LOGINPagi itu langkah Lastri terdengar pelan. Baki sarapan di tangannya sedikit bergetar, sendok kecil beradu pelan dengan cangkir porselen. Ia mengetuk pintu kamar dengan sopan, lalu masuk setelah mendengar suara lembut Nyonya Ratih mempersilakan.Di dalam, tirai jendela setengah terbuka. Cahaya matahari jatuh hangat di lantai marmer. Nyonya Ratih duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Ardan tampak di sofa dekat jendela, membaca sesuatu di tablet-nya. Setidaknya, itulah yang terlihat.Lastri meletakkan baki di atas meja kecil di sisi ranjang. “Sarapan pagi, Nyonya.”Nyonya Ratih menatapnya lama. Alisnya berkerut tipis. “Lastri… wajahmu pucat. Kamu masih sakit?”Lastri buru-buru menggeleng. Senyumnya dipaksakan, tipis dan rapuh. “Tidak, Nyonya. Hanya… semalam kurang tidur.”“Kurang tidur?” Suara Ratih melembut. “Kenapa?”Lastri menunduk, jari-jarinya saling meremas di depan perut. “Semalam perasaan saya tidak tenang. Saya kepikiran anak saya, Nyonya. Lalu pagi tadi ibu mertua saya me
—Lastri tak menjawab. Ia menunduk menahan malu—bukan hanya pada Tuan Ardan, tapi pada dirinya sendiri. Ia masih tak mengerti mengapa tubuhnya justru merespon sampai seperti itu—ikut terhanyut pada suasana. Mungkin saja karena ia sudah lama tak mendapatkan jatah itu dari suaminya.Ardan mengangkat dagu Lastri menggunakan ibu jari dan telunjukknya, meminta agar Lastri menatapnya. Dan dengan ragu-ragu, Lastri mengikuti gerakan itu."Kamu lihat, 'kan? Tubuh kamu juga menginginkannya. Kamu merindukan semua itu tapi kamu masih tak mau jujur dengan dirimu sendiri.""Tapi Tuan—"Ardan meletakkan jari telunjukknya di bibir Lastri, menahannya agar tidak berbicara lebih."Kamu takut," tebak Ardan. "Kamu takut ada yang mengetahui hubungan ini, bukan?"Lastri memejamkan mata rapat-rapat, lalu mengangguk cepat. "Iya, Tuan. Ini salah," ucapnya sedikit terisak.Ardan menangkup kedua pipi Lastri, mengusap air matanya yang perlahan turun di pipi."Aku hanya ingin kita sama-sama jujur, Lastri," bisikny
Lastri berdiri di depan wastafel, membasuh wajahnya setelah muntah-muntah. Namun hanya cairan asam yang keluar, membuat perutnya terasa kosong sekarang. Setelah memastikan kamar mandi sudah bersih, Lastri langsung keluar. Ia sangat terkejut mendapati Ardan berdiri di depan pintu kamar mandi."Tu—tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya terbata.Ardan menggeleng pelan. "Saya mendengar kamu mual-mual di dalam sana. Apa kamu baik-baik saja? Wajah kamu masih kelihatan pucat," ucapnya penuh rasa khawatir."Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya masuk angin. Setelah minum minuman hangat pasti akan baikan," jawab Lastri sambil menunduk sopan."Kalau begitu biar aku yang buatkan," ucapnya serius, bukan menawarkan diri. Lalu ia melangkah menuju dapur."Tidak, Tuan Ardan, saya masih bisa membuatnya sendiri," ucapnya sambil menghentikan Tuan Ardan, namun tak berhasil.Ardan berhenti ketika sudah berada di dapur. Ia berbalik dan berdiri di hadapan Lastri yang wajahnya merasa tak enak. Namun, tangan Ard
Dokter datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Ia duduk di sofa di mana Lastri terbaring lemah dengan wajah pucat. Setelah mendengar sedikit kronologinya, ia langsung bergerak memeriksa—suhu tubuh, detak jantung, dan bagian lain—sesuai dengan kondisinya."Bagaimana keadaannya?" tanya Ardan begitu dokter telah selesai memeriksa Lastri. Nadanya dibuat setenang mungkin, tak ingin menunjukkan betapa ia sangat khawatir.Dokter Veni tersenyum lembut, melepas stetoskop dan membiarkannya menggantung di leher. Tatapannya tertuju pada Lastri, lalu beralih menatap Ardan."Tidak ada yang serius. Dia hanya kelelahan dan tampak kurang tidur," jawabnya dengan nada profesional. "Kalau bisa biarkan dia istirahat sehari penuh untuk besok. Aku akan siapkan obat untuknya."Ardan mengangguk. Ia merasa sedikit lega setelah tahu tak ada masalah serius dengan pembantunya itu. Begitu juga Ratih yang memperhatikan dari atas ranjang, ia juga merasa lega mendengar hasil pemeriksaan.Tak lama kemudian, Dokter
Lastri menahan napasnya di dada, seolah dengan cara itu bisa menahan jarak yang semakin tipis di antara mereka. Kata-kata Tuan Ardan, semakin hari semakin berani menyentuh batas tabu. Semua itu membuat Lastri sadar, bahwa ucapan Tuan Ardan bukan sekadar candaan.Sebelum tubuhnya benar-benar ditahan di dalam kungkungannya, Lastri menghempas tangan Tuan Ardan—tidak terlalu keras—tapi cukup berhasil membuat dirinya menjauh dari Tuan Ardan."Tuan, sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas perhatian Anda kepada saya. Tapi, apa Anda sadar bahwa Anda mulai menyentuh batas yang seharusnya dijaga?" tanya Lastri dengan suara sedikit bergetar.Ardan terkekeh pelan, sementara kakinya maju selangkah. Begitu pula Lastri yang refleks mundur selangkah, memberi jarak aman di antara mereka."Kamu benar. Ada batas yang harus dijaga. Aku beristri, dan kamu juga masih bersuami. Tapi bukankah sudah kukatakan bahwa kita memiliki nasib yang sama, sama-sama kesepian?"Lastri menggeleng cepat. "Tidak Tuan. It
Tak cukup dengan satu paket, Ardan membuka paket lainnya yang ukurannya lebih kecil dari paket sebelumnya. Namun, paket itu tampak menggembung dibanding paket pertama.Lagi-lagi suara sobekan lakban memenuhi ruangan, hampir mengalahkan suara detak jantung Lastri yang tak tahan ingin segera keluar ruangan.Begitu bungkusnya terbuka, Lastri langsung membeku melihat isi paketnya. Setelan bra dan celana dalam yang jumlahnya tidak hanya satu, tapi dua. Oh, tidak... ternyata ada tiga set, masing-masing berwarna merah, navy dan nude. Lastri sontak menunduk, pipinya memerah, jemarinya saling meremat, gelisah.Sementara Ardan justru kebalikannya. Wajahnya tampak senang melihat benda yang seharusnya menjadi rahasia wanita, kini berada di tangannya. Tatapannya yang tenang saat mengamati bentuk dan desainnya, mengangkatnya seolah memastikan ukuran, samar-samar menyimpan sesuatu yang liar."Untuk yang ini... sebenarnya aku tidak tahu pasti berapa ukurannya. Tapi aku menebak ukurannya sekitar tiga







