LOGINMobil Carlos dan Azalea akhirnya sampai di rumah saat malam sudah cukup larut. Tubuh mereka sama-sama terasa lelah setelah seharian penuh kegiatan.
Mulai dari panjat tebing… Bertengkar… Sampai ikut panen kentang di kebun. Begitu masuk rumah, keduanya langsung bergantian membersihkan diri.
Azalea keluar kamar mandi lebih dulu dengan rambut setengah basah dan pakaian tidur sederhana.
Sementara Carlos baru keluar beberapa menit kemudian sambil mengusap rambutny
Di dalam mobil, suasana langsung berubah sunyi. Carlos fokus menyetir, sementara Azalea duduk di sampingnya sambil memandang keluar jendela.Lampu-lampu jalan berlalu begitu saja. Hingga akhirnya Azalea mendengus pelan."Ngapain sih lo ke sana?"Carlos melirik sekilas."Jemput istri gue lah."Azalea langsung menoleh dengan wajah kesal."Istri? Bukannya lo lagi seneng-seneng sama cewek-cewek bule di Bali?"Carlos justru tersenyum kecil."Oh... Kirain lo nggak lihat semua foto dan video yang gue kirim."Azalea mendengus lagi."Gue sibuk. Jadi nggak sempat lihat semuanya. Kalau lo mau seneng-seneng ya seneng-seneng aja. Nggak usah nyepam kayak
Carlos berjalan santai menghampiri Mike yang masih berdiri. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya tetap tajam. Ia melirik ke sekeliling kebun yang mulai sepi lalu bertanya dengan nada santai,"Pestanya udah selesai?"Mike memasukkan kedua tangannya ke saku celana."Udah."Lalu ia balik bertanya,"Untuk apa lo ke sini?"Carlos tersenyum tipis."Kenapa? Gue nggak boleh datang?"Mike tidak menjawab. Carlos lalu menambahkan sambil mengangkat bahu,"Lagi pula Azalea itu anak teman nyokap gue. Nggak aneh kalau gue datang."Mike menatap Carlos beberapa detik. Tatapannya jelas tidak bersahabat."Cuma sayangnya.""Apa?""Azalea nggak bisa ketemu lo."Carlos mengangkat sebelah alis."Siapa lo ngatur-ngatur Azalea?"Nada suaranya berubah dingin. Mike langsung menatap balik."Gue cuma nggak mau Azalea terluka."Kalimat itu membuat Carlos tersenyum miring."
Senja mulai turun ketika pesta rakyat akhirnya selesai.Lampu-lampu gantung yang dipasang sejak pagi mulai menyala satu per satu, menerangi kebun yang kini perlahan kembali sepi.Anak-anak sudah pulang bersama orang tua mereka. Tenda-tenda mulai dibongkar. Beberapa warga masih membantu membereskan meja dan kursi.Sementara itu, Rose dan Bryan tampak sibuk membagikan hasil panen kepada warga yang masih mengantre.Bryan terlihat sangat bahagia."Ambil yang banyak ya! Tahun ini panen kita luar biasa!" serunya sambil tertawa.Rose ikut tersenyum melihat suaminya yang begitu bersemangat. Sedangkan di sisi lain, Azalea masih membantu membereskan sisa-sisa makanan bersama Mike.Namun sejak pagi tadi, tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Perutn
Carlos akhirnya tiba di kamar hotel saat matahari mulai tenggelam di ufuk Bali. Begitu pintu kamar terbuka, Sintia yang sejak tadi berjalan di belakangnya langsung ikut melangkah maju."Pak Carlos, kalau ada yang perlu saya bantu—""Nggak usah."Carlos langsung memotong.Sintia berhenti. "Tapi kita bisa berbagi kehangatan—""Lain kali aja."Carlos membuka pintu lebih lebar lalu menatap sekretarisnya."Gue mau istirahat."Sintia tampak kecewa. Ia sebenarnya berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua dengan Carlos, apalagi mereka sedang berada di luar kota.Namun tatapan dingin pria itu membuatnya tidak berani membantah."Baik, Pak."Carlos mengangguk singkat. Lalu menutup pintu.Klik.Kamar hotel yang luas itu langsung terasa sunyi. Carlos melemparkan kartu kamar ke atas meja. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang besar.Matanya menatap langit-langit.A
Matahari Bali bersinar terik ketika Carlos berdiri di depan bangunan resort yang masih setengah jadi.Debu konstruksi beterbangan tertiup angin.Beberapa pekerja masih terlihat mondar-mandir, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding laporan yang pernah ia terima beberapa bulan lalu.Carlos memasukkan kedua tangan ke saku celananya sambil memperhatikan area proyek yang terbengkalai itu.Semakin lama ia melihatnya, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal."Masih aneh," gumamnya.Sintia yang berdiri di sampingnya menoleh."Apa yang aneh, Pak?"Carlos menghela napas."Kalau klien memang mau menghentikan proyek, kenapa menunggu sampai pembangunan sejauh ini?"Sintia ikut memandang bangunan tersebut."Kemungkinan masalah dana?"Carlos menggeleng."Kalau masalah dana, mereka nggak mungkin berani mulai proyek sebesar ini."Ia menyipitkan mata."Ada sesuatu yang belum kita tah
Pagi itu langit masih berwarna abu-abu ketika Carlos sudah berada di terminal keberangkatan bandara. Matanya tampak lelah. Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.Kemeja yang sedikit kusut. Jas yang digantung asal di lengan. Dan aroma alkohol yang masih menempel samar di tubuhnya.Carlos duduk di ruang tunggu VIP sambil menatap landasan pacu di balik jendela besar. Sudah sejak dini hari ia berada di sana.Dan sejak semalam pula ia tidak kembali ke apartemen. Ponselnya tergeletak di meja. Layar gelap.Tidak ada satu pun pesan yang ia kirim. Tidak ada satu pun telepon yang ia lakukan. Beberapa saat kemudian langkah sepatu hak tinggi mendekat.Sintia datang sambil membawa koper kecil dan beberapa kantong pakaian. Begitu mendekat, wanita itu langsung mengernyit."Pak Carlos..."Carlos melirik sekilas."Hm?"Sintia meletakkan kantong pakaian di sampingnya."Bapak nggak pulang ke rumah?"Car
Pagi itu Carlos baru saja tiba di kantornya. Langkahnya tenang memasuki ruangan CEO yang luas dan elegan itu sambil melepas jas mahalnya. Tatapannya jatuh pada layar laptop dan tumpukan dokumen kerja. Tok tok tok. Suara
Acara pesta masih berlangsung meriah dengan musik dan obrolan para tamu yang memenuhi ballroom.Namun karena waktu sudah cukup malam, Carlos akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu bersama Azalea.Mereka berjalan keluar hotel bersama Mike yang ikut mengantar sampai depan lobby.
Azalea langsung nengok cepat. “Hah?”Carlos menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. “Tentang semalam.”Bug!Azalea langsung mukul lengan Carlos cukup keras.“Tentu aja gue keberatan!” protesnya kesal. “Inget ya, kita nikah kontrak. Bukan berarti lo bisa nyentuh gue seena
Perlahan, Carlos mengusap atas dada Azalea. Menyentuhnya pelan-pelan, menelusuri lekuk tubuhnya. Tubuh Azalea menegang, saat jemari Carlos mulai memutari titik sensitifnya. Azaela bergetar. Air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. Suara isak terdengar dari bibir Azalea membuat Carlos langsung berhe







