Home / Male Adult / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 2 Profesi Baru Bos Baru (2)

Share

Bab 2 Profesi Baru Bos Baru (2)

Author: Irbapiko
last update publish date: 2025-11-06 21:18:00

Setelah Mbak Tini berlalu pergi dari ruang tengah itu, Ibu Sonya yang tadi masih berdiri akhirnya duduk di hadapan Arya dengan posisi kaki yang satu memangku kaki yang lain, sehingga baju bagian bawah baju tidur itu lumayan tersingkap, sehingga bagian betis dan paha mulus dan putih milik Ibu Sonya terpampang dengan indahnya.

Mata Arya terbelalak melihat kemulusan dan kemolekan tubuh bakal majikannya itu.

“Hei ... kenapa kamu bengong liat aku kayak begitu?” tanya Ibu Sonya membuyarkan lamunan Arya.

“Owhhh ... ma ... maaf, Bu!” ucap Arya agak gelagapan karena Ibu Sonya tadi nada suaranya agak membentak dan nadanya terdengar tinggi, terkesan orang yang sedang marah.

Dalam hati Arya bergumam, “Waduh, meski cantik gini, kayaknya Ibu Sonya galak juga ini!”

“Sekarang aku mo tanya tentang kamu, Arya! Benarkah kamu yang DM aku kemarin ini di I*?”

“Ya benar, itu saya, Bu!”

“Hemm ... aku liat-liat seharusnya kamu lebih cocok jadi model, bukan sopir!” ucap Ibu Sonya dengan wajah datar tapi sambil menatap tajam ke wajah Arya.

Arya tak berani menjawab ucapan Ibu Sonya itu.

“Kamu umur berapa sekarang?”

“25 tahun, Bu!”

“Sudah menikah?”

“Belum, Bu!”

“Pacar?” selidik Ibu Sonya.

Arya agak lama untuk berpikir menjawab pertanyaan bertubi-tubi Ibu Sonya itu.

“Ehmmm ... pernah punya, Bu, di kampung tapi gak lanjut!” ucap Arya sambil malu-malu dengan wajahnya setengah menunduk, tak berani menatap wajah cantik tapi dingin itu di hadapannya.

“Emang kampung kamu di mana?” tanya Ibu Sonya lagi.

“Jogja, Bu!”

“Sebelum ini kamu kerjaannya apa?” tanya Ibu Sonya lagi.

“Saya bantu-bantu ibu dan bapak saya jualan sayur di rumah, Bu!”

“Lalu dari mana kamu bisa belajar bawa mobil?”

“Tiap pagi saya bawa mobil bak terbuka sewaan dengan tetangga untuk ke pasar besar di Jogja, Bu, untuk membeli banyak sayuran untuk kami bawa ke desa kami, Bu!” ucap Arya memberikan penjelasan.

“Lalu, apa harapan kamu kalo beneran keterima kerja dengan saya sebagai sopir?” tanya Ibu Sonya lagi.

“Saya pengen banget kirim uang ke ortu saya, Bu, dan pengen banget nabung untuk kuliah!” ujar Arya memberikan penjelasan.

Ibu Sonya pun sedikit mengangguk-angguk mencoba memahami keinginan baik Arya itu.

“Oke, kalo kamu memang serius pengen kerja dengan saya, kamu harus ikuti semua perintah saya yah!” ucap Ibu Sonya dengan wajah serius.

“Baik, Bu. Saya akan berusaha memenuhi harapan Ibu selama saya kerja dengan Ibu!”

“Nah, jadwal kamu untuk jadi sopir pribadi saya adalah mengantar ke kantor dan kembali ke rumah selama 5 hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat!” ucap Ibu Sonya memberikan penjelasan detail tentang tugas Arya tiap pekannya.

“Baiklah kalo begitu, sekarang kamu akan diantar Mbak Tini ke kamarmu!”

Ibu Sonya pun berjalan ke arah belakang untuk memanggil Mbak Tini. Tak lama kemudian, Mbak Tini datang dengan tergopoh-gopoh.

“Iya, Bu, ada apa, Bu?” tanya Mbak Tini sambil setengah menunduk ke arah Ibu Sonya.

“Antarkan Mas Arya ini ke kamarnya ya!”

“Owh, baik, Bu!” ucap Mbak Tini sambil langsung mengajak Arya mengikuti arah jalannya.

Ibu Sonya pun kembali menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas untuk beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam.

“Ayo, Mas Arya, aku tunjukin kamarmu yo, Mas!” ajak Mbak Tini.

Sambil berjalan di lorong rumah besar dan mewah itu, Arya kembali terbengong-bengong melihat seisi rumah itu.

Tak berapa lama, ia telah sampai diantar oleh Mbak Tini ke depan pintu kamar untuk Arya.

“Nah, ini Mas Arya kamar kamu!” sambil ia membukakan pintu kamarnya.

Saat terbuka, Arya kembali terpana karena kamarnya itu menurutnya cukup besar dan cukup mewah baginya dengan cuma sebagai sopir di rumah itu.

“Kalo sebelah itu kamar siapakah?” tanya Arya karena di sebelah kamarnya ada pintu kamar lainnya.

“Kalo itu kamar Pak Dirman, Mas!” ucap Mbak Tini sambil tersenyum simpul. Arya agak aneh melihat wajah dan gelagat Mbak Tini ketika menyebut nama Pak Dirman tadi.

“Monggo, Mas Arya, silakan beristirahat saja dulu di kamarnya Mas ini!” pinta Mbak Tini sambil izin kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya di sana.

“Terima kasih, Mbak Tini!” ucap Arya dan ia langsung memberesi tas besar berisi beberapa pakaian yang ia bawa dari kampungnya di Jogja sana.

Arya pun merebahkan tubuhnya di kasur yang lumayan besar untuk dirinya yang cuma seorang diri di kamar itu.

Karena mungkin kelelahan setelah habis menjalani perjalanan cukup jauh dari Jogja ke Jakarta ini membuat Arya pun akhirnya tertidur di kasur itu.

Sekitar pukul 21.00 malam, ada suara ketokan pintu dari luar kamar Arya.

Tok ... tok ... tok ... “Mas Arya!”

Arya pun terbangun dari tidurnya karena bunyi ketokan cukup keras dan berulang kali, sehingga cukup bisa membangunkan Arya yang terlelap tidurnya tadi.

Arya terbangun dalam kondisi agak gelagapan karena ia belum sadar sepenuhnya dan sesaat cukup bingung kala membuka matanya ia merasa ada di kamar yang cukup asing baginya.

“Aku mimpi atau apa ini ya? Koq kamarku bagus dan besar begini?” ucap Arya dalam hati sambil menatap sekeliling kamar itu dan ia pun masih bingung sedang berada di mana.

“Mas Arya, makan dulu, Mas. Ini aku, Mbak Tini!” ucap suara di balik pintu kamar Arya.

Arya pun baru tersadar kalo ia sekarang sudah tinggal di rumah sang majikan barunya, yaitu rumah Ibu Sonya.

“Owh, yayaya ... sebentar, Mbak Tini! Aku bukakan dulu pintunya!”

Seketika Arya bangun dari rebahannya dan meloncat dari kasur, lalu menuju daun pintu membukakan pintu untuk Mbak Tini yang ternyata sudah membawa baki berisi air minum segelas dan sepiring makanan.

“Wahhh ... Mas Arya kayaknya tidurnya lelap banget toh yo? Hehehe!” ucap Mbak Tini melihat wajah Arya yang masih agak berantakan rambutnya setelah bangun tidur tadi.

“Ehhh ... iyy ... iyya, Mbak Tini, kayaknya aku benar-benar kecapean setelah perjalanan jauh dari kampung menuju ke sini. Jadinya tadi gak sadar kalo aku benar-benar terlelap di kamar,” balas Arya sambil mengucek-ucek matanya.

“Ya sudah, ini Mas Arya monggo makan dulu sana!” ucap Mbak Tini sambil menyerahkan baki tersebut.

Arya menerima baki itu sambil kembali tak sengaja menatap belahan dada montok yang menyembul dari sela-sela baju kebaya belahan dada rendah yang dipakai Mbak Tini itu.

Itu terjadi karena posisi Mbak Tini saat memberikan bakinya ia agak merunduk, sehingga makin terlihat menantang belahan dua bukit kembar besar miliknya.

Jakun Arya seketika turun naik melihat pemandangan gratis itu di depan matanya.

Mbak Tini nampaknya mengetahui ke mana pandangan mata Arya dan kegugupan Arya tersebut, namun ia hanya tersenyum saja dalam hati.

“Hemm ... memang ya, semua mata lelaki selalu sama, tak bisa melihat yang montok dikit langsung deh melotot, hehehe!” ucap Mbak Tini dalam hati.

Sementara Arya berkata dalam hatinya juga, ”Aduh, kenapa aku jadi memandangi dadanya Mbak Tini itu terus yah? Kalo ketahuan Mbak Tini, bisa malu banget aku!”

“Ganteng banget ini sopir baru Ibu Sonya ... ahhh ... andai ...!” gumam Mbak Tini dalam hatinya yang terpesona melihat kegantengan sang sopir baru di rumah mewah itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 279 Antara Hidup dan Mati

    "Pompa lagi! Jangan sampai lepas!"Suara dokter bedah itu terdengar seperti guntur di telinga Cindy yang masih menempel di kaca ruang operasi. Di balik sana, pemandangan itu terasa seperti film bisu yang mengerikan. Tubuh Slamet melenting, jatuh, lalu diam. Garis di monitor itu masih lurus, mengeluarkan bunyi denging panjang yang seolah sedang menghitung mundur sisa napas terakhir sang supir pangkalan. Cindy sempat terhenti sejenak, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca yang buram oleh uap napasnya, menyadari betapa hancur penampilannya—kerudung yang miring dan mata yang bengkak—sebelum akhirnya kesadarannya ditarik kembali oleh hentakan alat pacu jantung untuk yang kelima kalinya."Mas Slamet... nggih, Mas... bangun..." gumam Cindy, suaranya kini hanya berupa bisikan kering.Tiba-tiba, bunyi beeeeep yang panjang itu terputus. Garis lurus itu bergejolak, membentuk satu bukit kecil, lalu satu lagi. Lemah, sangat lemah, tapi itu adalah tand

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 278 Fitnah yang Membara

    "Den Arya! Layar ponselnya! Jangan sampai Cindy lihat!"Suara Brian memecah keheningan koridor rumah sakit, nyaris menyerupai desisan ular yang terdesak. Arya tersentak, tangannya yang masih memegang botol air mineral yang sudah tidak dingin lagi mendadak kaku. Ia sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang merayap turun di dinding kaca ruang tunggu—sebuah distraksi psikologis yang tak relevan di tengah badai—sebelum matanya menangkap notifikasi video yang masuk serentak ke puluhan grup WhatsApp supir pangkalan."B-b-bajingan... mereka beneran sebarin itu sekarang?" Arya bergumam, suaranya parau, nyaris habis tertelan kegelisahan.Ia segera melangkah, nyaris berlari menuju Cindy yang masih terisak di lantai, mendekap koin seribu rupiah berdarah milik Slamet. Cindy tidak sadar bahwa ponselnya yang tergeletak di atas ubin putih dingin itu baru saja menyala, menampilkan cuplikan video hitam putih dengan kualitas rendah namun cukup jelas untuk me

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 277 Sumpah di Nisan

    "Mas, bangun! Jangan tinggalin aku di sini, Mas!"Jeritan Cindy membelah kesunyian area pemakaman yang baru saja ditinggalkan sebagian besar pelayat. Suaranya serak, pecah di udara yang lembap oleh sisa gerimis. Di depannya, tubuh Slamet melenting setiap kali kejut jantung dari alat defibrilator itu dihantamkan ke dadanya. Bunyi desis listrik berpadu dengan isak tangis yang tertahan dari Brian yang berdiri mematung. Slamet sempat terhenti dalam ketidaksadarannya—sebuah kilas balik tentang rasa permen karet yang ia kunyah saat pertama kali menginjakkan kaki di Marunda tiba-tiba melintas begitu saja—sebelum rasa sakit yang luar biasa kembali menyentak kesadarannya."Ritme jantung kembali! Cepat, dorong ke IGD Medistra!" teriak salah satu perawat.Ambulans itu menderu menjauh, meninggalkan jejak ban di atas rumput makam yang becek. Di belakangnya, pusara Pak Baskoro sudah tertutup tanah merah sempurna, menyisakan tumpukan bunga melati dan mawar yang mul

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 276 Pusara yang Menagih Janji

    "Mas Slamet! Angkat, Mas! Jangan bikin aku gila!"Suara Cindy yang melengking dari pelantang ponsel di atas lantai gudang yang berdebu itu terdengar seperti lonceng kematian yang beradu dengan deru napas Slamet yang kian pendek. Slamet terbatuk, cairan hangat berasa karat memenuhi rongga mulutnya, sementara pandangannya mulai digerogoti bintik-bintik hitam yang menari-nari. Ia sempat terhenti sejenak, menatap rembesan darah yang kian melebar di kemeja putihnya—kemeja yang harusnya ia pakai untuk mengantar Pak Baskoro ke peristirahatan terakhir—dan mendadak ia teringat bahwa ia belum membayar iuran kas pangkalan bulan ini. Distraksi konyol itu menghilang saat bayangan pria berjaket kulit—sang pengacara suruhan Sita—melangkah mendekat dengan kilatan logam di tangannya.Dor!Gema tembakan itu merobek kesunyian gudang, membuat kawanan burung gereja di atap seng terbang berhamburan."Ti-ti-tiarap, bajingan!" Suara serak Brian m

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 275 Pagi Yang Berdarah

    "Bajingan! Lihat ini, Met!"Suara Brian menggelegar di lorong rumah sakit yang biasanya sunyi senyap, memantul di antara dinding-dinding porselen yang dingin. Ia menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajah Slamet yang masih kuyu karena terjaga semalaman. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang menempel di kaca jendela besar ICU—sebuah distraksi kecil yang tak relevan—sebelum matanya menangkap barisan judul berita di portal media nasional yang baru saja meledak.Skandal Korupsi Miliaran Rupiah: Direksi Perusahaan Logistik Diduga Bangun Perusahaan Cangkang."Data kita tembus, Mas Brian?" tanya Slamet pelan, suaranya parau karena debu ruko semalam masih terasa menyumbat tenggorokannya. Ia meraba saku celananya, mencari koin seribu rupiah kesayangannya, meremasnya kuat-alih-alih membalas antusiasme Brian."Bukan cuma tembus, Met! Hancur lebur itu rencana konferensi pers pengacaranya Sita. Barusan intel pangkalan lapor, s

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 274 Konfrontasi di Kantor Bayangan

    "Gila! Lo beneran bawa map itu keluar lewat lorong tikus, Met?"Suara Brian meledak di tengah sunyinya ruko tua di pinggiran Jakarta Selatan yang mereka sulap menjadi kantor bayangan. Brian tidak menunggu jawaban; ia langsung merenggut map hitam dari tangan Slamet yang masih kotor oleh tanah taman Kemang. Slamet tidak langsung menyahut. Ia lebih memilih menjatuhkan bokongnya di kursi plastik, napasnya masih memburu, sementara jemarinya yang lecet tanpa sadar meraba saku jaket—mencari sensasi dingin koin seribu rupiah yang entah bagaimana terasa seperti jangkar kewarasannya saat ini. Di sudut ruangan, kipas angin berderit berisik, memutar udara pengap yang berbau debu dan kabel terbakar."Bukan cuma map, Bri. Di luar tadi ada empat orang, kayaknya suruhan pengacara Sita. Kalau Slamet nggak tahu celah pagar belakang, mungkin sekarang kita sudah dikeroyok di teras Kemang," Arya menimpali, suaranya parau. Ia menyandarkan punggungnya di tembok kusam, matanya terpejam

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 6 Suguhan Mbak Tini

    Mbak Tini tahu bahwa Arya sedang gugup, sehingga untuk menghilangkan kekakuan suasana di kamar itu, ia pun mengajak Arya untuk sejenak berbincang.“Di desa, Mas Arya sudah punya pacar belum?” Tiba-tiba Mbak Tini menanyakan hal yang sebenarnya sifatnya privasi. Arya agak kaget mendengarnya, namun ka

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 12 Gelora di Rumah Jessy

    Hari berikutnya tiba dengan cuaca yang cerah, dan kembali pukul 8 pagi, Arya sudah siap untuk melaksanakan tugas utamanya, mengantar Bu Sonya ke kantor. Ia telah terbiasa dengan rutinitas ini, dan setiap pagi, mobil mewah milik Bu Sonya sudah bersiap di depan rumah.Setelah Bu Sonya naik k

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 15 Akhirnya Jebol Juga

    Jessy kini dalam posisi agak terombang-ambing antara siap dan tidak siap menerima ‘terjangan’ yang sesaat lagi akan ia terima dari sang tunangan. Namun, deru nafsu terlalu besar membakar seluruh tubuh bugilnya saat ini dan itu dikarenakan dengan dahsyatnya rangsangan Dave kepada dirinya. Lagipula Je

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 9 Misteri Pak Jaka

    Hari kedua Arya mengantar Bu Sonya ke kantornya sebagai sopir pribadi sang majikan. Pagi yang hening dan cerah menyinari kota setelah hujan semalam.Arya, dengan setelan sopan dan rapi, sekali lagi memasuki kantor Bu Sonya. Kali ini, Arya kembali seperti biasa menunggu di luar ruang kerja saat sang

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status