ログイン"Hhuuhhh...."
Kedua mataku terbuka paksa, seakan ditarik keluar dari mimpi buruk. Jantungku menghantam dadaku tanpa irama, napasku tercekat. Bola mataku gemetar. Pandanganku yang liar, menyisir setiap sudut, seolah takut menemukan lagi potongan masa lalu.Menit demi menit berlalu tanpa satu pun perubahan. Tidak ada keanehan seperti yang kutakutkat. Hanya tatapan cemas para pelayan yang tertuju padaku."Tuan... Syukurlah... Anda cuma pingsan lima menit. Bikin khawati"Kamu masih perlu belajar," jawab Arlo seadanya. "Mengurus banyak bisnis raksasa tidak mudah," imbuhnya.Reno terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya."Mandilah, setelah itu temui aku di ruang kerjaku."Reno mengangguk pelan. Setelah meletakkan kembali kotak pakan ke tempat semula, Reno berbalik dan melangkah meninggalkan Arlo. ***Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di sebuah taman bermain yang tak jauh dari apartemen Arlo, Qila menemui Mawar yang telah menunggunya cukup lama.Begitu melihat Qila datang, Mawar langsung menggerutu. Ia menyebut Qila sebagai si tukang telat."Maaf... Aku harus menarik uang tunai lebih dulu," kata Qila tanpa merasa bersalah.Alasan itu langsung diterima oleh Mawar, terlebih setelah uang tunai tersebut diserahkan kepadanya."Lain kali jangan diulangi lagi! Di sini banyak nyamuknya! Terus sepi! Kalau aku diculik gimana?" Mawar tetap prote
"Iya, kelepasan." Arlo malah mengaku. "Emangnya aneh kalau aku manggil kamu sayang?"Qiqi menatap Arlo dengan ekspresi aneh. "Kakak tahu aku laki-laki, 'kan? Kakak nggak berliku-liku, 'kan? Nggak belok?" sosornya penuh curiga.Arlo meringis kecil. "Mana mungkin, aku ini normal," jawabnya.Tanpa banyak bicara, Arlo menggandeng pergelangan tangan Qiqi dan mengajaknya masuk ke apartemen.Begitu tiba di lantai paling atas, tepatnya di penthouse pribadi Arlo, kedatangan mereka langsung disambut meriah oleh Reno dan teman-temannya."Kean! Welcome Back! Akhirnya keluar dari rumah sakit!" seru salah satu dari mereka yang langsung memeluk Qiqi.Tentu saja Arlo tidak senang melihat wanitanya disentuh sembarangan. Tanpa ragu, ia segera menarik Qiqi ke dalam pelukannya sendiri."Waduh! Overprotective final boss!"Kalimat itu dilontarkan sebagai sindiran untuk Arlo."Aset berharga memang harus dilindungi dari perusa
Arlo berdiri dari tempatnya. Tubuh tingginya melangkah mendekati Ella."Ella, pulang sana," usir Arlo tanpa basa-basi."Tuan Arlo? Aku, 'kan cuma tanya! Kok malah disuruh pulang?" sungut Ella sebal. Entah sejak kapan ia berani menanggapi Arlo dengan nada tidak sopan."Iya! Ella cuma bertanya. Kak Arlo jawab saja!" sahut Qiqi.Arlo mengembuskan napas kasar. "Kean, itu tidak penting. Aku tidak mau membahasnya," kilahnya."Ella! Jangan bikin ayah kami marah!" Salah satu gadis menegur Ella.Kedua bola mata Ella berputar. Ia juga mulai merasa sedikit takut melihat perubahan mimik wajah Arlo yang semakin dingin."Hahh... Sudah jam segini. Aku mau kembali ke rumah sakit Kak Sans." Ella buru-buru pamit undur diri sebelum Arlo benar-benar menyeretnya keluar.Setelah kepergian Ella, ketiga gadis itu juga meminta izin kepada Qiqi untuk mengurus beberapa berkas. Mereka sedang mempersiapkan diri mengikuti tes masuk universitas."Kalian nggak pengin coba ikut ujian Universitas Bimsa?" tanya Qiqi sa
"Aduh... Tuan Arlo ganteng banget. Kalau aku mengejarnya... Bakalan dapat nggak ya?""Kamu ini, belum mengejar pasti sudah kena mental duluan. Lawong Tuan Arlo terlalu tinggi untuk digapai."Wanita di sampingnya tertawa kecil. "Aku, 'kan suster tercantik di sini, masak Tuan Arlo nggak tergoda?" candanya."Kamu pikir Tuan Arlo sama kayak laki-laki lain yang kamu goda?" timpal temannya sambil terkekeh."Loh, bukannya semua laki-laki sama saja?""Kalian berdua ngomongin apa?" tegur ajudan Arlo yang kini mengenakan pakaian perawat.Dua perawat khusus yang dipekerjakan Arlo langsung menundukkan kepala saat melihat kedatangan sang ajudan. Mereka buru-buru kembali fokus menyelesaikan pekerjaan masing-masing."Nggak di markas, nggak di sini... Kerjaan kalian ngomongin hal nggak penting?" cibir ajudan Arlo.Salah satu wanita tersenyum canggung, lalu mempersilakan ajudan bernama Meli itu duduk di sofa."Kakak mah
Suasana mendadak berubah tegang dan mencekam. Meski begitu, Sarah tetap berusaha mempertahankan ketenangannya."Kakak... Aku tidak mengerti maksudmu," ucap Sarah, sembari melanjutkan aktivitas mengiris daging di piringnya."Tidak perlu berpura-pura bodoh. Kamu yang menyuruh petugas apartemen memukuli Kean sampai babak belur," tuduh Arlo tanpa basa-basi.Sarah segera meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring. Ia menarik napas panjang sebelum menimpali, "Jadi, kamu mengajakku makan malam hanya untuk membahas itu?""Kean Arsenio sangat berharga. Kelak, dia akan menjadi salah satu petinggi di perusahaanku," tegas Arlo. "Mencelakainya sama saja dengan menantangku.""Banyak orang berbakat di dunia ini. Apa Kean benar-benar spesial?" sungut Sarah, rasa kesalnya mulai terlihat. "Atau karena wajahnya mirip seseorang?""Mirip seseorang? Siapa?" Arlo menyeringai tipis. Ia sengaja berakting seolah tidak mengerti maksud Sarah.Sar
Dengan wajah datar tanpa sedikit pun ekspresi, Arlo memperhatikan asisten pribadinya mencabut gigi para petugas satu per satu menggunakan tang berukuran besar.Asisten tampak menikmati pekerjaan keji tersebut. Setiap teriakan kesakitan yang keluar dari mulut para korban justru membuat senyum di wajahnya semakin lebar, seolah penderitaan orang lain adalah hiburan baginya. “Hentikan... Membosankan,” ucap Arlo, mengembuskan napas panjang. Asisten pribadi Arlo segera menghentikan tindakannya. Ia berdiri tegak, lalu melepaskan sarung tangan yang telah berlumuran cairan merah. “Tuan, anda ingin selesai sampai di sini?” tanya asisten itu dengan sopan. “Selesai? Semudah itu?” balas Arlo sembari sedikit memiringkan kepala. “Bukankah... Pemimpin kartel dari Asia Timur memberiku sebuah pedang?” tanyanya. Asisten pribadi Arlo menampilkan senyum tipis. Ia langsung memahami maksud yang tersembunyi di balik ucapan tuannya. “Pangg
Tuan Jefery merasa lega melihat putranya akhirnya bisa membuka mata dan mengucapkan beberapa patah kata. Meski begitu, kondisi Sans masih terlihat lemas dan linglung."Keajaiban medis muncul!"Tiba-tiba, Qiqi menerobos masuk ke kamar VIP rumah sakit bersama sejumlah wartawan. Ke
"Tentu saya takut, Tuan," jawab asisten pribadi Arlo.Meski tidak merasa bersalah, asisten tetap meminta maaf, dan mengharapkan hukuman sebagai bentuk kesetiannya pada Arlo. Arlo menghembuskan napas lelah. "Sudahlah... Kali ini aku maafkan," katanya, tak mempersalahkan lebih la
Arlo langsung melesat ke depanku, tangannya meraih daguku dengan cepat. Matanya memancarkan kekhawatiran yang jarang terlihat. Jempolnya menekan lembut rahangku, memaksa mulutku terbuka untuk memeriksa lukanya. Darah segar merembes dari sela-sela gigiku. Di lantai, Reno memungut pecahan kue basah
Dada kiriku berdenyut nyeri, bukan hanya karena bebat chest binder yang menekan dadaku, tapi juga karena pemandangan di depanku.Di barisan depan kelas arsitektur, Sarah Varelian tertawa anggun. Rambut hitamnya jatuh sempurna di bahu, dan seragamnya bersih tanpa cela. Dia terlihat seperti putri tun







