LOGINSuara denting kancing sutra yang bergesekan dengan marmer di luar pintu sirna ditelan keheningan korridor.
Di dalam ruangan, Sonya masih berdiri kaku di samping meja mahoni, memegangi dadanya yang naik turun tak beraturan.
Wajah Ratu Besi itu memerah padam, napasnya memburu halus karena kombinasi gairah dan rasa takut yang bercampur aduk.
Arya melangkah mendekat tanpa suara sedikit pun, matanya menatap tajam lekuk tubuh istrinya y
Mobil Alphard hitam meluncur mulus memasuki gerbang pagar besi tempa rumah mewah bernuansa modern tersebut.Lampu sorot taman menyala hangat, menyambut kepulangan pasangan petinggi Marunda Fast setelah seharian bertempur di kantor.Arya mematikan mesin kendaraan, berbelok cepat membukakan pintu belakang untuk majikan sekaligus istrinya.Sonya melangkah turun dengan anggun, meraih genggaman tangan kekar Arya sambil tersenyum sangat manis."Suasana rumah selalu jadi tempat terbaik untuk melepas penat ya, Mas," bisik Sonya melingkarkan tangannya di lengan Arya."Apalagi kalau ada si kecil yang sudah menunggu ayahnya pulang dari pangkalan," sahut Arya mengusap lembut jemari Sonya.Baru saja pintu utama rumah terbuka, suara langkah kaki kecil terdengar berlari kencang dari arah ruang keluarga."Papaaa! Mamaaa!" jerit Anya Baswira girang melomp
Puncak gairah panas di atas meja mahoni itu perlahan surut, menyisakan deru napas hangat yang berembus pelan.Sonya bersandar lemas di dada bidang Arya, menikmati detak jantung suaminya yang berdegup teratur.Ratu Besi Marunda Fast itu memejamkan mata rapat, membiarkan jemari kapalan Arya mengusap lembut rambutnya yang acak-acakan."Gimana rasanya diservis bekas supir di atas meja kerja sendiri, Bu Direktur?" bisik Arya terkekeh rendah."Kamu… kamu benar-benar bikin kakiku gemetar tak bisa berdiri, Mas," aku Sonya jujur bersuara parau."Tadi bilangnya mau mengaturku di rapat, tapi kenyataannya malah kamu yang merintih pasrah," goda Arya lagi.Sonya mencubit pelan pinggang berotot Arya, lalu menyembunyikan wajah mewahnya di leher sang suami."Malu tahu, Mas… Apalagi tadi Juna sempat memanggil dari luar pintu," bisik Sonya ber
Suara denting kancing sutra yang bergesekan dengan marmer di luar pintu sirna ditelan keheningan korridor.Di dalam ruangan, Sonya masih berdiri kaku di samping meja mahoni, memegangi dadanya yang naik turun tak beraturan.Wajah Ratu Besi itu memerah padam, napasnya memburu halus karena kombinasi gairah dan rasa takut yang bercampur aduk.Arya melangkah mendekat tanpa suara sedikit pun, matanya menatap tajam lekuk tubuh istrinya yang belum sepenuhnya rapi."Ma-Mas… Juna masih di luar, dia… dia menemukan kancing bajuku," bisik Sonya amat pelan hampir tak terdengar."Biar saja. Dia tidak punya kunci cadangan untuk menembus pintu jati ini," jawab Arya santai berbisik di telinga Sonya.Jemari kekar Arya kembali melingkar di pinggang mulus Sonya, menariknya rapat tanpa toleransi sedikit pun.Sonya tersentak kecil, meletakkan kedu
Permukaan meja kerja mahoni berukuran raksasa itu terasa dingin menyentuh kulit punggung Sonya.Berkas laporan keuangan yang tersusun rapi bergeser berantakan saat Arya mendudukkan tubuh istrinya secara paksa.Sonya menengadah dengan napas memburu, menatap wujud suaminya yang berdiri tegap mengikis jarak di antara mereka."Mas… Ini meja kerja tempat aku memimpin puluhan pejabat konsorsium," bisik Sonya bergetar pasrah."Ju-justru di atas meja ini kamu harus ingat siapa pemilik mutlak dirimu, Sonya," balas Arya rendah menuntut.Arya menekan kedua bahu mulus Sonya, membuat sang Ratu Besi bersandar pasrah di atas tumpukan stofmap.Telapak tangan kapalan Arya merayap mantap dari lutut hingga menyingkap rok kerja Sonya ke atas pinggulnya."Hahhh… Mas Arya! Sentuhanmu selalu bikin aku kehilangan akal sehat," rintih Sonya menggelia
Pintu rahasia bernuansa kayu jati di balik lemari buku ruang kerja direktur tertutup rapat.Suara pendingin udara yang berhembus lembut tidak mampu mendinginkan suasana di dalam kamar privat VIP tersebut.Sonya berdiri menyandar pada pinggiran sofa kulit hitam yang empuk, menatap Arya dengan tatapan sayu membara.Ratu Besi Marunda Fast yang biasanya angkuh itu kini bernapas pendek, membiarkan jemari Arya mengusip leher mulusnya."Masih mau bertindak sebagai Direktur Utama di dalam kamar ini, Sonya?" bisik Arya dengan nada bass mengintimidasi."Ti-tidak, Mas… Di ruangan ini aku cuma majikanmu yang pasrah," jawab Sonya bergetar pelan.Arya tersenyum tipis, merangkul pinggang mulus Sonya lalu menariknya dalam satu sentakan kuat.Tubuh indah Sonya menempel rapat pada dada bidang Arya yang berbalut kemeja kerja ketat.
Cahaya matahari siang menembus kaca jendela ruang pengurus Yayasan Baskoro, memantul hangat di atas tumpukan dokumen audit sosial.Jessy menempelkan stempel verifikasi akhir pada berkas hibah, lalu menghela napas panjang penuh kelegaan."Semua proposal dana bantuan milik perusahaan Maya sudah dibatalkan total, Mas," ucap Jessy tersenyum lembut.Brian melangkah mendekati meja kerja istrinya, merangkul bahu Jessy dengan raut wajah penuh rasa syukur."Terima kasih sudah percaya padaku, Jess. Aku tidak akan membiarkan wanita mana pun merusak yayasan ini," balas Brian tulus."E-ehm… Maksudku, aku sempat cemburu berat saat melihat Maya menyodorkan cek itu kemarin," aku Jessy agak canggung.Brian tertawa pelan, mencium dahi istrinya dengan kasih sayang yang mendalam."Cemburumu itu tanda sayang, Jess. Tapi kamu tahu sendiri, hatiku cuma m







