Home / Male Adult / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 196 Perisai di Balik Kegelapan

Share

Bab 196 Perisai di Balik Kegelapan

Author: Irbapiko
last update publish date: 2026-02-24 08:00:27

Malam di Jakarta kembali diguyur hujan deras, menciptakan tirai air yang membatasi pandangan. Di rumah Kemang, suasana terasa jauh lebih hangat. Brian sedang duduk di sisi tempat tidur, membantu Jessy yang baru saja terbangun karena rasa lapar yang tiba-tiba melanda di tengah malam. Gejala morning sickness yang dialami Jessy mulai bergeser menjadi nafsu makan yang aneh dan mendadak.

"Mas... aku pengen bubur ayam, tapi yang gerobakannya biasa lewat di depan pangkalan angkotmu d

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 282 Penyatuan Jiwa dan Raga

    "Mas... ahh, jangan berhenti... terusss, Mas!"Desahan Sonya pecah di antara keheningan kamar utama Rumah Kemang, beradu dengan suara deru AC yang seolah tak mampu mendinginkan suhu tubuh mereka yang kian memuncak. Arya tidak menyahut dengan kata-kata; ia hanya merespons dengan dorongan yang lebih dalam, lebih bertenaga. Keringat bercucuran dari keningnya, menetes jatuh ke dada Sonya yang membusung, menciptakan kilap gairah di bawah temaram lampu tidur yang sengaja diredupkan. Arya sempat terhenti sejenak, menatap bayangan sebuah vas bunga di sudut ruangan yang tampak ganjil terkena cahaya—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat saraf yang terlalu tegang—sebelum akhirnya ia kembali memacu gerakannya, menenggelamkan diri dalam kehangatan liang intim istrinya yang menjepitnya dengan begitu nikmat."Kamuuu... kamu milikku, Nya. Cuma milikkuuu," bisik Arya parau, suaranya berat oleh gairah yang meluap.Sonya tidak menjawab, ia hanya menjerit kecil

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 281 Malam Bergairah di Kemang

    "Mas... Anya sudah lelap?"Suara Sonya nyaris berupa bisikan yang tertelan oleh tebalnya pintu jati kamar mereka. Di luar sana, lorong lantai atas rumah Kemang itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan dengung halus dari mesin pendingin ruangan. Babysitter baru saja membawa Anya ke kamar sebelah setelah sesi dongeng singkat yang berakhir dengan dengkur halus sang balita. Arya tidak segera menyahut. Ia justru memutar kunci pintu dengan gerakan perlahan, bunyi klik logam yang beradu terasa begitu final, memutus koneksi mereka dengan dunia luar. Ia sempat terhenti sejenak, menatap bayangan lampu taman yang menembus celah gorden—sebuah distraksi psikologis yang tak relevan—memikirkan apakah Pak Dirman sudah mengunci garasi bawah, sebelum akhirnya seluruh fokusnya tersedot pada sosok wanita di depannya.Sonya berdiri mematung di tepi ranjang. Ia masih mengenakan gaun terusan hitam sisa acara kantor tadi siang. Bahunya tampak layu, dan dalam tem

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 280 Badai di Meja Hijau

    Gelas berisi kopi hitam di meja kerja jati itu sudah tidak lagi mengeluarkan uap, menyisakan noda melingkar yang mengering di atas tumpukan berkas laporan keuangan. Arya menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran mendiang mertuanya, menatap keluar jendela kaca besar yang menghadap langsung ke riuhnya jalanan Kemang. Ia sempat terhenti sejenak, meraba sandaran tangan kursi yang kulitnya terasa dingin—sebuah pengingat bahwa sosok Macan yang biasanya duduk di sini kini telah beristirahat di bawah tanah merah. Distraksi itu pecah saat pintu jati ruang kerja terbuka dengan dentuman pelan."Mas Arya, pengacara dari pihak Sita sudah di depan. Mereka bawa surat dari pengadilan," suara Sonya terdengar datar, namun Arya bisa melihat jemari istrinya yang gemetar saat memegang gagang pintu.Arya bangkit, melangkah menghampiri Sonya. Ia tidak langsung menjawab, melainkan merengkuh bahu istrinya, memberikan remasan pelan yang sarat akan dukungan. "Tenang, Nya. Mereka cuma mau

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 279 Antara Hidup dan Mati

    "Pompa lagi! Jangan sampai lepas!"Suara dokter bedah itu terdengar seperti guntur di telinga Cindy yang masih menempel di kaca ruang operasi. Di balik sana, pemandangan itu terasa seperti film bisu yang mengerikan. Tubuh Slamet melenting, jatuh, lalu diam. Garis di monitor itu masih lurus, mengeluarkan bunyi denging panjang yang seolah sedang menghitung mundur sisa napas terakhir sang supir pangkalan. Cindy sempat terhenti sejenak, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca yang buram oleh uap napasnya, menyadari betapa hancur penampilannya—kerudung yang miring dan mata yang bengkak—sebelum akhirnya kesadarannya ditarik kembali oleh hentakan alat pacu jantung untuk yang kelima kalinya."Mas Slamet... nggih, Mas... bangun..." gumam Cindy, suaranya kini hanya berupa bisikan kering.Tiba-tiba, bunyi beeeeep yang panjang itu terputus. Garis lurus itu bergejolak, membentuk satu bukit kecil, lalu satu lagi. Lemah, sangat lemah, tapi itu adalah tand

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 278 Fitnah yang Membara

    "Den Arya! Layar ponselnya! Jangan sampai Cindy lihat!"Suara Brian memecah keheningan koridor rumah sakit, nyaris menyerupai desisan ular yang terdesak. Arya tersentak, tangannya yang masih memegang botol air mineral yang sudah tidak dingin lagi mendadak kaku. Ia sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang merayap turun di dinding kaca ruang tunggu—sebuah distraksi psikologis yang tak relevan di tengah badai—sebelum matanya menangkap notifikasi video yang masuk serentak ke puluhan grup WhatsApp supir pangkalan."B-b-bajingan... mereka beneran sebarin itu sekarang?" Arya bergumam, suaranya parau, nyaris habis tertelan kegelisahan.Ia segera melangkah, nyaris berlari menuju Cindy yang masih terisak di lantai, mendekap koin seribu rupiah berdarah milik Slamet. Cindy tidak sadar bahwa ponselnya yang tergeletak di atas ubin putih dingin itu baru saja menyala, menampilkan cuplikan video hitam putih dengan kualitas rendah namun cukup jelas untuk me

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 277 Sumpah di Nisan

    "Mas, bangun! Jangan tinggalin aku di sini, Mas!"Jeritan Cindy membelah kesunyian area pemakaman yang baru saja ditinggalkan sebagian besar pelayat. Suaranya serak, pecah di udara yang lembap oleh sisa gerimis. Di depannya, tubuh Slamet melenting setiap kali kejut jantung dari alat defibrilator itu dihantamkan ke dadanya. Bunyi desis listrik berpadu dengan isak tangis yang tertahan dari Brian yang berdiri mematung. Slamet sempat terhenti dalam ketidaksadarannya—sebuah kilas balik tentang rasa permen karet yang ia kunyah saat pertama kali menginjakkan kaki di Marunda tiba-tiba melintas begitu saja—sebelum rasa sakit yang luar biasa kembali menyentak kesadarannya."Ritme jantung kembali! Cepat, dorong ke IGD Medistra!" teriak salah satu perawat.Ambulans itu menderu menjauh, meninggalkan jejak ban di atas rumput makam yang becek. Di belakangnya, pusara Pak Baskoro sudah tertutup tanah merah sempurna, menyisakan tumpukan bunga melati dan mawar yang mul

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 28 Asmara Sebelum Sita Pulang

    Arya dan Sita masih terengah-engah nafasnya sambil tiduran terlentang bersebelahan di ranjang kamar penginapan Sita.“Terima kasih mas Arya, hari ini aku kembali merasakan nikmat tak terkira!” ucap Sita sambil membelai wajah Arya yang masih berpeluh keringat di keningnya.

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 18 Ujian dari Bu Sonya

    Bu Sonya melangkah kembali ke dalam kamarnya namun ia sepertinya ia sengaja tidak menutup pintu kamarnya itu agar Arya sang sopir pribadinya itu bisa melihat aktivitasnya. Dalam hatinya Bu Sonya memang ingin menguji sejauh mana kekuatan hati Arya kala ia melihat bagaimana Sonya mencobai baju dale

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 16 Pesanan Kue Telah Sampai

    Arya pun menunggu di depan pintu rumah mewah milik Jessy. Ia merasa agak canggung dan tegang karena tadi ia sempat cukup lama mengintip aktivitas hot sang tuan rumah dengan tunangannya itu baik di kolam renang maupun di dalam rumah Jessy. Namun Arya juga sekaligus lega karena akhirnya bisa juga m

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 11 Kedatangan Jessy dan Tunangannya

    Mbak Tini pun bergegas menuju ruang dapur dan mendapat kabar dari Bu Sonya kalo sang adik, Jessy, akan datang ke rumah. Maka Mbak Tini segera mempersiapkan makan malam dan menu cemilan untuk menyambut tamu mereka malam itu.Akhirnya, pukul 20.45 malam, suasana di rumah Bu Sonya tiba-tiba menjadi ra

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status