共有

Bab 4

作者: Abu
Saat terbangun, Nadine mendapati dirinya terbaring di kamar rumah sakit.

Dari luar pintu, terdengar isak tangis Saskia. "Gimana ini ... Aku nggak sengaja, kok. Aku nggak sengaja salah kasih obat antiradang jadi obat tidur ...."

"Kalau sampai kenapa-napa, ini bisa jadi malpraktik berat ...."

Lalu, terdengar suara Arsen yang menenangkan dengan lembut, "Nggak usah takut. Ada aku di sini, aku nggak bakal biarin kamu kenapa-napa."

"Kalaupun sampai dipermasalahin, aku bisa tanda tangan surat pernyataan damai atas nama keluarga."

Nadine menggigit bibirnya erat-erat, sampai mengecap rasa anyir darah.

Entah berapa lama berlalu, pintu kamar rawat akhirnya terbuka dan Arsen melangkah masuk.

"Aku kenapa?" tanyanya dengan suara bergetar. "Kenapa aku sampai pingsan?"

"Gula darah rendah."

Mendengar tiga kata itu langsung dari mulutnya, Nadine seolah mendengar suara jantungnya sendiri hancur berkeping-keping.

Dia teringat masa-masa awal pernikahan mereka. Dulu, ada seorang sosialita yang sengaja memaksanya minum di sebuah pesta. Keesokan harinya, Arsen langsung menjatuhkan harga saham perusahaan wanita itu hingga anjlok total.

Saat wanita itu berlutut memohon maaf di hadapannya, Arsen merangkul pinggangnya dan berkata, "Nadine, selama ada aku, nggak ada yang bisa nyentuh sehelai rambutmu pun."

Akan tetapi, sekarang, saat dia hampir mati karena kelalaian Saskia, pria itu malah masih membela si pelaku!

'Arsen ... bagaimana bisa kamu menyakitiku sampai separah ini?'

Rasa sakit itu membuatnya nyaris gemetar, tetapi Arsen sama sekali tak menyadari gelagat anehnya.

Merasa Nadine sudah tidak apa-apa, dia buru-buru berdiri. "Saskia udah semalaman khawatir dan ketakutan gara-gara kamu. Aku antar dia pulang dulu ya, nanti aku ke sini lagi buat nemenin kamu."

Akan tetapi, selama beberapa hari berikutnya, Nadine tak lagi melihat batang hidung Arsen.

Dia hanya tahu dari unggahan media sosial bahwa Arsen mengajak Saskia ke pantai, menonton konser, dan mengunjungi semua tempat yang dulu pernah mereka janjikan untuk dikunjungi bersama, tetapi tak pernah terealisasi.

Tepat di hari kepulangannya dari rumah sakit, Arsen akhirnya muncul.

Pria itu bersandar di samping mobil sambil memegang sebuket bunga krisan. Melihat Nadine keluar, dia menyodorkan bunga itu.

"Belakangan ini aku lagi sibuk di kantor, jadi nggak bisa nemenin kamu. Hari ini 'kan hari peringatan kematian ibumu, biar aku temenin ke makam."

Nadine menerima bunga itu dalam diam, baru menyadari bahwa Saskia juga ada di dalam mobil.

Tanpa memedulikan kehadiran gadis itu, dia duduk di jok belakang. Sambil menatap pemandangan yang berlalu di luar jendela, dia teringat pesan ibunya sebelum meninggal.

"Nadine, Ibu cuma berharap kamu menemukan pria yang benar-benar tulus mencintaimu."

Nadine meraba sisa tiga lembar surat cinta di dalam tasnya, berkata dalam hati dengan getir.

'Ibu, kayaknya aku salah pilih orang.'

Sesampainya di kompleks pemakaman, Nadine bahkan belum sempat berziarah ketika mendengar sebuah kabar buruk.

"Mohon maaf, Nona Nadine. Curah hujan belakangan ini sangat tinggi dan sering terjadi longsor, sehingga makam-makam di area ini harus direlokasi ...."

Nadine mencengkeram tasnya erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih.

Semasa hidup, ibunya adalah sosok yang paling mencintai ketenangan. Kini, bahkan setelah tiada, dia tak dibiarkan beristirahat dengan tenang.

Arsen entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Dia menerima berkas dari petugas, lalu menandatanganinya dengan goresan bolpoin yang cepat dan tegas.

"Nadine, kamu naik dulu ambil abu Ibu, biar aku yang ngurus administrasi relokasi makamnya di sini."

Nadine mengangguk pelan, lalu berbalik dan melangkah menaiki bukit.

Air hujan membasahi anak tangga. Sambil menyeret tubuhnya yang masih lemah, setiap langkah yang dia ambil terasa seperti menginjak ujung pisau.

Di depan nisan ibunya, para petugas sudah membuka galian makam.

Nadine berlutut di atas tanah yang berlumpur, dengan tangannya sendiri mengangkat wadah abu jenazah ibunya. Itu adalah sebuah kotak kayu cendana yang sederhana, dengan nama ibunya terukir di atasnya.

Ratih Wiratama.

"Waktu hidup dulu, Bibi pasti cantik banget, ya?" Saskia tiba-tiba bersuara, mengulurkan tangan hendak membantu. "Bu Nadine, biar aku bantu bawa."

"Nggak usah." Nadine memiringkan tubuhnya untuk menghindari uluran tangan gadis itu, memeluk kotak abu dengan hati-hati dan melangkah turun.

Akan tetapi, baru beberapa langkah, Saskia tiba-tiba menjerit, "Ah! Ada serangga!"

Dalam kepanikannya, dia langsung menerjang dan menabrak tubuh Nadine.

Nadine yang tak siap sama sekali kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling menuruni undakan tangga.

Dia memeluk erat kotak abu itu, punggungnya menghantam keras undakan batu, rasa sakit yang luar biasa membuat pandangannya seketika menggelap.

"Maaf, maaf! Aku nggak sengaja!" Saskia berlari turun dengan panik. "Biar aku bantu ambil!"

Dia mengulurkan tangan hendak mengambil kotak abu itu. Belum sempat Nadine mencegahnya, dia melihat kaki Saskia tergelincir.

"Brak!"

Kotak abu itu jatuh menghantam tanah dengan keras, hancur berkeping-keping.

Abu jenazah berwarna putih keabu-abuan berserakan ke tanah, seketika basah kuyup oleh guyuran hujan.

"Maaf! Aku bakal beresin sekarang!"

Saskia panik dan buru-buru mencoba mengumpulkan abu itu dengan kedua tangannya, tetapi malah membuatnya makin berantakan.

Di bawah guyuran hujan, abu jenazah ibunya perlahan larut dan meresap ke dalam tanah.

Nadine gemetar hebat. Tak kuasa menahan diri lagi, dia melayangkan tamparan keras.

"Cukup! Kamu sengaja, 'kan?"

Saskia memegangi pipinya, air mata seketika mengalir. "Aku nggak sengaja! Aku cuma mau bantu. Walaupun aku agak ceroboh, niatku baik. Kenapa kamu mukul aku? Aku mungkin nggak punya uang, tapi aku nggak bakal diam aja kalau kalian mau nginjak-injak harga diriku!"

"Kamu cuma kehilangan abu ibumu, tapi aku kehilangan harga diriku!"

Rasa putus asa seketika memuncak di benak Nadine. Dia kembali mengangkat tangan, tetapi pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram dengan kuat.

Arsen entah sejak kapan sudah muncul di sana, lalu secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Nadine dengan kuat. "Nadine! Apa-apaan kamu?"

Saskia tak kuasa lagi menahan diri, menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi wajah. "Aku cuma mau bantuin dia bawa kotak abu ... Nggak sengaja tumpah ... Tapi, dia malah mukul aku."

"Kalau emang kalian nggak terima aku di sini, ya udah, aku pergi."

Baru saja dia melangkah, Arsen menariknya ke dalam pelukannya.

"Jangan pergi. Aku bakal bela kamu."

Setelah itu, dia menatap Nadine dengan tatapan dingin. "Minta maaf!"

Air hujan mengalir turun membasahi pipi Nadine, berbaur dengan air mata.

Dia menatap Arsen yang dengan penuh kelembutan mengusap air mata Saskia, sementara di saat yang sama, Arsen membentaknya dan menyuruhnya minta maaf. Nadine merasa seolah ada seseorang yang mencabut paksa jantungnya dari rongga dada.

Nadine menatap pria itu tajam, bibirnya bergetar. "Arsen, kamu tadi denger nggak sih? Dia menjatuhkan abu jenazah ibuku!"

"Tetap aja itu bukan alasan buat kamu main tangan!"

Suara Arsen terdengar lebih dingin daripada guyuran hujan es di sekitarnya. Dia menarik kasar pergelangan tangan Saskia. "Nggak usah takut. Karena dia nggak mau minta maaf dan udah mukul kamu, kamu tampar balik aja."

Pupil Nadine mengecil karena syok. Belum sempat dia bereaksi, dia melihat jari-jari Arsen yang kokoh menggenggam tangan Saskia, lalu mengayunkan tangan gadis itu dengan kekuatan penuh ke arah wajahnya.

"Plak!"

Tamparan itu jauh lebih keras, sepuluh kali lipat lebih menyakitkan dari yang Nadine berikan tadi!

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 25

    Hari itu, Saskia yang tampak linglung, salah menusukkan jarum. Setelah berkali-kali mencoba, punggung tangan Arsen sampai membiru, bengkak, dan memerah.Dulu, bagaimana Arsen bersikap?Dia malah merasa kebingungan gadis itu terlihat lucu. Saat Saskia menangis memohon maaf, dia justru tersenyum santai dan berkata tak apa-apa, pelan-pelan saja.Sejak saat itu, dia terjebak dalam pusaran pesona wanita itu, terus melangkah ke jalan yang salah dan tak pernah bisa kembali.Namun, kali ini, dia menatap dingin pada Saskia yang sedang memohon maaf, lalu membentak, "Panggil atasanmu ke sini!"Selanjutnya, pihak rumah sakit memberikan ganti rugi berupa sejumlah uang dan langsung memecat Saskia. Sejak hari itu, Saskia benar-benar lenyap dari dunia Arsen.Setelah cairan infusnya habis, sebuah bayangan yang begitu familier melangkah ke arahnya seraya mengulurkan tangan."Arsen, ayo kita pulang."Arsen mendongak, menatap Nadine yang menatapnya dengan mata penuh cinta dan senyuman merekah. Bibirnya pu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 24

    Napas di seberang sana perlahan memburu, terdengar parau dan bercampur rasa sakit.Namun, Nadine seolah menutup telinga, pura-pura tak mendengarnya sama sekali."Dalam hubungan ini, kamu selalu minta alasan. Bahkan kalau jawabannya udah aku taruh di depan mata, kamu tetap nggak mau lihat. Jadi, akar dari semua masalah ini cuma satu. Kamu nggak peduli."Karena ketidakpedulian itulah, Arsen bisa berselingkuh dengan begitu bebas tanpa memikirkan perasaannya, membiarkan Saskia menginjak-injak harga dirinya, dan membiarkan Nadine berulang kali menerima rasa sakit yang seharusnya tidak perlu dia rasakan."Jadi, alasan kita cerai, kamu pasti udah tahu jawabannya, 'kan?""Arsen, karena kita udah cerai, seharusnya kita nggak perlu berhubungan lagi."Selesai bicara seperti itu, Nadine hendak menutup telepon, tetapi Arsen di seberang sana buru-buru memohon dengan panik."Nggak, nggak, Nadine, kamu nggak bisa kayak gini. Kita ketemu sekali aja, ya? Tolong ...."Dalam ingatan Nadine, Arsen sangat j

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 23

    Meski begitu, Dito tetap sangat tersentuh. Dibandingkan dengan sikap Nadine yang dulu begitu menjauh dan dingin, ini sudah merupakan kemajuan yang sangat besar.Di luar negeri, setelah Nadine membaca pesan dari Dito yang berisi ucapan terima kasih dan betapa dia menyukai hadiah tersebut, gadis itu terpaku cukup lama. Dia membiarkan perasaan rumit itu perlahan-lahan menelannya utuh.Sebenarnya, sudah sejak lama Nadine memaafkan ayahnya.Lagi pula, dalam tragedi waktu itu, Dito sejatinya adalah korban. Hanya saja, dulu dia terlalu membela posisi ibunya dan merasa pria itu telah mengkhianati sang ibu, sehingga dia begitu tegas memutuskan hubungan dengan ayahnya.Setelah itu, dia sendiri mengalami kegagalan rumah tangga. Setelah berurusan dengan berbagai macam orang dan melihat berbagai peristiwa, dia perlahan mulai memahami posisi dan kesulitan ayahnya.Namun, luka itu sudah terlanjur tertoreh. Meski Nadine punya niat untuk menebusnya, dia tak tahu harus memulai dari mana.Oleh karena itu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 22

    Di kediaman Keluarga Mahardika, Arsen sama sekali tidak tahu rencana Dito untuknya. Pikirannya hanya dipenuhi satu tujuan yaitu, menemukan Nadine.Dia terus menyuruh orang mengirimkan berbagai hadiah permintaan maaf kepada Dito. Bahkan, dia sampai berniat merenovasi makam mendiang Ratih.Namun, semuanya dikembalikan dalam keadaan utuh dan dilempar keluar, tanpa ada satu pun yang dibuka.Arsen tak gentar. Dia hanya memerintahkan bawahannya untuk terus mengirimkan hadiah-hadiah itu lagi dan lagi.Di saat yang sama, anak buahnya yang ditugaskan ke luar negeri untuk melacak Keluarga Atmadja juga dipaksa pulang. Mereka bahkan dicegat sebelum bisa melewati imigrasi."Kamu bilang apa?"Ketika Arsen kembali mendengar kabar bahwa anak buahnya dicekal bepergian ke luar negeri, dia tak bisa lagi duduk diam.Teringat saat dia diusir oleh Dito waktu itu, dia tiba-tiba menyadari satu hal.Meski dia tak tahu apakah Nadine sudah memaafkannya atau belum, kepulangan Dito ke tanah air pasti atas restu wa

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 21

    Dito sampai tertawa sinis mendengar omong kosong Arsen."Yang kamu sebut putus hubungan dengan Saskia itu cuma karena kamu udah bosen. Kalau kamu nggak pernah bosen, apa kamu mau bikin anakku kesepian seumur hidupnya padahal punya suami?""Lagi pula, kamu udah nikah sama anakku, harusnya kamu tahu wataknya yang nggak bisa mentolerir pengkhianatan sedikit pun. Dulu karena kesepian, aku asal nikah sama orang biasa. Harta benda juga udah aku kasih semua ke Nadine. Tapi, coba lihat, bertahun-tahun ini dia nggak pernah mau ngomong sepatah kata pun sama aku. Padahal posisiku waktu itu duda karena ditinggal mati istri. Nah, coba bandingin sama kamu. Kok kamu bisa mikir dia masih cinta sama kamu? Kalau dia benaran cinta, dia nggak bakal ninggalin kamu.""Arsen, berhenti menipu dirimu sendiri. Galeri ini juga nggak usah kamu harapkan. Pulang sana. Mulai sekarang, berhenti bermimpi bisa nemuin dia. Dia nggak akan mau ketemu sama kamu."Selesai bicara, Dito mengangkat cangkir tehnya, memberi isya

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 20

    Pada hari akuisisi galeri mendiang Ratih, Arsen sudah tiba di galeri sejak pagi.Meski staf galeri sudah memberitahunya bahwa Nadine tidak akan datang hari ini, Arsen masih menyimpan secercah harapan. Siapa tahu Nadine benar-benar muncul?Lagi pula, ini adalah hasil jerih payah ibunya semasa hidup. Nadine sangat mencintai ibunya, mana mungkin dia tidak datang.Dengan harapan itu, Arsen terus menunggu Nadine.Akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang makin mendekat. Arsen buru-buru duduk tegak, menatap pintu utama yang terbuka lebar dengan penuh harap.Dan tepat di tengah penantiannya yang mendebarkan, sosok berpakaian putih perlahan melangkah masuk.Dia buru-buru bangkit berdiri menatap sosok itu. Nama Nadine belum sempat terucap, tetapi sudah kembali tertahan di tenggorokan."Paman, kenapa Paman yang datang? Di mana Nadine?"Sosok yang datang tak lain adalah Ayah Nadine, Dito.Dito menatap Arsen dengan tatapan dingin. "Di mana dia, aku nggak akan kasih tahu. Tapi, kamu mau beli gale

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status