LOGINMasih dengan posisi Ardan menggendong tubuh Lastri sambil berpagutan, udara kamar tamu yang semula terasa pengap, kini berubah hangat. Ardan membawa tubuh Lastri ke ranjang. Dengan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan Lastri tanpa melepas ciuman. Kemudian menindihnya lembut, seolah tanpa tekanan.Ciuman itu terus berlanjut—lembut, tapi jelas menuntut. Turun perlahan ke rahang Lastri... leher... lalu kembali mengusai dadanya.Lastri menggelinjang. Tubuhnya menggeliat gelisah. Tangannya meremas rambut Tuan Ardan—bukan lagi penolakan, tapi sebuah pegangan untuk bertahan. Kadang ia menekan, seolah tak ingin Tuan Ardan menghentikan hisapan atau jilatan yang memabukkan.Beberapa saat ciuman itu menjadi semakin tak terkendali. Tak hanya bagian dada, Ardan menggeser bibirnya memberi kecupan-kecupan mesra di permukaan kulit perut Lastri. Setiap kecupan itu bagai sengatan-sengatan llistrik kecil—mengejutkan, tapi juga membuatnya terus menginginkan.Saat ciuman itu akhirnya tiba di bawah pusa
Ciuman Ardan berlanjut, tidak lembut, tapi juga tidak menuntut. Itu adalah desakan dari seseorang yang menahan semuanya terlalu lama. Tak ada bayangan Ratih dalam benaknya, apalagi rasa bersalah. Yang ada hanya Lastri dan perasaan yang ia benarkan dalam hati.Sementara bayangan Arman masih hadir dalam benak Lastri. Tapi bayangan itu tak lagi jelas, tersamarkan oleh rasa nyaman akan kehangatan Tuan Ardan.Jemari tangan Lastri yang menarik kuat ujung gaun, perlahan melemah, berpindah pada dada bidang dan pundak Tuan Ardan—bukan lagi untuk mendorong, tapi bertahan dari gelombang gairah yang mulai pasang.Ketika ciuman itu perlahan terlepas, Ardan tidak langsung menjauh.Tatapannya jatuh pada wajah Lastri yang memerah-napasnya masih belum teratur, bibirnya sedikit terbuka, matanya setengah terpejam seolah masih tertinggal di dalam ciuman tadi.Ada campuran rasa malu… dan sesuatu yang lebih dalam dari itu.Ardan mengangkat tangannya, menyentuh pipi Lastri dengan punggung jari. Lembut. Hamp
Malam berikutnya hadir lebih cepat dari yang Lastri harapkan. Kata-kata Tuan Ardan semalam—sebelum mereka berpisah setelah adegan pelepasan Lastri—terus menghantuinya bagai bayangan. Dan ia berharap kata-kata itu tak perlu diwujudkan, entah malam ini atau malam-malam yang akan datang.Setelah sebagian lampu telah diredupkan, menyisakan cahaya hangat di ruang keluarga yang terasa tenang. Lastri bergerak cepat menyelesaikan pekerjaan, harapannya bisa menghindari Tuan Ardan. Tapi rasanya tetap saja terlambat. Tuan Ardan bahkan sudah tahu jika ia baru saja selesai membereskan dapur, bagai mata-mata yang sudah mengintai mangsanya sejak lama.“Lastri, kemari sebentar.”Suara Tuan Ardan memanggilnya dari ruang tengah.Lastri ragu sejenak sebelum melangkah mendekat. Ia berhenti di ambang ruang keluarga, melihat Tuan Ardan duduk santai di sofa dengan televisi yang sudah menyala.“Tuan memanggil saya?” tanyanya hati-hati.Ardan menoleh dan tersenyum tipis. Di tangannya ada sebuah kotak persegi
Lastri merasa mulai kewalahan menerima ciuman itu. Tapi setiap kali tangannya berusaha lepas, cengkeraman tangan ARdan bertambah kuat. Saat tubuhnya berusaha memberontak, tubuh Ardan semakin mendekat, lalu ciumannya pun semakin panas. Tak jarang ia memberikan gigitan yang membuat bibir Lastri terasa kebas.Napas Lastri terengah, tapi Ardan seolah tak meberikan waktu untuknya mengambil oksigen. Setiap perlawanan kecil yang dilakukan Lastri, maka semakin kasar gerakan Ardan di tubuhnya.Lastri merasakan tubuhnya mulai lemas, seolah tenaganya baru saja dikuras Ardan habis-habisan. Ia akhirnya mendesah lelah, pasrah pada pria yang kini menguasi tubuhnya.Ia memejamkan mata, berusaha merasakan setiap sentuhan di tubuhnya. Merasakan hasrat yang membakar dalam dirinya, dan perlahan... ia menikmatinya."Eemmhh...."Lastri tak lagi melawan. Ia mulai membalas ciuman Ardan dengan gerakan lembut tapi panas. Saat cengkeraman di tangannya dilepas karena tangan Ardan berpindah ke tengkuknya, Lastri
Beberapa menit berlalu dan hujan mulai reda, menyisakan gerimis kecil yang masih terdengar riuh di atap rumah.Lastri mulai menegakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan Tuan Ardan. Dan ia cukup lega karena kali ini Tuan Ardan tidak menahannya."Saya... mau kembali ke kamar. Terima kasih sudah menemani saya, Tuan," ucap Lastri pelan sambil menunduk, tak berani menatap mata Tuan Ardan.Ardan menatap Lastri beberapa detik sebelum akhinya bertanya, "Apa kamu sudah mengantuk? Kalau belum, tolong buatkan kopi."Lastri mengangkat wajahnya, mencoba mencari makna tersembunyi dari kata-kata itu, tapi ia tak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya buatkan sekarang."Listrik belum menyala, Lastri melangkah hati-hati menuju dapur berbekal senter ponselnya. Dalam gelap itu, ia merasakan sesuatu yang mencekam, yaitu tatapan Tuan Ardan yang ia yakin masih mengamatinya dari belakang.Ardan menatap Lastri yang perlahan menjauh. Dalam kegelapan itu
Lastri berdiri beberapa detik di depan pintu kamar Nyonya Ratih sebelum akhirnya mengetuk pelan.Ia sudah mengganti pakaiannya dengan cepat, merapikan rambutnya, bahkan sempat mencuci wajah berkali-kali di wastafel dapur. Namun tetap saja, jantungnya masih berdetak tidak wajar. Seolah tubuhnya belum benar-benar kembali dari kejadian beberapa menit lalu.“Masuk,” terdengar suara Nyonya Ratih dari dalam.Lastri membuka pintu dengan hati-hati sambil membawa nampan sarapan yang sudah ia susun rapi.Ratih setengah duduk di tempat tidur, bersandar pada bantal. Wajahnya masih terlihat pucat seperti beberapa hari terakhir, tetapi matanya tampak lebih segar pagi itu.“Pagi, Nyonya,” ucap Lastri lembut.Ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan di meja kecil di samping tempat tidur.Ratih memperhatikan Lastri sebentar. Ada sesuatu yang berbeda.Biasanya Lastri bergerak tenang dan teratur. Pagi ini tangannya terlihat sedikit tergesa saat menata piring, bahkan sendok kecil di tangannya sempat be







