LOGIN“Ehmmm....pernah punya bu di kampung tapi gak lanjut!” ucap Arya sambil malu-malu dengan wajahnya setengah menunduk tak berani menatap wajah cantik tapi dingin itu di hadapannya.
“Emang kampung kamu dimana?” tanya ibu Sonya lagi.
“Jogja bu!”
“Sebelum ini kamu kerjaannya apa?” tanya Ibu Sonya lagi
“Saya bantu-bantu ibu dan bapak saya jualan sayur di rumah bu!”
“Lalu darimana kamu bisa belajar bawa mobil?”
Tiap pagi saya bawa mobil bak terbuka sewaan dengan tetangga untuk ke pasar besar di jogja bu untuk membeli banyak sayuran untuk kami bawa ke desa kami bu!” ucap Arya memberikan penjelasan.
“Lalu, apa harapan kamu kalo beneran keterima kerja dengan saya sebagai sopir?” tanya Ibu Sonya lagi
“Saya pengen banget kirim uang ke ortu saya bu dan pengen banget nabung untuk kuliah!” ujar Arya memberikan penjelasan. Ibu Sonya pun sedikit mengangguk-angguk mencoba memahami keinginan baik Arya itu.
“Ok, kalo kamu memang serius pengen kerja dengan saya, kamu harus ikuti semua perintah saya yah!’ ucap ibu Sonya dengan wajah serius.
“Baik bu, saya akan berusaha memenuhi harapan ibu selama saya kerja dengan ibu!”
“Nah, jadwal kamu untuk jadi sopir pribadi saya adalah mengantar ke kantor dan kembali ke rumah selama 5 hari kerja yaitu Senin hingga Jumat!” Ucap ibu Sonya memberikan penjelasan detil tentang tugas Arya tiap pekannya.
“Baiklah kalo begitu sekarang kamu akan diantar mbak Tini ke kamarmu!” Ibu Sonya pun berjalan ke arah belakang untuk memanggil mbak Tini. Tak lama kemudian mbak Tini datang dengan tergopoh-gopoh.
“Iya bu, ada apa bu?” tanya mbak Tini sambil setengah menunduk ke arah ibu Sonya.
“Antarkan mas Arya ini ke kamarnya ya!”
“Owh, baik bu!” ucap mbak Tini sambil langsung mengajak Arya mengikuti arah jalannya.
Ibu Sonya pun kembali menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas untuk beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul 19 malam.
“Ayo mas Arya, aku tunjukin kamarmu yo mas!” ajak mbak Tini
Sambil berjalan di lorong rumah besar dan mewah itu Arya kembali terbengong-bengong melihat seisi rumah itu. Tak berapa lama ia telah sampe diantar oleh mbak Tini ke depan pintu kamar untuk Arya.
“Nah, ini mas Arya kamar kamu!” sambil ia membukakan pintu kamarnya. Saat terbuka Arya kembali terpana karena kamarnya itu menurutnya cukup besar dan cukup mewah baginya dengan cuma sebagai sopir di rumah itu.
“Kalo sebelah itu kamar siapakah?” tanya Arya karena di sebelah kamarnya ada pintu kamar lainnya.
“Kalo itu kamar pak Dirman ,mas!’ ucap mbak Tini sambil tersenyum simpul. Arya agak aneh melihat wajah dan gelagat mbak Tini ketika menyebut nama pak Dirman tadi.
“Monggo mas Arya, silakan beristirahat saja dulu di kamarnya mas ini!” pinta mbak Tini sambil ijin kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya disana.
“Terima kasih mbak Tini!” ucap Arya dan ia langsung memberesi tas besar berisi beberapa pakaian yang ia bawa dari kampungnya di Jogja sana. Arya pun merebahkan tubuhnya di kasur yang lumayan besar untuk dirinya yang cuma seorang diri di kamar itu. Karena mungkin kelelahan setelah habis menjalani perjalanan cukup jauh dari Jogja ke Jakarta ini membuat Arya pun akhirnya tertidur di kasur itu.
Sekitar pukul 21 malam ada suara ketokan pintu dari luar kamar Arya.
“Tok...tok...tok..mas Arya!” Arya pun terbangun dari tidurnya karena bunyi ketokan cukup keras dan berulang kali sehingga cukup bisa membangunkan Arya yang terlelap tidurnya tadi.
Arya terbangun dalm kondisi agak gelagapan karena ia belum sadar sepenuhnya dan sesaat cukup bingung kala membuka matanya ia merasa ada di kamar yang cukup asing baginya.
“Aku mimpi atau apa ini ya? Koq kamarku bagus dan besar begini?” ucap Arya dalam hati sambil menatap sekeliling kamar itu dan ia pun masih bingung sedang berada dimana.
“Mas Arya, makan dulu mas. Ini aku mbak Tini!” ucap suara di balik pintu kamar Arya.
Arya pun baru tersadar kalo ia sekarang sudah tinggal di rumah sang majikan barunya yaitu rumah ibu Sonya.
“Owh, yayaya...sebentar mbak Tini! Aku bukakan dulu pintunya!” seketika Arya bangun dari rebahannya dan meloncat dar kasur lalu menuju daun pintu membukakan pitu untuk mbak Tini yang ternyata sudah membawa baki berisi air minum segelas dan sepiring makanan.
“Wahhh...mas Arya kayaknya tidurnya lelap banget toh yo? Hehehe!” ucap mbak Tini melihat wajah Arya yang masih agak berantakan rambutnya setelah bangun tidur tadi.
“Ehhh...iyy...iyya mbak Tini, kayaknya aku benar-bentar kecapean setelah perjalanan jauh dari kampung menuju kesini. Jadinya tadi gak sadar kalo aku benar-benar terlelap di kamar,” balas Arya sambil mengucek-ucek matanya.
“Ya sudah, ini mas Arya monggo makan dulu sana!” ucap mbak Tini sambil menyerahkan baki tersebut. Arya menerima baki itu sambil kembali tak sengaja menatap belahan dada montok yang menyembul dari sela-sela baju kebaya belahan dada rendah yang dipake mbak Tini itu. Itu terjadi karena posisi mbak Tini saat memberikan bakinya ia agak merunduk sehingga makin terlihat menantang belahan dua bukit kembar besar miliknya. Jakun Arya seketika turun naek melihat pemandangan gratis itu di depan matanya. Mbak Tini nampaknya mengetahui kemana pandangan mata Arya dan kegugupan Arya tersebut, namun ia hanya tersenyum saja dalam hati.
“Hemm....memang ya semua mata lelaki selalu sama, tak bisa melihat yang montok dikit langsung deh melotot,hehehe!” ucap mbak Tini dalam hati.
Sementara Arya berkata dalam hatinya juga,”Aduh, kenapa aku jadi memandangi dadanya mbak Tini itu terus yah? Kalo ketahuan mbak Tini bisa malu banget aku!”
“Ganteng banget ini sopir baru ibu Sonya...ahhh...andai...!” gumam mbak Tini dalam hatinya yang terpesona melihat kegantengan sang sopir baru di rumah mewah itu.
Pulang dari kantor dengan perasaan yang masih terasa tegang setelah rapat evaluasi, Bu Sonya merasa bahwa dirinya dan timnya membutuhkan waktu untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas kerja yang menguras energi. Dia punya ide untuk menginap semalam di Putri Duyung Resort di Ancol, tempat yang menawarkan suasana pantai yang indah dan sejuk.Akhirnya sesuai janjian sebelumnya malam itu Arya membawa laju mobil sang majikan menuju arah utara Jakarta yaitu kawasan Ancol. Tiba di resort, mereka berdua, Bu Sonya dan Cindy, merasakan hembusan angin laut yang menyegarkan saat mereka memasuki lobby. Mereka memesan tiga kamar, satu untuk Bu Sonya dan Cindy, satu lagi untuk Jodi, pacar Cindy yang juga bekerja di kantor Bu Sonya, dan yang terakhir untuk Arya.Setelah mengambil kunci kamar mereka, mereka berpisah untuk menuju ke kamar masing-masing dan bersiap untuk refreshing. Bu Sonya membuka pintu kamar dengan perasaan harap-harap cemas tentang apa yang menantinya. Namun, ket
Hari itu, suasana di kantor Sonya Fast terasa berbeda. Para kepala unit cabang dan manajer berkumpul di ruang rapat yang besar, menunggu kehadiran Bu Sonya. Arya berada di luar ruang rapat, tetapi ia bisa merasakan ketegangan di udara. Ia tahu bahwa rapat kali ini adalah rapat evaluasi yang penting.Setelah beberapa saat, pintu ruang rapat terbuka, dan Bu Sonya masuk dengan langkah mantap yang didampingi oleh sang sekretaris canntiknya yang keturuna Belanda yaitu Cindy dengan tampilan menawan serta sekisnya. Pada saat itu, semua mata tertuju pada kedua wanita tersebut. Lalu, dalam balutan pakaian bisnis yang elegan, Bu Sonya tampak sebagai sosok yang penuh wibawa."Apa kabar, semua?" sapa Bu Sonya dengan suara yang tenang namun tegas."Baik, Bu Sonya," jawab para peserta rapat dengan serempak.Bu Sonya duduk di ujung meja, mengambil posisi sebagai pemimpin rapat. Sementara, di sebelahnya sang sekretaris sibuk mencatat semua hal yang perlu ia catat sebagai
Bu Sonya melangkah kembali ke dalam kamarnya namun ia sepertinya ia sengaja tidak menutup pintu kamarnya itu agar Arya sang sopir pribadinya itu bisa melihat aktivitasnya. Dalam hatinya Bu Sonya memang ingin menguji sejauh mana kekuatan hati Arya kala ia melihat bagaimana Sonya mencobai baju daleman yang baru saja ia beli di mal mewah tadi.Sementara disisi lain Arya masih berdegup-degup jantungnya menunggu apa yang akan dilakukan sang majikan di kamarnya itu. Jantung Arya makin berdegup kencang dan jakunnya turun naek karena kini ia mellihat dengan sangat jelas bagaimana bu Sonya membuka baju daleman yang disebut lingerie itu di hadapannya. Mata Arya kali ini benar-benar terbelalak karena baru sekali ini ia melihat langsung bagaimana bu Sonya berganti baju daleman di hadapannya. Posisi bu Sonya saat itu sedang menghadap ke arah kaca lemarinya yang berukuran besar di dalam kamarnya yang mewah itu. Sehingga Arya menatap tubuh indah sang majikan dari arah belakang
Setelah menunggu cukup lama, Sore itu, sekitar pukul 16, setelah Arya mengantar pulang Bu Sonya dari kantornya, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Arya. Ia membaca pesan tersebut dengan seksama. Ternyata, pesan itu berasal dari Bu Sonya. Dalam pesan tersebut, Bu Sonya memintanya untuk bersiap-siap karena mereka akan pergi ke sebuah mal mewah di Jakarta untuk membeli beberapa pakaian dalam buat bu Sonya sendiri.Dengan cepat, Arya menyiapkan mobilnya dan menjemput Bu Sonya di depan rumahnya. Bu Sonya keluar dengan pakaian yang kembali begitu rapi dan anggun serta cukup memperlihatkan lekuk tubuh indahnya itu yang tinggi semampai. Agak berbeda dengan sang adik, Jesy yang lebih pendek dibanding bu Sonya meski Jesy pun juga berwajah cantik dan mulus kulitnya.Perjalanan menuju mal mewah itu berlangsung dalam suasana yang nyaman. Kali ini, mereka tidak terlibat dalam percakapan panjang, karena Bu Sonya tampaknya sedang sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri. Arya fokus
Arya pun menunggu di depan pintu rumah mewah milik Jessy. Ia merasa agak canggung dan tegang karena tadi ia sempat cukup lama mengintip aktivitas hot sang tuan rumah dengan tunangannya itu baik di kolam renang maupun di dalam rumah Jessy. Namun Arya juga sekaligus lega karena akhirnya bisa juga menjalankan tugas yang diberikan oleh bosnya yang terkenal galak, Bu Sonya. Tugas itu adalah mengantarkan kue istimewa untuk Jessy, adik Bu Sonya, yang pesanannya diberikan saat tadi pagi sedang mengantar bu Sonya menuju kantornya.Arya mencoba menjaga ketenangan dan profesionalismenya. Ia tahu bahwa tugas ini adalah tanggung jawabnya sebagai sopir pribadi Bu Sonya, dan ia harus melakukannya dengan baik. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa cemas mulai mengganggu pikirannya. Ia bertanya-tanya apakah pesanan ini akan benar-benar disambut dengan baik oleh Jessy dan apakah semuanya akan berjalan lancar.Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pintu rumah itu terbuka perlahan, da
Jessy kini dalam posisi agak terombang-ambing antara siap dan tidak siap menerima ‘terjangan’ yang sesaat lagi akan ia terima dari sang tunangan. Namun, deru nafsu terlalu besar membakar seluruh tubuh bugilnya saat ini dan itu dikarenakan dengan dahsyatnya rangsangan Dave kepada dirinya. Lagipula Jessy merasa yakin bahwa Dave akan bertanggung jawab dengan tetap menikahinya segara sesuai jadwal yang sudah mereka tetapkan sebelumnya.Dave yang kini sudah ikut bugil pun seketika sudah menindih tubuh Jessy dan mengajak untuk berciuman lagi. Setelah berciuman saat yang mendebarkan bagi Jessy pun akhirnya datang. Dilihatnya Dave sedang mecoba mengarahkan kepala timunnya ke pintu lubang Jessy. Dan saking takutnya, Jessy pun masih mencoba untuk mengingatkan sang kekasih untuk tidak terlalu buru-buru.“Dave....pelan-pelan yahhhh!” Ucap Jessy sambil menatap lelaki pujaannya itu.“Iya sayang, mungkin awalnya agak sakit, tapi selanjutnya kamu a







