LOGINAgnia Prameswari harus merasakan getir saat suaminya menghukumnya atas hubungan gelapnya dengan lelaki lain. Bukan tanpa sebab Agnia berpaling dari Dewo. Selain tak pernah merasakan cinta pada suami yang 10 tahun lebih tua darinya itu, sifat Dewo pun begitu angkuh sebagai seorang kepala keluarga. Agnia hidup dalam pernikahan yang hampa tanpa rasa, tanpa penghargaan, dan tanpa kasih sayang dari Dewo. Meski begitu keterpurukan akan rasa penyesalan menghantuinya setelah perselingkuhannya dengan Dewo terkuak. Dia bahkan sudah ikhlas jika memang pada akhirnya harus dipisahkan dari anak-anaknya setelah ini. Agnia sungguh sangat menyadari kesalahannya. Namun rupanya Tuhan memiliki rencana lain untuknya. Usai terbongkarnya hubungan gelapnya dengan pria dari masa lalunya, tak hanya sifat asli Dewo yang kejam saja yang kemudian terlihat olehnya, tapi juga perselingkuhan lelaki itu yang ternyata sudah terjalin jauh lebih lama dari yang dilakukannya.
View More“Kenapa aku bisa melakukan ini?”
Melawan semua pasukan dengan hebat, membuat seorang pemuda berumur dua puluh tahun bernama Mustafa Zulfikar semakin tidak mengerti. Apalagi kehebatannya dalam bertarung dan menggunakan pedang, menebas semua sosok hingga kehilangan nyawa.
Dalam sekejap, ratusan prajurit bisa dia habisi dengan mudah. Tubuhnya masih diam menatap hamparan luas yang sudah berhiaskan mayat. Dalam pikirannya berisi setumpuk tanya. “Siapa diriku?”
“Mustafa, kau baik-baik saja?” Suara pria yang sudah mengasuhnya selama dua puluh tahun, datang dengan cepat. Pandangan lurus ke depan Mustafa, kini terarah pada Agha yang masih mengatur napasnya akibat berlari.
“Agha, aku baik-baik saja,” jawabnya masih menyorotkan mata tepat di tatapan Agha yang mengernyit.
“Mustafa, apa yang kau pikirkan?”
Mustafa kembali menatap semua mayat dan penduduk bawah bukit yang bersorak atas kemenangan mereka. “Kita pergi Agha,” ucapnya berjalan mencari tempat yang sedikit tenang. Mencoba menenangkan diri, itulah yang Mustafa lakukan.
“Agha, siapa aku?”
Perkataan Mustafa membuat Agha terkejut bukan main. Dia masih diam berpikir sejenak dengan pertanyaan yang belum dijawabnya. “Agha, katakan!” Suara tegas Mustafa membuat wajah Agha yang semula menunduk, kini terangkat.
“Anda akan mengetahui di saat yang tepat,” jawab Agha singkat. Kedua mata Mustafa seketika membelalak.
“Jelaskan kepadaku!” sambung Mustafa lebih tegas dari sebelumnya.
“Pasukan yang datang, semua itu perintah Ratu. Saya akan membawa Anda pergi menemui ahli ramal. Di sana, jati diri Anda yang sebenarnya akan terungkap.”
Keresahan Mustafa tercetak jelas di wajahnya. Dia merasakan takdir besar akan datang menimpa dirinya. Mustafa kembali menatap Agha yang masih bergeming. “Bawalah aku ke sana, Agha.”
“Saya akan membawa Anda besok. Karena ahli ramal hanya bisa ditemui saat matahari tepat di tengah bumi.”
Mustafa menganggukkan kepalanya, membuat Agha merasa lega. Dia berharap Mustafa bisa mengikuti semua perkataannya. Agha sejenak mengatur hatinya. Ini adalah saatnya Mustafa mengetahui, siapa dirinya.
"Agha, apakah sesuatu yang sangat besar menjadi tanggung jawabku?"
Agha hanya menganggukkan kepala tanpa berucap. Mustafa semakin diam menatap Agha.
***
Bagaikan Negara tak bertuan. Rakyat terpaksa hidup dalam keadaan berbahaya, yang disebabkan raja baru mereka. Rakyat sangat menderita akibat invasinya. Namun tidak dengan penduduk tersembunyi di bawah bukit air terjun terbesar di negeri itu yang memiliki Mustafa. Mereka selalu saja memenangkan semua pertarungan jika musuh menyerang.
Waktu berjalan cukup singkat. Dua puluh tahun membuat Mustafa tumbuh menjadi pemuda hebat atas asuhan sepasang suami istri yang menemukannya, ditambah Agha yang selalu menjaganya. Sosok Mustafa yang ramah dengan visual ketampanan tak terkalahkan, membuat penduduk seolah-olah memiliki pemimpin yang sudah lama mereka nantikan.
“Agha, aku ingin menyegarkan diriku. Setelah itu, kita akan menemui ahli ramal.”
“Baik, Mus--.”
Mustafa berlari kencang membuat Agha tidak sempat berkata. Larinya yang sangat kencang, membuat siapapun tidak bisa mengejar. Setiap hari dia selalu menatap ke atas bukit dengan air terjun yang menutupinya. Dia selama ini hanya mengetahui berita atas bukit melalui seseorang yang bertugas.
“Ada apa di sana?” gumam Mustafa terus menyorot tajam ujung bukit yang sangat tinggi hanya memperlihatkan akar rambat hijau. Dia memang tidak pernah berkeinginan untuk memeriksanya. Penyerangan mendadak prajurit yang membuat resah penduduk bawah bukit, membuat Mustafa melakukan itu.
“Apakah ada kehidupan lain di sana?” batinnya terus melamunkan sesuatu tentang rasa penasarannya. Hingga Mustafa mendengar alunan yang sontak membuatnya terkesiap. Mustafa memejamkan kedua mata menikmati merdunya musik harmonika.
“Suara itu … ada di atas bukit.”
Mendadak netranya terbuka setelah ratusan kupu-kupu menyerupai sosok wanita menyentuh kulit. Mustafa dengan cepat berlari kencang mengikuti semua binatang bersayap indah itu yang seakan melambai ke arahnya. “Mustafa …” Sejenak telinga Mustafa merasakan suara lembut yang memanggil.
“Aku akan menemukanmu. Memeriksa atas bukit, tidak salahnya aku coba."
Kakinya yang sangat gesit, dengan tangan kekar sekuat baja, menaiki bebatuan tanpa menghiraukan ketinggian. Semua kupu-kupu masih mengiringinya. Dengan keberanian dia melompat tinggi mencapai seberang bukit.
“Aku akan mencapai atas.”
Senyuman Mustafa mengembang saat mendengar alunan musik semakin terdengar jelas. Kedua tangannya mengepal. Tubuh kekar itu sedikit menunduk, untuk mengambil posisi sebelum kembali melompati bukit yang lebih tinggi.
“Aku harus bisa melompat!”
Kakinya berlari sekencang kuda. Telapak kaki kanannya mulai menghentak keras di atas tanah saat berada di ujung. Lompatan sekuat singa, berhasil meraih ujung batas bukit.
“Hah, sangat tinggi sekali.” Tangannya dengan kuat menahan akar pohon yang berhasil diraih. Tubuh kuat itu kini tergelantung sangat tinggi dari tanah. Namun keberanian selalu berada di hatinya.
“Aku akan melihatmu sebentar lagi,” gumam Mustafa menaiki atas bukit perlahan dengan akar pohon yang menjalar hingga dia bisa berhasil mencapai puncak.
“Apa ini?”
Mustafa tidak percaya apa yang dia lihat sangat berbeda. Dia berada di tengah padang rumput yang dikelilingi hutan belantara dengan sungai di tengahnya.
“Tolong!” teriak seorang wanita berlari menghindari beberapa laki-laki berjubah hitam yang mengejar.
Mustafa mendadak mengikutinya. Wanita itu sangat gesit. Mustafa terus berlari hingga masuk ke dalam hutan yang cukup gelap. Ditambah matahari tidak bisa masuk ke dalam untuk memberikan sinarnya.
“Pedang!” teriak wanita itu mengulurkan salah satu tangannya. Sebilah pedang dilemparkan seseorang dalam kegelapan. Tubuh sang wanita melompat tinggi, menangkap pedang hitam berkilau yang melesat ke arahnya. “Hah!” Dengan cepat dia menebas dua laki-laki sekaligus di hadapannya. Kehebatan wanita itu menggunakan senjata tajam, semakin membuat Mustafa terpana.
“Hebat sekali dia,” ucap Mustafa tersenyum. Dia memanjat pohon secepat kera. Mengamati sosok Hawa sangat indah dengan rambut hitamnya yang tersanggul rapi dari atas.
“Siapa dia?”
Semua musuh dengan cepat menerima hunusan pedang, dan kini tergeletak di tanah. Mustafa perlahan menuruni pohon, berdiri di belakang wanita yang masih menatap tegang. Hidungnya mengendus bau harum yang semakin membuat Mustafa bergetar. Namun dia segera menghilang saat wanita itu membalikkan tubuhnya.
“Siapa?” teriaknya mengamati sekitar. Mustafa masih diam tidak menunjukkan diri. Tubuhnya tetap setia bersembunyi di belakang pohon.
“Beberapa orang akan menyerangnya,” batin Mustafa merasakan sesuatu saat menatap tanah. Pasir yang semula tenang, sedikit terangkat ke udara akibat hentakan beberapa kaki kuda berlari ke arahnya. Kedua mata Mustafa memandang setajam elang. Pendengaran yang sangat peka, membuat Mustafa akhirnya berlari mendekati wanita itu.
“Zab!”
Anak panah tajam yang melesat berhasil dengan cepat ditangkapnya. Jantung sang wanita kini terbebas dari kematian.
“Kau, siapa?” Wanita itu menatap Mustafa yang masih tersenyum. Tanpa sadar, dengan cepat Mustafa menarik pedang dari genggamannya, menebas semua puluhan anak panah saat mengarah kepadanya.
“Kekuatannya seperti raja hutan. Kehebatan pedang itu … ramalan yang selama ini tidak diakui, kini benar-benar ada di hadapanku. Tubuhnya sekuat pohon beringin. Kakinya secepat kuda,” batin Wanita itu masih terpaku dengan kehebatan sosok di hadapannya.
Mustafa dalam sekejab menghabisi semua pemanah yang kini tidak bernyawa. Perlahan wanita itu mendekati Mustafa lalu menepuk pundaknya. Mustafa membalikkan tubuhnya semakin tersenyum.
“Siapa kamu?” Wanita menggunakan baju tempur, masih diam terkejut menatap sosok lelaki yang terus memandang dengan menampilkan iris berwarna cokelat nan indah.
“Sangat indah,” balas Mustafa berdiri tersenyum membalas pandangan paras indah dan menawan sosok di hadapannya.
“Indah?” Kedua mata hitam wanita yang baru ditemuinya, semakin mengernyit menatap Mustafa yang masih menumbukkan tatapan kehangatan.
Perlahan jemari Mustafa menepis daun yang akan mendarat di wajah secerah awan telah memikat hatinya. Tatapan mereka saling menyorot tajam. “Hatiku bergetar menerimanya. Apakah ini?” batin Mustafa masih dalam diam.
“Putri! Pedang Legenda ditemukan!” Seorang laki-laki berlari bersama beberapa pengikutnya, memberikan kabar yang dia dapat dari ahli ramal. Beberapa prajurit yang semula bersembunyi di balik pohon, akhirnya berhamburan keluar.
“Apa?” tanyanya terkejut. Dia membelalakkan kedua matanya. Hatinya semakin yakin saat menatap Mustafa, hingga akhirnya berkata, “Apakah itu dia?”
“Siapa?”
Rani menatap sahabatnya yang duduk bersandar di sampingnya dengan kebingungan. Tangannya bahkan masih terasa gemetar usai membaca berita itu. Namun kondisi Agnia yang terlihat masih begitu lemah membuatnya ragu. Sayangnya, kebingungan Rani terbaca oleh Agnia yang sedang menoleh ke arahnya. “Kenapa, Ran?” tanyanya, masih dengan suara parau. “Eh, ehmm nggak kok, Ni. Nggak apa-apa,” jawabnya terbata. Meski dalam kondisi terpuruk, Agnia tentu tak tega melihat muka pucat pasi sahabatnya itu. Dia pun kemudian menggeser posisi duduknya, lalu berusaha memegang kening Rani. “Apa kamu sakit?” tanyanya. “Kalau memang nggak kuat, kamu pulang saja nggak apa-apa, Ran. Ada bapak ibu dan adik-adik Mas Dewo di sini. Mereka bisa menemaniku,” lanjutnya. Rani menggeleng. Dalam kondisi seperti itu, tentu saja Rani lebih memilih untuk tinggal bersama dengan Agnia dibanding beristirahat di kontrakan sendirian. Meski begitu, Rani masih belum ingin menceritakan kondisinya saat ini pada sahabatnya. “Aku ng
Roda empat Narendra melaju makin cepat di depan mobil polisi yang mengejarnya. Celine ingin terus mempertahankan kecepatannya demi tak tertangkap oleh polisi-polisi yang mengejarnya itu, sementara Narendra yang berusaha sekuat tenaga menghentikan wanita itu justru membuat gerak mobil jadi semakin tak tentu arah. “Cel, berhenti Celine!” Narendra makin panik. Ditambah lagi, suara sirine mobil polisi yang meraung raung di belakang mereka dan orang-orang di jalanan yang nyaris semuanya berhenti menyaksikan kejadian itu seolah menelanjangi keduanya. Narendra terus berteriak menyuruh Celine untuk menghentikan mobilnya. Sementara tangannya berusaha sebisa mungkin menghentikan Celine. Namun hal itu justru membuat Celine kehilangan fokus. Laju mobil pun semakin tak terkendali. Celine yang panik, bahkan tak sempat berpikir untuk menghentikan saja mobil itu dan menyerahkan dirinya pada pihak berwajib. “Diam kamu! Bisa diam nggak sih! Kamu justru bikin aku nggak fokus, Narendra!” kata wanita
Tak lagi memperdulikan Celine, Narendra bergegas turun ke lantai bawah. Lelaki itu berjalan cepat menuju dimana mobilnya terparkir. Namun karena merasa belum selesai dengan Narendra, Celine mengejar hingga ke tempat parkir. Dorong mendorong kasar pun terjadi. Narendra yang yang ingin cepat pergi ke rumah Agnia merasa sangat terganggu dengan kehadiran Celine yang terus ingin mengajaknya bicara. Sementara itu, Celine yang masih merasa punya urusan dengan lelaki itu pun tak mau tinggal diam. Berulang kali dia menutup kembali pintu mobil yang dibuka oleh Narendra. Karena kesal dengan ulah Celine, Narendra akhirnya menghentikan niatnya untuk segera pergi. Dia kembali menutup kembali pintu mobilnya dengan kasar, kemudian berdiri berkacak pinggang di depan sang istri. “Mau kamu apa sih?! Kamu nggak lihat aku mau pergi? Aku juga punya urusan, Celine. Nggak bisa terus terusan meladeni tingkah konyolmu yang kekanak-kanakan kayak gini.”Melihat Narendra makin marah, Celine justru juga bertam
Rani akhirnya menemukan sebuah rumah kontrakan kecil yang langsung dibayarnya selama setahun ke depan. Sebenarnya bisa saja dia menyewa sebuah apartemen yang pastinya lebih nyaman daripada kontrakan yang dipilihnya saat itu. Tapi mengingat sudah tak ada lagi lelaki yang mensupport finansialnya saat ini, Rani memilih untuk berhemat sampai nanti dia mendapatkan sumber penghasilan lainnya lagi. Memikirkan kondisinya yang berbalik seratus delapan puluh derajat dari yang sebelumnya, Rani jadi teringat dengan nasib malang yang juga sedang menimpa sahabatnya. Untuk itulah, hari itu dia memutuskan untuk kembali mengunjungi Agnia di rumah sakit. Namun sesampainya di sana, Rani dibuat shock dengan telah berkumpulnya semua keluarga besar Agnia yang seolah sedang bersiap menghadapi sesuatu buruk yang akan terjadi. Dan benar saja, beberapa saat setelah kedatangan Rani, dokter akhirnya menyampaikan berita bahwa Dewo benar-benar telah pergi meninggalkan mereka semua. Tangis yang pecah dari Agnia
Wanita yang biasanya sangat patuh dan penurut pada Rani itu tak menampakkan gentar sedikitpun. Bahkan dia juga berani membalas saat mantan istri dari majikannya itu menampar pipinya berulang kali. “Saya sudah berusaha menjadi asisten yang baik, tapi kelakuan Anda sudah sangat keterlaluan. Anda mengk
Beberapa hari setelah kejadian itu, kehidupan di keluarga Dewo terlihat semakin membaik. Sikap Dewo yang tak mengalami perubahan setelah kedatangan Narendra ke rumah mereka membuat Agnia semakin yakin bahwa lelaki itu tak lagi menyuruh orang untuk memata-matai setiap apa yang dilakukannya seperti se
Rupanya tingkah nakal Narendra tak bisa sepenuhnya ditolak oleh Rani. Aneh rasanya memang, karena biasanya tak pernah ada getar-getar tak menentu selama ini kala wanita itu sedang berdua saja dengan Narendra. Bahkan sedikitpun tak pernah terpikir akan berbuat hal yang macam-macam dengan lelaki itu s
“Dasar perempuan bodoh! Nggak ngerti aku sama jalan pikiran temenmu itu, Ran.” Lelaki itu rupanya terlalu kesal dengan sikap Agnia, hingga membuatnya mengomel sepanjang perjalanan tanpa henti. Rani yang baru pertama kalinya melihat Narendra bersikap seperti itu, sampai kebingungan bagaimana harus be












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews