Share

Bab 143

Author: kodav
last update publish date: 2026-05-22 23:48:24

Pintu besi akses atap gedung Arthesia Corp didorong terbuka dengan kasar.

Angin sore Jakarta yang berhembus kencang langsung menyambar tubuh Jovian, namun bahkan suhu dingin di ketinggian lantai empat puluh itu tak mampu mendinginkan darahnya yang mendidih.

Jovian melangkah lebar menuju pembatas beton rooftop. Ia mencengkeram tepiannya dengan kedua tangannya, sementara dadanya naik-turun meraup oksigen dengan rakus. Di balik celana bahannya, kejantanannya masih berdenyut keras, menegang, dan te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 164

    Tangan kanan Jovian mencengkeram erat leher Ethan Lau. Dengan kekuatan yang tak manusiawi, Jovian mengangkat tubuh pria setinggi 180 sentimeter itu hingga ujung kaki Ethan melayang beberapa puluh sentimeter dari lantai.BAM!Jovian menghantamkan punggung Ethan ke dinding kaca balkon dengan sangat keras hingga kaca tebal itu bergetar hebat."Ughh... uhukk...!" Ethan mencengkeram pergelangan tangan Jovian yang mencekiknya, mencoba mencari pasokan oksigen yang seketika terputus. Wajahnya memerah padam, urat-urat di pelipisnya menonjol kaku. Ketakutan yang amat sangat melumpuhkan seluruh egonya sebagai pewaris miliarder.Jovian mencondongkan wajahnya, mengikis jarak hingga hanya tersisa beberapa sentimeter di antara mereka. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 163

    Setelah menjatuhkan ancaman korporat yang berat itu, Ethan Lau mundur selangkah. Ia merapikan kerah jas putih gadingnya, memberikan sebuah kedipan mata yang menjijikkan pada Vandella, lalu berbalik melangkah pergi bersama para pengawalnya dengan tawa kemenangan yang merendahkan.Vandella berdiri mematung. Dada montoknya di balik gaun zamrud naik-turun beringas menahan murka yang membakar egonya. Jemarinya mengepal begitu erat hingga kuku merahnya memutih, kemarahannya terpancar dari matanya karena diancam secara terang-terangan di depan umum.Di sebelahnya, Jovian perlahan membetulkan letak kacamatanya yang sedikit turun dengan ujung jarinya.Wajah tampannya tetap sedatar pualam, tanpa menyisakan sedikit pun kepanikan yang diinginkan Ethan Lau. Namun, di balik kacamata bingkai tipis itu, mata Jovian merekam punggung

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 162

    Jovian membalasnya dengan dekapan yang semakin protektif. Ia membenamkan wajahnya di helaian rambut hitam Vandella yang wangi, menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam, sementara pinggulnya terus memompa pelan dalam ritme gesekan yang konstan. Bagi Vandella, didekap seerat ini secara telanjang oleh pria yang terus-menerus membelai dan memanjakan bagian sensitifnya dengan gesekan mesum itu adalah kenikmatan surga dunia pada malam itu. Mereka terus bergeliat pelan di tengah gesekan basah itu selama beberapa puluh menit, saling bertukar kecupan hangat di bibir, kening, dan leher. Dalam dekapan erat yang masih menyisakan sisa kehangatan dan denyutan intim di bawah sana, napas Vandella perlahan berubah teratur. Kepala cantiknya bersandar nyaman di atas jantung Jovian, mendengarkan degupan pria itu hingga matanya terpejam sepenuhnya, tenggelam dalam tidur yang paling lelap dan damai.***Dua hari setelah malam yang dipenuhi kehangatan di Ritz-Carlton, Hong Kong menyajikan wajahnya yan

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 161

    Vandella perlahan menuntun Jovian mundur, melangkah menuju chaise lounge berbalut beludru kelabu mewah yang diletakkan tepat di depan dinding kaca raksasa. Pendar cahaya neon berwarna merah, ungu, dan perak dari gedung-gedung pencakar langit Hong Kong menembus kaca, memproyeksikan siluet lekuk tubuh mereka yang saling bertautan di dalam kamar temaram itu.Vandella duduk menyilang secara sensual di atas pangkuan Jovian, membiarkan paha mulusnya yang terekspos dari belahan tinggi gaun zamrudnya bergesekan langsung dengan paha kekar Jovian. Kain sutra tipis gaun itu seolah tak mampu menahan panas tubuh mereka yang seketika merambat liar. Tangan kanan Jovian yang besar merengkuh pinggul ramping Vandella, sementara jemari tangan kirinya yang bebas menyusup ke punggung terbuka Vandella yang mulus, mengusap kulit hangat itu dengan belaian yang luar biasa sensual."Aku sedang memikirkan tentang masa depan kita, Ian," gumam Vandella. Kata-kata itu meluncur begitu saja, terdengar santai namun m

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 160

    Dengan mulut yang dibekap erat, jeritan kenikmatan Maya berubah menjadi rintihan redam yang menyayat hati—“Mmmphhh!! Nnnghh!!” Jovian tak lagi membiarkan wanita itu yang mengendalikan ritme. Tangan kirinya mencengkeram pinggul ramping Maya dengan sangat keras, meninggalkan bekas kemerahan di sana. Lalu, Jovian mulai memompa dari bawah.Ia menghujamkan pinggulnya ke atas dengan gerakan vertikal yang beringas, dalam, dan tanpa ampun.Plok! Plok! Plok! Plok!Setiap hentakan Jovian mengangkat tubuh Maya beberapa sentimeter dari kursi, sebelum wanita itu dihempaskan kembali untuk menelan seluruh batang besarnya berulang-ulang. Guncangan kecil dari pesawat yang membelah awan seolah menambah keliaran penyatuan mereka.Maya seakan mau mati rasanya. Kenikmatannya terlalu besar, terlalu intens untuk ditampung oleh tubuhnya yang mungil. Liang kewanitaannya berdenyut histeris, diserang tanpa henti oleh batang yang besar dan panjang itu. Ia ingin berteriak, ia ingin memohon ampun, tetapi tangan Jo

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 159

    Jovian duduk bersandar di kursi captain seat berlapis kulit premium, kakinya terbuka lebar, memberikan akses mutlak bagi wanita dihadapannya. Tangannya masih meremas payudara Maya dengan tekanan yang pas—cukup kuat untuk meninggalkan sensasi nyeri yang nikmat, memancing rintihan tertahan dari bibir merah pramugari itu.Dengan tangan yang gemetar oleh antisipasi yang nyaris meledakkan jantungnya, jemari lentik Maya menarik turun ritsleting celana bahan Jovian.Begitu kain mahal itu tersingkap, "monster" yang berminggu-minggu ini menghantui mimpi-mimpi liar Maya akhirnya membebaskan diri. Kejantanan Jovian melonjak kaku, tebal, panjang, dan berdenyut penuh kemarahan. Urat-urat biru menonjol di sepanjang batang yang panas itu, mengkilap oleh cairan bening yang sudah merembes di ujung kepalanya yang membengkak merah gelap.Maya menelan ludah dengan susah payah. Matanya membelalak takjub, nyaris tak percaya bahwa mahakarya maskulin yang pernah membuat Nyonya Besarnya menjerit histeris itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status