홈 / Romansa / Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu! / 19. Rencana Dalam Rencana

공유

19. Rencana Dalam Rencana

작가: OTHOR CENTIL
last update 게시일: 2026-09-12 11:14:33

“Mengakui suami orang sebagai suamimu sendiri ... sungguh tindakan yang konyol.”

Erlangga menatap Grace yang kini mengemudikan kendaraan untuknya. Tadi, ia tak bisa berbuat apa-apa saat tubuhnya digotong beramai-ramai, lalu dimasukkan ke dalam kendaraan agar segera mendapat pertolongan.

Para penolong dermawan itu, entah mengapa percaya begitu saja bahwa ia adalah suami wanita licik ini.

Sebenarnya, Erlangga ingin menyanggah tadi. Namun setelah ia pikir-pikir, rencana Grace juga tidak terlalu b
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   89. Suara Aneh

    Mereka baru saja keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu depan, bersiap berangkat ke rumah sakit untuk memastikan dugaan tersebut.Baik Erlangga maupun Nora sama-sama tidak ingin terus dibayangi ketidakpastian. Mereka ingin mengetahui malam itu juga apakah kecurigaan Theo benar, bahwa Nora mungkin sedang mengandung anak mereka.Selagi Erlangga menggandeng tangannya dengan langkah yang sedikit melambat, pikiran Nora justru dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana jika ternyata dia benar-benar hamil?Perutnya akan membesar, tubuhnya bertambah gemuk, dan wajahnya mungkin ikut berubah. Dia bahkan membayangkan dirinya akan terlihat jauh dari kata menarik. Bagaimana jika perubahan itu justru membuat Erlangga kehilangan selera untuk berada di dekatnya? Bagaimana jika suaminya malah merasa muak melihat penampilannya nanti?Terlebih lagi, Nora sama sekali tidak memiliki pengalaman mengasuh anak. Sekalipun mereka mampu mempekerjakan babysitter, tetap saja ada banyak hal yang harus dia pela

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   88. Menghubungkan Teka Teki

    “Apa setelah itu kamu sempat meminum obat kontrasepsi darurat?” tanya Erlangga dengan dada berdebar.Dia hanya ingin memastikan apakah Nora telah melakukan pencegahan kehamilan malam itu atau tidak. Mengingat hubungan mereka saat itu belum berada dalam kondisi yang baik, Erlangga bisa memahami jika istrinya memilih untuk mengonsumsi obat tersebut.Jika memang iya, tidak masalah. Namun, jika Nora tidak melakukan pencegahan apa pun, berarti dia perlu menggali lebih jauh kemungkinan lain.Pikirannya kembali tertuju pada beberapa kejadian belakangan ini. Mual dan muntah yang dialaminya berulang kali, keinginan aneh untuk menyantap buah-buahan tertentu, hingga perubahan selera makannya, yang mengarah pada satu hal yaitu ‘ngidam’.Jangan-jangan, semua itu memiliki kaitan dengan kemungkinan Nora sedang mengandung anaknya, calon buah hati yang sangat dia nanti-nantikan.Nora menghentikan gerakan tangannya di dalam wastafel. Dia membiarkan air keran terus mengalir selama beberapa saat, sementa

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   87. Menanyakan Kontra-sepsi

    “Jadi ... itu benar?”Erlangga mengamati Nora yang tak kunjung memberikan jawaban. Satu menit telah berlalu sejak pertanyaan itu terlontar, tetapi wanita itu masih bungkam. Nora bahkan memalingkan wajah, seolah enggan menatap mata suaminya, dan tampak tidak ingin membahas lebih jauh tentang malam yang telah berlalu tersebut.Erlangga tak lagi berniat mengajukan pertanyaan. Kebisuan Nora sudah cukup menjawab segala hal yang sejak tadi berkecamuk dalam pikirannya.Pria itu meraih tangan Nora, lalu menggenggamnya erat. “Kalau memang kenyataannya seperti itu, mengapa kamu tidak mengatakannya sejak awal kepada saya? Kenapa kamu membiarkan saya berspekulasi hingga salah paham dan mengira kamu telah menjalin hubungan dengan pria lain?”Nora masih bungkam, membuat Erlangga benar-benar geram. Mengapa wanita itu begitu sulit mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi, padahal kesalahpahaman di antara mereka bisa dihindari jika saja Nora mau menjelaskan sejak awal.“Seandainya kamu mengatakan ba

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   86. Menanyakan Kebenaran

    “Tuh, ‘kan? Benar! Berat badanku naik satu setengah kilogram! Astagaaaa!” Erlangga sampai menyumbat kedua telinganya dengan jari telunjuk ketika Nora berteriak begitu. Sejak Theo mengantarkan timbangan badan ke rumah sewa mereka, Nora tak berhenti mengeluh. Wanita itu bahkan sudah mondar-mandir selama lebih dari satu jam saat menunggu timbangan itu diantarkan. Dan kini, Nora berulang kali naik dan turun ke atas timbangan, seolah berharap angka yang tertera akan berubah dengan sendirinya. Namun, hasilnya tetap sama. Berat badan Nora kini mencapai 46,3 kilogram. “Astaga, bagaimana bisa naik sebanyak ini?” Nora kembali berdecak kesal. Erlangga yang sejak tadi berusaha bersabar akhirnya mendekatinya. Dia menatap angka pada timbangan, lalu melirik istrinya yang masih tampak frustasi. “Nora, berat badanmu hanya 46 kilogram, bukan 50 kilogram. Kenapa kamu sampai sebegitu frustasinya?” “Kamu tahu?” Nora langsung melayangkan tatapan tajam. “Biasanya berat badanku kurang dari 45 kil

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   85. Pembahasan Sensitif

    “Selamat makan!”Erlangga sudah bersiap menyantap porchetta yang tersaji di atas meja. Namun, Nora seketika menggeram pelan sambil meliriknya dengan tatapan tajam.“Hhhhmmm ....”Erlangga menoleh kepada istrinya yang tengah menyatukan kesepuluh jari di depan wajah. Keningnya berkerut. “Kenapa? Ada yang salah?”Nora memutar bola mata dengan malas. Tanpa menjawab, dia memilih memejamkan mata dan memasang wajah serius.Erlangga pun segera memahami maksudnya. Rupanya, mereka harus berdoa terlebih dahulu sebelum mulai makan.Setelah berdoa, Nora segera mengambil peralatan makannya, sementara Erlangga mulai menyantap porchetta yang sejak tadi diinginkannya. Lelaki itu tampak begitu menikmati hidangan tersebut, seolah rasa mual yang sempat mengganggunya terhadap daging sapi benar-benar lenyap.Di sela-sela makan, Nora melirik Erlangga yang tampak menikmati hidangannya. “Kamu sudah tidak mual mencium aroma daging sapi ini, Mas?”Erlangga menggeleng. Mulutnya masih penuh makanan. Setelah mene

  • Gugat! Aku Bukan Istri Pilihanmu!   84. Titik Terang

    Ting!Notifikasi pesan yang masuk ke ponsel Theo membuat Erlangga melirik ke arahnya.Theo segera memeriksa pesan tersebut, sementara Erlangga memilih diam dan tidak mengusiknya. Beberapa saat kemudian, Theo mengangkat pandangan ke arahnya dan mulai berbicara serius, “Pesan dari orang kita. Hasil rekaman CCTV-nya udah gue kirim ke surel lo.”“Oke,” jawab Erlangga singkat.Setelah itu, keduanya berpisah. Theo entah pergi ke mana, sementara Erlangga memutuskan untuk kembali ke rumah.Sesampainya di sana, dia tidak langsung membuka pesan yang dikirimkan Theo ke surel-nya. Langkahnya justru berbelok menuju dapur setelah mendengar suara aktivitas dari ruangan tersebut. Sepertinya Nora sedang sibuk melakukan sesuatu di sana.Erlangga pun menghampiri, ingin melihat apa yang tengah dikerjakan istrinya.Saat duduk di kursi meja makan, Erlangga melihat Nora mengeluarkan daging wagyu dari lemari pendingin. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu beranjak mendekati sang istri, berniat memba

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status