LOGINSetelah hari itu, Lucianna bertekad untuk mendapatkan paman Noah. Jika Noah bisa menikahi Roselia, dan menjadi kakak sepupunya. Kenapa tidak dengannya? Dengan menjadi bibinya, Lucianna bisa memberinya pelajaran.
Lucianna membeli informasi tentang paman mantan kekasihnya. Sayangnya pria itu terlalu privat, sehingga tidak ada satupun foto di sosial media. Ia hanya tahu, kalau malam ini pria itu akan datang ke sebuah pesta yang dihadiri banyak tokoh. Kebetulan orang yang mengadakan pesta itu adalah keluarga dari sahabatnya.
Saat ini Lucy dan Nara bertemu Revaz di sebuah kedai kopi. Revaz sahabat pria terdekat Lucy menyodorkan undangan itu.
“Kenapa tiba-tiba kamu tertarik pada pesta orang tua?” tanya Revaz.
“Bodoh, ini bukan pesta orang tua. Tapi, Gala dinner.” Nara menyahuti.
“Sudah waktunya anak muda seperti kita memang sudah seharusnya ikut acara seperti ini.” Lucy meraih undangannya. Ia melihat undangan berkelas di tangannya. Matanya tajam pada undangan itu.
“Sejak putus dengan Noah, kamu lebih dewasa. Baguslah, sejak awal aku sudah bilang dia bukan pria yang baik.” Revaz menayap Lucy.
Lucy menatapnya balik. Lucy tidak mengelak, sekarang dia tahu seperti apa Noah bajingan itu.
“Nanti malam aku akan menemanimu di acara Galla,” kata Revaz.
“Aku bisa pergi sendiri,” jawab Lucy yang langsung berdiri.
Nara ikut berdiri, sebelum pergi ia sempat memperingati sahabatnya. Untuk berhenti mengejar Lucy, Nara tahu Revaz sudah lama menyukai Lucy. Namun, Lucy selalu menganggapnya tidak lebih dari sahabat masa kecil. Demi tidak merusak persahabatannya itu, Revaz lebih memilih memendam perasaannya.
Revaz tersenyum miring.
“Aku jauh lebih baik dari bajingan itu. Apa salahnya, jika aku masih ingin mengejarmu …”
Hari itu Lucy pulang ke rumah orang tuanya. Ia memutuskan untuk mengambil jalan ini, saat tiba di rumah ia berpapasan dengan Roselia yang membawa pai apel. Lucy langsung tahu kalau Noah ada di sini.
“Lucy, syukurlah kamu sudah pulah. Kamu masih marah, ya sama aku?” tanya Rosalia dengan suara pelan nan lembut.
Lucy menatapnya tajam. Ia juga melihat sebuah cincin tersemat di jemari tangannya.
“Aku tahu keputusan Paman dan Bibi pasti terasa tidak adil bagimu. Tapi, aku berjanji akan menjaga Noah dengan baik, Lucy. Bisakah kita tidak musuhan? Kita tetap jadi saudara?”
“Enyah!” kata Lucy.
Namun, Roselia terus menghalangi jalan Lucy. Hingga tidak sengaja pai apel di piring terjatuh ke lantai, suara piring jatuh membuat Noah menghampiri mereka.
“Rose, ada apa?” tanya Noah, yang kemudian melirik ke arah Lucy.
“Noah, kuenya jatuh! Lucy tidak sengaja menjatuhkannya.” Roselia mendadak terisak.
Lucy menghela napas. “Tidak tahu malu. Kau yang terus menghalangi jalanku, kau juga yang menjatuhkan kue itu. Ambil saja kue itu seperti kau mengambil barang bekas yang telah kubuang.” Lucy menatap Noah dan Roselia.
Lucy dan Noah membelalak. Namun, saat Lucy hendak menaiki tangga. Aurelia muncul menatap tajam putrinya.
“Minta maaf pada Roselia, sekarang!” titah ibunya dengan nada tinggi.
“Bagaimana kalau aku tidak mau?” tanya Lucy menatap ibunya lekat.
Mata ibu dan anak saling bertatapan. “Kalau begitu aku akan menghukummu.”
Roselia melangkah, ia menggeleng seraya terisak. “Jangan Bibi. Lucy benar, aku yang salah. Aku hanya menanyakan kabar karena khawatir dia tidak pulang–”
“Munafik!” sela Lucy seraya melirik ke arah Roselia.
PLAK!
Lucy memutar wajahnya pada ibunya. Matanya merah, tatapannya tajam. Luka yang belum sembuh itu kembali terurai meresap lebih dalam. Aurelia menurunkan pandangannya, ada getaran di tangannya.
“Lucy, cepat minta maaf pada Kakak sepupu mu.”
“Tidak akan pernah!” jawab Lucy. “Aku tidak akan mengakui kesalahan yang tidak pernah aku perbuat.”
“Bibi, tolong jangan marahi Lucy lagi. Lucy, maaf! Aku tidak bermaksud merebut Noah darimu—”
“DIAM!” bentak Lucy meneteskan air mata. “Sampah yang kubuang tidak akan pernah kupungut kembali.” Lucy melangkah naik ke atas. Kepulangannya hari ini untuk membawa beberapa pakaian dan membuang barang-barang pemberian Noah.
Lucy juga bisa mendengar, Roselia dengan suara lembutnya tengah membujuk dan menenangkan Aurelia untuk tidak memarahi Lucy.
Saat masuk ke dalam kamar, air matanya semakin deras. Spontan tangannya meremas dadanya yang terasa begitu menyesakkan. Tamparan di wajahnya masih berdenyut, meskipun terasa sakit. Namun, itu semua tidak sebanding dengan luka di hatinya. Kecewa!
Setelah dua jam merapikan barangnya, Lucy meminta bibi membuang sampah ini ke kamar Roselia. Awalnya Bibi tidak mau, tetapi akhirnya ia luluh. Dan menaruh barang dari Noah di kamar Roselia.
Hari itu, Lucy menarik koper keluar dari rumah. Ia tidak ingin tinggal di tempat yang menyesakkan, tempat yang menjadi rumah penuh kehangatan. Sekarang seperti neraka yang menerkamnya.
“Mau kemana kamu?” tanya Aurelia melihat putrinya mengangkat koper.
“Bukan urusanmu.”
“Kamu masih marah, karena Mommy menjodohkan kakakmu dengan kekasihmu. Lucy, harusnya kamu lebih menyayangi kakakmu. Dia sejak kecil terlahir lemah, di dunia ini hanya kita yang dia miliki.”
“Tapi, tidak dengan mengambil Noah dariku!” seru Lucy menatap ibunya. “Demi membuat dia bahagia, kalian menghancurkan kebahagiaanku. Apa ini layak?”
Di atas sana, Roselia mengintip dari balik tirai putih. Ada senyuman di wajahnya. Saat yang sama, Lucy menaikkan pandangannya ke atas sana. Mata mereka bertemu, Lucy tersenyum sinis.
“Munafik!” gumamnya, lalu masuk ke dalam mobil.
Hari itu juga Lucy kembali ke apartemen milik Nara. Ia juga mempersiapkan Gala dinner malam ini. Tekadnya sudah bulat, ia akan mendapatkan paman— mantan kekasihnya!
***
Malam itu, Lucy datang menghadiri gala dinner eksklusif para sosialita. Gala dinner itu bersifat tertutup dari media, hanya dari kalangan para pengusaha dan ada beberapa selebritis. Malam itu, Lucy datang mengenakan gaun tanpa lengan yang membelah bagian dadanya, dan mengekspos bagian punggungnya. Gaun itu mengembang indah, perpaduan putih silver dan motif bunga berwarna pink. Gaun itu berkilau, elegant. Rancangan seorang desainer ternama tahun ini. Lucy membiarkan sebagian rambutnya diikat kebelakang, dan sisanya tergerai indah.
Kedatangan Lucy menjadi pusat perhatian orang disekitarnya, termasuk pria di seberang sana. Yang tanpa Lucy sadari sudah memperhatikannya, sejak kedatangannya— mampu mengalihkan pandangan dari orang-orang di sekitarnya.
Lucy awalnya mengira kalau pesta ini hanya dihadiri para orang tua. Ternyata banyak sekali pebisnis muda. Lucy yang berada di antara kerumunan orang yang sedang berbincang-bincang sambil memegang gelas sampanye sedang mencari-cari sosok paman Noah.
‘Malam ini aku harus menemukanmu!’
Lucy mengambil sampanye dari pelayan yang sedang lewat, ia meneguknya. Saat melihat penerima tamu lewat, Lucy menghentikannya.
“Tunggu.”
“Ada yang bisa saya bantu, Nona?”
“Saya ingin bertanya, apakah Pak Andrew dari keluarga Valcour sudah datang?” tanya Lucy.
Penerima tamu mengecek tabnya. “Sudah datang. Ada yang perlu saya bantu? Pak Andrew berada di sana,” tunjuk penerima tamu ke arah enam orang pria yang kini sedang mengobrol tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Mereka terlihat serius membicarakan bisnis.
Lucy memperhatikan keenam pria itu, lalu bertanya. “Bisakah kamu tunjukkan, dari keenam orang itu, Pak Andrew yang mana?” tanya Lucy.
Roselia tercengang mendengar perkataan Lucy.“Lucy, kamu terlalu sombong. Kamu pikir kamu siapa, hah?”“Aku, jelas Lucianna Gwyneira.” Lucy melangkah lebih dekat lagi pada Roselia. “Berhentilah sok lemah di depanku. Awalnya aku mengabaikan semua itu karena kupikir kamu membutuhkan kasih sayang orang tuaku. Jadi, kamu selalu mencari perhatian mereka. Namun, seiring jalannya waktu aku mulai sadar kamu ingin menjadi sepertiku.”Roselia terkejut, matanya berbinar.“Kamu ingin memiliki semua yang kupunya. Pakaian, septu, tas, perhiasan. Bahkan Noah. Semua yang kumiliki, kamu harus memilikinya juga.”Lucy tidak pernah melupakan saat mereka ia SMP, ia pernah kehilangan sebuah gaun yang dibelikan ibunya. Saat mencari gaun itu, ia menemukan gaunnya berada di dalam kamar Roselia. Saat Lucy hendak mengambil buku yang dipinjam Lucy.Namun, Roselia mengatakan kalau gaun itu diberikan oleh sang nenek. Ini bukan pertama kalinya, saat SMA Lucy kehilangan sepatu. Dan benar saja, ia melihat Roselia men
Lucy membelalak, ia menelan saliva nya.“Tapi, sejak awal Paman tahu, kalau aku mencari Andrew. Jika sejak awal aku tahu, Paman bukan orang yang aku cari. Aku tidak akan sampai sejauh itu.”Mata Neil menajam. “Saat menggodaku, kamu sangat percaya diri. Pernahkah kamu berpikir sampai ke situ?”Lucy terdiam dan hanya menatap wajah tampan pria yang terpaut jauh darinya. Namun, mengingat itu semua membuatnya malu.“A-aku—”“Menikah denganku, tidak akan membuat kamu rugi. Aku sudah memutuskan malam ini akan melamarmu. Dan kau tidak boleh menolak.”“Apa?” Lucy tertegun.Neil melepaskan Lucy, lalu meraih sebuah kotak perhiasaan dari dalam saku celananya. Dan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.“Lucianna Gwyneira, menikahlah denganku.”Lucy membelalak. Apa yang dilihat di depan matanya, bukanlah sebuah ilusi melainkan sungguhan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang lain yang akan melamarnya. Bukan pria yang dicintainya, matanya perlahan berkabut.Lucy diam untuk waktu ya
Pernyataan Neil mengejutkan orang-orang yang mendengarnya. Termasuk Lucy yang kini membeku, tanpa sepatah kata menatap Neil dengan tatapan tidak biasa. Ia berusaha mencerna semua ini, kenapa Andrew menjadi Neil Chesney Dravencourt.Rosalia menatap Lucy tidak percaya, dan membuka suara. “Anda ingin menikahi Lucy?” tanya Roselia.Neil sama sekali tidak menoleh kepada Roselia. Ia juga mengabaikan perkataan Roselia, Neil meraih tangan Lucy. “Maaf membuatmu menunggu.” Neil mengecup punggung tangan Lucy di hadapan semua orang.Lucy terpaku menatap Neil yang dikenalnya sebagai Andrew paman mantan kekasihnya. Lucy bertanya-tanya kenapa Neil bisa menjadi Andrew? Ingatannya kembali ke malam dimana ia mencari sosok Andrew, Lucy menyadari kalau selama ini ia telah salah orang. Dan ia merasa malu, tetapi nasi sudah menjadi bubur.Pria yang ia goda selama ini bukanlah Andrew Valcor, melainkan Neil Chesney Dravencourt. Keluarga konglomerat di negara Bravenia. Keluarga Dravencourt lebih kaya dari ke
“Mmmpth! “ Lucu berusaha melepaskan diri dari Andrew. Usai melepaskan ciuman hangat itu, Andrew turun dari tempat tidur. Lucy membelalak, seolah tidak ada rasa bersalah setelah menciumnya. Lucu ingin sekali menegurnya. Namun, ia mengurungkan niatnya dan menyentuh bibirnya yang masih terasa berdenyut. Saat Andrew berada di dalam kamar mandi. Diam-diam Lucy mengamati dan langsung ganti pakaian dan pergi meninggalkan kamar hotel. Andrew yang berada di kamar mandi mendengar suara pintu. Dan setelah keluar dari kamar mandi, benar saja Lucy sudah tidak ada. Manik mata pria itu tertuju pada sebuah kartu nama yang tergeletak di atas nakas. Ia meraih kartu nama itu dan dilihatnya. “Apa kamu selalu memberikan kartu namamu ke setiap orang asing? “ Andrew membawa kartu nama itu bersamanya. Sebelum meninggalkan kamar hotel, ia melihat tumpukkan pakaian di sudut kursi. Ia tersenyum tipis, lalu pergi. ***Dua hari berlalu sejak malam itu. Lucy menatap ponselnya, ia bertanya-tanya pada diriny
Lucy terdiam sejenak, keputusannya sudah bulat. Ia akan mendapatkan paman Noah, bagaimanapun caranya ia harus menjadi bibinya. Dengan begitu ia dapat menindas pasangan tidak tahu malu itu.“Aku tidak akan menyesal,” jawab Lucy.Andrew akhirnya bangkit. Lucy menatap punggung Andrew yang kini berjalan ke arah kamar mandi.“Paman,” panggil Lucy. Andrew menoleh ke belakang. “Anda sangat seksi,” kata Lucy mengedipkan sebelah matanya menggoda.Andrew tidak berekspresi, tetapi ketika ia masuk ke dalam kamar mandi ia tersenyum tipis.“Nona kecil, kau sangat menarik.”Lucy membenamkan wajahnya usai Andrew masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri, ia tidak menyangka akan bersikap seperti itu pada pria yang baru pertama kali ia temui.“Lucy, demi mendapatkan paman Noah, kamu harus menebalkan muka.”Saat Andrew keluar dari dalam kamar mandi, ia sudah memakai pakaian ganti. Sementara itu Lucy masih duduk di tempat tidur, dengan wajah tersenyum.“Mandilah. Kamu tidak bisa t
Lucy membelai wajah Andrew. “Tapi, saya tidak akan menyesal. Om pasti perkasa,” ucapnya lirih sambil mengelus punggung pria itu.Manik mata Andrew sempat tertuju pada jam tangannya. Lalu senyuman tipis terukir di wajahnya.“Aku tidak akan membuatmu kecewa.”Andrew menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua. Lucy menahan napas ketika jarak wajah sangat dekat. Hangat napas Andrew menyapu bibirnya, membuat jantung Lucy berdetak lebih cepat.Tiba-tiba suara pintu terbuka dari luar. Lucy tersentak. Ia refleks ingin bangkit, namun lengan Andrew menahannya, membuat tubuhnya kembali terkunci dalam pelukan pria itu. Tatapan Andrew menegas, memberi isyarat agar Lucy tetap diam.“Ternyata benar kamu ada di sini?”Suara perempuan itu membuat mata Lucy membelalak. Pandangannya langsung tertuju pada Andrew, sementara Andrew memilih bungkam dan tetap menahannya untuk tidak bergerak sama sekali.“Kenapa kamu tidak datang ke acara makan malam?” lanjut perempuan itu. “Kamu sedang menghindariku?” Lu







