แชร์

Bab 3 Suara di Kamar Sebelah

ผู้เขียน: Irbapiko
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-06 21:21:32

Arya pun segera membawa baki dari Mbak Tini tersebut ke dalam kamarnya untuk segera menyantap makanan yang telah disajikan untuknya.

Sementara Mbak Tini telah beranjak dari depan kamar Arya tersebut.

Rasa lapar memang ternyata telah menyerang perut Arya yang sejak perjalanan dari Jogja.

Setelah dirasa pas memakai kaos dan celana panjangnya, Arya pun bergegas menuju ke tangga besar di ruang tengah untuk menuju lantai atas.

Sesampainya di sana, ada semacam ruangan yang terdiri dari beberapa sofa besar dan mewah lagi seperti di lantai bawah, dan ada pintu putih berukiran yang mungkin itu pintu kamar Ibu Sonya.

Dilihatnya Bu Sonya sudah duduk di salah satu sofa sambil memangku laptop kecil di pahanya.

Bu Sonya terlihat sangat cantik memakai baju tidurnya malam itu.

Meski sudah mulai larut malam, nampak sekali perempuan kaya itu sangat menjaga penampilannya yang menawan hati selayaknya mirip artis India Kareena Kapoor.

“Ke mana saja sih kamu, Arya?” bentak Bu Sonya dengan suara cukup keras memandang melotot bakal sopir barunya itu, namun tetap saja terlihat sangat cantik meski kali ini terlihat wajahnya cukup marah dengan kedatangan Arya di ruangan yang terletak depan kamarnya itu.

Anehnya, mendengar dan melihat bagaimana Bu Sonya membentak dirinya, Arya malah tertegun sejenak melihat sang bos itu malah terlihat sangat menawan di matanya.

“Ya ampun ... kenapa di rumah ini aku jadi terpesona mulu ini melihat dua pemandangan yang indah bergantian di depan mataku?” ucap Arya dalam hati.

Ia membandingkan dengan manisnya wajah mantan pacarnya di kampus sana yang ternyata belum ada apa-apanya dengan wajah-wajah yang ia lihat di rumah majikan barunya ini.

Di desanya, Sita adalah pacar pertama Arya. Tapi sayangnya, karena ortu Sita minta Arya cepat-cepat untuk segera melamarnya, Arya pun bingung karena ia merasa belumlah mapan.

Sayangnya, ortu Sita gak mau menunggu lama sehingga akhirnya Sita dijodohkan dengan pemuda desa sebelah.

Dengan kejadian itu membuat Arya cukup sakit hati, sehingga memperkuat tekadnya untuk pergi merantau ke Jakarta ini mencari pekerjaan sekaligus melupakan kenangan pahitnya bersama Sita.

Sita pun sebenarnya sangat mengharapkan Arya bisa jadi suaminya, namun Sita tak bisa melawan kehendak kedua ortunya yang keburu menerima lamaran Dedi, sang pemuda desa sebelah, yang menurut kedua ortu Sita jauh lebih mapan dibanding Arya yang cuma seorang penjual sayuran di desanya.

Dedi memiliki sejumlah toko kelontong di desa itu sehingga nampak lebih mapan daripada Arya, dan Dedi pun juga sudah memiliki rumah serta mobil.

Hal itulah yang membuat kedua ortu Sita merasa lebih cocok ke Dedi dibanding Arya.

“Heiii ... aku kan sedang bicara denganmu, Arya! Koq malah bengong?” kembali suara bentakan dan mata melotot si cantik Bu Sonya.

“Owh yayaya ... maaf, Bu ... maaf, Bu! Ada apakah Ibu memanggil saya?” ucap Arya yang kini mulai berani menatap sang majikan karena lagi-lagi Arya justru tidak ada rasa takut melihat kegalakan bos cantiknya itu.

Karena menurutnya makin galak malah terlihat makin cantik di mata Arya.

“Saya ini mo jelaskan detail tugas-tugasmu sebagai sopir pribadi saya! Jadi camkan baik-baik!”

“Baik, Bu. Saya siap mendengarkan koq!” ucap Arya sambil menatap kagum wajah cantik sang majikan.

“Heiii ... kamu meledek saya ya? Koq mata kamu melotot seperti itu?”

“Owh gak, Bu. Kan saya bermaksud menuruti perintah Ibu untuk mendengarkan baik-baik ucapan Ibu!” balas Arya dengan wajah tenang meski sang majikan sudah terlihat galak di depannya.

Sementara itu, Sonya dalam hatinya merasa ini anak muda ganteng di depannya sungguh berbeda dengan sopir-sopir sebelumnya yang cenderung takut-takut kala menghadap dirinya.

Arya ini nampak tak ada takutnya melihat perangai dirinya.

Sonya dalam hati mulai kagum dengan Arya dan ia merasa telah menemukan sosok sopir yang mungkin saja cukup bisa ia andalkan dalam beberapa tahun ke depan.

Karena sopir-sopir sebelumnya tak ada yang bertahan lama bekerja dengan Sonya.

Rata-rata mereka lari dan pergi atau mengajukan undur diri setelah merasakan bekerja sebagai sopir pribadi Sonya.

Tak tahan dengan kegalakan perangai Sonya.

“Jadi, tugasmu setiap pagi jam 8 sudah harus standby mengantarkanku ke mana saja ya!”

“Sampe jam berapa, Bu, selesainya?” tanya Arya.

“Saya kan belum selesai bicara! Mengapa kamu berani memotong kalimatku?” Sonya kembali melotot tajam ke wajah Arya, namun yang membuat Sonya cukup kagum adalah Arya malah tetap datar memandang wajahnya saat ia terlihat jutek saat itu.

“Owh baik, Bu ... saya akan diam saja sampe Ibu selesai ngomong!”

“Nah, gitu! Jadi begini, kamu ini kan sopir pribadi saya, jadi kamu harus standby kapan pun selama 5 hari kerja, kecuali Sabtu Minggu kamu saya bebaskan dari tugas sopir,” ucap Sonya memberikan penjelasan.

“Baik, Bu. Saya paham, Bu!”

“Kamu harus mau mengantar ke mana pun saya pergi dan menuju, dan tidak boleh membantah perintahku!”

“Baik, Bu Sonya!”

“Jika nanti hasil pekerjaan kamu bisa memuaskan saya, maka saya akan berikan bonus!” ucap Sonya lagi menambahkan penjelasannya, namun kali ini Sonyalah yang menunduk sambil mengetik sesuatu di layar laptopnya.

Karena perlahan Sonya mulai menyadari kalo bakal sopir barunya ini terlihat ganteng dan dalam hatinya ia berkata bahwa Arya lebih cocok jadi artis dibanding seorang sopir.

“Bonusnya apa, Bu?” Arya memberanikan diri untuk menanyakan apa yang dimaksud bonus oleh sang calon majikan cantiknya itu.

“Kamu ini, bekerja saja belum malah sudah menanyakan bonus! Buktikan saja dulu pekerjaanmu dan barulah ngomongin bonus!” Sonya kembali melotot dengan bentakan suara kerasnya.

“Owh baiklah, Bu Sonya!” Arya dalam hati ngakak karena yang ngajak ngobrol bonus kan si majikan sendiri yang memulai.

Arya pun izin turun ke lantai bawah untuk menuju kamarnya dan dilihatnya ruangan bawah yang cukup luas itu lampu-lampu sudah redup.

Arya pun bermaksud menuju kamarnya.

Sesampainya di lorong menuju kamarnya, sesaat langkahnya sudah sampai depan pintu kamar, sayup-sayup Arya mendengar suara aneh.

Seperti suara desahan orang. Arya baru ingat kalo kamarnya bersebelahan dengan kamar Pak Dirman yang tadi ia ketemu di depan pagar saat pertama kali tiba di rumah mewah itu.

Arya bertanya-tanya dalam hati, “Itu suara desahan siapa? Masak suara Pak Dirman? Koq seperti suara desahan perempuan ya?”

Arya pun makin penasaran dengan asal suara itu. Ia pun perlahan melangkah ke arah pintu kamar sebelah dan ternyata pintu kamar Pak Dirman tak dikunci dari dalam serta terbuka sedikit, sehingga dari luar Arya bisa mengintip aktivitas orang yang berada di dalam kamar Pak Dirman itu.

Saat mengintip dari balik pintu kamar itu, Arya terkejut bukan kepalang karena ia melihat tubuh polos laki-laki dan perempuan dengan si perempuan berada di atas.

Tak berapa lama kemudian, Arya mendengar suara sang perempuan, “Ayo, Pak, cepetin lagi!”

Deggg ....

“Hah! Itu kan kayak suara Mbak Tini?” Arya kaget bukan kepalang mendengar suara Mbak Tini di kamar Pak Dirman itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 279 Antara Hidup dan Mati

    "Pompa lagi! Jangan sampai lepas!"Suara dokter bedah itu terdengar seperti guntur di telinga Cindy yang masih menempel di kaca ruang operasi. Di balik sana, pemandangan itu terasa seperti film bisu yang mengerikan. Tubuh Slamet melenting, jatuh, lalu diam. Garis di monitor itu masih lurus, mengeluarkan bunyi denging panjang yang seolah sedang menghitung mundur sisa napas terakhir sang supir pangkalan. Cindy sempat terhenti sejenak, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca yang buram oleh uap napasnya, menyadari betapa hancur penampilannya—kerudung yang miring dan mata yang bengkak—sebelum akhirnya kesadarannya ditarik kembali oleh hentakan alat pacu jantung untuk yang kelima kalinya."Mas Slamet... nggih, Mas... bangun..." gumam Cindy, suaranya kini hanya berupa bisikan kering.Tiba-tiba, bunyi beeeeep yang panjang itu terputus. Garis lurus itu bergejolak, membentuk satu bukit kecil, lalu satu lagi. Lemah, sangat lemah, tapi itu adalah tand

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 278 Fitnah yang Membara

    "Den Arya! Layar ponselnya! Jangan sampai Cindy lihat!"Suara Brian memecah keheningan koridor rumah sakit, nyaris menyerupai desisan ular yang terdesak. Arya tersentak, tangannya yang masih memegang botol air mineral yang sudah tidak dingin lagi mendadak kaku. Ia sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang merayap turun di dinding kaca ruang tunggu—sebuah distraksi psikologis yang tak relevan di tengah badai—sebelum matanya menangkap notifikasi video yang masuk serentak ke puluhan grup WhatsApp supir pangkalan."B-b-bajingan... mereka beneran sebarin itu sekarang?" Arya bergumam, suaranya parau, nyaris habis tertelan kegelisahan.Ia segera melangkah, nyaris berlari menuju Cindy yang masih terisak di lantai, mendekap koin seribu rupiah berdarah milik Slamet. Cindy tidak sadar bahwa ponselnya yang tergeletak di atas ubin putih dingin itu baru saja menyala, menampilkan cuplikan video hitam putih dengan kualitas rendah namun cukup jelas untuk me

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 277 Sumpah di Nisan

    "Mas, bangun! Jangan tinggalin aku di sini, Mas!"Jeritan Cindy membelah kesunyian area pemakaman yang baru saja ditinggalkan sebagian besar pelayat. Suaranya serak, pecah di udara yang lembap oleh sisa gerimis. Di depannya, tubuh Slamet melenting setiap kali kejut jantung dari alat defibrilator itu dihantamkan ke dadanya. Bunyi desis listrik berpadu dengan isak tangis yang tertahan dari Brian yang berdiri mematung. Slamet sempat terhenti dalam ketidaksadarannya—sebuah kilas balik tentang rasa permen karet yang ia kunyah saat pertama kali menginjakkan kaki di Marunda tiba-tiba melintas begitu saja—sebelum rasa sakit yang luar biasa kembali menyentak kesadarannya."Ritme jantung kembali! Cepat, dorong ke IGD Medistra!" teriak salah satu perawat.Ambulans itu menderu menjauh, meninggalkan jejak ban di atas rumput makam yang becek. Di belakangnya, pusara Pak Baskoro sudah tertutup tanah merah sempurna, menyisakan tumpukan bunga melati dan mawar yang mul

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 276 Pusara yang Menagih Janji

    "Mas Slamet! Angkat, Mas! Jangan bikin aku gila!"Suara Cindy yang melengking dari pelantang ponsel di atas lantai gudang yang berdebu itu terdengar seperti lonceng kematian yang beradu dengan deru napas Slamet yang kian pendek. Slamet terbatuk, cairan hangat berasa karat memenuhi rongga mulutnya, sementara pandangannya mulai digerogoti bintik-bintik hitam yang menari-nari. Ia sempat terhenti sejenak, menatap rembesan darah yang kian melebar di kemeja putihnya—kemeja yang harusnya ia pakai untuk mengantar Pak Baskoro ke peristirahatan terakhir—dan mendadak ia teringat bahwa ia belum membayar iuran kas pangkalan bulan ini. Distraksi konyol itu menghilang saat bayangan pria berjaket kulit—sang pengacara suruhan Sita—melangkah mendekat dengan kilatan logam di tangannya.Dor!Gema tembakan itu merobek kesunyian gudang, membuat kawanan burung gereja di atap seng terbang berhamburan."Ti-ti-tiarap, bajingan!" Suara serak Brian m

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 275 Pagi Yang Berdarah

    "Bajingan! Lihat ini, Met!"Suara Brian menggelegar di lorong rumah sakit yang biasanya sunyi senyap, memantul di antara dinding-dinding porselen yang dingin. Ia menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Slamet yang masih kuyu karena terjaga semalaman. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang menempel di kaca jendela besar ICU—sebuah distraksi kecil yang tak relevan—sebelum matanya menangkap barisan judul berita di portal media nasional yang baru saja meledak.Skandal Korupsi Miliaran Rupiah: Direksi Perusahaan Logistik Diduga Bangun Perusahaan Cangkang."Data kita tembus, Mas Brian?" tanya Slamet pelan, suaranya parau karena debu ruko semalam masih terasa menyumbat tenggorokannya. Ia meraba saku celananya, mencari koin seribu rupiah kesayangannya, meremasnya kuat-alih-alih membalas antusiasme Brian."Bukan cuma tembus, Met! Hancur lebur itu rencana konferensi pers pengacaranya Sita. Barusan intel pangkalan lapor, s

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 274 Konfrontasi di Kantor Bayangan

    "Gila! Lo beneran bawa map itu keluar lewat lorong tikus, Met?"Suara Brian meledak di tengah sunyinya ruko tua di pinggiran Jakarta Selatan yang mereka sulap menjadi kantor bayangan. Brian tidak menunggu jawaban; ia langsung merenggut map hitam dari tangan Slamet yang masih kotor oleh tanah taman Kemang. Slamet tidak langsung menyahut. Ia lebih memilih menjatuhkan bokongnya di kursi plastik, napasnya masih memburu, sementara jemarinya yang lecet tanpa sadar meraba saku jaket—mencari sensasi dingin koin seribu rupiah yang entah bagaimana terasa seperti jangkar kewarasannya saat ini. Di sudut ruangan, kipas angin berderit berisik, memutar udara pengap yang berbau debu dan kabel terbakar."Bukan cuma map, Bri. Di luar tadi ada empat orang, kayaknya suruhan pengacara Sita. Kalau Slamet nggak tahu celah pagar belakang, mungkin sekarang kita sudah dikeroyok di teras Kemang," Arya menimpali, suaranya parau. Ia menyandarkan punggungnya di tembok kusam, matanya terpejam

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 7 Puncak yang Pertama

    “Kalo sama pacar di desa, kami cuma pernah pegangan tangan saja, Mbak! Hihi!” ucap Arya tertawa kecil.“Serius? Trus pacar Mas Arya cantik gak? Tubuhnya montok gak kayak aku?” kepo Mbak Tini makin menjadi sambil menahan geli karena lelaki yang sekarang mencumbunya benar-benar masih polos alias belu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 24 Pijatan yang Dibayar Mahal (2)

    Keesokan harinya, saat istirahat siang di ruang kerjanya, Bu Sonya sedang menikmati makan siangnya ketika ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Jessy ia pun menjawab panggilan tersebut."Halo, Jessy. Ada kabar apa?" tanyanya penuh antusias."Ha

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 17 Daleman Bu Sonya

    Setelah menunggu cukup lama, Sore itu, sekitar pukul 16, setelah Arya mengantar pulang Bu Sonya dari kantornya, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Arya. Ia membaca pesan tersebut dengan seksama. Ternyata, pesan itu berasal dari Bu Sonya. Dalam pesan tersebut, Bu Sonya memintanya untuk bersiap

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 21 Percintaan di Resort

    Jodi pun melumat bibir seksi milik Cindy yang sebenarnya sedari tadi juga sudah ingin bermesraan dengan Jodi. Ini karena besok mereka sudah harus kerja kembali sehingga mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan.“Cuppp...cuppp..mphhh...mmmuachh!” bunyi kecupan dua bibir yang bertemu di kamar res

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status