LOGINArya pun segera membawa baki dari mbak Tini tersebut ke dalam kamarnya untuk segera menyantap makanan yang telah disajikan untuknya. Sementara mbak Tini telah beranjak dari depan kamar Arya tersebut.
Rasa lapar memang ternyata telah menyerang perut Arya yang sejak perjalanan dari Jogja hingga ke rumah ibu Sonya ini ia belum sempat makan besar lagi. Cuma sempat sarapan pagi di perjalanan dengan nasi uduk dengan lauk seadanya serta air teh hangat yang ia beli di stasiun sebelum tiba di rumah besar ini.
Setelah sekitar dua puluh menit ia menghabiskan makanannya dan baru saja usai minum untuk melepas dahaganya, pintu kamarnya ada yang mengetuk lagi.
“Tok..tok...tokkk...mas Arya, sudah selesai toh makannya?” terdengar kembali suara mbak Tini di balik pintu kamar itu.
“Owh, iya mbak! Ini baru saja selesai beres makannya mbak!” ujar Tomi sambil membuka pintu Kamarnya. Sejenak Arya tertegun karena kali ini mbak Tini sudah tidak memakai kebaya lagi melainkan kaos lengan pendek ketat yang membungkus tubuh montok berkulit sawo matang itu. Hanya saja tetap saja mbak Tini itu selalu memakai pakaian yang posisi dadanya terbuka agak lebar sehingga lagi-lagi Arya menelan salivanya melihat dua belahan gunung susu milik mbak Tini itu menggantung indah.
“Mas Arya koq malah bengong sih? Sinikan bakinya mo aku bawa kembali ke dapur!” ucapan mbak Tini itu menyentak sekejap lamunan Arya yang masih terkesiap melihat pemandangan indah di depannya itu.
“Owh yayaya...maaf mbak. Ini bakinya!” ujar Arya sambil menyerahkan baki itu ke tangan mbak Tini.
“Mas Arya sekarang ditunggu bu Sonya di lantai atas!” ucap mbak Tini sambil mengambil baki dari tangan Arya.
“Sekarang mbak? Kan ini sudah malam!” tanya Arya yang masih ragu karena ini sudah cukup malam saat itu.
“Kalo bu Sonya sudah panggil jangan mikir kelamaan loh! Soale beliau terkenal galak banget mas!” jelas mbak Tini yang kali ini memasang wajah yang agak serius.
“Owh gitu yo mbak? Yo wis aku segera ke latai atas deh ya!” balas Arya sambil bersiap mengganti bajunya dahulu untuk ia pake kaos. Mbak Tini pun berbalik badan untuk menuju kembali ke dapur. Saat berbalik badan Arya masih sempat melihat betapa bokong besar nan montok milik mbak Tini itu menari-nari di depan matanya dan menghilang di balik tembok menuju dapur di rumah mewah itu.
Setelah dirasa pas memaaki kaos dan celana panjangnya Arya pun bergegas menuju ke tangga besar di ruang tengah untuk menuju lantai atas.
Sesampainya disana ada semacam ruangan yang terdiri dari beberapa ofa besar dan mewah lagi seperti di lantai bawah dan ada pintu puith berukiran yang mungkin itu pintu kamar ibu Sonya. Dilihatnya bu Sonya sudah duduk di salah satu sofa sambil memangku laptop kecil di pahanya. Bu Sonya terlihat sangat cantik memakai baju tidurnya malam itu. Meski sudah mulai larut malam nampak sekali perempuan kaya itu sangat menjaga penampilannya yang menawan hati selayaknya mirip artis india Kareena Kapoor.
“Kemana saja sih kamu Arya?” bentak bu Sonya denagn suara cukup keras memandang melotot bakal sopir barunya itu namun tetap saja terlihat sangat cantik meski kali ini terlihat wajahnya cukup marah dengan kedatangan Arya di ruangan yang terletak depan kamarnya itu.
Anehnya mendengar dan melihat bagaimana bu Sonya membentak dirinya Arya malah tertegun sejenak melihat sang bos itu malah terlihat sangat menawan di matanya.
“Ya ampunnn...kenapa di rumah ini aku jadi terpesona mulu ini melihat dua pemandangan yang indah bergantian di depan mataku?” ucap Arya dalam hati. Ia membandingkan dengan manisnya wajah mantan pacarnya di kampus sana yang ternyata belum ada apa-apanya dengan wajah-wajh yang ia liat di rumah majikan barunya ini. Di desanya Sita adalah pacar pertama Arya tapi sayangnya karena ortu Sita minta Arya cepat-cepat untuk segera melamarnya Arya pun bingung karena ia merasa belumlah mapan. Sayangnya, ortu Sita gak mau menunggu lama sehingga akhirnya Sita dijodohkan dengan pemuda desa sebelah. Dengan kejadian itu membuat Arya cukup sakit hati sehingga memperkuat tekadnya untuk pergi merantau ke Jakarta ini mencari pekerjaan sekaligus melupakan kenangan pahitnya bersama Sita. Sita pun sebenarnya sangat mengharapkan Arya bisa jadi suaminya namun Sita tak bisa melawan kehendak kedua ortunya yang keburu menerima lamaran Dedi sang pemuda desa sebelah yang menurut kedua ortu Sita jauh lebih mapan dibanding Arya yang cuma seorang penjual sayuran di desanya. Dedi memiliki sejumlah toko kelontong di desa itu sehingga nampak lebih mapan daripada Arya dan dedi pun juga sudah memiliki rumah serta mobil. Hal itulah yang membuat kedua ortu Sita merasa lebih cocok ke Dedi dibanding Arya.
‘Heiii....aku kan sedang bicara denganmu Arya! Koq malah bengong?” kembali suara bentakan dan mata melotot si cantik bu Sonya.
“Owh yayaya maaf bu...maaf bu! Ada apakah ibu memanggil saya?” ucap Arya yang kini mulai berani menatap sang majikan karena lagi-lagi Arya justru tidak ada rasa takut melihat kegalakan bos cantiknya itu. Karena menurutnya makin galak malah terlihat makin cantik di mata Arya.
“Saya ini mo jelaskan detil tugas-tugasmu sebagai sopir pribadi saya! Jadi cankan baik-baik!”
“Baik bu, saya siap mendengarkan koq!” ucap Arya sambil menatap kagum wajah cantik sang majikan.
Heiii...kamu meledek saya ya? Koq mata kamu melotot seperti itu?”
“Owh gak bu, kan saya bermaksud menuruti perintah ibu untuk mendengarkan baik-baik ucapan ibu!” balas Arya dengan wajah tenang meski sang majikan sudah terlihat galak di depannya.
Keesokan harinya, saat istirahat siang di ruang kerjanya, Bu Sonya sedang menikmati makan siangnya ketika ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Jessy ia pun menjawab panggilan tersebut."Halo, Jessy. Ada kabar apa?" tanyanya penuh antusias."Halo, Sonya. Aku tadi ngobrol dengan Dave, tunanganku. Dia mendengar cerita darimu tentang kemampuan memijat Arya, dan sepertinya dia tertarik untuk mencobanya," cerita Jessy.Bu Sonya pun menjawab, "Benar, Jessy. Arya memang memiliki kemampuan memijat yang luar biasa. Aku merasakannya sendiri kemarin."Jessy melanjutkan, "Dave ini beberapa hari ini lelah sekali dengan pekerjaannya. Jadi, dia tertarik untuk mencoba dipijat oleh Arya. Aku mau nanya, bagaimana caranya?"Bu Sonya pun merespon, "Tidak masalah, Jessy. Aku bisa menghubungi Arya dan memberitahunya. Jadi, nanti Arya akan datang ke rumahmu untuk memijat Dave. Dan tahu apa, Jess? Aku akan minta Arya membawakan kue y
Setelah Arya selesai memberikan pijatan yang melegakan bagi Bu Sonya, suasana di dalam kamar mewah tersebut menjadi lebih tenang. Bu Sonya merasakan kelegaan yang luar biasa dari pijatan tadi, meredakan ketegangan dan pegal-pegal yang selama ini mengganggu. Ia menghela napas panjang, merasa segar kembali setelah mendapatkan perawatan dari Arya.Namun, ketenangan tersebut tiba-tiba terpecah oleh nada dering telepon dari ponsel Bu Sonya yang diletakkan di meja dekat tempat tidur. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Jessy, adiknya."Halo, Jessy," sapanya sambil masi dalam posisi tengkurap."Halo, Sonya. Aku tadi mendengar dari Cindy bahwa kalian semua berada di Ancol. Kenapa tidak mengajakku?" suara Jessy terdengar agak cempreng.Bu Sonya tertawa, "Maafkan aku, Jess. Ini memang rencana dadakan. Aku tidak berniat untuk merahasiakannya darimu."Jessy melontarkan sedikit sindiran, "Hah, jadi kalian berencana seru-seruan tanpa mengajak
Esok harinya, suasana di kantor Sonya Fast kembali menjadi sibuk seperti biasa. Meskipun mereka telah menghabiskan waktu refreshing di resort, namun kembali ke pekerjaan adalah suatu keharusan. Bu Sonya sudah berada di mejanya sejak pagi, sibuk merencanakan agenda dan memeriksa laporan-laporan yang perlu segera diselesaikan.Cindy juga sudah duduk di dekatnya, membantu menyusun jadwal dan mengorganisir tugas-tugas yang harus dilakukan hari ini. Meskipun suasana di luar kantor sangat berbeda, mereka harus kembali fokus pada pekerjaan yang menunggu.Jodi dan Arya juga telah tiba di kantor. Mereka saling bertegur sapa dan mengecek daftar tugas yang harus mereka kerjakan. Jodi dengan serius melihat laporan keuangan yang harus dia kaji, sementara Arya memeriksa mobil dan memastikan semuanya dalam kondisi baik untuk perjalanan hari ini.Walaupun kembali ke rutinitas pekerjaan, tetapi semua anggota tim merasa semangat yang lebih segar. Mereka memiliki kenangan indah da
Jodi pun melumat bibir seksi milik Cindy yang sebenarnya sedari tadi juga sudah ingin bermesraan dengan Jodi. Ini karena besok mereka sudah harus kerja kembali sehingga mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan.“Cuppp...cuppp..mphhh...mmmuachh!” bunyi kecupan dua bibir yang bertemu di kamar resort itu menjadi pembuka jalnnya bercinta mereka. Dan keduanya pun tau kalo mereka tak punya waktu banyak karena khawatir Cindy akan dicar-cari bu Sonya di kamar yang letakya beberap meter dari kamar Jodi itu.“Ayo buka seluruh pakaianmu sayang!” ajak Jodi buru-buru dengan nafas memburu karena nafsunya mulai menaik meilhat tubuh seksi Cindy yang sangat putih mulus dan montok itu dengan rambut pirangnya dan hidung mancung dengan wajah eropa pertanda keturunan Belanda dari sang ayah.Jod seketika sudah dalam kedaan telanjang dengan rudalnya yang sudah ngaceng berat berkedut-kedut. Cindy tersenyum nakal melihatnya dan tak tahan juga unt
Pulang dari kantor dengan perasaan yang masih terasa tegang setelah rapat evaluasi, Bu Sonya merasa bahwa dirinya dan timnya membutuhkan waktu untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas kerja yang menguras energi. Dia punya ide untuk menginap semalam di Putri Duyung Resort di Ancol, tempat yang menawarkan suasana pantai yang indah dan sejuk.Akhirnya sesuai janjian sebelumnya malam itu Arya membawa laju mobil sang majikan menuju arah utara Jakarta yaitu kawasan Ancol. Tiba di resort, mereka berdua, Bu Sonya dan Cindy, merasakan hembusan angin laut yang menyegarkan saat mereka memasuki lobby. Mereka memesan tiga kamar, satu untuk Bu Sonya dan Cindy, satu lagi untuk Jodi, pacar Cindy yang juga bekerja di kantor Bu Sonya, dan yang terakhir untuk Arya.Setelah mengambil kunci kamar mereka, mereka berpisah untuk menuju ke kamar masing-masing dan bersiap untuk refreshing. Bu Sonya membuka pintu kamar dengan perasaan harap-harap cemas tentang apa yang menantinya. Namun, ket
Hari itu, suasana di kantor Sonya Fast terasa berbeda. Para kepala unit cabang dan manajer berkumpul di ruang rapat yang besar, menunggu kehadiran Bu Sonya. Arya berada di luar ruang rapat, tetapi ia bisa merasakan ketegangan di udara. Ia tahu bahwa rapat kali ini adalah rapat evaluasi yang penting.Setelah beberapa saat, pintu ruang rapat terbuka, dan Bu Sonya masuk dengan langkah mantap yang didampingi oleh sang sekretaris canntiknya yang keturuna Belanda yaitu Cindy dengan tampilan menawan serta sekisnya. Pada saat itu, semua mata tertuju pada kedua wanita tersebut. Lalu, dalam balutan pakaian bisnis yang elegan, Bu Sonya tampak sebagai sosok yang penuh wibawa."Apa kabar, semua?" sapa Bu Sonya dengan suara yang tenang namun tegas."Baik, Bu Sonya," jawab para peserta rapat dengan serempak.Bu Sonya duduk di ujung meja, mengambil posisi sebagai pemimpin rapat. Sementara, di sebelahnya sang sekretaris sibuk mencatat semua hal yang perlu ia catat sebagai







