로그인"Liam bukan pecandu judi! Dia hanya ...." Ivy terhenti. Dia sadar dia masih mencoba membela pria yang baru saja mengkhianatinya.
"Dia adalah sampah. Mulai sekarang, kau akan belajar untuk memiliki selera yang lebih baik." Arthur memerintahkan sopirnya untuk melaju ke kawasan elite Chelsea. Apartemen Arthur adalah sebuah penthouse dua lantai dengan pemandangan Sungai Thames yang menakjubkan. Minimalis, maskulin, dan sangat sepi. "Kamar tidurmu ada di lantai atas, sebelah kanan. Kamarku ada di paling ujung. Jangan masuk ke sana kecuali aku memintamu." Arthur berjalan menuju bar pribadinya, menuangkan wiski tanpa menawarkan pada Ivy. Ivy berdiri di tengah ruang tamu yang luas, merasa sangat kecil. Kelelahan fisik dan mental akhirnya menghantamnya sekaligus. "Kenapa Anda melakukan ini, Sir? Maksud saya, benar-benar melakukannya? Anda bisa mendapatkan siapa saja. Kenapa harus saya yang sedang berantakan?" Arthur menyesap wiskinya, menatap Ivy dari balik gelasnya. Matanya berkilat dengan sesuatu yang tidak bisa Ivy artikan, sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kepentingan bisnis. "Karena kau tidak punya tempat untuk lari, dan wanita yang tidak punya tempat untuk lari adalah wanita yang paling bisa dipercaya." Arthur meletakkan gelasnya, lalu berjalan mendekati Ivy. Dia berhenti tepat di depan Ivy, begitu dekat hingga Ivy bisa mencium aroma wiski dan napasnya. Arthur mengulurkan tangan, menyelipkan seuntai rambut Ivy ke belakang telinga. "Tidurlah. Besok adalah hari pertama kehidupan barumu, dan satu lagi Ivy ...." "Iya?" "Jangan bermimpi tentang Liam. Mulai malam ini, satu-satunya pria yang boleh memenuhi pikiranmu adalah aku." Arthur berbalik dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Ivy sendirian di tengah kemewahan yang terasa seperti penjara emas. Ivy menyentuh dadanya, merasakan jantungnya berdegup kencang. Bukan karena cinta, dia yakin itu. Itu adalah debaran ketakutan ... atau mungkin, debaran dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang belum berani dia akui. *** Sutra yang menyentuh kulit Ivy Collins pagi itu terasa seperti penghinaan. Seprai di kamar tamu penthouse Arthur Sterling memiliki jumlah benang yang begitu tinggi hingga terasa seperti air yang mengalir di atas tubuhnya, tapi Ivy terbangun dengan perasaan seolah ia baru saja dihantam kereta api. Sinar matahari London yang pucat menembus jendela besar dari lantai ke langit-langit dan menyinari deretan kotak kardus yang tertumpuk rapi di sudut ruangan. Ivy bangkit dengan kepala berdenyut, menatap kotak-kotak itu. Itu adalah seluruh hidupnya. Pakaiannya, buku-bukunya, sisa-sisa kenangannya, semuanya telah dipindahkan dalam semalam tanpa sisa. Efisiensi Arthur Sterling adalah bentuk kekerasan yang halus. Pria itu tidak hanya mengambil alih karier Ivy, dia telah menghapus jejak keberadaan Ivy dari tempat lain dan menanamnya di sini, di benteng kacanya yang dingin. Ivy melangkah ke kamar mandi marmer yang luasnya mungkin lebih besar dari kamar tidurnya yang lama. Di atas wastafel, sudah tersedia sikat gigi baru, rangkaian produk perawatan kulit kelas atas, dan sebuah jubah mandi sutra hitam dengan inisial A.S. di sakunya. Dia menatap pantulannya di cermin. Matanya masih sedikit sembab, tapi ada garis kemarahan yang kini menetap di sudut bibirnya. Ivy tidak lagi merasa sedih karena Liam. Dia merasa muak. Muak pada dirinya sendiri karena telah menjadi begitu buta, dan muak pada Arthur karena telah menjadi begitu ... benar tentang betapa menyedihkannya hidup Ivy. Setelah mandi cepat dan mengenakan kemeja putih serta rok pensil yang ia temukan di salah satu kotak, Ivy turun ke lantai bawah. Suasana penthouse itu sunyi. Hanya terdengar denting halus perak yang beradu dengan porselen. Arthur Sterling duduk di ujung meja makan marmer yang panjang, mengenakan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan jam tangan mewah dan otot lengan bawah yang kokoh. Di depannya bukan iPad atau ponsel, tapi koran Financial Times fisik. "Duduk, Collins. Kau terlambat empat menit dari jadwal sarapan yang ditentukan asisten rumah tanggaku," ucap Arthur tanpa mengalihkan pandangan dari berita saham. Ivy menarik kursi di ujung meja yang berlawanan, sejauh mungkin dari pria itu. "Saya tidak tahu kita punya jadwal sarapan bersama." "Kita punya jadwal untuk segala hal sekarang." Arthur melipat korannya dan menatap Ivy. Matanya yang kelabu tampak sangat jernih, seolah dia sudah terjaga selama berjam-jam dan sudah memenangkan tiga perang bisnis sebelum fajar. "Kopi atau teh?" "Kopi hitam. Seperti jiwa Anda, Sir," sahut Ivy tanpa sadar. Arthur terhenti sejenak. Satu alisnya terangkat. Bukannya marah, dia justru mengeluarkan dengkusan pelan yang menyerupai tawa kecil yang kering. "Setidaknya pengkhianatan Liam memberimu sedikit keberanian. Aku lebih suka kau yang tajam dari pada kau yang merengek." Seorang pelayan muncul entah dari mana, meletakkan secangkir kopi mengepul di depan Ivy dan sepiring sarapan yang tampak terlalu cantik untuk dimakan. "Liam menelepon sepuluh kali pagi ini," kata Arthur santai sambil menyesap kopinya. Jantung Ivy mencelos. "Apa yang dia katakan?" "Dia tidak bicara padaku. Dia bicara pada pengacaraku. Rupanya, dia baru sadar bahwa apartemen tempat dia tinggal selama ini secara teknis adalah properti yang disewa atas namamu, dan pagi ini, pemilik gedung telah membatalkan kontraknya atas permintaanku." Arthur menatap Ivy dengan tatapan datar. "Dia sekarang berada di jalanan dengan tas punggungnya. Chloe tampaknya tidak bersedia menampung pria tanpa uang dan tempat tinggal." Ivy terdiam. Ada rasa puas yang gelap di dalam dadanya, tapi juga rasa hampa. "Anda menghancurkannya secepat itu?" "Aku tidak menghancurkannya, Collins. Aku hanya mengembalikan dia ke posisi aslinya sebelum kau menyelamatkannya dengan gajimu. Aku tidak suka melihat investasi milikku dan kau adalah investasiku sekarang, disalahgunakan oleh orang luar." Arthur meletakkan cangkirnya, lalu mencondongkan tubuh ke depan. Aura dominannya menyelimuti ruangan itu, membuat Ivy merasa oksigen di sekitarnya menipis. "Hari ini, kita tidak ke kantor. Ada acara lelang amal di perkebunan keluarga Harrington di Cotswolds. Semua orang penting di London akan ada di sana, termasuk mantan tunangan lamaku, Elena Vance." Ivy mengernyit. "Vance? Nama belakang yang sama dengan Liam?" "Elena adalah sepupu jauh Liam. Itulah alasan sebenarnya Liam mendekatimu dua tahun lalu, Ivy. Dia tahu siapa kau, dia tahu kau bekerja untukku, dan dia pikir dia bisa menggunakanmu untuk mendapatkan informasi tentang perusahaan Sterling untuk keluarganya." Dunia Ivy seolah berputar. "Jadi hubungan kami selama empat tahun semuanya adalah rencana?" "Dua tahun pertama mungkin tidak, tapi dua tahun terakhir, saat kau mulai naik jabatan menjadi asisten pribadiku? Tentu saja." Arthur berkata dengan nada yang sangat jujur hingga itu terasa menyakitkan. "Keluarga Vance sedang bangkrut. Mereka butuh cara untuk menjatuhkanku. Liam adalah pion yang gagal, dan kau adalah target yang mudah karena kau terlalu haus akan kasih sayang." Ivy mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Lalu Anda membiarkannya? Anda membiarkan dia mendekatiku selama dua tahun padahal Anda tahu dia memanfaatkanku?" "Aku butuh umpan," jawab Arthur tanpa rasa bersalah. "Aku membiarkan Liam mencuri informasi yang sudah kupalsukan melalui dirimu. Karena itu, keluarga Vance kehilangan empat puluh juta poundsterling di bursa saham bulan lalu. Mereka sekarang putus asa. Dan itulah sebabnya aku membutuhkanmu sebagai tunanganku." Ivy merasa sesak. Dia bukan hanya dikhianati oleh Liam, tapi dia juga telah digunakan sebagai senjata tanpa sadar oleh Arthur. "Anda benar-benar iblis, ya. Anda menggunakan asisten Anda sendiri sebagai umpan?" "Tapi sekarang aku membayar kompensasinya, bukan?" Arthur berdiri, berjalan mengitari meja hingga dia berdiri tepat di belakang kursi Ivy. Dia meletakkan tangannya di bahu Ivy, sentuhan yang terasa penuh klaim. "Malam ini di Cotswolds, Elena Vance akan mencoba mempermalukanmu. Dia akan mencoba membuktikan bahwa kau hanyalah alat yang kubuang setelah misiku selesai." Arthur menunduk, bibirnya berada tepat di samping telinga Ivy. "Kau akan memakai gaun yang sudah kupilihkan. Kau akan memakai kalung berlian seharga apartemenmu yang lama. Kau juga akan menatap Elena tepat di matanya, lalu memberitahunya betapa nikmatnya tidur di tempat tidurku setiap malam." Ivy merinding, antara amarah dan sensasi aneh yang tak ia mengerti. "Anda ingin saya berbohong tentang kehidupan seks kita di depan mantan tunangan Anda?" "Siapa bilang kau harus berbohong tentang keinginanmu, Collins?" Arthur berbisik lebih rendah. Ivy menoleh, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Arthur. "Saya tidak menginginkan Anda, Sir. Saya membenci Anda."Di tengah latihan, Ivy menyadari ada sesuatu yang berbeda. Musik piano yang mengalun dari sistem audio mendadak berubah ritmenya menjadi lebih dramatis dan lebih gelap. Ia menoleh ke arah ruang kontrol kaca di lantai atas studio. Di sana, Arthur berdiri, menatapnya dari balik kegelapan ruangan itu.Arthur telah masuk diam-diam dan mengambil alih kendali atmosfer. Pria itu tidak hanya menonton, ia sedang mendikte tarian Ivy melalui musik.Ivy mengikuti ritme itu. Ia berputar lebih kencang, melompat lebih tinggi dan membiarkan peluh membasahi seluruh kulitnya. Di bawah tatapan obsesif Arthur, Ivy merasa seperti mahakarya yang sedang dipahat. Saat musik mencapai puncaknya dan Ivy mengakhiri gerakannya dengan posisi reverence yang sempurna, Arthur turun dari ruang kontrol."Kau terlihat sangat berbahaya saat kau sedang mencoba melampaui batasmu sendiri," puji Arthur menggema di studio yang sunyi. Ia mendekat, menyerahkan handuk putih bersih."Kau merusak jadwal latihanku dengan musik aneh
"Hei, Felix bisa melihat kita dari kaca spion," bisik Ivy, meskipun jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja abu-abu suaminya."Felix dibayar mahal untuk pura-pura buta dan tuli, Sayang. Jangan khawatirkan dia." Arthur kemudian membungkam bibir Ivy dengan ciuman yang kasar.Gairah yang menyusul di dalam mobil yang bergerak membelah jalanan kota pusat itu terasa sangat intens. Arthur mendominasi Ivy dengan cara yang menegaskan bahwa meski Ivy sekarang adalah ratu yang berkuasa di Collins-Sterling, ia tetaplah mangsa yang paling dicintai oleh sang predator Sterling. Sentuhan Arthur di kulit Ivy seolah-olah sedang menghapus segala sisa stres dan kemarahan yang Ivy rasakan pagi ini."Kau sungguh monster yang paling sombong yang pernah kutemui," desah Ivy di sela-sela napasnya yang memburu."Kau juga satu-satunya orang yang berhasil membuat monster ini berlutut demi mendapatkan perhatianmu," balas Arthur penuh oleh keinginan yang tak terbendung.Setelah badai fisik itu mereda, Ivy bers
Uap panas masih menggantung di udara saat Ivy melangkah keluar dari bilik pancuran, kulitnya memerah dan segar dengan handuk putih tebal yang membalut tubuhnya. Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang, sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang mulai berembun. Di sana, di pangkal lehernya, sebuah tanda kemerahan hasil kerja keras Arthur tadi pagi masih tercetak jelas."Kau sengaja melakukannya di tempat yang tidak bisa ditutupi oleh kerah baju mana pun, bukan?" Ivy berseru memantul di dinding kamar mandi yang luas.Pintu kaca bergeser terbuka dan Arthur masuk dengan ketenangan seorang penguasa. Ia sudah berganti pakaian celana panjang hitam dengan potongan tajam dan kemeja abu-abu baja yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi di matanya sudah kembali ke mode predator bisnis."Itu adalah tanda peringatan untuk siapa pun di ruangan Aegis nanti agar mereka tetap menjaga jarak aman dua meter darimu," sahut Arthur datar. Ia mengambil handuk kec
Aroma mentega yang terbakar pelan dan wangi rosemary segar menyusup masuk ke sela-sela mimpi Ivy, memaksanya untuk membuka mata lebih awal dari yang ia rencanakan. Ia meraba sisi ranjangnya, menemukan seprai sutra yang sudah dingin dan kosong. Ivy mengerang kecil, merasakan sekujur tubuhnya pegal luar biasa, kenang-kenangan dari gairah Arthur semalam yang seolah ingin membalas dendam pada jarak ribuan kilometer yang sempat memisahkan mereka.Ia bangkit, mengenakan kemeja hitam milik Arthur yang tergeletak di lantai, yang panjangnya cukup untuk menutupi paha atasnya. Dengan kaki telanjang, Ivy berjalan menuju sumber aroma itu. Di dapur minimalis yang didominasi marmer gelap, ia menemukan pemandangan yang sanggup menghentikan aliran darahnya sejenak.Arthur Sterling berdiri di depan kompor induksi. Tanpa atasan, ia hanya mengenakan celana kain hitam yang duduk rendah di pinggulnya. Otot punggungnya yang kokoh bergerak ritmis saat ia membalikkan sesuatu di atas wajan baja. Cahaya matahar
Hening yang mengendap di dalam kamar utama itu terasa jauh lebih berat daripada tekanan udara di dalam kabin jet pribadi yang baru saja Arthur tinggalkan. Pencahayaan diatur pada tingkat terendah, hanya dari lampu-lampu kecil di bawah sana yang menembus kaca raksasa, tampak memberikan siluet tajam pada tubuh dua manusia yang sedang saling mengunci pandangan.Arthur tidak melepaskan Ivy dari bawah kungkungannya. Ia menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Ivy, memerangkap istrinya di atas seprai sutra abu-abu yang dingin. Napas Arthur masih memburu, membawa aroma badai pesisir dan kerinduan yang sudah mencapai ambang batas kewarasan."Dua hari, Ivy. Empat puluh delapan jam tanpa bisa menyentuhmu. Kau tahu apa yang terjadi pada pikiranku?" Suara Arthur rendah, serak, dan bergetar oleh rasa lapar yang purba.Ivy menatap mata suaminya, jari-jarinya yang ramping merayap naik menelusuri guratan otot di lengan bawah Arthur. "Aku tahu kau terus-menerus menatap monitor biometr
"Aku memang ingin membantai mereka," geram Arthur. Ia mengamati Ivy dari layar dengan tatapan yang sangat lapar. "Kenapa kau belum pulang? Ini sudah jam sepuluh malam.""Baru jam sepuluh. Aku butuh sedikit waktu untuk mendinginkan otot. Kenapa kau tidak memakai baju?" tanya Ivy, memperhatikan bahu lebar Arthur yang terekspos di layar."Aku baru selesai mandi dan aku tidak peduli soal baju. Ivy, berdirilah. Aku ingin melihatmu."Ivy memutar bola matanya. "Arthur, aku lelah sekali. Jangan mulai lagi dengan perintah-perintah anehmu.""Berdiri, Ivy. Atau aku akan memerintahkan pilot pribadiku untuk menerbangkan jet ke sana sekarang juga dan aku tidak peduli jika aku harus meninggalkan kontrak miliaran dolar ini."Ivy mendesah, tapi ia tetap berdiri. Ia tahu Arthur tidak pernah menggertak. Ia berdiri di tengah studio kosong, menatap kamera ponselnya dengan wajah menantang. "Puas? Aku masih utuh, tidak ada yang berkurang.""Berputar," perintah Arthur lagi.Ivy melakukan putaran lambat. Arth







