Home / Young Adult / Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus / Bab. 31. Reno Si Pelit Informasi (Arc : Tuan Jefery)

Share

Bab. 31. Reno Si Pelit Informasi (Arc : Tuan Jefery)

Author: Kurnia
last update publish date: 2026-05-28 08:30:49

"Hhuuhhh...."

Kedua mataku terbuka paksa, seakan ditarik keluar dari mimpi buruk. Jantungku menghantam dadaku tanpa irama, napasku tercekat. Bola mataku gemetar. Pandanganku yang liar, menyisir setiap sudut, seolah takut menemukan lagi potongan masa lalu.

Menit demi menit berlalu tanpa satu pun perubahan. Tidak ada keanehan seperti yang kutakutkat. Hanya tatapan cemas para pelayan yang tertuju padaku.

"Tuan... Syukurlah... Anda cuma pingsan lima menit. Bikin khawati
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 134. Masa Lalu Lewat Mimpi

    “Sarah! Kamu ngomong apa? Ngasal banget!” protes Airin.“Aku nggak ngasal! Aku, ‘kan cuma cerita!” Sarah menimpali.Aku segera menghentikan perdebatan mereka yang tampaknya akan kembali memanas.“Nggak perlu cemas. Apa yang perlu ditakutkan dari meninggal? Toh, semua makhluk yang bernapas akan merasakan kematian,” beberku sok bijak.“Kalau Kakak meninggal, siapa yang akan menggantikanmu menikah dengan Kak Arlo?” cetus Sarah.“Ngapain pusing-pusing? Airin yang akan menggantikanku,” jawabku tanpa berpikir.Kedua mata Sarah langsung melotot.“Kakak! Kenapa Airin? Aku adikmu, biarkan aku yang menggantikanmu!” mohonnya.Aku tidak mengerti, apakah Sarah benar-benar polos atau hanya berpura-pura. Namun, sikapnya sungguh menyebalkan.“Oh? Kamu menyukai Kak Arlo, ya?” goda Airin, tidak asal menebak.Sarah mundur satu langkah. “Mana mungkin! Aku nggak suka Kak Arlo!” tegasnya panik.“Suka juga nggak masalah, kok. Siapa sih, perempuan di sekolah ini yang nggak suka sama Kak Arlo?” kataku pengert

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 133. Ingatan Masa Lalu?

    Sebelum kembali ke kampus, Airin mengajakku makan malam di sebuah restoran.Di sela-sela makan, aku iseng bertanya, "Kamu menyukai Kak Arlo?""Jangan cemburu, Kak Arlo tetap milikmu," sahut Airin, seakan tanpa berpikir. Aku langsung mengernyit. Aku sama sekali tidak mengerti maksud jawaban Airin.Melihatku terdiam dengan ekspresi kebingungan, Airin akhirnya menjelaskan bahwa dirinya tidak rela Arlo menikah dengan Sarah."Lebih baik aku menikahinya, dan menutupi hubunganmu bersamanya," imbuhnya.Aku langsung terkejut. Ternyata, selama ini Sarah mengira bahwa aku dan Arlo menjalin hubungan yang menyimpang."Soal ahli waris tidak perlu cemas. Banyak anak panti asuhan yang cerdas. Mereka bisa dilatih untuk menjadi penerus," beber Airin.Aku semakin bingung."Jika tidak menyukai Kak Arlo, kenapa kamu memikirkan urusan keluarga lain sampai segitunya?" tanyaku heran.Airin tersenyum lembut sebelum berkata, "Qiqiela adalah teman terbaikku, dia pernah menyelamatkanku dari maut. Kami berdua me

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 132. Mengunjungi Makam Sendiri

    Reno mendorongku hingga tubuhku terlentang di atas ranjang. Dalam sekejap, ia sudah mengungkungku dan kembali meraih bibirku.Ketika ciumannya terlepas, ia berbisik lirih, "Kamu menyebut nama yang benar."Setelah itu, ia kembali melanjutkan cumbuannya. Bibirnya berpindah menyusuri tubuhku, membuat napasku berulang kali tercekat. Sentuhannya terasa semakin berani hingga tanpa sadar beberapa desahan kecil lolos dari bibirku."Kak Reno, nyalakan dulu lampunya," pintaku sambil menahan pundaknya."Tidak mau," balas Reno di sela cumbuannya."Aku ingin melihat wajah Kak Reno," dalihku, sedikit memohon.Reno tetap tak menggubris. Sentuhannya justru membuat tubuhku semakin menegang. Sensasi yang ditimbulkannya membuat pikiranku perlahan kehilangan arah."Ahh...." Desahanku meluncur tanpa bisa kutahan.Reno seolah menikmati reaksiku, sementara aku hanya bisa mencengkeram seprai dan berusaha mengatur napas.Ketika aku mulai kehilangan kendali, Reno mendekat ke telingaku. Tapi sebelah tangannya j

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 131. Adik Ipar Lebih Menggoda

    Hembusan angin pantai menerpa tubuh Nyonya Mayun yang tengah menunggu seseorang di depan sebuah kafe di pesisir pantai. Suara deburan ombak terdengar samar, berpadu dengan suasana siang yang cukup tenang.Tak berselang lama setelah ia duduk, Deria muncul seorang diri dengan membawa sebuah map plastik."Padahal kita tinggal serumah, ngapain kamu ngajak bertemu di sini?" sungut Nyonya Mayun, menyambut kedatangan Deria.Dengan senyum misterius yang menggoda, Deria menjawab, "Hari ini aku bawa hadiah spesial untukmu, Nyonya."Nyonya Mayun mengernyitkan dahi. Rasa penasaran mulai merasukinya.Deria segera mengeluarkan seluruh dokumen penting dari dalam map, lalu membentangkannya di hadapan Nyonya Mayun."Tolong Nyonya baca baik-baik. Semua dokumen ini berisi pengalihan saham Go Tekstil sebesar dua puluh persen," kata Deria sembari menunjuk beberapa lembar kertas.Nyonya Mayun memperhatikan Deria yang sedang menjelaskan isi do

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 130. Kasus Beni Resmi Ditutup

    "Jika wanita yang aku sukai adalah tunangan Tuan Herlan, bagaimana? Boleh kubawa dia pergi?" lontar Max, sengaja memancing reaksi Arlo.Arlo tetap memasang ekspresi datar. Berbeda dengannya, Tuan Zilo justru tersenyum sinis. Ia jelas tidak menyukai keberanian Max yang kurang ajar."Silakan. Kamu boleh membawanya pergi," balas Tuan Zilo dengan tenang. "Di negeri ini, banyak bangsawan, putri konglomerat yang ingin menjadi Nyonya Herlan," imbuhnya.Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi semakin meninggikan posisi Arlo yang sejak awal memang sudah berada di tempat yang terlalu tinggi untuk disentuh Max.Raut wajah Max berubah kesal. Setiap kali ia berusaha menyudutkan Arlo selalu ada Tuan Zilo yang membalas dengan kalimat tajam. Seakan Tuan Zilo sengaja memastikan tidak ada satu pun penghinaan Max yang berhasil mengenai Arlo.Dan yang paling membuat Max jengkel adalah Arlo yang sejak tadi diam dengan wajah yang tetap tenang, tatapan yang ding

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 129. Pertemuan Menegangkan

    Aku tersenyum geli. Sejak kapan aku memiliki anak yang usianya bahkan lebih tua dariku?Lagipula, setelah menggugurkan bayiku di usia muda, aku berencana membuang rahimku. Menurutku, wanita sepertiku tidak pantas melahirkan, apalagi menjadi seorang ibu.Sebuah toelan ringan di hidungku menarikku kembali dari lamunan.Meli menatapku sambil tersenyum. "Tuan putri mikirin apa? Ayo kita pulang. Tuan Arlo sudah menunggumu di kediaman keluarga Herlan."Meli menggenggam pergelangan tanganku dan hendak membawaku masuk ke dalam mobil. Namun, aku segera menahannya."Kenapa di kediaman keluarga Herlan? Tempat itu, tak sembarangan orang bisa masuk," kataku bingung."Kamu bukan orang sembarangan bagi Tuan Arlo. Jangan mengelak terus."Meli langsung memaksaku masuk ke dalam mobil sebelum aku sempat membantah lagi.Aku hanya bisa pasrah dan membiarkannya membawaku pergi.Sesampainya di salah satu mansion milik keluarga Herlan, aku langsung disambut oleh banyak pelayan. Mereka bahkan memanggilku tuan

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 06. Sarah, Kamu Ngapain?

    Ruang sidang diliputi keheningan yang menekan.Lampu kristal besar di langit-langit memantulkan cahaya putih dingin, menyinari setiap sudut ruangan tanpa ampun.Dinding marmer yang tinggi memantulkan gema napas para hadirin, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa pun enggan bergerak sembaranga

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 05. Aldo, Kamu Yang Memulai!

    "Kalau mau bunuh orang, jangan di tempat terbuka. Dasar bodoh!" bentak Reno. Suara baritonnya menggema di lorong yang sepi. Otot-otot di lengan Reno menegang, rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, bersiap melayangkan tendangan ke perut Aldo yang masih meringkuk di lantai. Melihat situasi yang bi

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 04. Goodbye, Bella!

    Arlo meraih ponselku dengan gerakan tenang. Jari jempolnya menggeser layar, membaca satu per satu fitnah yang disebar oleh Bella.Tidak ada perubahan drastis di wajahnya, tetapi rahangnya yang menegang dan otot lehernya yang mengeras menjadi bukti nyata bahwa ia menahan amarah."Ini perbuatan Bella

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 03. Aku Beri Tiga Permintaan

    Cahaya matahari pagi belum sepenuhnya menembus tirai kamar asrama, tetapi rentetan getaran dari ponselku sukses menghancurkan sisa tidurku.Dengan kelopak mata yang masih terasa berat, aku meraba nakas. Layar ponselku menyala terang, menampilkan puluhan notifikasi pesan masuk dari nomor-nomor tak d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status