LOGINKeesokan harinya, Santi tidak mampu menerima keputusan Krisna yang tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan mereka. Semalaman ia menangis, marah, dan merasa dipermainkan. Bagi Santi, semua janji yang pernah diucapkan Krisna seolah tidak berarti apa-apa. Karena itulah, pagi-pagi sekali ia memberanikan diri datang ke kantor Krisna.Begitu melihat Santi berdiri di depan ruangannya, Krisna langsung terkejut. Ia tahu perempuan itu sedang dikuasai emosi.“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Krisna dengan suara tertahan.“Aku mau bicara!” jawab Santi tajam. “Kemarin kamu bilang semuanya selesai. Setelah selama ini kamu memberikan harapan kepadaku, sekarang kamu begitu saja meninggalkanku?”Krisna menarik napas panjang. Ia melirik ke kanan dan kiri, khawatir percakapan mereka terdengar oleh rekan-rekan sekantornya.“Santi, jangan bicara di sini.”“Aku tidak peduli!” Santi membalas. “Kalau kamu mau meninggalkanku, aku juga bisa membuat semua orang tahu hubungan kita.”Wajah Krisna seketika berubah.
Malam itu, jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan ketika suara motor Krisna terdengar memasuki halaman rumah. Suara mesin yang biasanya tidak berarti apa-apa bagi Linda, malam itu justru membuat dadanya berdebar. Bukan karena rindu seperti dulu, melainkan karena amarah yang sejak sore sudah menumpuk di dalam kepalanya.Linda duduk di ruang tengah dengan ponsel berada di tangannya. Berkali-kali ia membuka bukti-bukti yang sudah dikumpulkannya. Percakapan, nomor telepon, dan informasi tentang Santi kembali berputar di pikirannya.Ia sudah terlalu lama menahan semuanya.Malam ini, ia tidak ingin lagi menjadi istri yang hanya diam dan menangis.Pintu rumah terbuka.Krisna masuk sambil membawa tas kerjanya. Wajah lelaki itu tampak lelah setelah seharian bekerja. Ia meletakkan tas di kursi, kemudian menatap Linda yang masih duduk tanpa bergerak.“Kok belum tidur?” tanyanya.Linda tidak menjawab.Krisna berjalan menuju kamar, tetapi baru beberapa langkah, suara Linda menghentikannya.“K
Siang menjelang sore, Rima dan Linda akhirnya tiba di tempat kos yang diyakini sebagai tempat tinggal Santi. Sejak perjalanan menuju lokasi, Linda lebih banyak diam. Wajahnya terlihat tegang, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.Ia masih menyimpan satu hal yang tidak diketahui Krisna. Nomor telepon Santi.Beberapa waktu sebelumnya, Linda sempat menemukan nomor tersebut di ponsel suaminya. Ia tidak langsung bertanya kepada Krisna. Linda justru mencatat dan menyimpannya diam-diam. Ia tahu, jika dirinya bertanya secara langsung, Krisna mungkin akan menghapus jejak atau memberikan alasan lain.Karena itu, Linda memilih mencari tahu sendiri setelah turun dari kendaraan dan mereka berjalan menuju bangunan kos tersebut.“Menurut informasi yang kita dapat, ini tempatnya,” kata Rima.Linda mengangguk seraya memperhatikan bangunan di sekitarnya. “Kalau benar dia tinggal di sini, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”Mereka kemudian bertanya kepada seseorang yang ber
Pagi itu, Santi duduk termenung di tepi tempat tidurnya. Sejak beberapa saat lalu, pikirannya dipenuhi kegelisahan setelah menerima kabar dari Rima. Perempuan itu tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan bahwa dirinya ingin menemui Santi.Santi tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa tidak memiliki masalah secara langsung dengan Rima, tetapi dari cara perempuan itu berbicara, ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang.Akhirnya, Santi mengambil ponselnya dan mencari nama Krisna. Panggilan tersambung setelah beberapa detik.“Hallo, Krisna…”“Ya, Sayang... Kenapa?” tanya Krisna.Suara Santi terdengar ragu-ragu. “Aku mau cerita sesuatu.”“Cerita apa?” tanya Krisna kembali.“Tadi Rima menghubungi aku,” adu Santi.Krisna yang semula terdengar santai mendadak terkejut bukan kepalang. “Rima?”“Iya.” Jawabnya pelan. “Wanita yang waktu itu ketemu di restoran.”“Rima yang itu? Mau apa dia bertemu kamu?” tanya Krisna di sambungan telepon.“Iya, Krisna. Dia bilang mau menemui aku dan dia juga m
Sesampai di kantor, Rima terdiam sesaat. Kemudian, Ia yang mendapat telepon dari Linda atas wanita yang beberapa minggu lalu ditemui, membuat hati Rima meradang. Terlebih waktu itu ia tidak langsung memberitahu sahabatnya perihal wanita lain yang jalan bersama suaminya. Ia ingin sekali menghubungi wanita bernama Santi yang di dengar dari Krisna saat memanggil wanita itu saat bertemu di restoran waktu itu.Rima menarik napas panjang. Ia tahu Linda sedang terluka. Sebagai sahabat, ia tidak tega membiarkan Linda menghadapi persoalan itu sendirian.Rima kemudian menghubungi beberapa orang yang mungkin memiliki informasi tentang Santi. Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya ia mendapatkan sebuah alamat yang diduga merupakan tempat tinggal Santi.Rima segera menelepon Linda.“Lin, aku dapat alamatnya,” Rima menginformasikan hal tersebut pada Linda.“Benarkah? Terima kasih Rima, aku sudah tidak sabar untuk mencari lon te itu!” seru Linda diujung telepon.“Tenang, aku akan ikut sama kamu un
Malam itu hujan baru saja berhenti ketika Krisna membuka pintu rumah dengan sangat perlahan. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Ia berdiri beberapa detik di ruang tamu, memastikan suasana rumah benar-benar tenang. Lampu kamar masih menyala redup. Krisna mengintip dan berjalan menuju kamar. tampak Linda, istrinya, sudah tertidur. Krisna menghela napas lega. Ia meletakkan tas kerjanya di kursi, melepas sepatu, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya sengaja dibuat pelan agar Linda tidak terbangun. Sesampainya di kamar mandi, Krisna mengunci pintu dan ia menatap dirinya sendiri di cermin. Wajahnya terlihat lelah usai melakukan pertempuran untuk meraih kenikmatan bersama Santi. Namun, seketika wajahnya panik Saat membuka pakaiannya. Ia melihat sebuah tanda merah di bagian dadanya. Krisna pun, membeku. "Astaga…” Ia menyentuh tanda itu dengan ujung jarinya. “Kenapa harus kelihatan seperti ini?” Ia mencoba menggosoknya dengan air dan sabun
Seminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya. “Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang m
Sementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir. “Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna
Saat kedua wanita itu telah saling melepaskan pelukan dan masih berada di kamar utama, Krisna kembali ke kamar. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya seraya berkata pada Linda tanpa memandang ke arah wanita cantik yang melihat gerak gerik sang suami. “Aku keluar dulu,ada urusan sampai malam!”
“Ternyata kamu disini?" tanya Krisna saat masuk ke dalam kamar putri keduanya setelah memanggil Tati di depan kamar asisten rumah tangga itu. Tati terdiam membisu dan wanita muda itu membeku dengan jantung berdetak cukup kencang. Karena hampir saja ia membongkar hal yang diketahui atas diri Krisn







