MasukHari Minggu tiba, menandakan akhir dari liburan mereka di Bandung. Setelah mengepak barang dan melakukan proses check-out dari hotel, rombongan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Meskipun harus berpisah dengan Bandung yang indah, mereka berniat untuk menghabiskan hari terakhir ini dengan penuh kenangan.
Sebelum benar-benar meninggalkan Bandung, mereka membuat beberapa perhentian di pusat oleh-oleh. Mereka berbelanja dan mencari-cari barang unik sebagai kenang-kenangan dari liburan ini. Bu Sonya, Jessy, dan Cindy dengan ceria memilih souvenir yang mereka sukai, sementara Dave dan Jodi juga memilih beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Setelah berbelanja, rombongan bergerak menuju beberapa tempat wisata terakhir untuk berfoto. Mereka mampir di Gedung Sate, ikon kota Bandung yang terkenal, dan juga di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Setiap sudut kota ini memberikan mereka pemandangan yang indah untuk diabadikan dalam foto.
Di Gedung Sate, mereka berfoto dengan la
Hari Minggu tiba, menandakan akhir dari liburan mereka di Bandung. Setelah mengepak barang dan melakukan proses check-out dari hotel, rombongan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Meskipun harus berpisah dengan Bandung yang indah, mereka berniat untuk menghabiskan hari terakhir ini dengan penuh kenangan.Sebelum benar-benar meninggalkan Bandung, mereka membuat beberapa perhentian di pusat oleh-oleh. Mereka berbelanja dan mencari-cari barang unik sebagai kenang-kenangan dari liburan ini. Bu Sonya, Jessy, dan Cindy dengan ceria memilih souvenir yang mereka sukai, sementara Dave dan Jodi juga memilih beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang.Setelah berbelanja, rombongan bergerak menuju beberapa tempat wisata terakhir untuk berfoto. Mereka mampir di Gedung Sate, ikon kota Bandung yang terkenal, dan juga di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Setiap sudut kota ini memberikan mereka pemandangan yang indah untuk diabadikan dalam foto.Di Gedung Sate, mereka berfoto dengan la
Hari kedua di Bandung dimulai dengan semangat baru. Setelah sarapan bersama di penginapan, mereka semua merencanakan perjalanan untuk hari itu. Salah satu tujuan yang mereka pilih adalah pergi ke Sariater Subang untuk menikmati kolam air panas alami yang terkenal.Setelah perjalanan yang tidak begitu jauh, mereka akhirnya tiba di Sariater Subang. Udara segar dan pemandangan alam yang hijau langsung menyegarkan semangat mereka. Mereka segera menuju area kolam air panas yang terletak di tengah-tengah alam.Kolam air panas yang hangat dan alami segera membuat mereka merasa rileks. Mereka melepaskan penat dengan merendam tubuh mereka di air hangat yang menyegarkan. Tidak ada yang dapat menyamai sensasi kenyamanan dan kedamaian yang ditawarkan oleh alam di sekitar mereka.Sambil menikmati berendam, mereka saling bercerita dan tertawa. Arya mendengarkan dengan senang hati ketika mereka berbicara tentang berbagai hal, dari pengalaman lucu hingga rencana masa depan. Sem
Kegembiraan dan antisipasi untuk liburan ke Bandung sedikit terganggu saat kabar tak terduga datang. Di pagi hari sebelum mereka berangkat, Bu Sonya menerima kabar dari tetangga yang cukup mengkhawatirkan. Kabarnya, lingkungan perumahan mewah tempat tinggal Bu Sonya sedang menghadapi masalah keamanan yang cukup serius. Beberapa kejadian yang mencurigakan terjadi belakangan ini, dan ini membuat mereka menjadi sangat waspada.Berita ini segera disampaikan kepada semua anggota keluarga dan rencana pun harus diubah. Mbak Tini dan Pak Dirman, yang seharusnya ikut dalam liburan, memutuskan untuk tidak ikut mengingat situasi yang tidak aman di perumahan tersebut."Kami harus memprioritaskan keamanan," ujar Pak Dirman dengan suara serius. "Lagi pula, kami juga harus memastikan rumah ini tetap terjaga."Meskipun berat hati, keputusan ini diambil demi keamanan semua orang. Bu Sonya merasa prihatin, namun ia mengerti dan menghargai keputusan yang diambil oleh Mbak Tini dan
Hari berikutnya di malam hari, suasana di rumah Sonya Fast terasa berbeda. Lampu-lampu gemerlap tergantung di taman dan teras, menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan. Bu Sonya sibuk mempersiapkan semuanya dengan penuh semangat. Ia ingin mengadakan sebuah pesta kecil sebagai tanda terima kasih atas dukungan semua orang yang ada dalam hidupnya.Arya, yang baru saja selesai mengantar Bu Sonya pulang dari kantor, melihat persiapan itu dengan senyuman. Ia tahu bahwa Bu Sonya ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka yang dekat dengannya. Melihat Bu Sonya yang tegas dan serius di kantor, Arya merasa senang melihat sisi lain dari majikannya ini.Malam itu, rumah itu ramai dengan suara tawa dan obrolan hangat. Arya, Cindy, Jodi, Mbak Tini, dan Pak Dirman semua berkumpul di halaman rumah, menikmati makanan dan minuman yang telah disiapkan dengan baik oleh tim dapur.Bu Sonya melihat sekitar dan tersenyum bahagia. Ia bangga dengan tim yang ada di sekitarnya. Kemud
Malam itu, suasana di rumah Bu Sonya terasa tenang. Arya, sang sopir pribadi, tengah duduk di kamarnya yang terletak di lantai bawah. Ia merenung sejenak, memikirkan semua yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Pekerjaannya sebagai sopir pribadi Bu Sonya telah membawanya ke dalam dinamika perusahaan dan kehidupan keluarga Sonya Fast.Ponsel Arya tiba-tiba bergetar di atas meja. Ia mengambilnya dan melihat panggilan masuk dari Bu Sonya. Tanpa ragu, Arya menjawab panggilan tersebut."Halo, Bu Sonya?" sapanya."Ya, Arya. Bisakah kamu datang ke kamarku sebentar?" tanya Bu Sonya dengan suara lembut.Terdengar ragu di dalam suara Bu Sonya, yang agak tidak biasa. "Tentu, Bu Sonya. Saya akan datang."Arya memutus panggilan dan dengan hati-hati mendekati tangga yang mengarah ke lantai atas. Ia merasa sedikit penasaran, karena jarang sekali Bu Sonya memanggilnya dengan nada seperti itu. Ia naik ke lantai atas dan berjalan menuju pintu kamar Bu Sonya.Dengan perasaan harap-harap cemas
Dalam ruang rapat yang tenang, Bu Sonya duduk di ujung meja dengan pandangan serius. Cindy, Jodi, dan Arya duduk mengelilingi meja rapat. Ruangan itu penuh dengan kekhawatiran namun juga tekad untuk melawan rencana jahat yang telah terungkap."Dengan informasi yang telah Arya berikan, kita memiliki keuntungan untuk bisa menghadapi mereka," kata Bu Sonya dengan tegas. "Kita harus bertindak cepat dan cerdas."Cindy mengangguk setuju, "Kita tahu bahwa keempat orang itu sangat berbahaya dan mungkin memiliki sumber daya yang besar. Tapi kita tidak boleh takut. Kita punya tim yang kuat di sini."Jodi menambahkan, "Saya setuju. Kita harus merencanakan penjebakan yang bisa mengungkap rencana mereka."Arya yang duduk di sudut ruangan, merasa tegang namun juga bersemangat. Ia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk berkontribusi lebih dari sekadar sopir pribadi. "Saya punya ide," katanya.Bu Sonya menatapnya, "Katakan, Arya.""Apa kalau kita menciptakan situasi palsu yang membuat mereka percaya bah







