ログインDi dalam kelas, Azalea sama sekali nggak fokus sama pelajaran. Dosen di depan masih ngomong panjang lebar soal materi, tapi otak Azalea malah penuh sama kejadian sejak semalam.
Ciuman Carlos. Tatapan matanya. Pelukan itu. Bahkan bagaimana Carlos bikin jantungnya berdebar cuma dengan kata-kata receh.
Azalea langsung menunduk sambil menggigit bibir pelan. Dan sialnya… bibirnya masih terasa sedikit panas dan bengkak gara-gara dicium terus tadi pagi. Tanpa sadar jarinya menye
Hari mulai malam saat mereka akhirnya berkumpul di sebuah pendopo kayu yang berdiri di tengah area perkebunan.Angin sawah bertiup pelan membawa aroma tanah dan tanaman segar. Di atas meja panjang sederhana, berbagai makanan hangat sudah tersaji. Sayuran hasil kebun, bakwan jagung, nasi hangat, sampai buah-buahan segar yang baru dipetik tadi siang.Rose dan Azalea datang membawa beberapa piring tambahan.“Udah, makan dulu,” ujar Rose sambil menaruh mangkuk sop di meja.Bryan yang sejak tadi masih asyik ngobrol soal pertanian langsung tertawa kecil.“Nah ini baru serius ngobrolnya.”Mike ikut tersenyum lalu duduk di salah satu kursi kayu.“Maaf jadi ngerepotin,” katanya sopan. “Saya nggak nyangka bakal diajak makan juga.”Bryan langsung melambaikan tangan santai.“Nggak apa-apa.” Ia menunjuk makanan di meja. “Sekalian rasain hasil kebun di sini berkualitas
Azalea masih terpaku di depan pintu beberapa detik. Pemandangan Carlos bersama Sintia tadi benar-benar membuat dadanya terasa sesak.Sementara Sintia terlihat sangat panik.Gadis itu buru-buru membenarkan rok dan kemejanya yang sedikit berantakan lalu menunduk cepat pada Azalea.“Maaf…”Suaranya kecil dan gugup.“Aku permisi dulu, Pak Carlos.”Carlos hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa. Sintia pun segera pergi keluar dari ruangan itu dengan wajah merah menahan malu.Kini tinggal Azalea dan Carlos di dalam ruangan besar itu. Suasana mendadak terasa canggung. Azalea akhirnya berjalan masuk perlahan sambil masih menggenggam kotak bekalnya.Tatapannya melihat Carlos yang sedang membenarkan kancing kemejanya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.Azalea tersenyum kecil sinis.“Siapa?”Carlos meliriknya sekilas.“Hmm?”Azalea menat
Azalea berjalan keluar dari kelas dengan langkah pelan sambil memeluk bukunya di dada. Tatapannya kosong.Bahkan sejak dosen selesai mengajar tadi, pikirannya sama sekali nggak fokus. Semua ucapan Carlos pagi tadi terus terulang di kepalanya.“Itu karena gue lagi gairah aja.”“Nggak lebih.”Azalea menggigit bibirnya pelan. Dadanya masih terasa sakit setiap kali mengingatnya.“Azalea!”Ia tetap berjalan.“Azalea!”Masih nggak merespon. Beberapa mahasiswa bahkan mulai melirik bingung. Dan akhirnya seseorang berjalan cepat mendekat dari belakang lalu menepuk pundaknya.“Azalea.”Azalea langsung terkejut dan menoleh cepat.“Hah?!”Mike berdiri di belakangnya sambil mengernyit bingung.“Lo kenapa?”Azalea langsung menarik napas kecil mencoba sadar.“Oh… Mike.”Mike memperhatik
Di kampus, suara hentakan kaki dan teriakan semangat memenuhi ruang latihan taekwondo sore itu.Azalea berdiri di tengah arena dengan napas memburu. Keringat membasahi pelipisnya, sementara tatapannya tetap fokus pada lawannya di depan.Mike, senior taekwondo yang terkenal kuat dan hampir selalu menang saat sparring.“Mulai!”Begitu aba-aba terdengar, Azalea langsung menyerang lebih dulu tanpa ragu. Mike sempat terkejut melihat serangan Azalea yang jauh lebih agresif dari biasanya.Brak!Mike berhasil menahan tendangan Azalea sambil tertawa kecil. “Woi, santai dikit!”Namun Azalea justru makin semangat menyerang. Beberapa mahasiswa di pinggir arena bahkan mulai bersorak heboh melihat pertarungan mereka.Azalea terus menyerang tanpa memberi celah sampai Mike akhirnya mundur sambil mengangkat tangan menyerah.“Oke oke, gue nyerah.”Azalea langsung berhenti dengan napas ngos-ngosan
Carlos menatap tubuh Azalea yang menegang, hingga dadanya membusung. Napasnya tersendat, sesuatu mengalir deras di bawah sana. Carlos tersenyum kecil karena akhirnya, ia berhasil membuat Azalea mendapatkan klimaks pertamanya.“Gimana?” tanya Carlos pelan setelah napas Azalea mulai beraturan. “Lo puas kan?”Azalea masih diam beberapa detik. Wajahnya memerah, sementara dadanya naik turun nggak karuan. Perlahan ia menatap Carlos, namun tanpa sadar air mata mulai mengalir di sudut matanya.Carlos langsung mengernyit.“Eh…”Azalea menggigit bibirnya sendiri sambil menahan isak kecil.“Lo… apain gue?” suaranya lirih dan gemetar. “Kenapa rasanya aneh banget.”Ia menunduk malu sekaligus bingung dengan reaksinya sendiri. Tubuhnya terasa hangat, jantungnya berdetak kacau, dan semua itu membuat Azalea merasa asing dengan dirinya sendiri.Carlos langsung menghela nap
Setelah selesai makan malam, Azalea masih sibuk dengan ponselnya. Carlos yang melihat itu malah menyandarkan tubuh santai di kursinya sambil memperhatikan Azalea.“Ayo tidur,” katanya santai.Azalea langsung menoleh curiga.“Lo nggak bakal apa-apain gue kan?”Carlos mengangkat alis kecil. “Menurut lo?”Azalea langsung mendecih kesal.“Gue serius.”Carlos menahan tawa kecil melihat wajah galak Azalea.Azalea lalu bangkit, mendekat ke arah Carlos dan berbisik pelan penuh penekanan.“Lo harus inget pernikahan ini… kontrak,” ucapnya menatap Carlos tajam.Carlos menghembuskan napas panjang sambil berdiri dari kursinya.“Gue nggak lupa kok.”Azalea masih menatap curiga.Carlos lalu berjalan mendekat sambil memasukkan tangan ke saku celananya.“Tapi gue kan baik sama lo.”Azalea mendelik. “B







