LOGINCarlos memasuki club malam yang ramai dengan langkah santai.
Lampu berwarna-warni dan dentuman musik keras langsung menyambutnya. Tak lama, suara seseorang memanggil dari sofa VIP. “WOI, CARLOS!” Carlos menoleh lalu tersenyum kecil melihat Alex yang sudah duduk sambil memegang bir. Carlos langsung duduk di sampingnya. Alex memperhatikan Carlos dari atas sampai bawah laPagi itu langit masih berwarna abu-abu ketika Carlos sudah berada di terminal keberangkatan bandara. Matanya tampak lelah. Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.Kemeja yang sedikit kusut. Jas yang digantung asal di lengan. Dan aroma alkohol yang masih menempel samar di tubuhnya.Carlos duduk di ruang tunggu VIP sambil menatap landasan pacu di balik jendela besar. Sudah sejak dini hari ia berada di sana.Dan sejak semalam pula ia tidak kembali ke apartemen. Ponselnya tergeletak di meja. Layar gelap.Tidak ada satu pun pesan yang ia kirim. Tidak ada satu pun telepon yang ia lakukan. Beberapa saat kemudian langkah sepatu hak tinggi mendekat.Sintia datang sambil membawa koper kecil dan beberapa kantong pakaian. Begitu mendekat, wanita itu langsung mengernyit."Pak Carlos..."Carlos melirik sekilas."Hm?"Sintia meletakkan kantong pakaian di sampingnya."Bapak nggak pulang ke rumah?"Car
Azalea berdiri di depan bar dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajahnya jelas menunjukkan rasa kesal. Sudah hampir tengah malam.Dan setelah menerima pesan singkat dari Carlos yang minta jemput, Azalea langsung datang ke tempat itu tanpa banyak berpikir.Suasana bar yang ramai membuatnya sedikit pusing. Lampu warna-warni berkelap-kelip di mana-mana sementara musik berdentum keras.Azalea menyusuri ruangan sambil mencari sosok Carlos. Namun pria itu tidak terlihat di area utama.Saat sedang menoleh ke berbagai arah, seseorang tiba-tiba memanggilnya."Azalea?"Azalea menoleh."Alex."Alex tampak terkejut melihatnya."Kok lo di sini?""Nyar
Malam itu sebuah bar eksklusif di pusat kota dipenuhi musik yang mengalun pelan dan lampu-lampu temaram.Carlos berjalan masuk bersama Sintia. Beberapa pegawai langsung menyapa hormat saat mengenali presiden direktur muda itu.Tanpa banyak bicara, mereka menuju salah satu sofa VIP yang berada di sudut ruangan. Carlos menjatuhkan tubuhnya ke sofa sambil melonggarkan dasinya.Hari yang panjang membuat wajahnya terlihat lelah. Sintia duduk di seberangnya lalu menuangkan minuman ke dalam gelas kristal."Pak Carlos kelihatannya benar-benar stres hari ini, sampai menghentikan aksi panas kita tadi," ucapnya pelan.Carlos mengambil gelas itu lalu menyesap sedikit."Bisa dibilang begitu." Jawabnya dingin.Sintia tersenyum tipis."Kalau begitu, apa perlu saya panggil beberapa wanita untuk menemani?"Carlos meliriknya sekilas."Tentu."Jawaban itu membuat Sintia sedikit terkejut. Meski begitu ia segera memberi isyarat
Carlos membanting map laporan ke atas meja rapat. Suara benturannya membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Para direktur yang duduk mengelilingi meja saling melirik satu sama lain."Jadi ini penjelasan kalian?" tanya Carlos dingin.Salah satu direktur berdeham pelan."Pak Carlos, kami hanya berpikir lebih baik perusahaan mundur dari proyek Bali sebelum kerugiannya semakin besar."Carlos menatap pria itu tajam."Mundur?"Direktur itu mengangguk."Situasi di lapangan nggak memungkinkan untuk dilanjutkan."Carlos menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya satu per satu menyapu seluruh ruangan."Lalu siapa yang akan membayar kerugian puluhan miliar yang sudah keluar?"Tak ada yang menjawab. Carlos tertawa pendek. Tawa yang sama sekali tidak terdengar senang."Astaga ... klian benar-benar luar biasa."Ia membuka kembali laporan yang ada di depannya."Di sini tertulis proyek gagal."Carlos m
Azalea baru saja keluar dari kelas terakhirnya ketika seseorang memanggil namanya."Azalea."Ia menoleh dan langsung menghela napas saat melihat Leon berdiri di ujung koridor."Kalau ini tentang Mike, gue nggak mau dengar," ucap Azalea tanpa basa-basi.Leon memasukkan kedua tangannya ke saku celana."Tenang aja. Bukan soal Mike."Azalea menatapnya curiga.Sejak pertemuan mereka di restoran beberapa waktu lalu, Leon selalu membuatnya tidak nyaman."Apa?""Gue cuma mau bicara berdua."Awalnya Azalea ingin menolak. Namun melihat ekspresi Leon yang tampak serius, akhirnya ia mengangguk pelan."Sebentar aja."
Azalea menutup mata saat ciuman Carlos mulai membasahi tubuhnya. Carlos menarik kaki jenjang Azalea dan menciuminya dari ujung jempol kaki lalu perlahan naik hingga terdengar nyaring setiap ciuman itu berpindah.“Carlos ... Mike, nggak nyentuh gue kayak gini,” ucap Azalea lirih menahan geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya.Carlos berhenti sesaat lalu menatap Azalea dengan tajam, “Gue nggak peduli. Bagi gue, lo harus dibersihin,” jawabnya.Ia melanjutkan ciumannya yang perlahan hingga di bagian dalam paha Azalea. Saat ciuman itu tepat berada di area kewanitaannya, Azalea menarik rambut Carlos dengan kencang. Tapi Carlos tidak berhenti.Ciuman itu semakin liar, bahkan Carlos memainkan lidahnya pada kacang Azalea membuat kepala Azalea bergerak kanan kiri tak karuan.“Ahhh, Carlos ... gue .... gue keluar....” pekik Azalea saat cairan cintanya mengalir cukup deras.Carlos tersenyum kecil lalu kembali menciumi
Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas. Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapa
Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya
Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih ke
Carlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-ak







