MasukSeketika perempuan itu pun berlalu. Saat berbalik badan nampak sekali tubuh semok si perempuan tadi dengan baju kebaya rumahan dan rok batik yang ia pakai. Bentuk pinggulnya yang proporsional kembali membuat mata Arya terkesiap dan jakunnya naek turun melihatnya. Nampaknya perempuan montok itu seorang asisten rumah tangga di rumah mewah itu.
Tak lama kemudian si perempuan sudah kembali dengan membawa baki berisi segelas teh anget plus dua toples berisi kue nastar dan kue keju yang biasanya sering muncul di momen-momen lebaran.
“Ayo mas, monggo diminum dan dicicipi dulu kuenya!” ucap si perempuan tersenyum dengan sopan.
“Baik mbak, terima kasih mbak!” ucap Arya sambil mencoba menyeruput gelas yang berisi air teh hangat itu. Sementara wakktu sudah semakin sore mendekati pukul 18 sore yang artinya sebentar lagi azan magrib kan bergema.
“Gimana mas? rasanya teh buatan saya?” tanya si mbaknya.
“Wahhh...enak mbak...mbakkk....? ujar Arya sambil bermaksud menanyakan nama perempuan itu.
“Tini mas. Nama saya Surtini. Panggil saja mbak Tini!” ujar mbak Tini sambil tersenyum menyodorkan tangan kananya untuk berjabat tangan.
Mereka pun saling berjabatan tangan karena mbak Tini tau kalo Arya ini akan menjadi bagian dari rumah itu ke depannya jika memang benar nantinya jadi bekerja sebagai sopir untuk ibu Sonya.
“Trima kasih atas teh manisnya. Enak mbak Tini!” ujar Arya lagi yang kali ini dengan nada yang lebih lepas karena mencoba lebih akrab dari sebelumnya. Karena Arya pun tau kalo ia jadi bekerja disitu akan sering bercengkerama dengan mbak Tini dan juga pak Dirman tadi.
“Syukurah kalo mas Arya suka. Ayo mas Arya dicoba juga donk dengan kue-kuenya. Itu aku bikin sendiri loh mas!” pinta mbak Tini sambil membuka kedua penutup toples itu untuk mempersilakan Arya mencicipi kedua kue itu. Arya pun menurut dan mengambil masing-masing satu kue baik kue nastar maupun kue keju.
“Hmmm...enak banget mbak. Wah mbak Tini ini kayaknya memang jago bikin minuman dan makanan!’ ujar Arya sambil mengunyah kedua kue tersebut.
Terlihat mbak Tini tertawa kecil dan merasa puas dengan ucapan Arya tadi.
“Syukurlah kalo mas Arya suka!”
Baru saja mbak Tini selesai berucap tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atas tangga yang mengarah turun ke bawah.
“Tak tok tak tok tak tok!” ternyata itu bunyi suara sepatu sandal dari ibu Sonya.
Seketika mbak Tini pun memberitahukan Arya kalo yang sedang berjalan dari tangga atas itu adalah ibu Sonya.
“Tiniiii....sudah kamu sediakan tamu kita minuman dan makanan?” teriak suara perempuan cantik yag sedang berjalan turun di tangga lebar itu.
Arya pun mendongak ke atas matanya tertuju ke arah suara perempuan tadi. Nampaklah di pandangan Arya yang bikin Arya takjub karena ibu Sonya yang ia sempat lihat di akun instagramnya itu ternyata jauh lebih cantik aslinya saat Arya melihat langsung.
Perempuan yang bernama Sonya itu berkisar umur 40 tahun berkulit putih bening dan bertubuh sintal berbalut baju tidur dengan rambutnya ditutupi handuk yang melibat kepalanya. Wajahnya sangat mirip dengan bintang film India Kareena Kapoor yang cantik dan seksi. Bibir ibu Sonya terlihat tebal dan matanya besar. Ia saat itu memakai baju tidur berbahan handuk halus dengan bagian atas baju tidurnya agak terbuka sehingga dada putih bagian atasnya agak terlihat sangat bening dan mulus. Sangat terlihat kalo ibu Sonya itu rajin perawatan tubuh.
“Wah ibu Sonya abis mandi ya bu?” ujar mbak Tini yang tetap saja ikut terpesona melihat sang majikan padal ia telah bertahun-tahun bekerja di rumah itu, namun tetap saja mbak Tini sangat mengagumi kecantikan sang majikan.
“Ya mbak, aku cukup kecapean kemarin pulang larut malam sehingga seharian tadi ketiduran cukup lama dan baru tadi baru sempat mandi!” balas sang majikan.
“Sekarang mbak Tini boleh pergi dari sini. Saya mo interogasi dulu ini anak!” sambil melirik Arya dengan pandangan yang dingin.
“Baik bu!” ujar mbak Tini sambil menatap sebentar ke wajah Arya yang dalam hatinya mbak Tini bergumam kalo menurutnya Arya terlalu ganteng untuk menjadi Supir karena melihat perawakan Arya yang putih bersih berwajah tampan dengan hidung mancung rambut cepak seperti tentara nampak seperti sosok artis Adjie Massaid. Bibir Arya juga terlihats seksi untuk ukuran seorang laki-laki.
Setelah mbak Tini berlalu pergi dari ruang tengah itu. Ibu Sonya yang tadi masih berdiri akhirnya duduk di hadapan Arya dengan posisi kaki yang satu memangku kaki yang lain sehingga baju bagian bawah baju tidur itu lumayan tersingkap sehingga bagian betis dan paha mulus dan putih milik Ibu Sonya terpampang dengan indahnya. Mata Arya terbelalak melihat kemulusan dan kemolekan tubuh bakal majikannya itu.
“Hei..kenapa kamu bengong liat aku kayak begitu?” tanya ibu Sonya membuyarkan lamunan Arya.
“Owhhh...ma..maaf bu!” ucap Arya agak gelagapan karena ibu Sonya tadi nada suaranya agak membentak dan nadanya tedengar tinggi terkesan orang yang sedang marah. Dalam hati Arya bergumam, “Waduh, meski cantik gini kayaknya ibu Sonya galak juga ini!”
“Sekarang aku mo tanya tentang kamu Arya! Benarkah kamu yang DM aku kemarin ini di I*******m?”
“Ya benar, itu saya bu!”
“Hemm...aku liat-liat seharusnya kamu lebih cocok jadi model, bukan sopir!” ucap ibu Sonya dengan wajah datar tapi sambi menatap tajam ke wajah Arya.
Arya tak berani menjawab uacapan ibu Sonya itu.
“Kamu umur berapa sekarang?”
“25 Tahun bu!”
“Sudah menikah?”
“belum bu!”
“Pacar?” selidik ibu Sonya
Arya agak lama untuk berpikir menjawab pertanyaan bertubi-tubi ibu sonya itu.
Pulang dari kantor dengan perasaan yang masih terasa tegang setelah rapat evaluasi, Bu Sonya merasa bahwa dirinya dan timnya membutuhkan waktu untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas kerja yang menguras energi. Dia punya ide untuk menginap semalam di Putri Duyung Resort di Ancol, tempat yang menawarkan suasana pantai yang indah dan sejuk.Akhirnya sesuai janjian sebelumnya malam itu Arya membawa laju mobil sang majikan menuju arah utara Jakarta yaitu kawasan Ancol. Tiba di resort, mereka berdua, Bu Sonya dan Cindy, merasakan hembusan angin laut yang menyegarkan saat mereka memasuki lobby. Mereka memesan tiga kamar, satu untuk Bu Sonya dan Cindy, satu lagi untuk Jodi, pacar Cindy yang juga bekerja di kantor Bu Sonya, dan yang terakhir untuk Arya.Setelah mengambil kunci kamar mereka, mereka berpisah untuk menuju ke kamar masing-masing dan bersiap untuk refreshing. Bu Sonya membuka pintu kamar dengan perasaan harap-harap cemas tentang apa yang menantinya. Namun, ket
Hari itu, suasana di kantor Sonya Fast terasa berbeda. Para kepala unit cabang dan manajer berkumpul di ruang rapat yang besar, menunggu kehadiran Bu Sonya. Arya berada di luar ruang rapat, tetapi ia bisa merasakan ketegangan di udara. Ia tahu bahwa rapat kali ini adalah rapat evaluasi yang penting.Setelah beberapa saat, pintu ruang rapat terbuka, dan Bu Sonya masuk dengan langkah mantap yang didampingi oleh sang sekretaris canntiknya yang keturuna Belanda yaitu Cindy dengan tampilan menawan serta sekisnya. Pada saat itu, semua mata tertuju pada kedua wanita tersebut. Lalu, dalam balutan pakaian bisnis yang elegan, Bu Sonya tampak sebagai sosok yang penuh wibawa."Apa kabar, semua?" sapa Bu Sonya dengan suara yang tenang namun tegas."Baik, Bu Sonya," jawab para peserta rapat dengan serempak.Bu Sonya duduk di ujung meja, mengambil posisi sebagai pemimpin rapat. Sementara, di sebelahnya sang sekretaris sibuk mencatat semua hal yang perlu ia catat sebagai
Bu Sonya melangkah kembali ke dalam kamarnya namun ia sepertinya ia sengaja tidak menutup pintu kamarnya itu agar Arya sang sopir pribadinya itu bisa melihat aktivitasnya. Dalam hatinya Bu Sonya memang ingin menguji sejauh mana kekuatan hati Arya kala ia melihat bagaimana Sonya mencobai baju daleman yang baru saja ia beli di mal mewah tadi.Sementara disisi lain Arya masih berdegup-degup jantungnya menunggu apa yang akan dilakukan sang majikan di kamarnya itu. Jantung Arya makin berdegup kencang dan jakunnya turun naek karena kini ia mellihat dengan sangat jelas bagaimana bu Sonya membuka baju daleman yang disebut lingerie itu di hadapannya. Mata Arya kali ini benar-benar terbelalak karena baru sekali ini ia melihat langsung bagaimana bu Sonya berganti baju daleman di hadapannya. Posisi bu Sonya saat itu sedang menghadap ke arah kaca lemarinya yang berukuran besar di dalam kamarnya yang mewah itu. Sehingga Arya menatap tubuh indah sang majikan dari arah belakang
Setelah menunggu cukup lama, Sore itu, sekitar pukul 16, setelah Arya mengantar pulang Bu Sonya dari kantornya, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Arya. Ia membaca pesan tersebut dengan seksama. Ternyata, pesan itu berasal dari Bu Sonya. Dalam pesan tersebut, Bu Sonya memintanya untuk bersiap-siap karena mereka akan pergi ke sebuah mal mewah di Jakarta untuk membeli beberapa pakaian dalam buat bu Sonya sendiri.Dengan cepat, Arya menyiapkan mobilnya dan menjemput Bu Sonya di depan rumahnya. Bu Sonya keluar dengan pakaian yang kembali begitu rapi dan anggun serta cukup memperlihatkan lekuk tubuh indahnya itu yang tinggi semampai. Agak berbeda dengan sang adik, Jesy yang lebih pendek dibanding bu Sonya meski Jesy pun juga berwajah cantik dan mulus kulitnya.Perjalanan menuju mal mewah itu berlangsung dalam suasana yang nyaman. Kali ini, mereka tidak terlibat dalam percakapan panjang, karena Bu Sonya tampaknya sedang sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri. Arya fokus
Arya pun menunggu di depan pintu rumah mewah milik Jessy. Ia merasa agak canggung dan tegang karena tadi ia sempat cukup lama mengintip aktivitas hot sang tuan rumah dengan tunangannya itu baik di kolam renang maupun di dalam rumah Jessy. Namun Arya juga sekaligus lega karena akhirnya bisa juga menjalankan tugas yang diberikan oleh bosnya yang terkenal galak, Bu Sonya. Tugas itu adalah mengantarkan kue istimewa untuk Jessy, adik Bu Sonya, yang pesanannya diberikan saat tadi pagi sedang mengantar bu Sonya menuju kantornya.Arya mencoba menjaga ketenangan dan profesionalismenya. Ia tahu bahwa tugas ini adalah tanggung jawabnya sebagai sopir pribadi Bu Sonya, dan ia harus melakukannya dengan baik. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa cemas mulai mengganggu pikirannya. Ia bertanya-tanya apakah pesanan ini akan benar-benar disambut dengan baik oleh Jessy dan apakah semuanya akan berjalan lancar.Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pintu rumah itu terbuka perlahan, da
Jessy kini dalam posisi agak terombang-ambing antara siap dan tidak siap menerima ‘terjangan’ yang sesaat lagi akan ia terima dari sang tunangan. Namun, deru nafsu terlalu besar membakar seluruh tubuh bugilnya saat ini dan itu dikarenakan dengan dahsyatnya rangsangan Dave kepada dirinya. Lagipula Jessy merasa yakin bahwa Dave akan bertanggung jawab dengan tetap menikahinya segara sesuai jadwal yang sudah mereka tetapkan sebelumnya.Dave yang kini sudah ikut bugil pun seketika sudah menindih tubuh Jessy dan mengajak untuk berciuman lagi. Setelah berciuman saat yang mendebarkan bagi Jessy pun akhirnya datang. Dilihatnya Dave sedang mecoba mengarahkan kepala timunnya ke pintu lubang Jessy. Dan saking takutnya, Jessy pun masih mencoba untuk mengingatkan sang kekasih untuk tidak terlalu buru-buru.“Dave....pelan-pelan yahhhh!” Ucap Jessy sambil menatap lelaki pujaannya itu.“Iya sayang, mungkin awalnya agak sakit, tapi selanjutnya kamu a







