MasukArya pun segera membawa baki dari Mbak Tini tersebut ke dalam kamarnya untuk segera menyantap makanan yang telah disajikan untuknya.
Sementara Mbak Tini telah beranjak dari depan kamar Arya tersebut.
Rasa lapar memang ternyata telah menyerang perut Arya yang sejak perjalanan dari Jogja.
Setelah dirasa pas memakai kaos dan celana panjangnya, Arya pun bergegas menuju ke tangga besar di ruang tengah untuk menuju lantai atas.
Sesampainya di sana, ada semacam ruangan yang terdiri dari beberapa sofa besar dan mewah lagi seperti di lantai bawah, dan ada pintu putih berukiran yang mungkin itu pintu kamar Ibu Sonya.
Dilihatnya Bu Sonya sudah duduk di salah satu sofa sambil memangku laptop kecil di pahanya.
Bu Sonya terlihat sangat cantik memakai baju tidurnya malam itu.
Meski sudah mulai larut malam, nampak sekali perempuan kaya itu sangat menjaga penampilannya yang menawan hati selayaknya mirip artis India Kareena Kapoor.
“Ke mana saja sih kamu, Arya?” bentak Bu Sonya dengan suara cukup keras memandang melotot bakal sopir barunya itu, namun tetap saja terlihat sangat cantik meski kali ini terlihat wajahnya cukup marah dengan kedatangan Arya di ruangan yang terletak depan kamarnya itu.
Anehnya, mendengar dan melihat bagaimana Bu Sonya membentak dirinya, Arya malah tertegun sejenak melihat sang bos itu malah terlihat sangat menawan di matanya.
“Ya ampun ... kenapa di rumah ini aku jadi terpesona mulu ini melihat dua pemandangan yang indah bergantian di depan mataku?” ucap Arya dalam hati.
Ia membandingkan dengan manisnya wajah mantan pacarnya di kampus sana yang ternyata belum ada apa-apanya dengan wajah-wajah yang ia lihat di rumah majikan barunya ini.
Di desanya, Sita adalah pacar pertama Arya. Tapi sayangnya, karena ortu Sita minta Arya cepat-cepat untuk segera melamarnya, Arya pun bingung karena ia merasa belumlah mapan.
Sayangnya, ortu Sita gak mau menunggu lama sehingga akhirnya Sita dijodohkan dengan pemuda desa sebelah.
Dengan kejadian itu membuat Arya cukup sakit hati, sehingga memperkuat tekadnya untuk pergi merantau ke Jakarta ini mencari pekerjaan sekaligus melupakan kenangan pahitnya bersama Sita.
Sita pun sebenarnya sangat mengharapkan Arya bisa jadi suaminya, namun Sita tak bisa melawan kehendak kedua ortunya yang keburu menerima lamaran Dedi, sang pemuda desa sebelah, yang menurut kedua ortu Sita jauh lebih mapan dibanding Arya yang cuma seorang penjual sayuran di desanya.
Dedi memiliki sejumlah toko kelontong di desa itu sehingga nampak lebih mapan daripada Arya, dan Dedi pun juga sudah memiliki rumah serta mobil.
Hal itulah yang membuat kedua ortu Sita merasa lebih cocok ke Dedi dibanding Arya.
“Heiii ... aku kan sedang bicara denganmu, Arya! Koq malah bengong?” kembali suara bentakan dan mata melotot si cantik Bu Sonya.
“Owh yayaya ... maaf, Bu ... maaf, Bu! Ada apakah Ibu memanggil saya?” ucap Arya yang kini mulai berani menatap sang majikan karena lagi-lagi Arya justru tidak ada rasa takut melihat kegalakan bos cantiknya itu.
Karena menurutnya makin galak malah terlihat makin cantik di mata Arya.
“Saya ini mo jelaskan detail tugas-tugasmu sebagai sopir pribadi saya! Jadi camkan baik-baik!”
“Baik, Bu. Saya siap mendengarkan koq!” ucap Arya sambil menatap kagum wajah cantik sang majikan.
“Heiii ... kamu meledek saya ya? Koq mata kamu melotot seperti itu?”
“Owh gak, Bu. Kan saya bermaksud menuruti perintah Ibu untuk mendengarkan baik-baik ucapan Ibu!” balas Arya dengan wajah tenang meski sang majikan sudah terlihat galak di depannya.
Sementara itu, Sonya dalam hatinya merasa ini anak muda ganteng di depannya sungguh berbeda dengan sopir-sopir sebelumnya yang cenderung takut-takut kala menghadap dirinya.
Arya ini nampak tak ada takutnya melihat perangai dirinya.
Sonya dalam hati mulai kagum dengan Arya dan ia merasa telah menemukan sosok sopir yang mungkin saja cukup bisa ia andalkan dalam beberapa tahun ke depan.
Karena sopir-sopir sebelumnya tak ada yang bertahan lama bekerja dengan Sonya.
Rata-rata mereka lari dan pergi atau mengajukan undur diri setelah merasakan bekerja sebagai sopir pribadi Sonya.
Tak tahan dengan kegalakan perangai Sonya.
“Jadi, tugasmu setiap pagi jam 8 sudah harus standby mengantarkanku ke mana saja ya!”
“Sampe jam berapa, Bu, selesainya?” tanya Arya.
“Saya kan belum selesai bicara! Mengapa kamu berani memotong kalimatku?” Sonya kembali melotot tajam ke wajah Arya, namun yang membuat Sonya cukup kagum adalah Arya malah tetap datar memandang wajahnya saat ia terlihat jutek saat itu.
“Owh baik, Bu ... saya akan diam saja sampe Ibu selesai ngomong!”
“Nah, gitu! Jadi begini, kamu ini kan sopir pribadi saya, jadi kamu harus standby kapan pun selama 5 hari kerja, kecuali Sabtu Minggu kamu saya bebaskan dari tugas sopir,” ucap Sonya memberikan penjelasan.
“Baik, Bu. Saya paham, Bu!”
“Kamu harus mau mengantar ke mana pun saya pergi dan menuju, dan tidak boleh membantah perintahku!”
“Baik, Bu Sonya!”
“Jika nanti hasil pekerjaan kamu bisa memuaskan saya, maka saya akan berikan bonus!” ucap Sonya lagi menambahkan penjelasannya, namun kali ini Sonyalah yang menunduk sambil mengetik sesuatu di layar laptopnya.
Karena perlahan Sonya mulai menyadari kalo bakal sopir barunya ini terlihat ganteng dan dalam hatinya ia berkata bahwa Arya lebih cocok jadi artis dibanding seorang sopir.
“Bonusnya apa, Bu?” Arya memberanikan diri untuk menanyakan apa yang dimaksud bonus oleh sang calon majikan cantiknya itu.
“Kamu ini, bekerja saja belum malah sudah menanyakan bonus! Buktikan saja dulu pekerjaanmu dan barulah ngomongin bonus!” Sonya kembali melotot dengan bentakan suara kerasnya.
“Owh baiklah, Bu Sonya!” Arya dalam hati ngakak karena yang ngajak ngobrol bonus kan si majikan sendiri yang memulai.
Arya pun izin turun ke lantai bawah untuk menuju kamarnya dan dilihatnya ruangan bawah yang cukup luas itu lampu-lampu sudah redup.
Arya pun bermaksud menuju kamarnya.
Sesampainya di lorong menuju kamarnya, sesaat langkahnya sudah sampai depan pintu kamar, sayup-sayup Arya mendengar suara aneh.
Seperti suara desahan orang. Arya baru ingat kalo kamarnya bersebelahan dengan kamar Pak Dirman yang tadi ia ketemu di depan pagar saat pertama kali tiba di rumah mewah itu.
Arya bertanya-tanya dalam hati, “Itu suara desahan siapa? Masak suara Pak Dirman? Koq seperti suara desahan perempuan ya?”
Arya pun makin penasaran dengan asal suara itu. Ia pun perlahan melangkah ke arah pintu kamar sebelah dan ternyata pintu kamar Pak Dirman tak dikunci dari dalam serta terbuka sedikit, sehingga dari luar Arya bisa mengintip aktivitas orang yang berada di dalam kamar Pak Dirman itu.
Saat mengintip dari balik pintu kamar itu, Arya terkejut bukan kepalang karena ia melihat tubuh polos laki-laki dan perempuan dengan si perempuan berada di atas.
Tak berapa lama kemudian, Arya mendengar suara sang perempuan, “Ayo, Pak, cepetin lagi!”
Deggg ....
“Hah! Itu kan kayak suara Mbak Tini?” Arya kaget bukan kepalang mendengar suara Mbak Tini di kamar Pak Dirman itu.
Suasana pagi hari di ruang kerja direktur utama lantai tiga gedung pencakar langit Marunda Fast mendadak berubah tegang, kaku, dan dipenuhi oleh aura pertempuran korporasi yang sangat ketat.Di atas permukaan meja marmer putih bersih yang mengkilap, tergeletak sehelai dokumen somasi hukum beramplop hitam eksklusif dengan stempel lilin merah berlogo asing yang mencolok.Sonya Baskoro berdiri tegak dengan balutan blazer formal berwarna abu-abu gelap yang sangat elegan, menatap tajam lembaran kertas somasi tersebut tanpa rasa gentar sedikit pun di wajahnya.Sebagai seorang Ratu Besi yang memegang kendali penuh atas kerajaan bisnis logistik nasional, ancaman hukum murahan semacam itu sama sekali tidak melunturkan wibawa kepimpinannya."Konsorsium Delta Raya benar-benar nekat melayangkan somasi fiktif ini tepat saat kita merayakan rekor profitabilitas tahunan perusahaan," ucap Sonya dingin dengan suara be
Semburat cahaya jingga keemasan perlahan merayap naik di balik cakrawala langit pagi kawasan perumahan elit Limo, Depok, memancarkan kehangatan yang sangat menenangkan jiwa siapa saja yang memandangnya.Udara pagi hari yang segar menyapu lembut dedaunan hijau di halaman luas rumah keluarga besar Baskoro, menghadirkan kesegaran alami yang menyambut datangnya hari baru penuh kemenangan.Arya Baswira berdiri tegap di atas teras lantai dua rumahnya, mengenakan kemeja santai rapi sambil merangkul pinggang ramping istri tercinta dengan penuh rasa kepemilikan yang mendalam.Sonya Baskoro bersandar nyaman di dada bidang suaminya, menikmati detik-detik terbitnya matahari pagi yang memantul indah di pelataran rumah megah hasil kerja keras mereka berdua dari nol.Di hadapan mereka berdua, Anya dan si bungsu Baswira Junior berlari kecil riang gembira mengejar kupu-kupu yang beterbangan di atas hamparan rumput ta
Suasana di dalam ruang rapat utama lantai empat gedung pencakar langit Marunda Fast terasa begitu megah, tegang, dan dipenuhi oleh para petinggi korporasi.Puluhan pemegang saham besar, investor strategis, serta direktur regional duduk rapi di kursi eksekutif mengelilingi meja rapat panjang berbahan kayu jati hitam.Layar proyektor digital berukuran besar di dinding depan menampilkan grafik kurva pertumbuhan profitabilitas yang melesat naik tanpa henti sepanjang tahun fiskal berjalan.Arya Baswira duduk tegap dengan setelan jas formal berwarna abu-abu gelap, memegang kendali penuh atas pemaparan laporan keuangan korporasi nasional."Berdasarkan audit akhir tahun yang telah diverifikasi, Marunda Fast kini resmi menguasai tujuh puluh persen pangsa pasar logistik darat dan laut di seluruh Nusantara," papar Arya tegas.Suara bariton Arya yang tenang namun berwibawa memenuhi ruangan r
Roda mobil Alphard hitam legam milik keluarga besar Baskoro meluncur mulus tanpa suara, memasuki halaman garasi luas rumah mewah mereka di kawasan perumahan elit Limo, Depok.Malam semakin larut merayap membawa serta kesejukan angin malam perumahan yang tenang, damai, dan menenangkan usai perayaan megah pesta ulang tahun pernikahan di pangkalan utama Marunda Fast selesai.Arya Baswira segera mematikan mesin mobil secara perlahan, lalu bergegas membuka pintu kabin belakang untuk membukakan pintu bagi istri tercinta yang duduk dengan anggun.Sonya Baskoro melangkah keluar dari dalam mobil dengan senyuman manis yang terkembang indah di bibir merahnya, merapikan lipatan gaun malam elegan berbahan sutra yang dikenakannya."Malam ini benar-benar jadi perayaan ulang tahun pernikahan paling berkesan, indah, dan tak terlupakan sepanjang hidupku, Mas Arya," ucap Sonya dengan suara lembut penuh ketulusan.
Cahaya lampu tumbler keemasan yang berkelap-kelip dengan sangat lembut memantul indah di atas permukaan kap mesin deretan truk tronton logistik pangkalan Marunda Fast malam itu.Aroma harum ribuan tangkai mawar merah segar menyatu sempurna dengan hembusan angin malam kawasan Limo yang terasa begitu sejuk, tenang, dan sangat menenangkan jiwa.Sonya Baskoro berdiri terpaku di tengah-tengah area pangkalan yang sangat luas, menatap sekeliling dengan kedua mata berkaca-kaca menahan luapan emosi bahagia di dadanya.Deretan bingkai foto galeri perjalanan hidup mereka terpajang sangat rapi di sepanjang dinding kontainer kantor, merekam setiap detik perjuangan dari nol hingga mencapai puncak kejayaan.Pancaran lampu sorot panggung utama menyorot lembut ke arah pasangan suami istri yang menjadi pilar utama berdirinya kerajaan bisnis transportasi logistik nasional tersebut."Selamat ulang t
Suasana sore hari menjelang senja di kawasan kompleks kantor pusat dan pangkalan utama Marunda Fast tampak disibukkan oleh berbagai aktivitas dekorasi yang tidak biasa dan sangat meriah.Lampu-lampu hias bernuansa keemasan membentang rapi membentuk terowongan cahaya dari gerbang depan hingga ke sudut area parkir truk tronton logistik.Slamet mengenakan kemeja lapangan lengan panjang yang rapi sambil memegang tangga lipat aluminium berwarna perak, memasang rentetan lampu tumbler bersama beberapa staf operasional muda.Di sudut lain area pangkalan yang luas itu, Brian Baskoro tampak sibuk menyusun deretan bingkai foto berukuran besar yang merangkum seluruh perjalanan sejarah Marunda Fast dari nol."Tolong pasang bingkai foto di sebelah kanan itu agak naik sedikit, Slamet! Biar pas sorotan lampu hiasnya jatuh tepat ke foto awal mula pangkalan dulu," instruksi Brian dari bawah sambil memegang daftar acar





