مشاركة

Galen Tak Lagi Menemui Yasmin
Galen Tak Lagi Menemui Yasmin
مؤلف: Sia

Bab 1

مؤلف: Sia
Tabib tua itu langsung berlutut dan berkata dengan enggan, "Yang Mulia Putra Mahkota, hamba benar-benar tidak sanggup melakukannya. Dulu, Nona Yasmin menemani Anda menjalani pengasingan sangat juah dan sejak saat itu tubuhnya sudah digerogoti berbagai penyakit. Jika darah dari jantungnya diambil, setelah sadar nanti dia pasti akan kesakitan luar biasa."

"Cukup!" potong Galen dengan suara tegas. Tatapan matanya dipenuhi hawa dingin yang menggetarkan. "Kalau kamu tidak sanggup melakukannya, biar aku yang melakukannya."

Dia merebut belati dari tangan tabib tanpa ragu sedikit pun, lalu menusukkannya ke dada Yasmin.

"Ugh."

Jari-jari orang di atas ranjang itu bergetar pelan, tetapi tidak seorang pun menyadarinya.

Darah segar mengalir keluar. Galen segera menampungnya dengan mangkuk giok. Setelah mangkuk itu penuh, dia langsung berbalik dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Tabib itu pun terhuyung-huyung mengikutinya. Pintu tertutup rapat, sementara suara langkah mereka perlahan menjauh.

Di atas ranjang, Yasmin perlahan membuka mata. Keringat dingin membasahi rambut di pelipisnya.

Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat agar erangan kesakitan tidak lolos.

Sakit, sangat sakit ....

Tidak seorang pun tahu bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak tertidur.

Satu jam sebelumnya, Galen membawakan semangkuk sari buah untuknya. Begitu meminumnya, Yasmin langsung merasa ada yang tidak beres dan memuntahkannya dengan susah payah. Namun, dia tidak menyangka bahwa ternyata minuman itu telah dicampur obat bius.

Semua itu hanya agar dia tertidur, sehingga darah dari jantungnya bisa diambil untuk menyelamatkan Naura Rahardjo?

Tangannya gemetar saat diangkat untuk menutupi luka mengerikan di dadanya. Darah masih merembes dari sela-sela jarinya, menodai pakaian tidurnya yang putih bersih.

Betapa konyolnya.

Tiga tahun lalu, Putra Mahkota Galen membuat murka kaisar dan dijatuhi hukuman pengasingan. Para pejabat di seluruh istana menghindarinya. Para putra bangsawan dan gadis bangsawan yang dulu selalu mengelilinginya kini menjauh seolah-olah dia ular berbisa. Bahkan tunangannya sejak kecil, Naura, memutuskan pertunangan mereka di depan umum karena takut ikut terseret olehnya.

Hanya Yasmin yang mengabaikan tentangan keluarganya dan bersikeras mengikutinya pergi!

Dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, ketika sekelompok bandit gunung menghadang, Yasminlah yang menggantikan Galen menerima sabetan pedang. Di tengah musim dingin yang membekukan, ketika mereka kekurangan makanan, Yasmin menghemat jatah makanannya dan memberikan semuanya kepada Galen. Ketika demam tinggi Galen tidak kunjung reda, Yasmin menyayat pergelangan tangannya sendiri dan menggunakan darahnya sebagai campuran untuk memberi Galen obat.

Yasmin pernah menemaninya makan nasi basi, tidur di tumpukan jerami, dan bertahan melewati perjalanan sangat juah dalam terpaan angin, hujan, salju, dan hawa dingin.

Namun, sekarang, setelah kembali menduduki posisi putra mahkota, hanya karena Naura berlutut di depan gerbang istana dan menangis menceritakan kesulitannya, hatinya langsung melunak. Bahkan Galen rela mengambil darah dari jantungnya demi menyelamatkan wanita itu!

Yasmin turun dari ranjang dengan langkah sempoyongan. Setiap langkah terasa seperti menginjak ujung pisau. Luka di dadanya terasa seperti terkoyak setiap kali bergerak, tetapi rasa sakit itu bahkan tidak seberapa dibandingkan dengan luka di hatinya.

Kamar Naura terang benderang. Melalui jendela yang setengah terbuka, dia melihat Galen dengan hati-hati menyuapkan semangkuk darah dari jantungnya ke Naura.

"Sakit." Naura memejamkan mata rapat-rapat, air mata menggenang di matanya. "Kak Galen, sakit sekali."

Tubuh Galen menegang. "Bertahanlah sebentar. Sebentar lagi selesai."

Setelah meminum semangkuk darah itu, Naura bersandar dalam pelukannya. Wajahnya memang tampak jauh lebih baik. Tidak lama kemudian, dia perlahan tersadar. Hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang mata Galen yang dipenuhi kekhawatiran.

"Kak Galen!" Tubuh Naura bergetar. Dia buru-buru meraih lengan bajunya. "Kamu sudah memaafkanku, bukan? Aku salah. Dulu, aku terlalu lemah dan tidak sanggup menjalani kesulitan. Tapi, aku menyesal. Sungguh, aku menyesal! Kalau kamu tidak menginginkanku, lebih baik aku mati saja!"

Setelah mengatakan itu, dia hendak membenturkan kepalanya ke dinding.

"Cukup!" Galen langsung menariknya, lalu menekan Naura ke atas ranjang dan menciumnya dengan kasar.

Itu bukan ciuman yang lembut, melainkan luapan kemarahan, penderitaan, dan ketidakberdayaan.

Galen menciumnya berulang kali, seolah ingin meleburkan seluruh dirinya ke dalam tulang dan darah Naura. Ketika kembali berbicara, suaranya menahan penderitaan yang tidak berujung. "Naura, kamu hanya mengandalkan rasa sukaku kepadamu."

"Aku masih menginginkanmu. Bagaimana mungkin aku tidak menginginkanmu? Kemarin, aku sudah meminta restu ayahanda agar kamu dan Yasmin menikah denganku pada hari yang sama dan masuk ke Istana Timur. Dia menjadi putri mahkota, sedangkan kamu menjadi selir sandingku."

"Selir sanding?" Mata Naura berkaca-kaca. "Kak Galen, kamu pernah berjanji akan bersamaku seumur hidup, hanya mencintai satu orang."

"Yasmin sudah terlalu banyak berkorban untukku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Kamu hanya perlu tahu bahwa satu-satunya orang yang kucintai di dalam hatiku adalah kamu!"

Setelah mengatakan itu, Galen memeluknya erat. Bibirnya yang tipis menyusuri tulang selangkanya.

Tatapan mata yang dipenuhi kasih sayang itu seolah hendak meluapkan seluruh cinta, kebencian, dan kerinduan yang terpendam selama tiga tahun terakhir.

Yasmin memandangi dua sosok yang berpelukan di balik kelambu. Luka di dadanya tiba-tiba terasa begitu sakit hingga dia membungkuk.

Dia menutupi dadanya. Darah menetes setetes demi setetes ke lantai, tetapi sesakit apa pun rasanya, tetap tidak sebanding dengan rasa sakit seperti ditusuk ribuan anak panah yang dirasakannya saat ini.

Galen, oh, Galen. Setelah menempuh perjalanan pengasingan begitu jauh, ternyata kamu tetap tidak mencintaiku.

Kalau begitu, aku, Yasmin, juga tidak harus menikah denganmu.

Mencintai seseorang dengan sepenuh hati selama sepuluh tahun, ternyata untuk melepaskannya hanya membutuhkan sesaat.

Yasmin berbalik pergi. Darah terus menetes sepanjang jalan, membentuk bunga-bunga merah yang indah sekaligus menyedihkan di sepanjang koridor.

Para pelayan istana yang ditemuinya ketakutan dan buru-buru menyingkir, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya dan terus berjalan menuju istana kaisar.

"Nona Yasmin?" Kasim penjaga pintu terkejut melihat tubuhnya berlumuran darah. "Apa yang terjadi pada Anda?"

"Hamba, Yasmin, memohon bertemu dengan kaisar. Ini menyangkut hubungan diplomatik kedua negara. Mohon segera sampaikan kepada kaisar!"

Tidak lama kemudian, pintu terbuka.

Di ruang kerja kaisar, kaisar memandang wanita yang berlutut di tengah ruangan dengan kening berkerut. "Yasmin, kamu ini ...."

Yasmin membenturkan kepalanya ke lantai dengan keras. "Hamba mendengar bahwa Beida meminta seorang putri bangsawan dari keluarga kerajaan untuk dinikahi. Hamba bersedia mengajukan diri untuk menjalani pernikahan politik ke Beida, agar perbatasan dapat menikmati kedamaian untuk selamanya!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 25

    Ketika padang rumput Beida menyambut salju musim semi yang kesepuluh, Yasmin melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan di dalam tenda berlapis emas.Barra menggenggam tangannya yang basah oleh keringat. Mendengar tangisan bayi yang baru lahir, matanya justru lebih merah daripada saat dia terluka di medan perang dulu.Barra memotong tali pusar bayi itu dengan tangannya sendiri, lalu menggendongnya yang dibungkus kulit cerpelai ke hadapan Yasmin. "Lihatlah putri kita. Dia sangat mirip denganmu."Mata Yasmin memancarkan kelembutan. "Kamu ini, baru melihatnya saja sudah pilih kasih kepada anak perempuan.""Siapa suruh putri kita lebih mirip denganmu!"Yasmin tertawa geli, tetapi tawanya membuat lukanya tertarik hingga dia mendesis pelan.Barra segera membungkuk dengan cemas. "Sakit? Tabib!""Barra, aku tidak apa-apa."Yasmin menggenggam tangan Barra, ujung jarinya mengusap kapalan di telapak tangannya. "Bagaimana dengan Nandu ... belakangan ini ada kabar?"Wajah Barra menggel

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 24

    Barra terkekeh pelan, jakunnya bergesekan dengan tulang selangka Yasmin."Tentu saja. Ini mata air spiritual. Katanya, air ini paling ampuh untuk meredakan pegal-pegal di pinggang."Tangannya bergeser ke pinggang belakang Yasmin, lalu memijatnya dengan lembut."Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu berguling-guling di tengah malam. Apa kamu terlalu lelah?"Di tengah kabut yang mengepul, daun telinga Yasmin perlahan memerah.Dia menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Barra dan berkata dengan suara teredam, "Bukankah itu gara-gara seseorang yang bersikeras harus memelukku saat tidur?""Kalau tidak memelukmu, bagaimana aku tahu kamu menendang selimut atau tidak?" Barra memegang wajahnya dan mengusap bibirnya dengan ibu jari. "Waktu itu, kamu sampai masuk angin dan batuk. Aku benar-benar ketakutan."Ketika ciumannya jatuh, kehangatan pemandian air panas masih terasa. Di antara ciuman yang lembut dan penuh kasih, Yasmin mendengar detak jantung Barra yang bergemuruh di dalam dadanya.Tiba-tib

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 23

    "Kalau begitu, biarkan negeri ini berganti penguasa." Suaranya begitu pelan, tetapi setiap katanya sedingin ujung es.Kenangan tiba-tiba membanjiri benaknya.Saat dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, Yasmin pernah menggendongnya menyeberangi sungai yang membeku. Sol sepatu kain kasarnya bergesekan dengan lapisan es, menimbulkan bunyi "krek-krek".Punggungnya yang kurus tertekan hingga melengkung seperti busur, tetapi masih terdengar napasnya yang terengah-engah disertai tawa."Asalkan Yang Mulia baik-baik saja."Kaisar terhuyung dan berpegangan pada sandaran takhta. Rasa amis darah membanjiri tenggorokannya, lalu dia memuntahkan seteguk darah ke lantai ubin batu giok hijau."Anak durhaka .... Kamu anak durhaka ...."Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh kaisar sudah terkulai lemas di atas takhta.Para kasim yang berjaga di luar pintu berbondong-bondong masuk. Galen menyaksikan para tabib istana dengan panik mengangkat tandu kekaisaran.Dia perlahan berdiri, ujung jubah h

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 22

    Selama masa pemulihan Barra, Galen berkali-kali meminta untuk bertemu dengan Yasmin, tetapi selalu ditolak.Baru sebulan kemudian, Yasmin bersedia menemuinya.Galen tampak jauh lebih kurus dan lesu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.Ketika melihat Yasmin bergandengan tangan dengan Barra yang telah pulih, secercah keputusasaan melintas di matanya."Bukan aku yang mengirim pembunuh itu," katanya dengan suara serak, "itu orang-orang dari Keluarga Rahardjo. Mereka membencimu. Tapi, ini juga salahku.""Aku tahu," Yasmin berkata dengan tenang, "Barra sudah menyelidikinya hingga tuntas. Naura sudah meninggal, jadi wajar mereka menyimpan dendam."Galen melangkah maju. "Yasmin, ikutlah denganku. Nandu membutuhkanmu, aku ... lebih membutuhkanmu."Barra mengernyitkan kening dan hendak berbicara, tetapi Yasmin mencubit lembut tangannya. "Biar aku yang mengurusnya."Dia berjalan ke hadapan Galen dengan ekspresi setenang air. "Yang Mulia Putra Mahkota, hubungan kita sudah lama berakhir.

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 21

    Yasmin mengeluarkan jarum perak, lalu kembali melakukan akupunktur untuk mengeluarkan racun dari tubuh Barra.Ini adalah metode yang dia kembangkan dengan menggabungkan ilmu pengobatan Nandu dan ilmu sihir Beida. Meski berbahaya, inilah satu-satunya harapan.Saat jarum perak menusuk titik akupunktur, tubuh Barra seketika bergetar hebat dan urat-urat di tubuhnya menegang.Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan terus menusukkan jarum, hingga tubuh Barra perlahan kembali tenang."Racun di dalam tubuh baginda raja sudah terlalu parah," ujar tabib sambil menghela napas, "kalaupun baginda raja sadar, takutnya juga ....""Diam!" bentak Yasmin dengan suara tegas, "dia pasti akan sembuh!"Saat malam makin larut dan suasana menjadi sunyi, Yasmin yang kelelahan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang untuk beristirahat sejenak.Tiba-tiba, dia merasakan jarinya disentuh lembut."Barra?" Dia segera mengangkat kepala dan berhadapan dengan sepasang mata berwarna amber yang begitu dikenalnya.Bar

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 20

    Keesokan paginya, perundingan perdagangan digelar di padang rumput di luar tenda raja.Yasmin mengenakan pakaian kebesaran Ratu Beida. Hiasan kepala emasnya berkilauan diterpa sinar matahari.Dia menggandeng lengan Barra dan berjalan perlahan menuju tenda tempat perundingan.Galen sudah menunggu di sana. Jubah brokat hitam yang dikenakannya membuat tubuhnya tampak makin kurus.Ketika melihat Yasmin dan Barra yang tampak begitu mesra, secercah kepedihan melintas di mata Galen, tetapi dia segera kembali tenang."Raja Beida." Dia mengangguk tipis, tetapi tatapannya justru tertuju kepada Yasmin. "Yasmin ... Ratu."Wajah Yasmin tetap tenang. "Yang Mulia Putra Mahkota telah menempuh perjalanan jauh, pasti sangat lelah."Perundingan berlangsung sangat lancar. Galen hampir selalu menyetujui semua persyaratan yang diajukan Barra.Saat tengah hari, mereka semua berpindah ke tempat jamuan di padang rumput untuk makan."Maukah Ratu berbicara denganku sebentar?" Galen tiba-tiba berbicara, matanya d

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status