Share

Iblis

Author: Purplexyiii
last update publish date: 2026-08-23 18:15:11

"Liam bukan pecandu judi! Dia hanya ...." Ivy terhenti. Dia sadar dia masih mencoba membela pria yang baru saja mengkhianatinya.

"Dia adalah sampah. Mulai sekarang, kau akan belajar untuk memiliki selera yang lebih baik." Arthur memerintahkan sopirnya untuk melaju ke kawasan elite Chelsea.

Apartemen Arthur adalah sebuah penthouse dua lantai dengan pemandangan Sungai Thames yang menakjubkan. Minimalis, maskulin, dan sangat sepi.

"Kamar tidurmu ada di lantai atas, sebelah kanan. Kamarku ada di paling ujung. Jangan masuk ke sana kecuali aku memintamu." Arthur berjalan menuju bar pribadinya, menuangkan wiski tanpa menawarkan pada Ivy.

Ivy berdiri di tengah ruang tamu yang luas, merasa sangat kecil. Kelelahan fisik dan mental akhirnya menghantamnya sekaligus.

"Kenapa Anda melakukan ini, Sir? Maksud saya, benar-benar melakukannya? Anda bisa mendapatkan siapa saja. Kenapa harus saya yang sedang berantakan?"

Arthur menyesap wiskinya, menatap Ivy dari balik gelasnya. Matanya berkilat dengan sesuatu yang tidak bisa Ivy artikan, sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kepentingan bisnis.

"Karena kau tidak punya tempat untuk lari, dan wanita yang tidak punya tempat untuk lari adalah wanita yang paling bisa dipercaya."

Arthur meletakkan gelasnya, lalu berjalan mendekati Ivy. Dia berhenti tepat di depan Ivy, begitu dekat hingga Ivy bisa mencium aroma wiski dan napasnya. Arthur mengulurkan tangan, menyelipkan seuntai rambut Ivy ke belakang telinga.

"Tidurlah. Besok adalah hari pertama kehidupan barumu, dan satu lagi Ivy ...."

"Iya?"

"Jangan bermimpi tentang Liam. Mulai malam ini, satu-satunya pria yang boleh memenuhi pikiranmu adalah aku."

Arthur berbalik dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Ivy sendirian di tengah kemewahan yang terasa seperti penjara emas. Ivy menyentuh dadanya, merasakan jantungnya berdegup kencang. Bukan karena cinta, dia yakin itu. Itu adalah debaran ketakutan ... atau mungkin, debaran dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang belum berani dia akui.

***

Sutra yang menyentuh kulit Ivy Collins pagi itu terasa seperti penghinaan. Seprai di kamar tamu penthouse Arthur Sterling memiliki jumlah benang yang begitu tinggi hingga terasa seperti air yang mengalir di atas tubuhnya, tapi Ivy terbangun dengan perasaan seolah ia baru saja dihantam kereta api.

Sinar matahari London yang pucat menembus jendela besar dari lantai ke langit-langit dan menyinari deretan kotak kardus yang tertumpuk rapi di sudut ruangan. Ivy bangkit dengan kepala berdenyut, menatap kotak-kotak itu. Itu adalah seluruh hidupnya. Pakaiannya, buku-bukunya, sisa-sisa kenangannya, semuanya telah dipindahkan dalam semalam tanpa sisa.

Efisiensi Arthur Sterling adalah bentuk kekerasan yang halus. Pria itu tidak hanya mengambil alih karier Ivy, dia telah menghapus jejak keberadaan Ivy dari tempat lain dan menanamnya di sini, di benteng kacanya yang dingin.

Ivy melangkah ke kamar mandi marmer yang luasnya mungkin lebih besar dari kamar tidurnya yang lama. Di atas wastafel, sudah tersedia sikat gigi baru, rangkaian produk perawatan kulit kelas atas, dan sebuah jubah mandi sutra hitam dengan inisial A.S. di sakunya.

Dia menatap pantulannya di cermin. Matanya masih sedikit sembab, tapi ada garis kemarahan yang kini menetap di sudut bibirnya. Ivy tidak lagi merasa sedih karena Liam. Dia merasa muak. Muak pada dirinya sendiri karena telah menjadi begitu buta, dan muak pada Arthur karena telah menjadi begitu ... benar tentang betapa menyedihkannya hidup Ivy.

Setelah mandi cepat dan mengenakan kemeja putih serta rok pensil yang ia temukan di salah satu kotak, Ivy turun ke lantai bawah.

Suasana penthouse itu sunyi. Hanya terdengar denting halus perak yang beradu dengan porselen. Arthur Sterling duduk di ujung meja makan marmer yang panjang, mengenakan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan jam tangan mewah dan otot lengan bawah yang kokoh. Di depannya bukan iPad atau ponsel, tapi koran Financial Times fisik.

"Duduk, Collins. Kau terlambat empat menit dari jadwal sarapan yang ditentukan asisten rumah tanggaku," ucap Arthur tanpa mengalihkan pandangan dari berita saham.

Ivy menarik kursi di ujung meja yang berlawanan, sejauh mungkin dari pria itu. "Saya tidak tahu kita punya jadwal sarapan bersama."

"Kita punya jadwal untuk segala hal sekarang."

Arthur melipat korannya dan menatap Ivy. Matanya yang kelabu tampak sangat jernih, seolah dia sudah terjaga selama berjam-jam dan sudah memenangkan tiga perang bisnis sebelum fajar.

"Kopi atau teh?"

"Kopi hitam. Seperti jiwa Anda, Sir," sahut Ivy tanpa sadar.

Arthur terhenti sejenak. Satu alisnya terangkat. Bukannya marah, dia justru mengeluarkan dengkusan pelan yang menyerupai tawa kecil yang kering.

"Setidaknya pengkhianatan Liam memberimu sedikit keberanian. Aku lebih suka kau yang tajam dari pada kau yang merengek."

Seorang pelayan muncul entah dari mana, meletakkan secangkir kopi mengepul di depan Ivy dan sepiring sarapan yang tampak terlalu cantik untuk dimakan.

"Liam menelepon sepuluh kali pagi ini," kata Arthur santai sambil menyesap kopinya.

Jantung Ivy mencelos. "Apa yang dia katakan?"

"Dia tidak bicara padaku. Dia bicara pada pengacaraku. Rupanya, dia baru sadar bahwa apartemen tempat dia tinggal selama ini secara teknis adalah properti yang disewa atas namamu, dan pagi ini, pemilik gedung telah membatalkan kontraknya atas permintaanku."

Arthur menatap Ivy dengan tatapan datar. "Dia sekarang berada di jalanan dengan tas punggungnya. Chloe tampaknya tidak bersedia menampung pria tanpa uang dan tempat tinggal."

Ivy terdiam. Ada rasa puas yang gelap di dalam dadanya, tapi juga rasa hampa. "Anda menghancurkannya secepat itu?"

"Aku tidak menghancurkannya, Collins. Aku hanya mengembalikan dia ke posisi aslinya sebelum kau menyelamatkannya dengan gajimu. Aku tidak suka melihat investasi milikku dan kau adalah investasiku sekarang, disalahgunakan oleh orang luar."

Arthur meletakkan cangkirnya, lalu mencondongkan tubuh ke depan. Aura dominannya menyelimuti ruangan itu, membuat Ivy merasa oksigen di sekitarnya menipis.

"Hari ini, kita tidak ke kantor. Ada acara lelang amal di perkebunan keluarga Harrington di Cotswolds. Semua orang penting di London akan ada di sana, termasuk mantan tunangan lamaku, Elena Vance."

Ivy mengernyit. "Vance? Nama belakang yang sama dengan Liam?"

"Elena adalah sepupu jauh Liam. Itulah alasan sebenarnya Liam mendekatimu dua tahun lalu, Ivy. Dia tahu siapa kau, dia tahu kau bekerja untukku, dan dia pikir dia bisa menggunakanmu untuk mendapatkan informasi tentang perusahaan Sterling untuk keluarganya."

Dunia Ivy seolah berputar. "Jadi hubungan kami selama empat tahun semuanya adalah rencana?"

"Dua tahun pertama mungkin tidak, tapi dua tahun terakhir, saat kau mulai naik jabatan menjadi asisten pribadiku? Tentu saja."

Arthur berkata dengan nada yang sangat jujur hingga itu terasa menyakitkan.

"Keluarga Vance sedang bangkrut. Mereka butuh cara untuk menjatuhkanku. Liam adalah pion yang gagal, dan kau adalah target yang mudah karena kau terlalu haus akan kasih sayang."

Ivy mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Lalu Anda membiarkannya? Anda membiarkan dia mendekatiku selama dua tahun padahal Anda tahu dia memanfaatkanku?"

"Aku butuh umpan," jawab Arthur tanpa rasa bersalah. "Aku membiarkan Liam mencuri informasi yang sudah kupalsukan melalui dirimu. Karena itu, keluarga Vance kehilangan empat puluh juta poundsterling di bursa saham bulan lalu. Mereka sekarang putus asa. Dan itulah sebabnya aku membutuhkanmu sebagai tunanganku."

Ivy merasa sesak. Dia bukan hanya dikhianati oleh Liam, tapi dia juga telah digunakan sebagai senjata tanpa sadar oleh Arthur. "Anda benar-benar iblis, ya. Anda menggunakan asisten Anda sendiri sebagai umpan?"

"Tapi sekarang aku membayar kompensasinya, bukan?" Arthur berdiri, berjalan mengitari meja hingga dia berdiri tepat di belakang kursi Ivy. Dia meletakkan tangannya di bahu Ivy, sentuhan yang terasa penuh klaim.

"Malam ini di Cotswolds, Elena Vance akan mencoba mempermalukanmu. Dia akan mencoba membuktikan bahwa kau hanyalah alat yang kubuang setelah misiku selesai."

Arthur menunduk, bibirnya berada tepat di samping telinga Ivy. "Kau akan memakai gaun yang sudah kupilihkan. Kau akan memakai kalung berlian seharga apartemenmu yang lama. Kau juga akan menatap Elena tepat di matanya, lalu memberitahunya betapa nikmatnya tidur di tempat tidurku setiap malam."

Ivy merinding, antara amarah dan sensasi aneh yang tak ia mengerti. "Anda ingin saya berbohong tentang kehidupan seks kita di depan mantan tunangan Anda?"

"Siapa bilang kau harus berbohong tentang keinginanmu, Collins?" Arthur berbisik lebih rendah.

Ivy menoleh, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Arthur. "Saya tidak menginginkan Anda, Sir. Saya membenci Anda."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Tunduk

    "Tembak dia, Arthur." Dua kata itu meluncur dari bibir Ivy tanpa keraguan. Nadanya dingin, sekeras baja seperti meluruhkan sisa air mata yang tadi sempat singgah di pipinya. Rasa sakit atas pengkhianatan Liam dan Chloe, dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya, telah menguap, berganti menjadi jelaga kehitaman yang membakar habis nuraninya. Arthur menatap Ivy selama beberapa detik. Seringai tipis dan kebanggaan langsung terbit di bibirnya. Tanpa membuang kata, pria itu mengarahkan moncong pistolnya tepat ke celah jendela. Dor! Satu dentuman keras menggelegar. Di luar sana, Liam tersungkur di tanah sambil mencengkeram lututnya yang tertembak. Jeritan histeris seorang wanita memecah udara, itu adalah Chloe. Perempuan yang Ivy anggap sahabat terdekatnya itu berlari keluar dari semak-semak, berlutut panik sambil memeluk tubuh Liam yang bersimbah darah. "Ivy! Tolong kami! Jangan bunuh dia!" teriak Chloe, matanya bergerak liar menyapu kegelapan gedung tempat Ivy bersembunyi. "Bi

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Gairah

    Arthur menangkap kedua pergelangan tangan Ivy dengan satu tangan, menguncinya di atas kepala Ivy. Napas mereka berdua memburu, bersahutan di ruangan yang sempit dan panas itu. Suhu udara seolah naik beberapa derajat. "Kau pikir aku tidak paham? Kau pikir aku menikmati melihat pria tua itu menatapmu seolah kau adalah miliknya? Kau pikir aku suka melihat tangan-tangan kotor itu menyentuh kulitmu?" "Lalu kenapa kau melakukannya?!" Ivy berteriak tertahan, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Arthur. "Karena aku harus mengakhiri ini, Ivy!" Arthur menggeram. Dia melepaskan tangan Ivy, tapi bukannya menjauh, dia justru mencengkeram rahang Ivy dengan kasar. "Aku melakukannya karena itu satu-satunya cara untuk menarik Julian keluar dari lubangnya. Sekarang, di tengah semua kekacauan ini, kau masih saja mencoba melawanku?" Mata mereka bertemu dalam kegelapan yang remang. Ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang benci, tapi sesuatu yang jauh lebih posesif. Rasa takut akan kemat

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Sandiwara

    Ivy merasa darahnya mendidih. Dia hendak membuka mulut untuk membela diri, tapi Arthur lebih cepat. "Hati-hati dengan ucapanmu, Elena." Suara Arthur sangat rendah yang membuat orang di sekitarnya berhenti bernapas. "Atau aku akan memastikan sisa aset keluarga Vance yang masih ada di bursa saham lenyap sebelum fajar. Lalu soal Liam, katakan padanya, jika dia berani mendekati Ivy lagi, aku tidak akan hanya mengirimnya ke jalanan. Aku akan mengirimnya ke liang lahat." Elena ternganga, wajahnya merah padam karena malu dan marah. Dia berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan mereka di tengah perhatian tamu lainnya. "Terima kasih," bisik Ivy, merasa sedikit lega. "Jangan berterima kasih. Aku melakukannya untuk reputasiku, bukan untukmu," sahut Arthur dingin, matanya terus menyapu ruangan seolah mencari mangsa. Tiba-tiba, kerumunan di ujung ruangan terbelah. Seorang pria tua dengan rambut perak dan jas hitam klasik berjalan perlahan menuju mereka. Dia tidak terlihat sepe

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Kalung

    Arthur menatap bibir Ivy, lalu kembali ke matanya. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajahnya yang dingin. Dia menegakkan tubuh, melepaskan bahu Ivy dan kembali ke sisi meja yang lain. "Kebencian dan gairah hanya dipisahkan oleh selembar kertas tipis, Ivy. Kita lihat berapa lama kau bisa mempertahankan dinding itu." Arthur mengambil ponselnya yang bergetar. "Satu hal lagi. Saat di Cotswolds nanti, jika kau melihat seorang pria bernama Julian Vane, jangan pernah lepaskan tanganku." Ivy mengerutkan kening, rasa penasarannya terusik di balik rasa sakitnya. "Siapa Julian Vane?" Arthur berhenti di pintu ruangan, membelakangi Ivy. Bahunya tampak kaku, dan Ivy melihat celah dalam topeng ketenangan pria itu. "Dia adalah pria yang membunuh ayahku," ucap Arthur dingin tanpa menoleh. "Alasan sebenarnya kenapa aku memilihmu dari sekian banyak wanita, adalah karena kau memiliki sesuatu yang sangat dia inginkan." Ivy terpaku di kursinya, kopi hitamnya kini sudah dingin.

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Iblis

    "Liam bukan pecandu judi! Dia hanya ...." Ivy terhenti. Dia sadar dia masih mencoba membela pria yang baru saja mengkhianatinya."Dia adalah sampah. Mulai sekarang, kau akan belajar untuk memiliki selera yang lebih baik." Arthur memerintahkan sopirnya untuk melaju ke kawasan elite Chelsea.Apartemen Arthur adalah sebuah penthouse dua lantai dengan pemandangan Sungai Thames yang menakjubkan. Minimalis, maskulin, dan sangat sepi."Kamar tidurmu ada di lantai atas, sebelah kanan. Kamarku ada di paling ujung. Jangan masuk ke sana kecuali aku memintamu." Arthur berjalan menuju bar pribadinya, menuangkan wiski tanpa menawarkan pada Ivy.Ivy berdiri di tengah ruang tamu yang luas, merasa sangat kecil. Kelelahan fisik dan mental akhirnya menghantamnya sekaligus."Kenapa Anda melakukan ini, Sir? Maksud saya, benar-benar melakukannya? Anda bisa mendapatkan siapa saja. Kenapa harus saya yang sedang berantakan?"Arthur menyesap wiskinya, menatap Ivy dari balik gelasnya. Matanya berkilat dengan se

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Tawaran

    "Ivy, maafkan aku, aku tidak bermaksud—" Chloe mencoba bicara, tapi Ivy mengangkat tangannya."Keluar sekarang juga. Sebelum aku menggunakan botol ini untuk melakukan sesuatu yang akan membuatmu kehilangan wajah cantikmu yang palsu itu," perintah Ivy tegas.Mereka tidak butuh waktu lama. Liam dan Chloe berebut memakai pakaian mereka yang berserakan di lantai, tampak seperti pengecut yang lari dari medan perang. Dalam tiga menit, apartemen itu kembali sunyi.Begitu pintu depan tertutup, Ivy menjatuhkan botol sampanye itu ke lantai. Botol itu pecah, cairannya membanjiri karpet. Ivy jatuh terduduk di tepi tempat tidur, air mata mulai mengalir deras tanpa suara. Dia merasa kotor. Dia merasa hancur.Tiba-tiba, ponsel di saku mantelnya bergetar. Sebuah nomor yang sangat ia kenal. Arthur Sterling.Ivy mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Halo?""Collins." Suara Arthur terdengar tajam di seberang sana. "Aku meninggalkan jam tanganku di mejamu. Bawakan ke hotelku sekarang. Aku punya rapat men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status