LOGIN"Jonathan, kamu bisa antar saya ke luar? Saya merasa membosankan di sini," ucap Gea pelan kepada Jonathan."Kamu mau ke mana, Gea?""Saya mau ke taman rumah sakit saja, di sini begitu sesak.""Ayo kita ke sana.""Makasih."Sesampainya di taman rumah sakit yang sejuk dengan deretan pohon rindang, Gea justru hanya terdiam. Pandangannya kosong menerawang ke depan, terjebak dalam lamunannya sendiri.Melihat keheningan itu, Jonathan menggeser kursi roda Gea sedikit mendekat, lalu berjongkok di sampingnya."Maafin saya atas semua penderitaan ini," buka Jonathan, memecah kesunyian dengan suara sarat penyesalan.Gea menoleh perlahan, menatap mata pria di hadapannya yang tampak begitu lelah. "Ini bukan salah Anda, ini sudah menjadi takdir saya. Lagipula, saya sudah sering merasakan hal yang menyakitkan."Deg!Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Gea, namun sukses membuat dada Jonathan terasa sesak dan nyeri luar biasa. Rasa bersalah kembali mencengkeram hatinya.Namun, di ten
Jonathan menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam mata Gea yang masih dipenuhi kebingungan. Pria itu menggenggam tangan Gea lebih erat, seolah takut bayangan masa lalu akan merenggut wanita itu lagi darinya."Kamu ingat kejadian satu tahun lalu, sebelum kamu dipromosikan menjadi sekretaris pribadi saya?" tanya Jonathan memulai pengakuannya.Gea mengerjap, mencoba meraba ingatannya yang sempat terkoyak oleh trauma. "Satu tahun lalu...? Waktu saya dipindahkan ke lantai utama?""Ya. Saat itu, saya pikir saya jatuh cinta pada wanita yang selalu menatap saya malu-malu setiap kali mengantar laporan ke ruang kerja saya," ucap Jonathan dengan nada suara yang bergetar pelan. "Wanita itu selalu tahu persis kopi apa yang saya suka, tahu bagaimana cara menenangkan saya saat emosi saya meledak di kantor. Saya pikir... wanita itu adalah kamu, Gea."Gea tertegun, dadanya bergemuruh hebat. "Tapi... itu tidak mungkin. Saya tidak pernah sengaja melakukan itu semua. Saya hanya mengerjakan t
Hening kembali menguasai ruangan itu, hanya menyisakan bunyi bip statis dari monitor jantung yang seolah mengejek keputusasaan Jonathan. Namun, tepat saat Jonathan hendak melepaskan genggamannya untuk membasuh wajah, ia merasakan sesuatu.Sesuatu yang sangat halus. Hampir tidak terasa.Ujung jari manis Gea bergerak sedikit—sebuah kedutan kecil yang nyaris tak kasat mata—menyentuh telapak tangan Jonathan.Jonathan membeku. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. "Gea?" bisiknya, nyaris tak terdengar. "Gea, kamu dengar saya?"Ia tidak berani berkedip. Matanya terpaku pada kelopak mata Gea yang mulai bergetar hebat. Di layar monitor, grafik aktivitas otak yang tadinya landai mulai menunjukkan lonjakan-lonjakan tajam. Suara alarm alat medis mulai berbunyi nyaring, menandakan adanya perubahan mendadak pada ritme tubuh pasien."Dokter! Dr. Sanjaya!" teriak Jonathan tanpa melepaskan tangan Gea.Dr. Sanjaya yang baru saja mencapai pintu segera berlari kembali
BRENGSEK! LEPASIN GUE SIALAN!" Raungan Selly memecah kesunyian lorong, suaranya serak karena terus memberontak. Tiga pasang tangan kekar mengunci pergelangan dan lengannya, menyeret paksa tubuhnya yang melawan ke tengah ruangan. "JANGAN MAIN-MAIN YA SAMA GUE SETAN! LEPASKAN! LEPASKAN!" Setiap kata terlempar dengan getar kebencian yang murni.Cengkeraman pada lengannya mengeras, seolah berusaha meremukkan tulangnya. Selly meludah, matanya liar mencari celah untuk meloloskan diri, namun sia-sia. Para penjaga itu seolah patung batu tak tergerak.PLAK!Suara tamparan itu begitu nyaring, memantul dari dinding semen yang dingin. Kepala Selly terlempar ke samping, rasa panas dan denyutan seketika menjalar di pipinya. Bintang-bintang kecil seakan meletup di retinanya, dan rasa logam darah memenuhi mulutnya."ANJING!" Selly sontak menjerit, kata umpatan yang tajam itu keluar tanpa sempat ia tahan.Andre, pria bertubuh paling besar dengan rahang persegi, menarik tangannya yang memerah. Matanya
Di luar ruang perawatan intensif tempat Gea terbaring, Rasya berdiri terpaku di koridor yang sedikit lengang. Udara malam yang sejuk menusuk kulitnya, membawa aroma antiseptik rumah sakit yang kental. Matanya, yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini memancarkan kecemasan yang tersembunyi. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, cahaya layarnya memantul tipis di wajahnya yang tegang. Ia sedang berbicara dengan salah satu anak buah terpercaya Jonathan."Oke, sekarang nona Selly ada di mana?" desis Rasya, suaranya pelan namun penuh otoritas, khawatir suaranya akan menembus pintu ruang rawat Gea yang kedap."Selly ada sama Andre sekarang, dia sudah diamankan," jawab suara di seberang, nadanya lega bercampur kepastian.Alis Rasya terangkat sedikit. Ini adalah kabar baik yang sudah lama ditunggu tuannya. "Jaga nona Selly! Jangan sampai dia lepas... Tuan sudah benar-benar menunggu hal ini." Ada penekanan kuat pada kata 'lepas', karena Selly adalah kunci dari segala kekacauan yang terjadi
Dinding putih ruang perawatan VIP itu menjadi saksi bisu atas penantian yang menyiksa. Sudah dua hari sejak insiden mencekam itu, namun Gea masih terperangkap dalam alam bawah sadarnya. Tubuhnya yang biasanya memancarkan aura ceria dan penuh kehidupan, kini terbaring kaku, dikelilingi oleh detak ritmis alat-alat medis yang menjadi penanda rapuh bahwa nyawanya masih ada. Selang infus terpasang di pergelangan tangannya, sementara monitor menampilkan garis-garis elektrokardiogram yang naik turun, menggambarkan perjuangan sunyi di dalam diri gadis itu.Jonathan, sang penguasa yang biasanya dingin dan tak tersentuh, telah berubah menjadi penjaga yang setia dan gelisah. Sejak kemarin, ia praktis menjadikan lorong di depan ruang perawatan Gea sebagai singgasananya. Pakaiannya tampak kusut, dan matanya memerah karena kurang tidur, namun ia tak beranjak. Dokter belum mengizinkannya masuk; larangan itu terasa seperti hukuman yang semakin menggerogoti kesabarannya.Tiba-tiba saja Rasya asiste
Nina menatap sekeliling rumah mewah yang baru saja dia masuki dengan mata yang masih penuh rasa penasaran dan sedikit cemas. Tubuh kecilnya masih nyaman terbungkus dalam pelukan hangat Jonathan, yang menggendongnya dengan penuh perhatian. Suara lembut Jonathan mengalun di telinganya, "Nanti om mau
Gea terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya yang dulu cerah kini berubah pucat pasi. Seluruh tubuhnya terikat oleh deretan alat medis—selang infus yang menetes pelan, monitor jantung yang berdetak tak henti, serta tabung penghisap yang sesekali bergetar. Memar besar di lengan dan wajahnya
Pagi itu, Gea berdiri di depan cermin dengan wajah yang tampak lelah namun tegas. Bajunya rapi, tas kerja sudah tergantung di bahunya, tapi matanya berkaca-kaca saat teringat Nina, putri kecilnya yang masih terbaring di ruang rawat rumah sakit. Nafasnya berat, tapi tekadnya lebih kuat daripada rasa
Gea terkejut bukan main. Tiga hari kemarin, dia terus mencari Aris, terutama ketika dia mau berangkat wawancara untuk posisi sekretaris. Tapi apa? Aris tidak ada di rumah. Dia mungkin berjudi dengan teman-teman lain sampai Gea tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya. Nina masih kecil, but







