ANMELDENMobil Carlos dan Azalea akhirnya sampai di rumah saat malam sudah cukup larut. Tubuh mereka sama-sama terasa lelah setelah seharian penuh kegiatan.
Mulai dari panjat tebing… Bertengkar… Sampai ikut panen kentang di kebun. Begitu masuk rumah, keduanya langsung bergantian membersihkan diri.
Azalea keluar kamar mandi lebih dulu dengan rambut setengah basah dan pakaian tidur sederhana.
Sementara Carlos baru keluar beberapa menit kemudian sambil mengusap rambutny
Acara ulang tahun kampus akhirnya mulai selesai. Lampu aula perlahan diredupkan. Sebagian mahasiswa sudah pulang sambil masih tertawa dan membicarakan kejadian malam itu.Termasuk pengakuan cinta Mike yang sukses membuat satu kampus heboh. Namun Azalea justru berdiri sendirian sambil melihat sekeliling bingung.“Mike ke mana sih…”Tadi mereka masih ngobrol bersama Citra. Tapi sekarang pria itu tiba-tiba menghilang begitu saja.Azalea mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Mike. Namun tidak diangkat. Ia akhirnya berjalan menyusuri lorong kampus yang mulai sepi.Sepatu heels putihnya berbunyi pelan di lantai. Saat melewati area gedung olahraga, langkah Azalea perlahan berhenti.Karena dari arah ruang taekwondo terdengar suara pertengkaran. Azale
Carlos berjalan keluar aula dengan langkah panjang dan wajah dingin. Suasana malam terasa lebih pengap dari biasanya.Sorakan tadi, pelukan Azalea dan Mike, cincin di jari Azalea. Semuanya terus terbayang di kepalanya dan membuat suasana hatinya kacau.Carlos membuka pintu mobilnya kasar. Namun sebelum sempat masuk, Raisa datang dengan langkah berat. Ia menahan pintu mobil.Plak!Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Carlos langsung menoleh tajam. Raisa berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca menahan marah.“Nggak puas lo nyakitin gue?!”Carlos mengusap pipinya pelan lalu tertawa kecil miring. "Apaan sih.”Raisa makin kesal. “Kenapa sih lo jahat banget sama gue?”Napas Raisa terdengar tidak stabil.“Gue tau lo playboy. Gue tau lo suka banyak cewek. Tapi apa susahnya buat nggak cium cewek lain di depan gue?!”Carlos hanya diam menatapnya.Raisa menggigit bibirn
Carlos langsung menahan kepala Raisa dengan satu tangan saat wanita itu kembali mencoba memeluk lengannya dengan manja.“Ngapain sih lo!”“Carlos ... kenapa tiba-tiba lo nggak mau gue peluk?” tanya Raisa dengan nada manja.“Apa lo malu? Kita ... bisa cari tempat lain,” lanjutnya dengan senyuman lebarnya.Carlos mendengus panjang, “Bisa nggak lo jangan bersikap seolah-olah cuma lo cewek yang bakal gue cium?”Raisa langsung terdiam. Wajah cantiknya berubah kaku. Sementara beberapa mahasiswa di sekitar mereka mulai saling pandang karena mendengar ucapan Carlos yang terlalu terang-terangan.Raisa menahan malu sekaligus kesal. “Tapi… tadi lo diem aja pas gue cium!”Carlos meny
Lampu aula yang redup membuat suasana dansa terasa semakin hangat. Musik klasik mengalun lembut memenuhi ruangan.Mike memegang tangan Azalea dengan sopan sementara tangan satunya berada di pinggang Azalea dengan hati-hati.Azalea sendiri perlahan mulai mengikuti irama musik. Gaunnya bergerak lembut setiap kali ia berputar.Mike tersenyum kecil. “Lo ternyata bisa dansa juga.”Azalea mendengus pelan. “Diajarin seseorang.”Mike mengangkat alis penasaran. “Siapa? Carlos?”Azalea diam beberapa detik lalu mengangguk kecil.Sementara itu di sisi lain lantai dansa, Carlos berdansa bersama Raisa. Raisa terlihat sangat menikmati perhatian yang ia dapat.
Acara ulang tahun kampus malam itu berlangsung sangat meriah. Lampu-lampu kristal menggantung indah di langit-langit aula besar.Suara musik memenuhi ruangan. Beberapa mahasiswa sedang menikmati pertunjukan band kampus di atas panggung, sementara yang lain sibuk tertawa, berfoto, atau menikmati makanan yang tersaji di meja panjang dekat taman aula.Azalea duduk bersama Mike di salah satu meja bundar dekat area taman terbuka. Gaunnya yang putih dengan bunga-bunga biru terlihat begitu mencolok di bawah cahaya lampu malam.Mike bahkan beberapa kali masih mencuri pandang ke arah Azalea.“Kenapa?” tanya Azalea akhirnya sadar.Mike langsung salah tingkah lalu tertawa kecil.“Gue masih nggak nyangka aja lo bisa secantik ini.”
Esok paginya, Carlos selesai mengenakan jas hitamnya untuk perjalanan dinas keluar kota. Ia merapikan jam tangan dan dasinya di depan cermin sebelum matanya tanpa sengaja tertuju pada sesuatu di sudut kamar.Sebuah gaun panjang tergantung rapi. Warnanya lembut dengan potongan elegan yang jarang sekali Carlos lihat dipakai Azalea.Carlos mengernyit kecil. Karena biasanya Azalea lebih suka kaos longgar, celana jeans, atau pakaian simpel yang nyaman buat bergerak.Namun gaun itu terlihat sangat feminin. Dan entah kenapa… Carlos jadi membayangkan Azalea memakainya.Carlos langsung berdehem kecil lalu berjalan keluar kamar. Saat turun ke ruang makan, ia melihat Azalea sedang sarapan sendirian.Rambutnya masih berantakan sambil fokus membaca sesuatu di ponselnya. Begitu melihat Carlos, Azalea mengangkat wajah.“Oh, pagi.”Carlos duduk di kursinya sambil bertanya, “Papa sama Mama mana?”Azalea mengambil
Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa. Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukan
Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas. Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapa
Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya
Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih ke







