Share

59. Demam

Author: rindiyoon
last update publish date: 2026-02-28 09:37:58

"Aku pengen ke kolam renang." Tiba-tiba saja Anya ingin ke kolam renang.

Sepertinya keinginan Anya mudah berubah-ubah.

"Baiklah, biarkan Bibi menemani Nona."

"Terima kasih."

"Sama-sama." Bi Ina mengulas senyum.

Bi Ina pastinya senang bisa menemani Nona Anya, apa lagi saat ini sang Nona sedang hamil membuat Bi Ina harus selalu waspada.

Anya melangkahkan kakinya terlebih dahulu menuju kolam renang yang berada di halaman belakang Mansion. Entah kenapa Anya sangat ingin ke kolam renang.

"Nona, apak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Tawanan sang Mafia   85. Akhirnya, Anya Sadar

    Seminggu berlalu. Anya sudah sadar. Keluarganya bahagia melihat Anya sudah membuka matanya. Namun, Anya masih terlihat linglung."Mama!" Nathan dan Nathalie memeluk Anya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba saja air mata Anya menetes. Anya tahu saat ini dirinya ada di rumah sakit."Sayang!" Leon mengusap lengan Anya dan mengecup lengan itu berkali-kali.Dokter dan asistennya segera memeriksa keadaan Anya, dan akhirnya kondisi Anya sudah membaik. Namun, memang harus banyak istirahat karena baru bangun dari operasi.Anya masih belum membuka mulutnya, Anya belum berbicara sama sekali.Dinda, Luki, dan Tasya sedih yang bercampur bahagia melihat Anya sudah membuka matanya.***Beberapa hari setelah Anya sadar. Anya diizinkan pulang ke rumah, dan pastinya Leon langsung segera membawa Anya pulang ke rumah.Leon tahu jika Anya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Anya tidak mencium aroma rumah sakit yang memiliki khas tersendiri."Mama, aku buatkan teh hangat untuk mama

  • Gadis Tawanan sang Mafia   84. Selesai Operasi

    Dinda bertanya dengan pelan. Ia tidak ingin membuat Leon bersedih akibat kecelakaan yang menimpa Anya."Kepala Anya terbentur dan harus operasi," jawab Leon.Dinda mengangguk paham. "Sebaiknya kita serahkan semuanya pada Dokter."Leon mengangguk. Leon setuju, dan Leon berharap jika Anya segera sadar.Dokter mulai menyiapkan ruanh operasi untuk Anya. Anya mengalami benturan dan harus melakukan operasi dibagian kepalanya.Dinda dan Leon hanya bisa menurut saja pada Dokter. Leon akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Anya. Leon berharap Anya segera sadar.Saat ini yang berada di rumah sakit hanya Leon dan Dinda. Luki dan Rehan keluar dari rumah sakit.Luki harus menjemput Tasya, Nathan, dan Nathalie.Sedangkan Rehan akan menjalankan perintah dari Leon. Rehan akan mencaritahu penyebab kecelakaan yang menimpa Anya.Leon memiliki firasat buruk tentang kecelakaan ini. Leon yakin kecelakaan ini adalah rencana dari Varell atau Vera. Namun, Leon masih belum memiliki bukti.Oleh sebab itu Leon

  • Gadis Tawanan sang Mafia   83. Kecelakaan

    "Sakit kenapa?" tanya Leon. Raut wajah Leon terlihat khawatir. Nathan dan Tasya juga khawatir. "Tapi bohong!" Nathalie langsung menjulurkan lidahnya. Nathan kesal dengan kembarannya. Leon mulai geleng-geleng kepalanya. "Nggak boleh bohong gitu," kata Tasya. "Ya maafkan aku, Kak!" Nathalie meminta maaf. Leon pikir Nathalie benar-benar sakit, tapi ternyata hanya kepura-puraan. "Sudahlah, kita nggak perlu percaya lagi sama Nathalie." Nathan kecewa. "Ih, maafkan aku!" Nathalie menggoyangkan lengan Nathan. Namun, Nathan enggan melihat wajah kembarannya. "Sudah, jangan bertengkar!" Leon tahu jika Nathan kecewa dengan Nathalie, karena Leon juga seperti itu. Namun, Leon enggan menunjukkan kekecewaan itu. Leon lebih baik memendam kekecewaan itu, karena tidak mungkin juga Leon mudah marah didepan anak-anaknya. ** Pukul 12 siang. Anya akan menjemput anak kembarnya dan keponakannya di sekolah. Seperti biasa Anya bersama dengan sang supir. "Sepertinya hari ini aku ingin mengajak anak

  • Gadis Tawanan sang Mafia   82. Sebuah Pesan

    Keesokan harinya. Anya baru saja menyiapkan bekal makanan untuk anak kembarnya, dan Anya juga tidak lupa menyiapkan bekal makan untuk Tasya juga.Anya seperti memiliki 3 orang anak, dan Anya senang melakukan itu. Namun, Leon selalu cemburu."Sayang!" Leon memeluk Anya dari belakang, Leon juga mengecup leher Anya dengan lembut."Diam bisa nggak, sih!"Sungguh Anya merasa risih dengan Leon, tapi Leon tetap saja bergelayut manja."Berhenti membuat bekal untuk Tasya, kalau kamu begini terus, nanti Kak Luki nggak bisa cari istri baru." Leon berbisik.Anya tertawa mendengar bisikan itu. Apa yang dikatakan Leon memang benar, tapi Anya tidak bisa membiarkan Tasya bersedih hanya karena bekal makan."Kamu cemburu sama Kak Luki apa sama Tasya?""Kak Luki."Anya tertawa. Tidak lama kemudian Dinda masuk ke dapur. Leon bukannya berhenti memeluk Anya, tapi Leon terus saja mengecup leher Anya."Sepertinya sebentar lagi kembar punya adik," gumam Dinda."Aku pengen punya anak lagi, tapi Anya nggak mau

  • Gadis Tawanan sang Mafia   81. Leon Memarahi Anya

    Anya tertawa. "Okay, anak Mama memang sudah besar dan sudah dewasa."Nathan hanya terdiam. Nathan duduk dengan tenang, tapi ia seperti sedang memikirkan sesuatu."Kalau Nathalie mau beli apa di mall?" Anya mulai bertanya pada anak perempuannya."Mau beli makanan," jawab Nathalie.Nathan geleng-geleng kepala. "Kamu selalu makan, makan, dan makan.""Biarin aja!" Nathalie menjulurkan lidahnya.Nathan tidak menghiraukan itu. Nathan mulai menatap lurus kedepan, dan dirinya sudah menggunakan seatbelt.Anya tersenyum melihat tingkah anak kembarnya yang begitu lucu, lucu karena sering bertengkar, tapi kembali berbaikan lagi.'Aku nggak nyangka bisa punya anak kembar dengan beda kelamin begini,' batin Anya yang masih tidak percaya.Bayi kembar dengan jenis kelamin yang berbeda sangat langka, dan Anya mampu melahirkan bayi kembar itu, walaupun kelahirannya prematur.Namun, Anya selalu bersyukur bisa merawat bayi kembarnya sampai saat ini.***Hari berganti begitu cepat. Anya sedang mendapatkan

  • Gadis Tawanan sang Mafia   80. Rumah Sakit

    Selama ini Leon memang tidak mendapatkan kabar dari Varell. Varell seperti hilang ditelan bumi. Namun, Leon tetap memperketat keamanan keluarganya.Leon bukan pria yang bodoh, Leon memiliki banyak insting, dan selalu memiliki rencana setiap hidupnya.Apa lagi saat ini tanggung jawab Leon bertambah, Leon harus menjaga anak kembarnya."Pak, kita ke rumah sakit saja," kata Anya."Baik Nyonya."Saat Anya ingin ke rumah keluarganya, tapi Anya mendapatkan kabar jika Bima masuk rumah sakit. Anya segera ke rumah sakit bersama sang supir.Seketika Anya melupakan jam pulang anak kembarnya. Anya mulai terfokus pada Bima."Pak, nanti mampir ke toko buah," kata Anya."Baik." Sang supir menurut.Setelah Anya mampir ke toko buah, kini mobil kembali melaju menuju rumah sakit. Anya terlihat khawatir dengan kabar tersebut."Semoga nggak kenapa-napa," ucap Anya.Tidak perlu berlama-lama. Akhirnya Anya tiba di rumah sakit. Anya segera berlari kecil menuju kamar Bima.Bima berada di ruangan biasa, tidak b

  • Gadis Tawanan sang Mafia   50. Telat Haid

    Anya melepaskan tangan Leon."Anya!" Leon berteriak."Emang apa salahnya minum jus? Jus juga bagus buat kesehatan!"Kali ini Anya benar-benar keras kepala membuat Leon ingin sekali membiusnya."Terserah!"Leon lelah jika harus berdebat. Leon melangkah pergi ke kamar. Namun, langkahnya terhenti."Da

  • Gadis Tawanan sang Mafia   49. Membatalkan

    "Kamu yakin aku jelek?"Dengan cepat Anya mengangguk. "Kamu jelek, kamu galak, kamu kasar, pokoknya kamu nggak ada nilai bagusnya."Leon tertawa."Mana brownies aku?" Anya baru tersadar jika dirinya menginginkan brownies."Aku nggak beli, soalnya aku dikatain jelek." Leon marah.Anya mulai duduk di

  • Gadis Tawanan sang Mafia   48. Sesuatu Yang Aneh

    "Nggak apa-apa kalau aku diambil pria lain, kan kamu juga udah punya wanita lain," sindir Anya."Diam!"Leon menatap tajam pada Anya. Tatapan itu begitu menyayat hati."Ta ... Tapi emang bener kok." Anya takut-takut."Aku hanya milikmu, dan kamu hanya milikku!" tegas Leon.Anya menatap sendu pada L

  • Gadis Tawanan sang Mafia   47. Anya Ingin Pergi

    Hari berganti begitu cepat. Anya masih berada di mood yang tidak jelas. Terkadang Anya baik, terkadang juga Anya terlihat jahat.Leon bingung dengan perubahan Anya yang seperti itu, tapi Leon tetap bisa mengimbangi selagi Leon tidak dibuat emosi yang berlebihan."Aku ingin pulang!"Entah sudah yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status