LOGIN“Katanya Bapak bisa menghubunginya di nomor ini. Saya mau mengomelinya ... tapi, tidak enak! Masih muda, sedang menangis juga.”
“Tepikan saja dulu mobilnya,” kata pria di dalam mobil.
“Baik Pak.”
Lucy juga masuk ke dalam mobil. Ia menepikan mobil, tepat di belakang mobil yang ia tabrak. Setelah menepikan mobilnya, Lucy tidak langsung keluar dari mobil. Air matanya terus mengalir, mengingat kenyataan yang begitu pahit.
Ia merasa dikhianati oleh orang tuanya sendiri, demi kebahagiaan Roselia. Orang tuanya rela menukar kekasihnya dengan kesedihan yang harus ia terima. Baginya, pilihan orang tuanya benar-benar melukai hatinya.
Tidak lama mobil menepi di belakang mobil Lucy, dan mengetuk kaca mobil. Lucy pun keluar memeluk sosok perempuan di depannya yang tidak lain adalah sahabat dekatnya— Nara.
“Aku di sini, sudah tidak apa-apa. Sebentar lagi mereka akan datang mengambil mobil kalian.” Nara memeluk sahabatnya seraya melirik ke arah mobil yang terparkir di depan sana “Apa orangnya mengomelimu?”
Lucy menggelengkan kepala. “Tidak. Yang berbicara denganku sepertinya sopirnya saja. Aku sudah memberikan kartu namaku. Aku akan meminta maaf sekali lagi,” kata Lucy.
“Aku akan menemanimu.”
Lucy mengangguk pelan. Sopir itu juga berada di luar mobil, melihat ke arah mereka. Seraya terisak Lucy menghampiri sopir itu.
“Pak, nanti ada mobil yang mengangkut mobil ini. Kalau Bapak berkenan, mobilnya bisa dibawa sekalian ke bengkel langganan saya. Mengenai semua biaya akan ditanggung oleh saya. Jika Bapak ingin di tempat lain juga tidak apa. Bapak bisa menghubungi saya di nomor tadi.”
“Emh, anu, Nona bisa meminta maaf pada orang di dalam mobil ini.” Sopir itu menunjuk ke arah kaca mobil yang masih tertutup.
Lucy dan Nara saling bertatapan beberapa saat. Hingga manik mata Lucy tertuju pada mobil penumpang bagian belakang. Lalu, melirik ke arah bapak sopir. Pria di dalam mobil bisa mendengar percakapan mereka, karena kaca mobil sopir terbuka. Namun, Lucy tidak dapat melihat si pemilik mobil karena sopir menutupi kaca yang terbuka dengan tubuhnya.
“Yang di dalam mobil, apa perlu diantar ke rumah sakit?” tanya Nara.
“Beliau baik-baik saja.”
Lucy dan Nara menghela napas lega. Lucy mendekatkan wajahnya pada kaca mobil yang masih tertutup. Pria di dalam mobil, bisa melihat sosok Lucy. Lucy juga merasa tidak enak, karena orang di dalam mobil tidak menurunkan kaca dan berpikir ia pasti marah.
Lucy membungkuk secara tiba-tiba. Lalu mengangkat kepalanya.
“Bapak, Ibu, Tuan muda atau Nyonya muda. Emh, siapapun yang ada di dalam mobil ini. Saya meminta maaf atas kecerobohan saya. Saya akan mengganti rugi kerusakan mobil Anda. Sekali lagi saya meminta maaf dengan tulus. Jika Anda butuh apa-apa. Silakan hubungi saya.” Lucy menatap ke arah kaca mobil yang masih tidak diturunkan.
Lucy bahkan tidak tahu apa dia bisa mendengarnya dengan jelas. “Sekali lagi saya meminta maaf.”
Hingga ucapan terakhirnya, pria di dalam mobil itu, masih enggan menurunkan kaca mobilnya. Lucy menghela napas, lalu melirik ke arah sopir.
“Sekali lagi saya meminta maaf. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab.”
Sopir itu hanya mengangguk pelan.
Nara merengkuh pundak Lucy, memberinya semangat.
“Tidak apa-apa. Orang di dalam mobil memang sombong, tapi kamu sudah bertanggung jawab.”
Lucy masuk ke dalam mobil Nara, lalu tidak lama dua mobil derek datang. Nara memberikan instruksi. Setelah itu ia pergi mengendarai mobilnya meninggalkan lokasi.
Tidak lama setelah mereka pergi, sebuah mobil mewah menepi di lokasi. Seorang pria bersetelan jas keluar dari mobil itu. Menghampiri sopir.
“Bapak masih di dalam?” tanyanya.
Sopir itu mengangguk dan membuka pintu mobil. Sosok pria bersetelan jas– slim fit berwarna cream keluar dari mobil. Tubuhnya profesional, dan tegak. Pria itu bernama Neil Chesney Dravencourt 39 tahun.
“Saya sudah menghubungi bengkel langganan –”
“Tidak perlu,” jawabnya pelan. Sorot matanya yang tajam menatap pria di depannya yang merupakan sekretarisnya— Lewis.
Pria itu memegang kartu nama milik Lucy. “Gadis ini akan menggantinya.”
Pria itu masuk ke dalam mobil mewah yang dibawa oleh Lewis. Lewis mengangguk, lalu berbicara dengan yang membawa mobil derek.Setelah selesai, ia masuk ke dalam mobil. Lewis duduk di depan bersama sopir meninggalkan lokasi. Diam-diam Lewis memperhatikan Neil yang masih memperhatikan kartu nama di genggamannya.
—
Dua jam berlalu, Lucy masih menangis di karpet. Malam ini ia tidur di apartemen Nara. Nara sudah mendengar curahan hati sahabatnya. Ia hanya bisa menggelengkan kepala.
“Ternyata si Noah bajingan juga. Entah apa yang dikatakan si Roselia, sampai-sampai orang tuamu mau memberikan Noah pada si Roselia. Padahal mereka tahu, Noah pacar mu.”
Lucy menyeka air matanya. “Entahlah. Membayangkan mereka akan menikah saja membuat hatiku hancur. Malam ini mereka bertunangan dan membahas pernikahan di depan mataku. Aku masih tidak percaya Mommy dan Daddy tega padaku.”
Lucy berdiri dan menenggak bir kemasan miliknya hingga habis. Lalu meremas kalengnya. Matanya dipenuhi oleh tekad.
“Aku akan membalas mereka.” Lucy menghela naps.
“Aku punya ide,” kata Nara meminta Lucy mendekatkan wajahnya kepadanya.
Lucy membungkuk, Nara berbisik di telinganya. Seketika mata Lucy melebar. Ia menatap sahabatnya.
“Bagaimana?” kata Nara.
Lucy meremas botol bir kemasan itu. Ia mengangguk pelan. Matanya lurus ke depan.
“Kau campakkan aku, kunikahi pamanmu Noah! Lihat saja. Aku akan menjadi bibimu. Aku akan membalas rasa sakit ini.”
Roselia tercengang mendengar perkataan Lucy.“Lucy, kamu terlalu sombong. Kamu pikir kamu siapa, hah?”“Aku, jelas Lucianna Gwyneira.” Lucy melangkah lebih dekat lagi pada Roselia. “Berhentilah sok lemah di depanku. Awalnya aku mengabaikan semua itu karena kupikir kamu membutuhkan kasih sayang orang tuaku. Jadi, kamu selalu mencari perhatian mereka. Namun, seiring jalannya waktu aku mulai sadar kamu ingin menjadi sepertiku.”Roselia terkejut, matanya berbinar.“Kamu ingin memiliki semua yang kupunya. Pakaian, septu, tas, perhiasan. Bahkan Noah. Semua yang kumiliki, kamu harus memilikinya juga.”Lucy tidak pernah melupakan saat mereka ia SMP, ia pernah kehilangan sebuah gaun yang dibelikan ibunya. Saat mencari gaun itu, ia menemukan gaunnya berada di dalam kamar Roselia. Saat Lucy hendak mengambil buku yang dipinjam Lucy.Namun, Roselia mengatakan kalau gaun itu diberikan oleh sang nenek. Ini bukan pertama kalinya, saat SMA Lucy kehilangan sepatu. Dan benar saja, ia melihat Roselia men
Lucy membelalak, ia menelan saliva nya.“Tapi, sejak awal Paman tahu, kalau aku mencari Andrew. Jika sejak awal aku tahu, Paman bukan orang yang aku cari. Aku tidak akan sampai sejauh itu.”Mata Neil menajam. “Saat menggodaku, kamu sangat percaya diri. Pernahkah kamu berpikir sampai ke situ?”Lucy terdiam dan hanya menatap wajah tampan pria yang terpaut jauh darinya. Namun, mengingat itu semua membuatnya malu.“A-aku—”“Menikah denganku, tidak akan membuat kamu rugi. Aku sudah memutuskan malam ini akan melamarmu. Dan kau tidak boleh menolak.”“Apa?” Lucy tertegun.Neil melepaskan Lucy, lalu meraih sebuah kotak perhiasaan dari dalam saku celananya. Dan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.“Lucianna Gwyneira, menikahlah denganku.”Lucy membelalak. Apa yang dilihat di depan matanya, bukanlah sebuah ilusi melainkan sungguhan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang lain yang akan melamarnya. Bukan pria yang dicintainya, matanya perlahan berkabut.Lucy diam untuk waktu ya
Pernyataan Neil mengejutkan orang-orang yang mendengarnya. Termasuk Lucy yang kini membeku, tanpa sepatah kata menatap Neil dengan tatapan tidak biasa. Ia berusaha mencerna semua ini, kenapa Andrew menjadi Neil Chesney Dravencourt.Rosalia menatap Lucy tidak percaya, dan membuka suara. “Anda ingin menikahi Lucy?” tanya Roselia.Neil sama sekali tidak menoleh kepada Roselia. Ia juga mengabaikan perkataan Roselia, Neil meraih tangan Lucy. “Maaf membuatmu menunggu.” Neil mengecup punggung tangan Lucy di hadapan semua orang.Lucy terpaku menatap Neil yang dikenalnya sebagai Andrew paman mantan kekasihnya. Lucy bertanya-tanya kenapa Neil bisa menjadi Andrew? Ingatannya kembali ke malam dimana ia mencari sosok Andrew, Lucy menyadari kalau selama ini ia telah salah orang. Dan ia merasa malu, tetapi nasi sudah menjadi bubur.Pria yang ia goda selama ini bukanlah Andrew Valcor, melainkan Neil Chesney Dravencourt. Keluarga konglomerat di negara Bravenia. Keluarga Dravencourt lebih kaya dari ke
“Mmmpth! “ Lucu berusaha melepaskan diri dari Andrew. Usai melepaskan ciuman hangat itu, Andrew turun dari tempat tidur. Lucy membelalak, seolah tidak ada rasa bersalah setelah menciumnya. Lucu ingin sekali menegurnya. Namun, ia mengurungkan niatnya dan menyentuh bibirnya yang masih terasa berdenyut. Saat Andrew berada di dalam kamar mandi. Diam-diam Lucy mengamati dan langsung ganti pakaian dan pergi meninggalkan kamar hotel. Andrew yang berada di kamar mandi mendengar suara pintu. Dan setelah keluar dari kamar mandi, benar saja Lucy sudah tidak ada. Manik mata pria itu tertuju pada sebuah kartu nama yang tergeletak di atas nakas. Ia meraih kartu nama itu dan dilihatnya. “Apa kamu selalu memberikan kartu namamu ke setiap orang asing? “ Andrew membawa kartu nama itu bersamanya. Sebelum meninggalkan kamar hotel, ia melihat tumpukkan pakaian di sudut kursi. Ia tersenyum tipis, lalu pergi. ***Dua hari berlalu sejak malam itu. Lucy menatap ponselnya, ia bertanya-tanya pada diriny
Lucy terdiam sejenak, keputusannya sudah bulat. Ia akan mendapatkan paman Noah, bagaimanapun caranya ia harus menjadi bibinya. Dengan begitu ia dapat menindas pasangan tidak tahu malu itu.“Aku tidak akan menyesal,” jawab Lucy.Andrew akhirnya bangkit. Lucy menatap punggung Andrew yang kini berjalan ke arah kamar mandi.“Paman,” panggil Lucy. Andrew menoleh ke belakang. “Anda sangat seksi,” kata Lucy mengedipkan sebelah matanya menggoda.Andrew tidak berekspresi, tetapi ketika ia masuk ke dalam kamar mandi ia tersenyum tipis.“Nona kecil, kau sangat menarik.”Lucy membenamkan wajahnya usai Andrew masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri, ia tidak menyangka akan bersikap seperti itu pada pria yang baru pertama kali ia temui.“Lucy, demi mendapatkan paman Noah, kamu harus menebalkan muka.”Saat Andrew keluar dari dalam kamar mandi, ia sudah memakai pakaian ganti. Sementara itu Lucy masih duduk di tempat tidur, dengan wajah tersenyum.“Mandilah. Kamu tidak bisa t
Lucy membelai wajah Andrew. “Tapi, saya tidak akan menyesal. Om pasti perkasa,” ucapnya lirih sambil mengelus punggung pria itu.Manik mata Andrew sempat tertuju pada jam tangannya. Lalu senyuman tipis terukir di wajahnya.“Aku tidak akan membuatmu kecewa.”Andrew menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua. Lucy menahan napas ketika jarak wajah sangat dekat. Hangat napas Andrew menyapu bibirnya, membuat jantung Lucy berdetak lebih cepat.Tiba-tiba suara pintu terbuka dari luar. Lucy tersentak. Ia refleks ingin bangkit, namun lengan Andrew menahannya, membuat tubuhnya kembali terkunci dalam pelukan pria itu. Tatapan Andrew menegas, memberi isyarat agar Lucy tetap diam.“Ternyata benar kamu ada di sini?”Suara perempuan itu membuat mata Lucy membelalak. Pandangannya langsung tertuju pada Andrew, sementara Andrew memilih bungkam dan tetap menahannya untuk tidak bergerak sama sekali.“Kenapa kamu tidak datang ke acara makan malam?” lanjut perempuan itu. “Kamu sedang menghindariku?” Lu







