Share

Bab 59

Author: Ipak Munthe
last update Last Updated: 2026-01-07 04:31:35

“Maafin aku, ya,” kata Aran lagi.

Ada sesuatu yang terasa berbeda dari Lala malam itu. Hatinya menangkap kejanggalan itu, tapi Aran tak tahu apa penyebabnya—dan ia tak berani menebak terlalu jauh.

“Kamu mau dipeluk?” tanya Aran kemudian, teringat permintaan Lala sebelumnya. Nadanya kini lebih hati-hati.

Lala hanya diam, menatap Aran beberapa detik terlalu lama. Ada kebingungan di wajahnya sendiri. Ia pun tak mengerti kenapa bisa meminta hal yang terdengar begitu kekanak-kanakan.

“Enggak, Kak,” ucapnya akhirnya sambil memalingkan wajah. “Tadi Lala nggak serius kok.”

Itu bohong.

Dan Aran merasakannya—tapi memilih tak membongkar kebohongan kecil itu.

Malam kembali sunyi, menyisakan dua orang yang sama-sama menyimpan sesuatu di dalam hati, dengan cara yang berbeda.

Aran bingung tapi menahan diri untuk bertanya, dan Lala bingung dengan ucapan sendiri, dengan keinginannya yang mungkin terasa konyol.

“Kamu yakin?” tanya Aran, memastikan.

“Maksud Kakak, aku bohong?” balas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 62

    Kala datang membawa sebuah rantang di tangannya. Ia langsung menyerahkannya pada Lala. “Ini masakan ibu aku,” kata Kala santai. “Katanya buat calon menantu.” “Kamu ini ada-ada aja,” balas Lala sambil terkekeh pelan. “Cie, calon istri,” goda Sarah yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Kali ini Sarah sudah berganti pakaian, tak lagi mengenakan gaun tidurnya. “Hehehe,” Kala tersenyum malu. “Aku pamit ya,” kata Kala kemudian. “Aku mau berangkat ke Jakarta dulu, ada urusan.” “Aku bisa nitip makanan dong,” ucap Lala cepat. “Nanti chat aku aja,” jawab Kala penuh semangat. “Hati-hati di jalan.” “Iya.” Kala pun pergi. Sarah masih sempat menggoda lagi. “Cieee,” katanya. “Apasih,” jawab Lala sambil menahan tawa. Ia tahu Sarah hanya bercanda, tak perlu dianggap serius. “Aku pergi bentar ya,” ujar Sarah. “Ibu nelpon, katanya ada yang harus aku lihat sendiri.” Tanpa menunggu lama, Sarah menyalakan sepeda motornya dan pergi. Lala mengangguk, lalu setelah suasana kem

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 61

    Pagi yang cerah menyambut hari. Sarah terbangun perlahan, menatap sekeliling kamar dengan mata yang masih berat oleh sisa kantuk. Sekilas, ingatan tentang semalam melintas di benaknya. Malam ketika mereka masuk ke kamar bersama. Aran memeluknya erat, membuatnya merasa aman dan diinginkan. Sarah duduk di ranjang, bersandar perlahan ke dada kekar suaminya. Detak jantung Aran terasa begitu dekat, menenangkan. Malam itu terasa semakin indah saat jemarinya, dengan ragu yang manja, mulai membuka kancing kemeja Aran satu per satu. Ia mendekat, mengecup dadanya dengan lembut, seolah ingin memastikan bahwa momen itu nyata—bahwa Aran benar-benar ada di sisinya. Kemudian Sarah mendekat ke bibir Aran, melumatnya perlahan. Aran membalasnya dengan kehangatan yang membuat dada Sarah terasa penuh. Rasanya begitu indah, seolah tak ada apa pun di dunia ini yang bisa menandingi momen itu. Namun tiba-tiba, rasa berat menyerang kelopak matanya. Sarah menjauh pelan, napasnya sedikit tersengal

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 60

    “Padahal aku udah siap, lho, Mas,” kata Sarah sambil tersenyum malu. Gaun tidur yang tipis sudah menjelaskan seharusnya apa yang akan terjadi diantara mereka berdua. Lala menahan napas. Dadanya terasa sesak. Ternyata benar—ia hanya figuran, berdiri nyata di antara dua orang yang sudah punya masa depan masing-masing. “Kamu mau aku buatkan?” tanya Aran pada Sarah. “Mau dong,” jawab Sarah cepat. Tawaran itu terdengar sederhana, tapi terasa sangat berharga. Sarah meraih lengan Aran dan memeluknya manja. Aran perlahan melepaskan diri, masih menjaga sikap. “Kamu duduk di sini, aku buatkan,” katanya sambil bangkit. “Iya,” sahut Sarah ringan. Aran melirik ke arah Lala. Saat mengambil mi instan, ia masih sempat mengecup dahi Lala singkat—terlalu singkat untuk disebut perhatian, terlalu dalam untuk diabaikan. Lalu ia melangkah ke arah kompor. Namun Sarah ikut mendekat. Tanpa ragu, ia memeluk Aran dari samping. “Mas, kita nggak nunda punya anak, kan?” tanyanya lembut, manja.

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 59

    “Maafin aku, ya,” kata Aran lagi. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari Lala malam itu. Hatinya menangkap kejanggalan itu, tapi Aran tak tahu apa penyebabnya—dan ia tak berani menebak terlalu jauh. “Kamu mau dipeluk?” tanya Aran kemudian, teringat permintaan Lala sebelumnya. Nadanya kini lebih hati-hati. Lala hanya diam, menatap Aran beberapa detik terlalu lama. Ada kebingungan di wajahnya sendiri. Ia pun tak mengerti kenapa bisa meminta hal yang terdengar begitu kekanak-kanakan. “Enggak, Kak,” ucapnya akhirnya sambil memalingkan wajah. “Tadi Lala nggak serius kok.” Itu bohong. Dan Aran merasakannya—tapi memilih tak membongkar kebohongan kecil itu. Malam kembali sunyi, menyisakan dua orang yang sama-sama menyimpan sesuatu di dalam hati, dengan cara yang berbeda. Aran bingung tapi menahan diri untuk bertanya, dan Lala bingung dengan ucapan sendiri, dengan keinginannya yang mungkin terasa konyol. “Kamu yakin?” tanya Aran, memastikan. “Maksud Kakak, aku bohong?” balas

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 58

    “Kak, boleh minta disuapin nggak?” tanya Lala pelan. Aran mengangkat sebelah alisnya, sedikit bingung. Selama ini, Lala tak pernah suka disuapi siapa pun. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Lala sudah lebih dulu menunduk, mengira Aran menolak. “Boleh ya, Kak,” ucap Lala lagi, kali ini dengan nada memohon. Aran mengangguk pelan. Ia membawa mi instan ke meja makan, lalu duduk bersebelahan dengan Lala. Dengan sabar, Aran menyuapinya—bahkan meniup setiap suapan terlebih dahulu, memastikan makanan itu tak terlalu panas sebelum masuk ke mulut Lala. Lala menikmati makanannya perlahan. Entah karena rasanya, atau karena cara Aran menyuapinya dengan penuh perhatian. Ada kehangatan yang menyelinap diam-diam, bukan hanya mengenyangkan perutnya, tapi juga hatinya. Ini bukan sekadar soal lapar, melainkan tentang keinginan untuk selalu bersama. Duduk di sisi Aran, Lala merasa lebih tenang—kehadiran itu membuatnya merasa ditemani, tidak lagi sendirian. “Kenapa kamu mau disuapin? Bukan

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 57

    Sarah teringat kejadian kemarin, saat ia pergi bersama Aran. Di tengah perjalanan, Aran tiba-tiba menepikan mobil karena bertemu teman lamanya. Aran turun dan tampak berbincang cukup lama. Sarah yang masih duduk di dalam mobil mulai merasa jenuh. Dengan iseng, tangannya membuka dasbor mobil Aran. Di sana ia menemukan sebuah kotak kecil. Sarah mengambilnya, lalu membukanya perlahan. Ternyata sebuah kotak musik. Bibirnya langsung tersenyum. Ia sangat menyukainya dan tanpa ragu yakin, Aran membelinya untuk dirinya. Dengan hati berbunga, Sarah mengembalikan kotak musik itu ke dalam dasbor. Ia berpura-pura tidak tahu, memilih menunggu momen romantis ketika Aran akan memberikannya sendiri. Namun sore ini, Sarah justru melihat kotak musik itu berada di tangan Lala. Dadanya seketika mengencang. Apakah Lala yang menemukannya lebih dulu? Atau ia menyukainya lalu memintanya pada Aran? Ataukah Aran… memang memberikannya untuk Lala? “Kotak musik itu memang punya Nona Lala. Ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status