Home / Romansa / Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar / Bab 3. Mengakhiri Hubungan

Share

Bab 3. Mengakhiri Hubungan

Author: ZeeHyung
last update Last Updated: 2025-08-04 18:37:53

Rossa akhirnya menemui sang kekasih di tempat biasa. Mereka sudah janjian. Rossa membalas pesan kekasihnya dan meminta bertemu di tempat biasa dan sekarang Rossa duduk di taman kota. Hamparan danau menambah indahnya taman kota tersebut.

Beberapa orang sedang bercengkrama sambil tertawa riang. Rossa memandang kemesraan orang-orang yang ada di taman kota tersebut.

"Andai aku bisa seperti mereka tentu hidupku akan lebih baik dan bahagia. Tapi, kenapa Tuhan menakdirkanku dan memilih jalan seperti ini. Tidak bisakah sedikit saja aku menemukan sosok pria yang benar-benar menerimaku dan menempatiku di dalam hatinya sekali saja," gumam Rossa yang perlahan air matanya mengalir.

Rossa terkejut di saat dirinya menangis sebuah tangan mengusap air matanya yang mengalir di pipi. Rossa berbalik dan terlihatlah seseorang yang sudah tersenyum ke arahnya.

"Kenapa kamu menangis cantik. Apa kamu merindukanku ?" tanya sang kekasih yang bernama Arya Kusuma.

Rossa sedikit menepis tangan Arya dan itu dia lakukan reflek. Rossa harus menjaga marwah dari suaminya walaupun suaminya tidak seperti suami yang dia impikan tapi dia harus menjaga itu. Arya yang melihat Rossa menepis tangannya sedikit terkejut dan dia bertanda tanya kenapa Rossa seperti ini.

Namun balik lagi, Arya bersikap tenang dan berpikiran positif. Arya duduk di bangku batu dan memandang ke arah depan.

Rossa buru-buru menghapus air matanya, dia tidak ingin Arya bertanya yang aneh-aneh.

"Kenapa 2 minggu ini kamu tidak menjawab panggilanku dan baru hari ini kamu mengaktifkan ponselmu dan meminta bertemu. Apakah aku ada salah, Caca?" tanya Arya dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang.

Arya memanggil Rossa dengan nama Caca. Nama kesayangannya dan akan dia panggil terus sampai dirinya menikah dengan Caca.

"Maafkan aku Arya. Karena baru hari ini aku bisa mengabarimu. Dua minggu kemarin aku sibuk dan pertemuan kita hari ini karena aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Rossa menghentikan sejenak ucapannya.

Rossa menarik nafasnya perlahan dan membuangnya dengan perlahan juga.

Jantung Arya sudah mulai berdegup kencang dia mulai berpikiran negatif tapi Arya berusaha untuk tenang dan mengabaikan pikiran-pikiran negatif tersebut.

"Kamu kenapa, Ca. Apa kamu sakit ? Kalau iya, katakan kepadaku. Apa yang terjadi denganmu. Apa orang tuamu tidak merestui hubungan kita lagi? Apa karena aku dari orang miskin ? Mereka ungkit status sosialku lagi, Ca?" tanya Arya.

Rossa menggelengkan kepala, kedua orang tuanya tidak pernah melihat status tapi entah kenapa kali ini orang tuanya malah memilih dirinya untuk menikah dengan kakak iparnya sendiri.

"Kalau memang bukan, terus apa. Kenapa sikap kamu berbeda kepadaku. Katakan kemana kamu selama ini. Kenapa aku telepon kamu tidak menjawabnya dan di kampus juga kamu tidak masuk selama dua minggu. Aku mengkhawatirkan kamu. Ada apa, Ca. Apa ada masalah ?" tanya Arya dengan hati-hati.

Tarikkan napas dengan sangat dalam membuat Arya makin berpikir negatif. Rossa menatap Arya dia memberanikan diri untuk menatap wajah sang kekasih untuk terakhir kalinya.

"Sebelumnya, aku mau minta maaf kepadamu. Sepertinya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan. Aku tidak bisa menjadi kekasihmu dan juga menjadi istrimu," ucap Rossa dengan suara yang bergetar.

Air mata Rossa mulai mengalir, dirinya mulai merasakan sakit yang teramat dalam saat dirinya harus memutuskan hubungannya dengan Arya pria yang dia cintai sepenuh hati dan mereka sudah pacaran cukup lama dari sekolah dasar sampai kuliah.

Tentu bukan waktu yang lama untuk mendalami karakter masing-masing dan kali ini mereka harus memutuskan hubungan karena dia sudah menikah.

Mendengar perkataan Rossa Arya tertawa. "kamu bercandakan? Pasti bercanda. Jangan gitu, ih. Aku yakin kamu pasti katakan itu kepadaku karena kamu sedang ngeprank aku 'kan, Sayang. Basi kita bukan anak SMA lagi. Nggak suka aku kamu seperti itu. Nggak lucu," jawab Arya lagi yang merasa hatinya sangat sakit.

Arya tiba-tiba menangis melihat wanita yang dia cintai dulu sampai saat ini dan mungkin sampai dia mati mengatakan itu kepadanya. Dirinya tidak sanggup jika berpisah dan dia belum bisa melepaskan Rossa.

"Arya, aku serius. Kita tidak bisa bersama karena aku sudah dijodohkan," jawab Rossa.

Mendengar alasan perpisahan mereka karena perjodohan, Arya tidak terima. Arya berdiri dan menarik tangan Rossa untuk berhadapan langsung dengannya.

"Katakan kepadaku, Ca. Kalau semua itu bohong. Kamu pasti bohong mengatakan kalau kamu itu dijodohkan. Kamu hanya bermain-main saja 'kan. Ayo katakan. Katakan Rossa Bayuni! Katakan kalau itu bohong. Itu bohong," teriak Arya dengan cukup kencang hingga membuat semua orang yang berada di taman melihat mereka.

Rossa menangis melihat Arya yang biasanya ceria kini terlihat rapuh, dia tidak tega menyakiti pria di depannya ini. Tapi, dia bisa apa. Dia sudah menikah bukan dijodohkan lag dan dia juga tidak bisa menolak perjodohan ini.

"Maafkan aku. Maafkan aku. Semuanya sudah terjadi, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita perjodohan ini membuat aku hampir gila dan aku sekarang bukan Rossa yang dulu lagi. Aku sudah milik orang. Aku sudah milik orang, Arya," teriak Rossa yang menunjukkan cincin pernikahan dari kakak iparnya tepat di depan Arya.

Sontak saja Arya mundur ke belakang, dia melepaskan tangan Rossa, dia tidak menyangka kalau Rossa sudah menjadi istri orang. Itu artinya, 2 minggu tidak bertemu dirinya harus menerima kenyataan kalau Rossa sudah menikahi pria lain.

Pantas saja saat dia datang ke rumah satpa. mengatakan kalau Rossa pergi apakah kepergian Rossa ini karena pernikahannya.

"Ayo kita pergi. Kita pergi dari sini tinggalkan kota ini. Aku ingin kita berdua menikah, aku akan mengurus surat perceraianmu. Ayo ikut aku," ajak Arya yang menarik tangan Rossa untuk pergi.

Rossa yang tangannya ditarik hanya mengikuti Arya. Keduanya pergi bersama. Tidak ada penolakan sama sekali dari Rossa dia sudah pasrah demi kebahagiaan dia akan dia jalani walaupun harus melukai kedua orang tuanya.

Namun saat hendak naik motor, tiba-tiba seorang pria menatap tajam ke arah keduanya. Dia menghalangi Rossa dan Arya. Arya terkejut melihat orang yang di depannya ini muncul dengan tatapan yang sangat tajam.

Rossa yang melihat kemunculan pria yang dia kenal dan tidak lain adalah Darren gemetar dan dia tidak tahu harus berkata apa. Tangannya yang tadinya memegang tangan Arya dengan erat langsung terlepas.

Rossa mundur ke belakang, ia sangat takut melihat wajah dingin dari Darren. Arya yang melihat dosennya tersebut memandang ke arah Rossa dan memandang Rossa yang sudah sedikit menjauh darinya dan melepaskan tangannya semakin penasaran dengan sikap Rossa.

"Kenapa kamu menjauh Caca? Kita harus pergi abaikan dia. Dia hanya dosen yang tidak berhak untuk melarang kita. Dan dia bukan siapa-siapa kita. Ayo ikut aku Caca," ucap Arya yang mengulurkan tangannya berharap agar Rossa menyambut uluran tangannya dan ikut dengannya.

Namun sayangnya, uluran tangan Arya tidak disambut baik oleh Rossa. Tentu saja apa yang Rossa lakukan saat ini membuat Arya semakin curiga ada apa dengan dosennya dan Rossa.

"Ikut aku pulang sekarang," titah Darren dengan cukup tegas kepada Rossa untuk ikut dengannya.

Mendengar perintah dari Darren yang meminta Rossa ikut dengannya tentu saja membuat Arya semakin terkejut. Terlebih lagi melihat Rossa melangkahkan kaki mendekati Darren dosennya.

Arya mencoba untuk menahan tangan Rossa, dia menggelengkan kepala sambil menangis. Masa bodoh semua orang menatap aneh ke dirinya. Dan tanpa diduga satu kalimat keluar dari mulut Arya.

"Apakah dia suamimu?" tanya Arya yang dijawab Rossa dengan menganggukkan kepala pelan.

Rossa mengakuinya siapa Darren sebenarnya tidak mau tapi demi janjinya kepada kedua orang tua dia pun akui siapa Darren sebenarnya. Air mata Rossa mengalir dengan cukup deras, tidak bisa lagi dia tahan di pelupuk matanya.

Rossa mengiyakan semua pertanyaan di hati dari Arya dan menegaskan Darren yang merupakan dosen mereka adalah suaminya. Rossa kembali melepaskan tangan Arya dan meninggalkan kekasih hatinya itu untuk selamanya.

Langkah kakinya yang sangat berat harus dia lewati walaupun dia tidak sanggup menyakiti Arya tapi dia lebih tidak sanggup untuk menyakiti orang tuanya lebih baik hatinya yang sakit daripada orang tuanya. Rossa tidak biasa menyakiti siapapun tapi kali ini dia menyakiti Arya.

Arya hanya terpaku melihat Rossa pergi dengan dosennya. Tubuh Arya lunglai, dia jatuh ke bawah. Arya tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata melepaskan orang yang dia cintai cukup berat dan dia tidak bisa terima akan hal itu. Kurang apa dia di mata mereka. Hingga dia tidak mendapatkan kebahagiaan yang sempurna.

"Kenapa ! Kenapa semua ini terjadi padaku. Apa karena aku miskin ? Aku tidak memiliki apa-apa sekarang. Semua orang tidak merestui setiap langkahku. Kini cintaku juga pergi. Kenapa Tuhan? Kenapa engkau memberikan aku kemiskinan hingga aku kehilangan wanitaku, kenapa," teriak Arya dengan cukup kencang menyesali takdirnya yang penuh dengan kekurangan. Semua orang yang berada di taman tersebut melihat Arya ikut sedih.

Rossa mendengar perkataan Arya hanya bisa terus berjalan sambil menangis. Air mata yang terus mengalir tidak dia pedulikan. Rasa sakit mendengar isi hati kekasih hatinya membuat rasa bersalah dihatinya.

Rossa segera masuk ke dalam mobil, dia duduk di belakang dan memandang ke arah jendela, tidak sedikitpun ke arah Darren.

"Ayo kita kembali pulang," ucap Darren kepada asistennya.

"Baik, Tuan," jawab sang asisten yang bernama Malik.

Mobil meninggalkan taman kota menuju rumah. Suasana di mobil hening tidak ada satupun yang berbicara hanya isak tangis yang keluar bibir Rossa. Rossa ingin menyalahkan Darren yang terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya, tapi Rossa tidak bisa memberontak dia sudah berjanji kepada orang tuanya harus menjadi istri yang baik menurut kepada suaminya dan dia akan melakukan itu demi mereka berdua.

Sesampainya di rumah, Rossa segera turun. Dia berlari ke dalam rumah namun saat masuk rumah Rossa terkejut bertemu dengan kedua mertuanya.

"Rossa, kamu menangis. Kamu kenapa, Sayang. Kenapa kamu menangis? Apa Darren sudah memberitahukan kepadamu?" tanya Nyonya Pingkan kepada Rossa.

Rossa yang tadinya hendak naik ke lantai atas menghentikan langkah kakinya. Setelah mendengar perkataan dari ibu mertuanya, Rossa segera berbalik dan memandang ke arah ibu mertuanya yang saat ini menatapnya dengan sendu.

"Ap-apa maksud Mama? Beritahu apa?" tanya Rossa dengan raut wajah penasaran dan suara yang berat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 123. Ledakan

    "Tutup mulutmu, Bunga," pekik Tantri yang kesal dengan Bunga. "Jawabannya sudah bisa ditebak Bunga. Cinta sepihak. Menyakitkan sekali kenapa harus cinta sepihak. Yang ada rugi, merendahkan harga diri wanita, bodoh," ejek Cintya membuat Tantri makin murka. Tantri memukul Cintya dengan kencang. Dia melampiaskan amarahnya atas ejekan dari Tantri. Bunga melihat Cintya dipukul tentu saja tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Tantri. Bunga memberontak dia ingin membalas apa yang Tantri lakukan kepada Cintya. Begitu juga dengan Cintya dia ikut memberontak tapi tenaganya kalah dengan dua pria yang bertubuh tegap. "Itu untukmu, wanita sialan!" pekik Tantri dengan napas memburu. "Kamu yang sialan! Wanita tidak punya harga dirinya. Asal kamu tahu si tua bangka itu tidak menyukaimu. Apa kamu pikir dengan menyerahkan tubuhmu itu dia menyukaimu? Tidak, Sayang. Kamu tidak akan mendapatkan cinta dari dia. Sampai mati pun kamu tidak akan bisa, stupid!" Cintya mengeluarkan amarahnya kepada T

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 122. Bawa Keranjang

    Bunga dibawa pergi oleh Tantri begitu saja. Tantri tidak peduli dengan serangan dari Verrel. Karena saat ini anak buah dari Oliver Junior atau tepatnya rekannya sangat banyak hingga membuat Verrel sedikit kesulitan untuk menyelamatkan istrinya itu. Dan situasi di tempat tersebut benar-benar kacau semua pengunjung berhamburan pergi menyelamatkan diri mereka. Karena mereka takut jika mereka menjadi sasaran tembak antara dua kubu. Verrel yang melihat istrinya di bawa pergi hanya berteriak kencang dia tidak bisa berkata-kata dan hanya mengejar tanpa peduli tembakan yang terus terdengar. "Bunga. Bunga! Jangan bawa dia. Jangan bawa dia," teriak Verrel dengan kencang. Akan tetapi teriakan dari Verrel tidak terdengar sedikitpun mobil terus melaju bawa Bunga pergi ke markas milik Oliver Junior. Verrel sudah kehilangan akal dia menembak semua anak buah dari Oliver Junior dengan penuh emosi. "Kakak sudah cukup. Sudah, ayo kita kejar kalau Kakak di sini kita tidak bisa mengejar mereka. Ayo c

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 121. Menculik Bunga

    "Selama dia belum bereaksi kita tenang saja dulu, Pa. Jangan gegabah kita lihat saja perkembangannya dan kita ikuti dia. Jika dia sampai berbuat sesuatu maka kita akan selesaikan dia," jawab Verrel yang dianggukan oleh Darren. "Sayang, aku ingin ke kamar mandi sebentar saja nanti aku kembali lagi." Bunga meminta izin kepada Verrel untuk ke kamar mandi. "Aku temani ya. Aku tidak ingin kamu sendiri," ucap Verrel khawatir dengan Bunga. "Tenanh aja, tidak apa-apa. Aku dengan Cintya berdua. Dan kalau perlu yang lainnya juga ikut denganku. Kamu tenang saja tidak lama sebentar aja kok," jawab Bunga yang dianggukan oleh Verrel. Sebenarnya dia takut tapi entah kenapa dirinya mengiyakan dan beberapa pengawalnya ikut bersama dengan Bunga. Walaupun Bunga tidak ingin tapi melihat sorot mata Verrel yang tajam akhirnya Bunga setuju dia pun tidak mempermasalahkan pengawal Verrel ikut dengan dirinya. Mereka pun segera pergi ke kamar mandi bersama dengan Cintya, Lala, Lola dan Bella. Bunga bersam

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 120. Bunga Jangan Nakal

    Selesai bermain panas Verrel dan Bunga mandi keduanya tertawa dan bersenda gurau. Bunga yang memang memiliki kejahilan kembali menjahili Verrel. "Bunga, kamu nakal sekali. Kenapa kamu masih jahil hmm?" tanya Verrel. Bunga tertawa melihat Verrel kesal dengan dirinya yang terus mengganggu Verrel. "Aku tidak menjahulimu, Sayang. Sejak kapan aku menjahilihimu. Aku tidak seperti itu. Lagi pula aku ini baik," jawab bunga yang lagi-lagi mencolek perut Verrel. Keduanya memutuskan mandi bersama karena itu keinginan dari Verrel dan Bunga tidak membantahnya. Dia mengikuti apa yang Verrel inginkan. Akan tetapi sampai di kamar mandi bukannya mandi, keduanya lagi-lagi berbagi keringat karena kejahilan dari Bunga. Puas bermain keduanya pun segera menyelesaikan mandi dan berpakaian. "Apa aku bisa bekerja kembali menjadi sekretarismu, Sayang ?" tanya Bunga yang menatap ke arah Verrel meminta persetujuan dari Verrel apakah dirinya masih boleh bekerja di perusahaan milik Verrel atau tidak. "Tentu

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 119. Aku Mencintaimu (21+)

    Verrel menganggukkan kepala dan dia tersenyum mendengar jawaban dari Bunga. Melihat anggukan dan senyuman dari Verrel tentu saja membuat Bunga ikut tersenyum. "Aku benar-benar sudah jatuh cinta denganmu. Sudah berkali-kali aku katakan kepadamu kalau aku mencintaimu. Dan jangan lagi meragukan cintaku, ya," jawab Verrel menarik tangan istrinya dan menggenggam erat kedua tangan istrinya. Bunga yang diperlakukan sangat manis oleh Verrel merasakan ledakan kupu-kupu yang sangat besar di dalam dirinya. Bunga terharu mendengar apa yang Verrel ucapkan."Aku percaya kepadamu. Maaf kalau aku bertanya seperti itu. Bukannya aku meragukanmu aku ingin memastikan kebenarannya. Apaakah kamu marah ?" tanya Bunga kepada Verrel yang masih mencium tangannya Bunga. Verrel yang mendengar Bunga berkata seperti itu tentu saja ditanggapi oleh Verrel dengan gelenga kepala. Dia tidak marah dengan apa yang Bunga katakan karena wajar jika Bunga bertanya seperti itu."Aku tidak marah sama sekali, wajar kalau ka

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 118. Kamu Mencintaiku Juga

    "Ya kita tangkap lah. Masa kita lihatin dia saja. Itu tidak baik namanya. Hah! Kenapa kita jadi incaran dia padahal yang salah itu mereka bukan kita kenapa kita yang salah. Bukankah itu aneh namanya." Chiko tidak menyangka kalau Oliver malah mengejar mereka padahal mereka tidak salah sama sekali tapi kenapa mereka yang kena imbasnya dan itu sangat keterlaluan sekali. "Aku rasa kita biarkan saja dia dulu. Kita harus buat dia kesal karena tidak bisa membunuh kita. Setelah itu kita temui dia. Kita katakan kalau dia sudah tidak bisa lari lagi, itu ide yang luar biasa," jawab Miko membuat Chiko dan lainnya menaikkan alisnya. "Anakku, kamu kenapa kasih ide seperti itu, hmm?" tanya Chiko ke anaknya. "Kok kenapa? Itu ide terbaik, Papa. Apa papa nggak suka?" tanya Miko ke Chiko. Chiko geleng kepala dia tidak suka dengan ide anaknya. Terlalu cepat dan tidak mungkin bisa mereka menangkap Oliver Junior yang licik itu. "Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran anakku. Darren ayo kita ke sana kit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status