinyalakan. Suara musik keras dari lantai bawah mulai menggetarkan lantai. Area belakang panggung menjadi sangat sibuk dan penuh tekanan.
Malam ini, Matilda diperintahkan mendandani Lisa dengan pakaian yang sangat terbuka, yaitu gaun sutra hijau zamrud yang seksi.
Setiap langkah Lisa memamerkan lekuk tubuhnya yang mulus. Dengan tangan gemetar, Matilda memakai perona mata gelap untuk membuat tatapan Lisa terlihat tajam. Bibir Lisa diberi lipstik merah darah yang tebal untuk menyembunyikan bekas luka gigitan Adam.
"Kamu terlihat sangat cantik dan seksi, Sayang," bisik Matilda. "Pria-pria di luar sana pasti akan menyukaimu. Tetaplah fokus pada musik dan jangan mencari keberadaan Adam."
Lisa bangkit dan berdiri tegak di atas sepatu hak tinggi warna emasnya sambil tersenyum bangga. "Aku tidak menari untuk pria-pria di luar sana, Matilda. Aku menari untuk satu-satunya pria yang penting bagiku."
"Lisa! Panggung tiga! Tampil dalam tiga puluh detik!" teriak kru panggung.
Lisa melangkah keluar dengan gerakan anggun. Saat ia mendekati panggung utama, suara pembawa acara terdengar dari pengeras suara: "Dan sekarang... penari utama kita... The Divine Lisa!"
Penonton di lantai bawah yang gelap dan penuh asap langsung bersorak keras sambil menghentakkan kaki. Tirai terbuka dan lampu strobo hijau dan putih menyorot tepat ke arah Lisa.
Lisa melangkah maju dan mengabaikan lautan pria yang berteriak sambil melemparkan uang kepadanya. Matanya langsung melihat lurus ke arah ruang VIP di lantai atas.
Adam ada di sana. Ia duduk di tengah sofa kulit hitam berbentuk U, dikelilingi oleh anak buah berjas dan pejabat tinggi kota. Ia mengenakan setelan jas abu-abu dengan kancing atas terbuka sambil memegang cerutu yang berasap. Saat Lisa muncul, Adam menyipitkan mata dan mengawasi setiap gerakan Lisa dengan tatapan penuh rasa kepemilikan.
Saat musik berdentum keras, Lisa melilitkan lengannya pada tiang besi di tengah panggung.
Tanpa rasa canggung, ia menari mengikuti irama musik, berputar dan bergerak naik-turun dengan sangat anggun. Ia melengkungkan punggungnya, membiarkan rambutnya menjuntai, lalu menggerakkan pinggulnya mengikuti ketukan musik yang berat.
Lisa sengaja mengarahkan tariannya ke arah ruang VIP di atas sambil terus menatap Adam.
Saat ritme musik semakin cepat, ia merentangkan kakinya pada tiang besi sehingga rantai emas di kulitnya terkena cahaya lampu. Penonton di bawah menjadi heboh dan melemparkan banyak uang ratusan dolar ke panggung.
Di ruang VIP, Adam mengisap cerutunya dalam-dalam dan membusungkan dada. Senyuman puas di wajahnya semakin lebar. Ia bisa merasakan bahwa semua pria di ruangan itu merasa iri kepadanya. Mereka menginginkan Lisa, tetapi wanita itu hanya milik Adam. Lisa adalah aset dan pekerja yang paling berharga baginya.
"Dia benar-benar hebat, Kurara," seorang komisaris kota tertawa sambil menepuk bahu Adam. "Di mana kamu menemukan wanita seperti itu? Aku bayar dua kali lipat dari tarif biasa untuk menjualnya selama satu jam."
Ekspresi wajah Adam seketika berubah menjadi sangat dingin. Suasana di ruang VIP mendadak menjadi tegang.
Secara perlahan, Adam memutar kepalanya dan menatap tajam pejabat tersebut dengan tatapan mengancam. "Lisa tidak melayani siapapun," kata Adam dengan suara berat yang penuh ancaman. "Jika kamu menyentuhnya atau berani menanyakan harganya lagi, aku akan menghancurkan karier politikmu di kota ini."
Komisaris itu ketakutan dan langsung mengangguk cepat saat Adam bangkit berdiri.
Adam membuang cerutunya. Matanya tetap tertuju pada Lisa yang sedang menyelesaikan pertunjukannya di lantai panggung diiringi sorakan histeris penonton.
Adam berbalik ke arah kepala pengawalnya dengan wajah penuh gairah. "Bawa dia ke kantorku sekarang. Kosongkan ruangan itu. Aku tidak ingin ada siapa pun yang mengganggu kami malam ini."
Di belakang panggung, Lisa yang masih terengah-engah didatangi oleh dua pengawal berbadan besar. "Tuan Adam menginginkanmu di kantornya sekarang, Lisa."
Jantung Lisa berdebar gembira. Tanpa memperdulikan Matilda yang berdiri terpaku sambil menutup mulut karena merasa ngeri, Lisa bergegas mengikuti pengawal menaiki tangga pribadi yang dijaga ketat.
Pintu kantor Adam dibuka. Ruangan itu sangat sunyi dan kedap suara dari bisingnya klub di bawah.
Adam berdiri memunggungi pintu sambil melihat pemandangan kota di balik jendela kaca besar.
"Kamu menari dengan sangat bagus malam ini," puji Adam tanpa berbalik dengan suara rendah.
"Aku menari untukmu, Adam," bisik Lisa lembut. Tubuhnya sedikit menggigil karena ruangan ber-AC. "Aku ingin membuatmu bangga."
Perlahan, Adam membalikkan badannya. Lampu meja menerangi sebagian wajahnya yang tegas. Menatap pakaian seksi berwarna hijau zamrud yang dikenakan Lisa, matanya dipenuhi nafsu melihat tubuh wanita itu yang terbuka. Tanpa mengucapkan kata pujian, ia melangkah mendekat, melepas jam tangan peraknya, lalu melemparnya ke meja kerja.
"Kamu ingin membuatmu bangga?" bisik Adam sambil melangkah mendekati tepat di depan Lisa.
Tangan besar Adam mencengkram bagian belakang leher Lisa dengan kuat dan memaksa kepala gadis itu mendongak menatapnya.
Senyumannya terlihat kejam. "Kalau begitu, berlututlah, Lisa. Buktikan padaku seberapa besar kamu patuh menjadi milikku sebelum aku menyiksamu lagi."
Dor!Suara tembakan itu memecah kesunyian, tetapi peluru Kevin tidak bersarang di kepala Adam.Peluru itu melesat melintasi telinga Adam dan menghantam dinding beton di belakangnya. Adam menjerit pasrah, mengira ajalnya telah tiba. Namun, tawa dingin tiba-tiba menggema dari arah pintu masuk Kurara yang hancur.Prok! Prok! Prok!"Adegan yang dramatis, Kevin," sebuah suara yang familiar memecah ketegangan.Dari balik kegelapan Marcus melangkah masuk dengan santai.Di belakangnya, puluhan lampu senter taktis mendadak menyala serentak, menyilaukan seisi ruangan.Bukan lagi anak buah Kevin yang memegang k
“Bisa-bisanya dia buat masalah di malam pertama dia kembali?!” geram Adam sambil meremas jemarinya.Adam dan Matilda menyaksikan kekacauan itu dari balkon VIP. Wajah Adam memucat karena ketakutan.Kurara yang ramai itu kini berubah menjadi medan perang dan jeritan para pengunjung tidak membuat mereka mendapatkan keuntungan melainkan membawa polisi ke depan pintunya.“Matilda! Hentikan mereka! Dia merusak segalanya!” teriak Adam panik sambil memegangi kepala.“A-aku akan coba, Adam! Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya!”Tiba-tiba, dentuman keras terdengar dari pintu masuk Kurara. Musik berhenti dan lampu sorot mati total, hanya menyisakan kegelapan yang mencekam.
Matilda terhenyak mendengar tekad bulat Lisa. Ia menatap nanar gadis yang dulu pernah ia anggap saingannya. “Lisa, kumohon... dengarkan aku. Adam tidak main-main. Dia bisa saja membunuhmu atau lebih buruk menyiksa Kevin jika kita tidak menuruti keinginannya. Aku terjepit, Lisa.”“Aku tidak peduli!” bentak Lisa. Tubuhnya bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang meluap. “Kau menjualku, Matilda. Kau dan Adam sama saja! Binatang!”Isak tangis Lisa berubah menjadi seringai dingin. “Dan kau bilang Kevin akan disiksa? Kau salah besar. Kevin adalah seorang mafia. Dia akan meratakan Kurara dengan tanah begitu dia tahu aku diculik. Saat itu terjadi, aku akan tertawa di atas penderitaan kalian semua.”Perdebatan mereka terhenti ketika pintu kamar terbuk
“Tuan! Tuan!” Teriakan Eleanora memecah keheningan sebelum fajar menyingsing.Adam yang sedang terlelap seketika tersentak. Ia duduk di tepi ranjang, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih berkabut. ‘Kenapa nenek tua itu harus berteriak-teriak di pagi buta begini? Menyebalkan sekali!’ batinnya geram.“Tuan!”Tok! Tok! Tok!“Apa?!” teriak Adam sekencang-kencangnya. Ia paling tidak suka diganggu saat sedang tidur. “Masuk!”Pintu terbuka. “Maaf membangunkanmu, Tuan,” ucap Eleanora dengan suara bergetar. Ia sadar betul tuannya sangat terganggu. “Nona L
“Baiklah. Aku akan mengikuti permainanmu, Nona. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik,” ucap Marcus dengan wajahnya yang licik.Matilda meninggikan cuping bibirnya merasa jijik dengan pria yang diajaknya bernegosiasi. Tapi bagaimanapun dia tetap butuh pria ini hingga dia akhirnya tetap tersenyum sampai Marcus hilang dari pandangannya.Malam makin larut ketika langkah berat Marcus menggema di lantai Klub Kurara.Adam yang sudah bersiap untuk kedatangan sekutu barunya itu segera memberi isyarat.Tanpa membuang waktu, ia mengajak Marcus ke ruang kerja pribadinya di lantai atas agar percakapan rahasia mereka tidak bocor ke telinga para pengunjung.Begitu pintu tertutup rapat, Adam langsung membuka suara.
“Oh, memangnya berapa bayaran yang kau minta?”Marcus menyandarkan tubuh tambunnya ke kursi, lalu berbisik, “Paling tidak, Adam harus menyerahkan dua puluh persen dari total keuntungan Kurara setiap malamnya.”“Hah?! Sebanyak itu?” Matilda terperangah. Detik itu juga, nyalinya menciut. Ia mendadak tidak yakin Adam akan sudi menerima bantuan dari pria menyebalkan di hadapannya ini.“Kenapa kamu menatapku begitu?” tanya Marcus lalu terkekeh licik. “Tenang saja, itu masih harga yang bisa dinegosiasikan.”Matilda menghela napas, mencoba mengatur siasat. “Ya, aku tahu Adam sangat membutuhkan Lisa. Tapi, mungkin jumlahnya bisa Anda pertimbangkan lagi, Tuan. Jika sebanyak itu, Anda sendiri tahu, kan, bagaimana kondisi kami? Kami masih harus menyuap pejabat kepolisian, politisi korup, dan beberapa pengusaha kejam hanya untuk bertahan hidup di bisnis ini. Jadi, kalau bisa, kurangilah jumlahnya.”Marcus menyandarkan punggungnya ke kursi. “Ah, aku sepertinya sangat paham posisi Adam saat ini.”







