Share

Bab 144

last update publish date: 23.05.2026 23:58:26

Ruang tangga darurat itu terasa menyempit, memeras habis sisa-sisa oksigen hingga hanya menyisakan ruang bagi dua detak jantung yang berpacu liar. Di balik pintu besi yang tebal dan dingin, dunia seolah berhenti berputar, berpusat pada dua manusia yang sama-sama tersesat dalam labirin gairah dan keputusasaan.

"Sekarang… please…" desah Luna, suaranya parau, tenggelam dalam kabut gairah yang menyesakkan.

Jovian tidak membuang waktu. Dengan satu gerakan yang terkendali, ia menekan pinggulnya ke de
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 159

    Jovian duduk bersandar di kursi captain seat berlapis kulit premium, kakinya terbuka lebar, memberikan akses mutlak bagi wanita dihadapannya. Tangannya masih meremas payudara Maya dengan tekanan yang pas—cukup kuat untuk meninggalkan sensasi nyeri yang nikmat, memancing rintihan tertahan dari bibir merah pramugari itu.Dengan tangan yang gemetar oleh antisipasi yang nyaris meledakkan jantungnya, jemari lentik Maya menarik turun ritsleting celana bahan Jovian.Begitu kain mahal itu tersingkap, "monster" yang berminggu-minggu ini menghantui mimpi-mimpi liar Maya akhirnya membebaskan diri. Kejantanan Jovian melonjak kaku, tebal, panjang, dan berdenyut penuh kemarahan. Urat-urat biru menonjol di sepanjang batang yang panas itu, mengkilap oleh cairan bening yang sudah merembes di ujung kepalanya yang membengkak merah gelap.Maya menelan ludah dengan susah payah. Matanya membelalak takjub, nyaris tak percaya bahwa mahakarya maskulin yang pernah membuat Nyonya Besarnya menjerit histeris itu

  • Godaan Maut CEO Cantik   bab 158

    "Aahhh... Tuhanku..." Malora memekik pelan, lehernya melengkung ke belakang.Sensasi penyatuan yang sangat lambat ini justru seratus kali lipat lebih menyiksa sarafnya. Ia bisa merasakan setiap inci ketebalan dan urat-urat kasar Jovian merenggangkan dinding kewanitaannya yang sudah sangat sensitif. Rasa panas dan sesak yang luar biasa kembali memenuhi perut bawahnya. Dinding rahimnya yang haus seketika bereaksi, berkedut dan memeluk erat batang raksasa itu seolah sedang menelannya hidup-hidup.Jovian terus menekan masuk hingga seluruh batangnya tertanam sempurna, pangkal pahanya membentur lembut pinggul Malora. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Malora, menatap wanita itu dengan kelembutan yang mematikan."Sempit sekali..." bisik Jovian parau, mengusap keringat di dahi Malora. Jovian mulai memompa pinggulnya. Ritmenya tidak beringas, melainkan sangat pelan, dalam, dan berayun. Ia menarik batangnya nyaris keluar sebelum melesakkannya kembali hingga membentur mulut

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 157

    Malora melepaskan genggamannya. Ia merangkak sedikit lebih maju, lalu membenamkan wajahnya tepat di selangkangan Jovian. Bibir merahnya yang basah langsung melahap ujung kepala kejantanan Jovian yang kembali menegang sempurna.Slurp... mmmhh... gluk...Jovian memejamkan matanya erat-erat. Lidah Malora menari-nari memutar di area paling sensitifnya, menghisapnya dalam-dalam dengan tekanan vakum yang memaksa Jovian untuk menahan erangannya sendiri."Ah... sialan," geram Jovian tertahan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia benci pada fakta bahwa tubuhnya merespons kelihaian iblis betina ini.Malora melepaskan hisapannya dengan suara 'pop' yang basah, lalu mendongak menatap wajah tersiksa pemuda itu."Ayahmu dulu juga berpikir dia bisa mengendalikanku, Ian," bisik Malora sambil menjilat sisa benih Jovian dari bibirnya. "Namun pada akhirnya, dia hancur karena dia tidak sanggup melepaskan diri dari lubangku. Dan kau... kau memiliki kelemahan yang persis sama dengannya."Malora kem

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 156

    "Ayahku adalah pria yang terlalu lurus hingga kau bisa menghancurkan kewarasannya dengan mudah," lanjut Jovian tak kenal ampun, memilin puting Malora semakin kuat. "Tapi aku? Aku tumbuh di dalam neraka yang kau ciptakan. Aku adalah anak yang lahir dari darahnya. Dan sebentar lagi..."Jovian menarik batangnya nyaris keluar seutuhnya sebelum menghunjamkannya kembali dengan kekuatan maksimal. BAM!"AAAHHHH!""...sebentar lagi, aku akan merampas kembali seluruh harta yang telah kau curi dari ayahku. Semuanya. Termasuk putrimu," bisik Jovian mematikan.Alih-alih merasa terancam, bisikan dominasi absolut dan hantaman brutal di lubang belakangnya itu justru mendorong Malora melampaui ambang batas kewarasannya. Gairahnya benar-benar buta. Dinding liangnya yang sempit berkedut beringas, menjepit kejantanan Jovian dengan kekuatan yang melumpuhkan. Perut bawahnya menegang kaku, sensasi kebas menjalar dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubunnya."Ian... ahhh! Aku... aku mau keluar! Ahhh… sialan…,

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 155

    "Ian... aku sudah tidak sabar lagi," suara Vandella mengalun dari speaker ponsel, jernih, manja, dan sarat akan kerinduan, sangat kontras dengan pemandangan brutal yang sedang terjadi di depan mata Jovian. "Aku sudah mengatur semuanya. Jet pribadiku sudah diinstruksikan untuk membawamu. Besok pagi-pagi sekali, kau harus segera terbang menyusulku ke Hong Kong. Tolong selesaikan segera urusan divisi crypto. Aku butuh kamu di sini... sayang."Jovian tersenyum, sebuah senyuman hangat yang tak sampai ke matanya. Tangan kirinya masih mencengkeram kuat rambut Malora, menahan kepala wanita tua itu agar tetap berada di dekat pangkal kejantanannya, sementara mulut Malora masih dipenuhi sisa-sisa air liurnya sendiri."Tentu, Sayang," jawab Jovian dengan suara bariton yang teramat lembut dan romantis. "Aku akan menyelesaikan urusanku malam ini juga. Besok pagi, aku sudah berada di udara menujumu.""I love you. Sampai ketemu besok ya," bisik Vandella sebelum sambungan telepon itu akhirnya terputus

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 154

    Tubuh Malora terkapar di atas ranjang king-size yang basah dan berantakan. Napasnya memburu kasar, dadanya yang dipenuhi keringat naik-turun dengan cepat mencari oksigen yang seolah terkuras habis dari ruangan itu. Siksaan surgawi yang memaksanya mencapai puncak berkali-kali telah melumpuhkan setiap sendi dan otot di tubuhnya.Bahkan, kedua kakinya yang masih terbuka lebar tak lagi memiliki tenaga untuk sekadar merapat. Cairan hangat milik Jovian terus merembes keluar dari liangnya, menodai seprai mahal di bawahnya, sementara liang kewanitaannya yang bengkak memerah masih berkedut pelan, menolak melupakan ketebalan masif yang baru saja membelahnya habis-habisan.Di balik kelopak matanya yang bergetar, syok akibat identitas asli Jovian baru saja menghantam kewarasannya. Jovian Vaelis. Anak Adityawarman.Namun, penyakit narsistik yang mengakar kuat di dalam jiwa Sang Nyonya Besar menolak untuk mati begitu saja. Di tengah kelumpuhan fisiknya dan rahimnya yang masih terasa berdenyut penuh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status