LOGIN“Awas saja jika dia mempermainkanku,” kecam Nora dalam hati. Sebelum hatinya terlanjur terbuai, ia perlahan menyingkirkan tangan Erlangga. Tubuhnya berbalik, mata mereka bersitatap sejenak. Mulanya, Nora berniat keluar kamar untuk menyiapkan sarapan bagi Erlangga. Ia tak ingin terlihat terlalu peduli, namun di sisi lain hatinya, ia sungguh tak bisa menampik keprihatinannya.Namun saat melihat kaki Erlangga yang tiba-tiba tampak sudah sehat sepenuhnya, rencananya seketika berubah. Perlahan, Nora menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. “Sudah pagi, Mas.”“Iya, dan saya lapar, Nora,” jawab Erlangga. Tatapannya berbinar, seolah kata ‘lapar’ itu membawa makna lain yang tak terucap.Nora tersenyum tipis. Ia paham benar maksud di balik tatapan itu, namun sengaja mengabaikannya. “Aku masak dulu.”Nora beranjak dari ranjang, bersiap melangkah pergi. Namun sebelum benar-benar keluar, ia teringat rencananya. Ia tak mau terus-menerus dibohongi. Maka, ia harus membuktikan sendiri apakah Er
“Mas,” panggil Nora, suaranya terdengar ragu.Lengan kekar yang melingkar di pinggang kanan dan perutnya, seketika membuat suhu tubuh merangkak naik.Ada rasa asing yang perlahan menyergap, terasa tak biasa, sedikit menenangkan, serta membuatnya ingin melepaskan pelukan detik itu juga.Namun anehnya, jantungnya juga berdebar kencang. Bukan karena takut diterkam Erlangga, tetapi takut bilamana rasa ini akan semakin jauh, lalu merasa nyaman berada di dekatnya. Dengan gerakan yang pelan sekali, Nora berusaha menggeser tangan itu menjauh, ingin menenangkan jantungnya yang berpacu cepat. Namun alih-alih melepaskan, Erlangga justru menggenggamnya lebih erat.Tubuh Erlangga merapat sepenuh ke punggung Nora, sementara dagunya menempel di lekukan pundak. Sentuhan itu halus, namun menimbulkan sensasi geli yang tak bisa Nora sembunyikan, membuat bahu Nora sedikit bergetar.Nora tahu suaminya mendengar panggilannya tadi. Ia tahu, Erlangga sengaja mengabaikannya. Maka ia memanggil sekali lagi, b
“Mari jalani hidup seperti suami istri pada umumnya. Jalan-jalan, berbelanja, dan tidur di satu ranjang. Bukan saling memunggungi, melainkan benar-benar bersama seperti pasangan yang sesungguhnya. Satu bulan saja, tak lebih. Terhitung setelah saya pulih. Kamu bersedia?” pinta Erlangga. Nora terdiam di balik selimut yang menutupi tubuhnya hingga dada. Permintaan itu terasa begitu berat untuk diiyakan, mengingat selama ini mereka tak pernah sedekat itu. Terlebih, pria yang akan menyentuhnya bahkan pernah menyentuh wanita lain. Namun jika dengan cara ini perpisahan mereka bisa segera terwujud, ia pun mengangguk setuju. Lagipula, hanya satu bulan saja, bukan? Sepertinya bukan perkara yang sulit. “Baiklah,” jawab Nora dengan mantap. “Hanya satu bulan. Tidak lebih.” “Benar, terima kasih sudah setuju.” Erlangga mengangguk setuju, “Meski kamu sudah setuju, tolong pikirkan baik-baik. Jika ada yang mengganjal di pikiranmu, sampaikan saja pada saya sekarang. Kita bisa atur ulang kesepakat
“Supaya kita bisa lebih cepat menyingkirkan Nora, bagaimana kalau kita berangkat sekarang ke rumah sakit?” tawar Martha. “Semakin cepat, maka semakin baik. Dengan begitu, Nora tak punya waktu lagi untuk berdiri di posisinya. Pun Ibu nggak sabar ingin menjadikanmu menantu Ibu.”“Sekarang?” Grace terkejut, tak siap. Ia bersedia melakukan tes DNA itu, tapi bukan secepat ini. Tidak ... belum. Ada begitu banyak hal yang harus ia persiapkan, begitu banyak yang masih membuatnya ragu.Supaya Martha tak menduga apa-apa, Grace segera mengalihkan pembicaraan. “Bukankah Ibu sudah berjanji menemaniku berbelanja hari ini? Bagaimana kalau kita tunda ke besok atau lusa? Kudengar, butik perhiasan favorit Ibu baru mengeluarkan model terbaru, satu set lengkap yang belum banyak dimiliki orang lain. Mau melihatnya?”Wajah Martha seketika berubah. Kekakuan di hatinya perlahan mencair, digantikan senyum yang tulus. Perhiasan … kata itu berhasil menarik perhatiannya.“Benarkah?” Suaranya meninggi sedikit, pe
“Mungkin Nora nggak mau cerai karena dia belum yakin, apakah anak yang kamu kandung beneran anak Elang atau bukan,” kata Martha pelan.Grace, yang semula tenggelam dalam lamunan, seketika tersentak bangun. Dia menatap Martha dengan gugup dan bingung, bahkan tak mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh wanita paruh baya itu.“Maksud Ibu apa?” Grace mengulas senyum tipis. “Maaf, aku memikirkan hal lain tadi.”Kening Martha mengerut sesaat. Lalu, dia mulai menyuarakan keraguan yang sejak beberapa menit lalu mengusik ketenangannya. “Nora nggak percaya karena belum ada bukti sah keterikatan anak yang kamu kandung dengan Elang, makanya dia kekeh nggak mau pisah. Kalau ada bukti tes paternitas, mungkin dia mau mundur.”Ekspresi Grace berubah menggelap. Ia mengerjap, lalu menatap tajam, “Dia meragukan anak ini dan menuntut tes DNA dalam kandungan?”“Benar.” Martha mengangguk, lalu lalu menyentuh telapak tangan Grace dan menggenggamnya erat seolah ingin meyakinkan. Nadanya terdengar lembut
“Tanpa Ibu suruh pun, saya memang sudah berniat pergi. Justru putra Ibu yang berulang kali menahan saya. Meski saya sudah menjauh sekalipun, kalau Mas Elang nggak mengijinkan, saya bisa apa?”Sejujurnya, itulah yang ingin Nora ucapkan. Namun, ia memilih menahannya di kerongkongan karena tak ingin memperkeruh suasana yang sudah carut marut ini. Apalagi, Erlangga masih dalam kondisi tak memungkinkan. Lebih dari itu, pergi sekarang berarti mengakui kekalahan. Nora tak mau terlihat menyedihkan, seolah posisinya begitu mudah tersingkirkan oleh wanita ular itu.Jikalau Nora ingin pergi, ia akan pergi dengan kepala tegak. Bukan terlihat kalah dan tersisihkan begitu saja.“Apa Ibu sudah membuktikan lewat tes paternitas, bahwa anak itu benar-benar darah daging Mas Elang?” balas Nora dengan nada yang tetap santun. Di dalam hati, Nora justru merasa lucu. Cara ibu mertuanya berusaha menyingkirkannya sungguh tidak berkelas sama sekali.Kedua bola mata Martha terbelalak. Ucapan Nora sedikit menya







