MasukDi dalam sel penjara yang suram, suasana begitu kelam dan hampa. Pak Jaka, Pak Hadi, serta kedua mantan kepala cabang keempat dan ketujuh, yang dulu pernah mengampanyekan rencana jahat untuk mengambil alih perusahaan Sonya Fast, kini merasakan pahitnya akibat dari tindakan mereka.
Pak Jaka merutuki saat-saat yang membawanya ke dalam sel ini. Ia menggertakkan gigi dan menatap lantai beton dingin dengan perasaan dendam yang membara. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa semua rencananya telah hancur, dan ia harus berurusan dengan hukuman penjara.
Sementara itu, Pak Hadi duduk di sudut sel, wajahnya penuh dengan keputusasaan. Ia menggelengkan kepala dengan perasaan menyesal. Pikirannya berputar-putar tentang bagaimana rencana jahat yang ia ikuti bersama dengan Pak Jaka berakhir dengan kegagalan besar dan penjara sebagai akibatnya.
Kedua mantan kepala cabang yang sebelumnya bekerja di bawah Sonya Fast juga merasakan beban yang sama. Mereka yang sebelumnya memilih unt
Udara di dalam villa mewah itu mendadak terasa lebih dingin daripada hembusan angin laut di luar. Arya berdiri mematung di dekat meja rias, jemarinya menggenggam sebuah kancing perak kecil yang berkilau tertimpa cahaya lampu. Matanya yang tajam, yang biasanya memancarkan kehangatan untuk Sonya, kini menyipit penuh selidik. Di hadapannya, Sonya masih berdiri mematung, tangannya yang memegang sisir tampak sedikit gemetar."Sonya, aku tanya sekali lagi," suara Arya rendah, namun setiap kata yang keluar terasa seperti hantaman godam. "Apa Dave masuk ke kamar ini tadi pagi saat aku ke kantor?"Sonya menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia teringat kejadian di dermaga—sentuhan Dave, desahan yang hampir lepas, dan bagaimana mereka hampir saja melewati batas. Namun, kancing itu? Bagaimana bisa ada di sini?"Ar... kamu bicara apa sih? Tadi pagi kan aku bilang Jessy pingsan. Mungkin D
Kabut tipis menyelimuti dermaga kayu yang menjorok ke arah laut selatan. Suara ombak yang tenang sesekali menghantam tiang-tiang pancang, menciptakan suasana sunyi yang mencekam namun intim. Sonya berjalan dengan langkah terburu-buru, gaun pantai tipisnya berkibar diterpa angin laut yang dingin. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena kelelahan, melainkan karena adrenalin yang dipacu oleh rasa takut dan gairah yang terlarang. Di depannya, siluet Dave tampak berdiri tegap, menanti seperti pemangsa yang sudah tahu mangsanya akan datang.Ponsel di saku gaunnya masih bergetar hebat. Nama "Arya" terus berkedip di layar. Sonya berhenti sejenak, menatap benda itu dengan perasaan kalut."Kenapa berhenti, Kak?" suara Dave memecah kesunyian. Ia tidak berbalik, namun ia tahu Sonya ada di sana. "Angkat saja kalau kamu takut. Tapi setelah itu, jangan harap kamu bisa merasakan sensasi yang aku tawarkan semalam."Sonya menelan ludah. Ia mematikan getaran ponselnya tanpa meng
Malam kedua di hotel pinggir pantai itu terasa jauh lebih gerah dibandingkan malam sebelumnya. Bukan karena suhu udara, melainkan karena uap gairah yang seolah merembes dari balik dinding-dinding villa mewah yang berjajar rapi menghadap cakrawala. Suara deburan ombak yang menghantam karang terdengar seperti irama yang memacu detak jantung para penghuninya. Di bawah naungan langit bertabur bintang, masing-masing pasangan kembali terjebak dalam pusaran birahi yang tak terelakkan, di mana dominasi para pria menjadi tema utama malam itu.Di villa utama, Arya baru saja menutup ponselnya dengan raut wajah yang sedikit tegang. Sebuah pesan singkat dari kantor pusat Sonya Fast mengabarkan adanya kendala mendesak pada sistem audit logistik yang harus segera ia tangani secara langsung besok pagi. Meskipun ia hanya perlu pergi sebentar dan berjanji akan kembali menjemput Sonya siang harinya, kabar itu justru memicu insting posesif di dalam diri Arya.
Fajar baru saja menyingsing di cakrawala pantai selatan, menyisakan semburat jingga yang memantul indah di permukaan air laut yang tenang. Udara pagi itu terasa sejuk namun menyimpan kelembapan yang membangkitkan gairah. Di dalam villa utama, Arya masih terlelap dengan napas yang teratur. Tubuhnya yang atletis tampak polos di balik selimut sutra yang berantakan, benar-benar kehabisan energi setelah semalaman suntuk memanjakan Sonya dengan gempuran cinta yang tiada henti. Begitu pula di villa sebelah, Jessy masih meringkuk dalam tidur lelapnya, tidak menyadari bahwa suaminya, Dave, sudah bangun dengan rencana yang berbeda.Dave melangkah keluar dari villa-nya dengan pakaian santai, namun matanya yang tajam langsung menangkap sosok wanita yang sedang berdiri di tepi pantai. Itu Sonya. Mengenakan gaun tidur tipis berwarna putih yang tertiup angin, memperlihatkan lekukan tubuhnya yang semakin berisi dan seksi karena kehamilan mudanya.Dave menyer
Pagi itu, suasana di gudang utama Sonya Fast seharusnya menjadi titik awal keberangkatan konvoi besar menuju jalur Sumatra. Truk-truk tronton sudah menderu, memanaskan mesin di bawah arahan Arya yang tampak sibuk memeriksa daftar logistik. Namun, sebuah dering telepon dari kantor pusat mengubah segalanya dalam sekejap."Halo, Sayang? Ada apa?" tanya Arya saat mengangkat telepon dari Sonya."Ar, batalkan pengiriman jalur Sumatra untuk hari ini. Aku baru saja mendapat laporan cuaca buruk dan kendala teknis di Pelabuhan Merak. Antrean feri membeludak dan ombak sedang tidak bersahabat. Aku tidak mau ambil risiko armada kita tertahan di sana atau, lebih buruk lagi, mengalami kecelakaan," suara Sonya terdengar tegas namun ada nada kelelahan di sana.Arya terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Baiklah kalau itu keputusanmu. Tapi semua barang sudah dimuat.""Biarkan saja di gudang yang terkunci rapat. Aku punya rencana lain. Kita semua butuh isti
Pagi itu, suasana di kantor pusat Sonya Fast tampak berjalan seperti biasa. Deru mesin truk yang keluar-masuk gerbang logistik terdengar bagaikan musik bagi telinga para pemegang saham. Di lantai atas, Sonya masih mempertahankan citranya sebagai bos yang galak dan tak tersentuh, sementara Arya kini duduk di sebuah ruangan strategis yang berdekatan dengan ruang utama—sebuah posisi penting yang diberikan Sonya bukan hanya karena status suami, melainkan karena kecakapan Arya dalam mengelola operasional lapangan yang keras.Namun, di kantin karyawan yang terletak di sudut gedung, Jodi sedang menyesap kopi hitamnya dengan tatapan mata yang tidak tenang. Ia baru saja selesai melakukan panggilan telepon singkat yang sangat rahasia. Bagi Jodi, pemandangan Arya yang kini dihormati banyak orang adalah racun bagi harga dirinya. Ia ingat betul saat Arya datang pertama kali sebagai sopir desa yang lugu. Sekarang, melihat pemuda Jogja itu mengenakan kemeja mahal dan memberi instruksi







