MasukElena terbangun karena wajahnya terkena sinar matahari yang masuk melalui cela gorden, ia tampak sangat segar meskipun ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Elena terbangun karena suara tawa yang sangat keras dari lantai bawah."Itu seperti suara Papa Trustin," gumam Elena sambil tersenyum.Ia mencoba duduk, dan rasanya sedikit tidak nyaman di bagian bawah tubuhnya. Elena teringat kejadian semalam dan wajahnya langsung memerah padam. Aiden benar-benar tidak memberinya ampun meskipun ia sedang dalam masa pemulihan.Elena menoleh ke sisi lain ranjang, Aiden sudah tidak ada. ‘Kemana dia?’ batin Elena, tidak lama ia mendengar suara Aiden yang sedang berteriak di balkon kamarnya."APA?! SALAH UKURAN?! BAGAIMANA BISA VENDOR SEKELAS KALIAN SALAH MEMBACA DATA?! JAS ITU HARUS SIAP SORE INI ATAU AKU AKAN MEMBELI PERUSAHAAN KALIAN DAN MEMECAT SEMUANYA!"Elena tertawa kecil mendengar omelan suaminya. Aiden memang paling tidak bisa mentoleransi kesalahan kecil karena kelalaian, apalagi k
Denzel menyandarkan punggungnya, ia menoleh ke arah sofa di seberangnya. "Sepertinya kita menang, tapi kita juga kehilangan sesuatu."Aiden, Trustin, dan Aksa mengikuti arah pandangan Denzel. Di sana, di atas sofa panjang yang melingkar, keempat wanita mereka sudah jatuh tertidur karena kelelahan menunggu.Elena tampak meringkuk dengan kepala bersandar di bahu Audrey. Sarah tertidur di ujung sofa dengan bantal kecil, sementara Fiona menyandarkan kepalanya di meja makan kecil di dekat mereka. Wajah mereka tampak begitu damai di bawah cahaya lampu ruang tengah yang mulai redup.Aiden berdiri dan berjalan mendekati Elena. Ia menatap wajah istrinya yang cantik dengan tatapan yang sangat dalam. Hasrat yang tadi sempat membuncah di dalam dirinya kini bercampur dengan rasa haru yang luar biasa."Tidur di sofa seperti ini... Mereka pasti akan sakit leher besok pagi," bisik Aiden pelan.Trustin mendekati Sarah, ia mengusap pipi calon istrinya itu dengan penuh kasih sayang. "Dia pasti san
Denzel baru saja meletakkan ponselnya setelah memastikan seluruh tim keamanan luar sudah melapor. Ia menoleh ke arah ranjang, melihat Audrey yang sedang menepuk-nepuk pelan pantat Kenneth agar bayi itu terlelap. Denzel tersenyum tipis, ia mendekat dan mencium kening Audrey dengan penuh cinta. "Dia sudah tidur?" bisik Denzel. "Baru saja, Denzel. Jangan berisik, nanti dia bangun lagi," balas Audrey pelan. Denzel mengangguk, ia kemudian berjalan menuju meja kerjanya di sudut kamar untuk memeriksa beberapa laporan rutin melalui laptopnya sebelum ia benar-benar ikut berbaring di samping istrinya. Namun, begitu layar laptop menyala dan ia membuka portal bursa saham, kening Denzel berkerut tajam. "Sialan… Apa-apaan ini?!" desis Denzel. Audrey yang baru saja hendak memejamkan mata, langsung terduduk kembali. "Ada apa, Denzel? Kenapa wajahmu tiba-tiba tegang seperti itu?" "Saham Trustin Group, Audrey. Grafiknya terjun bebas dalam waktu tiga puluh menit terakhir. Ini bukan fluktuasi
Audrey duduk di atas karpet bulu diruang keluarga sambil menemani Kenneth yang sedang asyik bermain dengan mainan gantungnya. Di sofa, tumpukan katalog bunga dan kain sutra berserakan. Denzel masuk ke ruangan itu dengan wajah yang sedikit ditekuk. Ia langsung menghampiri Audrey dan duduk di samping istrinya, menyandarkan kepalanya di bahu Audrey seperti anak kecil yang merajuk. "Sayang, hentikan dulu mengurus bayi Kenneth. Perhatikan aku sebentar," keluh Denzel. Audrey menoleh sambil tersenyum geli. "Denzel, Kenneth baru saja bisa memegang mainannya sendiri. Lihatlah, dia sangat pintar." "Aku tahu dia pintar, dia anakku. Tapi aku lapar, dan aku ingin kamu menemaniku makan malam di balkon, hanya kita berdua," tuntut Denzel. Ia mulai menciumi bahu Audrey yang terbuka, mengabaikan Kenneth yang menatap Papanya dengan mata bulat yang bingung. "Denzel, jangan di depan anakmu! Dan lihat, ada Elena dan Aiden datang," bisik Audrey sambil mendorong wajah Denzel dengan lembut.
Malam harinya, suasana di dalam kamar medis terasa jauh lebih tenang namun dipenuhi ketegangan yang berbeda. Aiden baru saja selesai mandi, ia hanya mengenakan celana kain hitam tanpa atasan, membiarkan tato dan otot-otot tubuhnya terpampang jelas. Handuk kecil masih melingkar di lehernya saat ia melangkah mendekati ranjang tempat Elena bersandar membaca buku. Elena mendongak dan seketika merasa tenggorokannya kering. Penampilan Aiden selalu berhasil membuatnya terpesona, namun malam ini, aura pria itu terasa sangat mendominasi. Aiden merangkak naik ke atas ranjang, gerakannya seperti singa yang sedang mendekati mangsanya. Ia mengambil buku dari tangan Elena dan meletakkannya di meja nakas tanpa melepaskan tatapan mata. "Waktunya istirahat, Elena," gumamnya. "Aku belum mengantuk, Aiden," jawab Elena pelan, jantungnya mulai berdegup tidak keruan saat Aiden memposisikan diri di atas tubuhnya, menumpu berat badannya dengan kedua siku agar tidak menekan perut Elena yang masih ter
Aiden masih menggenggam tangan Elena dengan erat, membuat istrinya itu semakin penasaran. Ia memandang wajah pucat Elena yang memperhatikannya, menatap rahangnya tegas yang kini sedikit rileks. "Rencana apa, Aiden? Jangan membuatku penasaran.." Aiden memperbaiki posisi duduknya, menarik Elena agar semakin merapat ke tubuhnya. Ia tidak peduli pada keberadaan Denzel, Audrey, atau Papa kandungnya sendiri di ruangan itu. Baginya, pusat perhariannya saat ini hanya wanita di sampingnya. "Aku akan membawamu liburan, Elena. Begitu luka operasimu sembuh total dan dokter mengizinkan kamu melakukan perjalanan jauh, kita akan pergi dari sini," jawab Aiden dengan suara rendah yang dalam, penuh otoritas. Elena mengerjapkan mata. "Liburan? Ke mana?" "Ke resort pribadi di dermaga utara. Tempat itu jauh dari kebisingan kota, jauh dari jangkauan media, dan yang paling penting... Jauh dari jangkauan musuh-musuh kita. Proyek pembangunan di sana sudah hampir selesai, dan aku ingin memantaunya lang







