로그인Denzel dan Audrey sedang duduk diruang makan menikmati makan pagi bersama. Tapi suasana pagi itu terasa begitu bening sampai suara getaran ponsel Denzel diatas meja mengusik ketenangan mereka. Denzel melirik ke layar ponselnya, nama Aksa terlihat di sana. Ia meletakkan sendoknya, lalu menoleh ke arah Audrey sebelum menerima panggilan masuk itu. [Denzel, kami sudah dalam perjalanan kembali. Aiden sudah di mobil ku bersama Trustin. Tapi... Tadi sempat terjadi kekacauan besar. Tidak hanya mobil Stella dan pengawalnya yang ada di sana tadi, ada kelompok bersenjata lain yang mencoba menyerang, sepertinya mereka juga mengincar Aiden. Jadi tim terpaksa melemparkan bom rakitan agar bisa lolos,] lapor Aksa sambil terus melirik kearah spion tengah. Denzel mengerutkan kening, rahangnya mengeras. [Siapa mereka? Apakah orang-orang Stella juga?] [Bukan, Denzel. Mereka terlihat lebih profesional. Sepertinya keluarga Lorenzo Moretti yang tersisa atau musuh lama Tuan Shaquille. Aku sudah min
Pria itu memperhatikan Stella dengan tatapan iba. Tanpa diduga, ia meraih tangan Stella yang terluka, mengusap punggung tangannya dengan gerakan yang sangat lembut namun terasa menjijikkan bagi Stella. Pria itu mencium jemari Stella yang berlumuran darah, seperti bentuk penghormatan yang penuh dengan niat tersembunyi. "Namaku tidak penting. Tapi aku dan kamu mempunyai tujuan yang sama, menginginkan Aiden dan kehancuran keluarga Shaquille. Kita bisa bekerja sama untuk menghancurkan Denzel, memusnahkan Shaquille," kata pria itu. Suaranya terdengar sensual namun terasa begitu mematikan. Pria itu mendekat satu langkah kearah Stella. Tangannya yang besar melingkar di pinggang Stella, menopang tubuh wanita itu yang hampir ambruk. Sentuhan itu tidak memiliki kehangatan, hanya ada ketegangan yang mendebarkan. "Kamu menginginkan Aiden karena hartanya, bukan? Kamu ingin menjadi Nyonya Shaquille yang baru," pria itu berbisik tepat di telinga Stella, membuat bulu halua wanita itu meremang
Melihat Aiden dibawa pergi, Stella tampak panik. "Aiden! Jangan! Lepaskan dia!" jerit Stella sambil mencoba menahan tangan Aiden.Namun, sebuah moncong senjata dingin tiba-tiba menempel di kening Stella. "Diam atau otakmu berceceran di sini, Nyonya Stella," desis pria bermasker itu.Aiden ditarik menjauh dari mobil Stella di tengah kepulan asap granat yang dilemparkan begitunsaja. Di kejauhan, Aiden melihat sebuah mobil sedan hitam elegan berhenti. Kaca jendelanya turun perlahan, menampakkan sosok Trustin yang menatapnya dengan pandangan tajam yang mematikan."Selamat datang kembali, Aiden.. Sepertinya kita belum sempat berkenalan, tapi kita punya banyak waktu.." gumam Trustin dingin.Namun tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar suara tembakan balasan. Sepertinya, Stella tidak hanya membawa pengawal biasa. Ada pihak ketiga yang diam-diam mengikuti mereka dan kini mulai melepaskan tembakan liar ke arah orang-orang Denzel."Aksa! Ada penyusup lain! Lindungi Aiden!" teriak salah
Denzel menarik napas panjang setelah memutus sambungan teleponnya dengan Aiden. Amarah dan rasa muak masih terasa bergejolak di dadanya. Namun, saat ia berbalik hendak kembali ke tempat tidur, ia tertegun. Audrey sudah duduk bersandar di kepala ranjang, matanya menatap Denzel dengan tatapan yang sulit diartikan. "Siapa yang menelepon malam-malam begini, Denzel?" tanya Audrey pelan. Denzel terkejut, namun dengan cepat ia menguasai ekspresinya. Ia menghampiri Audrey, duduk di tepi ranjang lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Bukan siapa-siapa, sayang. Hanya urusan kantor. Tidurlah lagi." Audrey menggeleng perlahan, ia meraih tangan Denzel dan menggenggamnya erat. "Jangan bohong padaku, Denzel. Katakan apa yang terjadi. Aku mendengar kamu menyebut nama Aiden dengan nada marah. Ada apa? Apa Stella melakukan sesuatu padanya?" Denzel mendesah kalah. Ia tahu tidak bisa menyembunyikan ini dari Audrey. "Aiden menelepon. Dia disekap oleh Stella. Wanita gila itu ingin memaksanya
Pengawal itu memperhatikan wajah Aiden dengan tatapan tajam, ia terdiam cukup lama tanpa sepatah kata pun. Belum sempat ia bicara, Aiden kembali mengajukan sebuah permintaan. “Kalau kamu memang tidak bisa membawaku keluar dari sini, bolehkah aku pinjam ponselmu? Aku ingin menghubungi keluargaku..” Aiden melihat ke arah pengawal itu dengan tatapan memohon, “Tolonglah, aku akan minta perlindungan untukmu kalau kamu mau membantuku..” lanjut Aiden. “Pak Aiden, bukankah anda yang menginginkan nyonya Stella?!” pengawal itu mencoba mencari sebuah informasi dari Aiden. “Ya, sebelum aku menyadari dia perempuan gila!” geram Aiden. “Nyonya Stella sudah menyiapkan sebuah perjanjian dan rencana pernikahan dengan anda.. Selain itu, diluar sana.. Da yang sedang memantau ke arah sini..” Pengawal itu juga memberikan sebuah informasi yang tidak Aiden ketahui. “Siapa mereka?! Aku tidak ingin menikah dengan Stella.. Tolong, sambungkan aku dengan Keluarga ku..” pinta Aiden sekali lagi. “Baikla
Denzel kembali ke dalam kamar. Suasana kembali sunyi, namun entah kenapa hatinya tidak tenang. Ia kembali berbaring ke atas tempat tidur, menarik tubuh Audrey ke dalam pelukannya lagi.Audrey merasakan kehadiran suaminya, ia menggeliat dan membuka mata sedikit. "Denzel? Kamu dari mana?" suaranya serak, khas orang bangun tidur yang sangat seksi di telinga Denzel."Hanya memeriksa pekerjaan sebentar, baby. Maaf membangunkanmu," bisik Denzel. Ia mencium kening Audrey, lalu turun ke bibirnya dengan lembut, mencoba menghalau pikirannya yang mulai kacau. Audrey melingkarkan lengannya di leher Denzel, menariknya mendekat. "Kamu tampak tegang... Ada masalah?"Denzel tersenyum tipis, tangannya mulai merayap di balik pakaian tidur Audrey, mengusap kulit hangat istrinya yang masih sensitif dari adegan panas mereka beberapa jam lalu. "Hanya masalah kecil di kantor, sayang. Tapi melihatmu seperti ini... Keteganganku rasanya pindah ke tempat lain.. Dibawah sini..” Denzel menarik tangan Audrey







