Beranda / Mafia / Gadis Tawanan Tuan Mafia / Bab 3. Di Penthouse

Share

Bab 3. Di Penthouse

Penulis: RKamila
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 12:24:01

Kriet!

Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan.

Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City.

“Sepertinya aku belum pernah melihat tempat ini di Novara City!” kata Alena dengan suara pelan, bicara pada dirinya sendiri.

Bangunan megah itu dihiasi dinding kaca dari lantai hingga ke langit-langit. Di tengah ruangan sudah ada perabot mahal seperti meja kaca, laptop versi baru yang belum pernah ia lihat.

Ya, Alena hanya memiliki laptop butut yang sudah sering kali mengalami error yang masih ia pakai. Walaupun ia sudah beberapa kali meminta ibunya untuk membelikan yang baru, tapi permintaan itu tak pernah dituruti hingga sekarang.

Mereka hanya memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi, tanpa memikirkan masa depan Alena. Bahkan hanya untuk sebuah laptop baru saja, dirinya harus mau menjadi pembantu di rumahnya sendiri selama seminggu. Tapi Eleanor tak pernah menepati janjinya untuk membelikan Alena laptop.

Alena tertegun dengan bangunan yang menjulang tinggi, tapi ia takut untuk bertanya. Ia kira dirinya akan dibawa ke basement, atau tempat kumuh dengan tangan dirantai, hingga dipakai secara bergiliran.

Beberapa anak buahnya kembali memegangi tangannya dengan sangat erat, membuat Alena tidak bisa berkutik kembali. Sampai mereka masuk ke dalam lift, Alena hanya berani melirik sedikit ke arah para anak buah klan Voss. Ia juga sempat melihat tombol lift yang menyala. Mereka sedang menuju lantai paling atas.

Sambil masih tercengang mengamati keindahan penthouse, Alena digiring masuk.

Di sana tampak tirai yang menutupi jendela itu terbuka menunjukkan keindahan lampu yang gemerlap. Sedangkan di meja sudah tertata rapi laptop dan alat kerja yang lain.

Alena berjalan pelan, sesuai arahan dari beberapa anak buah yang memeganginya.

"Apa ini ruang kerjanya monster itu?" gumam Alena.

Kieran berdehem.

Alena langsung meringkuk ketakutan. Pandangannya tertuju pada laki-laki yang duduk di kursi kerja, di belakang meja besar yang tampak mahal.

Sayangnya Alena tidak bisa melihat siapa laki-laki yang tengah duduk membelakangi mereka itu. Netranya tak pernah lepas karena rasa keingintahuannya, apalagi di dalam hatinya sedang bertanya-tanya.

‘A—apa dia? Monster itu?!’ Netranya kembali menunduk, takut untuk menatap laki-laki itu.

Dari belakang saja sudah terlihat bengis dan terasa aura negatif sang pemimpin klan Voss.

Alena merasa canggung dan bersalah, karena ia kelepasan sudah mengucapkan kata ‘Monster’.

“Barangnya sudah tiba, Bos!” ucap Jaxon melapor.

Kieran tak berniat susah-susah berbalik untuk melihat kearah Alena. Ia berkomentar dari posisi yang sama.

“Kamu harus ganti semua uang yang aku beli untuk tubuh dan nyawa yang tidak berguna itu!” kata Kieran dingin.

Netra Alena membulat sempurna. Tubuhnya gemetar, karena takut setelah mendengar ucapan itu. Pikirannya pun tak bisa berhenti membayangkan hal yang mengerikan.

“Tu—tubuh? Nyawa saya?!” Sontak, kata itu keluar dari mulut Alena.

Alena pikir, ia hanya akan di jual dan menjadi wanita murahan. Namun sepertinya, bahkan nyawanya saja sudah tak berharga di sini.

Insting bertahan hidup menyadarkannya. Alena harus mampu untuk hidup disini.

Alena menarik dan menghembuskan nafas yang berat, rasanya tubuhnya lemas membayangkan semua yang akan ia lalui nanti.

Mungkin Alena harus menuruti kemauan mafia monster itu terlebih dahulu, sembari ia mencari celah untuk kabur dari neraka itu.

“Tap—tapi, bos, badan gadis ini penuh luka,” jelas Jaxon.

“Apa?! Aku meminta kalian untuk menjaganya bukan membawa gadis cacat!” sentak Kieran.

Kata-kata itu membuat Alena tak berani menaikan pandangan, ia menunduk dengan sangat ketakutan bahkan kakinya terasa gemetar.

Alena takut jika mungkin ini adalah hari terakhir dirinya melihat dunia.

“Bos, dia sudah terluka sebelum kami membawanya. Sepertinya keluarga wanita ini lah yang melukainya!” ucap Jaxon dengan menunduk.

“Aku tidak peduli!” tegas Kieran.

Alena kembali melirik dengan keringat dingin yang mulai muncul di kening. Ia melihat Kieran sedang membalikkan badan dan melihat ke arahnya dengan tatapan bengis.

Pertama kalinya wajah itu membuat Alena takut. Ia kembali menunduk seakan tak pernah melihat wajah si monster itu.

Langkah kaki terdengar mendekat di telinga Alena, langkah demi langkah semakin mendekatinya. Membuat keringat dingin semakin jatuh bercucuran, menurutnya nasibnya akan segera tamat malam ini.

Alena merasakan sebuah tangan besar mendarat di pergelangan tangannya. Ia merasa seperti akan diseret dan dianiaya sekarang juga. Tangannya bergetar hebat, membuat Alena menutup mata dan bersiap untuk merasakan sakit.

Namun sepertinya, Kieran tidak melakukan apapun padanya. Bahkan ia melepaskan tangannya kembali, terdengar suara langkah kaki yang sedang mengelilingi dirinya.

Ternyata Kieran sedang melihat luka-luka yang ada pada tubuh Alena, tanpa melakukan kekerasan seperti yang dirinya bayangkan.

Terdengar Kieran kembali duduk di kursi. Suasana berubah menjadi hening untuk sesaat, hingga Kieran kembali membuka suara.

“Panggil dokter!” kata Kieran, pelan tapi menusuk. “Aku tidak ingin menderita kerugian!

Jaxon segera mengangguk mantap. “Siap, Bos!”

Sebelum pergi, Kieran menambahkan perintah lain. “Jaxon, wanita ini ada di bawah pengawanmu! Jangan sampai ia berani macam-macam!”

‘Ha?! Kenapa dia memanggilkan dokter? Apa mungkin kalau akan menjadi santapan, tubuhku harus sehat?’ batin Alena bertanya-tanya.

Ia sudah mengira dirinya tidak akan selamat sampai besok. Namun, yang dilakukan bos mafia itu bertolak belakang dengan bayangan Alena.

Sebuah pikiran gila, terbersit di hati Alena.

‘Apa aku harus melukai diriku, supaya tidak menjadi budak nafsu mereka?’

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 245. Nama Baru Di Atas Luka Lama, Tamat

    Namun, kali ini mereka tidak perlu saling mengancam atau menyembunyikan maksud di balik setiap kalimat.“Aku tahu kamu pernah melakukan banyak hal yang tidak bisa dibenarkan,” ujar Richard akhirnya. “Aku juga tahu kamu berusaha meninggalkan semuanya,”Kieran menatap lelaki itu dengan tenang.“Aku tidak meminta Anda melupakan masa laluku! Aku hanya berharap Anda menilai apa yang kulakukan mulai sekarang,”Richard mengangguk pelan. “Jaga Alena dan William, bukan dengan menjadikan mereka tahanan di balik perlindunganmu, melainkan dengan memberi mereka kebebasan untuk hidup,”Kieran terdiam sebelum menjawab. “Itulah yang sedang kupelajari sekarang,”Richard menepuk bahunya singkat. Tidak ada pelukan dramatis, tidak pula janji bahwa semua perbedaan mereka telah lenyap. Namun, untuk pertama kalinya, keduanya dapat duduk bersama tanpa membiarkan masa lalu menentukan setiap gerakan mereka.Malam itu, setelah makan malam selesai dan William tertidur, Alena mengajak Kieran duduk di balkon.Lan

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 244. Berkumpul Kembali

    Mata Alena berkaca-kaca karena selama bertahun-tahun, ia mengira menjadi kuat berarti tidak boleh menangis. Tidak boleh bergantung kepada siapa pun ddan harus sanggup menanggung seluruh penderitaan seorang diri, kini ia mulai memahami bahwa kekuatan juga berarti berani mengakui ketika dirinya lelah.Alena mendekat dan menyandarkan kepala di dada Kieran.“Aku hanya ingin hidup biasa,” bisik Alena. “Mengantar William ke sekolah, menyiapkan makan malam, bertengkar kecil denganmu karena kamu lupa membeli sesuatu, lalu tertawa lagi sebelum tidur,”Kieran terkekeh pelan. “Kalau hanya lupa membeli sesuatu, aku bisa memperbaikinya,”“Kalau lupa ulang tahun pernikahan kita?” tanya Alena. “Aku akan menerima hukuman apa pun itu,” jawab Kieran. Alena akhirnya tertawa, tawa kecil yang sederhana itu terasa begitu berharga, sebab sudah lama ia tidak mendengar suaranya sendiri tanpa dibayangi kesedihan.Kieran mengecup keningnya. “Kalau begitu, mari kita mulai dari hari ini,”Di meja makan, Willia

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 243. Setelah Badai Kita Pulang

    Alena menggenggam tangannya. “Ayah membuat kesalahan! Aku juga pernah salah mengambil keputusan! Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi kita masih bisa memilih apa yang akan kita lakukan setelah ini,”Eleanor mengusap air matanya dan Adrian menunduk, menyembunyikan kelegaan yang sejak tadi sulit untuk ia ungkapkan.Mereka tidak kembali menjadi keluarga yang sama seperti sebelum kehancuran itu. Terlalu banyak luka, kehilangan dan tahun-tahun yang tidak mungkin dikembalikan.Namun, mereka akhirnya bisa duduk bersama tanpa ketakutan bahwa seseorang akan datang merenggut mereka lagi.Di luar gedung, Kieran menunggu Alena bersama William. Ketika perempuan itu keluar, William langsung berlari menghampirinya.“Mama! Papa bilang kita boleh pulang!” panggil William. Alena tertawa kecil sambil mengangkat putranya ke dalam pelukan. “Iya, Sayang? Kita pulang,”Kieran menyambut mereka dengan senyum lembut, tidak ada pengawal yang memenuhi halaman, tidak ada ancaman yang harus mer

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 242. Semua Kebohongan Saling Mengunci

    Ternyata, orang-orang yang menyimpan rahasia itu justru mengetahui setiap kebiasaan, setiap kelemahan dan setiap nama yang mereka cintai.“Jadi, siapa yang sebenarnya berada di balik semuanya?” desak Alena. Richard menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca, baru lah ia mengungkapkan sebuah kebenarannya. “Ethan memimpin operasi itu, tetapi dia bukan orang yang pertama kali mengusulkan penghancuran Volkov! Ada pihak yang membiayai jaringan Viktor, memanipulasi bukti, dan memanfaatkan perselisihan di antara orang-orang kita! Ethan mengira dia akan mendapatkan kekuasaan penuh setelah Richard jatuh,” jawab Richard dengan rinci. “Siapa pihak itu, Ayah?” tanya Alena. Richard menggeleng perlahan. “Dulu aku tidak memiliki bukti yang cukup! Tetapi berkas yang kamu kirimkan telah mengubah semuanya!”Ia meminta salah satu petugas, untuk mengambil dokumen tambahan dari ruang penyimpanan. Beberapa menit kemudian, sebuah map berisi catatan transaksi, rekaman komunikasi dan surat perintah p

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 241. Akhir Dari Segala Penghianatan

    Pintu lorong kembali terbuka, dua petugas bersenjata memasuki ruangan bersama anak buah Kieran. Ethan kehilangan kesempatan untuk melarikan diri, sementara Selena perlahan menurunkan pistolnya dan menyerahkannya kepada salah satu petugas.William memeluk leher Alena, menyembunyikan wajahnya di bahu sang ibu.“Mama, kita pulang sekarang?”Alena mencium rambut putranya, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang.“Iya, Sayang! Kita pulang,”Namun, saat ia melangkah melewati Ethan, lelaki itu tiba-tiba bersuara. “Alena, kalau kamu ingin tahu siapa yang benar-benar menghancurkan keluargamu, jangan berhenti pada diriku!”Alena menoleh.Ethan tersenyum pahit, lalu melirik layar ponsel di tangan Alena. “Orang yang menandatangani dokumen itu masih hidup! Dan dia bukan musuh yang bersembunyi di luar sana,”Ia menatap Alena tepat di mata. “Dia adalah orang yang akan menyambutmu ketika kamu pulang!”Di luar bangunan, hujan mulai mereda. Alena berdiri di samping mobil dengan William dalam

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 240. Dia yang Mengatur Kebohongan

    “Ini bukti bahwa kamu sendiri yang mengesahkan program R-09,” kata Ethan. “Richard ingin menyembunyikanmu dari musuh-musuhnya! Aku yang memastikan kamu tetap hidup! Tetapi ketika seluruh jaringan runtuh, dia membiarkan orang lain menanggung akibatnya!”Alena menatap dokumen itu, lalu kembali menatap Ethan. “Kalau kamu memang melindungiku, mengapa keluargaku dipenjara? Mengapa Ibu harus hidup dalam persembunyian? Mengapa Adrian harus kehilangan masa depannya? Dan mengapa William sekarang berada di ruangan ini dengan tangan terikat?”Ethan tidak langsung menjawab, keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling mengerikan.“Karena perlindungan selalu membutuhkan harga,” ujar Ethan akhirnya.“Tidak!” Alena menggeleng, suaranya bergetar oleh amarah. “Itu alasan yang digunakan orang-orang sepertimu untuk membenarkan setiap kejahatan! Kamu menyebutnya perlindungan ketika orang lain kehilangan kebebasan? Kamu menyebutnya pengorbanan ketika orang lain harus membayar kesalahanmu!”Ethan meng

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 6. Bukti Pertama

    “A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 5. Malam Pertama di Penthouse

    “Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 4. Tidak Ada Jalan Keluar

    “Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 2. Percobaan Kabur

    “Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status