Share

Bab 5

Penulis: Prettyies
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-20 10:08:47

Setelah pekerjaan selesai, Renita keluar dari lobby perusahaan. Mobil Reza sudah berhenti tepat di depan, klakson pendek menyambutnya.

Reza menurunkan kaca jendela. “Lama banget kamu ngapain aja? Lelet amat.”

Renita menahan napas, tidak ingin berdebat di depan umum. “Maaf, Mas… tadi ada urusan sedikit di divisi.”

Reza mendengus. “Alesan.”

Renita masuk dan menutup pintu perlahan. Mobil melaju menuju apartemen mereka, atmosfer di dalam mobil terasa sesak.

Sesampainya di basement, mereka turun. Renita berjalan cepat mengikuti Reza ke lift.

“Jangan lama-lama dandannya,” Reza mengingatkan. “Bisa telat ke acara tunangan Mas Deva.”

“Iya, Mas,” Renita menjawab pelan.

Dalam hati ia berkata getir,

Kenapa dia nggak bisa lebih lembut sedikit? Reza sekarang benar-benar berbeda… atau memang dari dulu aku yang buta? Jangan bandingkan dia dengan Mas Deva, Renita. Jangan…

Lift terbuka. Mereka masuk unit apartemen.

Reza langsung menuju kamar mandi tanpa bicara. Renita membuka lemari, memilih dress. Ketika Reza keluar dan mengganti pakaiannya, Renita mengangkat salah satu dress.

“Mas… kalau aku pakai dress ini, bagus nggak?”

Ada harapan kecil di suaranya berharap dipandang sebagai istri.

Reza hanya memberi pandangan sekilas. “Terserah. Yang penting cepat.”

Renita menunduk. “Iya, Mas…”

Reza keluar kamar. Renita merapikan rambut, memakai make up sederhana, lalu mengenakan dress yang ia pilih sendiri tanpa komentar dari suami.

Ketika ia keluar kamar, apartemen sepi.

Dia udah turun duluan…

Renita bergegas turun ke basement. Reza sudah di dalam mobil, mengetuk setir dengan kesal.

“Lama banget sih!” bentaknya saat Renita membuka pintu.

“Maaf, Mas…” Renita duduk perlahan, hatinya menegang.

Pintu tertutup. Mesin mobil kembali menyala.

Renita menatap ke luar jendela.

Kenapa aku bergetar begini? Apa aku benar-benar siap bertemu Mas Deva dan tunangannya malam ini?

Di dalam mobil menuju hotel, Reza tiba-tiba membuka percakapan.

“Oh ya, tadi Tania telepon,” katanya santai seolah memberi perintah. “Dia bilang harus bayar uang kuliah. Kamu transfer ya.”

Renita menoleh cepat. “Lho… bukannya kemarin sudah dibayar uang semesterannya? Kok minta lagi?”

“Mungkin dia perlu buat bayar yang lain. Kamu transfer aja. Uang kamu kan uang Mas juga,” jawab Reza enteng.

Renita menahan emosi. “Tapi Mas… gajiku udah habis buat bayar cicilan apartemen sama mobil. Sisa buat kebutuhan bulanan kita aja pas-pasan. Kita makan apa kalau uangnya dikirim semua ke Tania?”

Reza langsung merengut. “Bilang aja kamu pelit, Ren. Adek aku itu belum kerja. Gajiku aja tiap bulan udah aku transfer ke Mama.”

Renita melengos ke luar jendela. “Ya minta sama Mama kamu lah…Mas aja gak pernah kasih uang bulanan.”

Reza menatapnya kesal. “Aku nggak minta kamu lagi. Tapi… bingkisan yang tadi aku beli buat Mas Deva sama tunangannya, kamu yang bayar.”

Renita menutup mata sebentar. “Iya, Mas…” jawabnya lelah.

Kamu yang mau ngasih, aku yang bayar. Kamu emang maunya di puji aja tapi gak mau keluar uang, batin Renita getir.

Reza melihat ponselnya. “Kayaknya ini deh hotelnya.”

“Iya Mas, sesuai kok sama yang di-share location Mas Deva,” Renita memastikan.

Reza memarkir mobil. Mereka turun, Renita membawa paper bag berisi bingkisan. Mereka masuk ke lobby hotel yang mewah.

“Permisi, Pak,” tanya Reza pada petugas. “Ini acara pertunangan Deva Mahendra dan Nathalia, kan?”

“Betul, Pak. Silakan masuk,” jawab petugas ramah.

Tak lama, Deva keluar dari pintu ballroom sambil tersenyum.

“Akhirnya kalian datang.”

“Kami pasti datang, Mas. Gak telat kan?” Reza menyalami.

“Nggak kok,” jawab Deva singkat. Namun matanya… jelas memindai Renita dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Renita tersenyum sopan sambil memberikan paper bag. “Selamat ya, Mas Deva, atas pertunangannya.”

“Terima kasih,” jawab Deva sambil menerima bingkisan.

Saat Renita hendak melangkah, Deva mencondongkan tubuh sedikit, berbisik pelan ditelinga Renita.

“Kamu sengaja pakai warna dress kesukaan Mas ya?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 88

    Reza mengepalkan tangannya, suaranya naik penuh emosi.“Mas nggak akan pernah ngerti rasanya jadi aku!” bentaknya.“Aku ini anak pertama. Kewajiban aku nafkahin mama dan Tania!”Ia tertawa miring, nada suaranya merendahkan.“Kamu itu anak yatim piatu, Mas. Kamu nggak akan ngerti rasanya punya tanggung jawab kayak aku!”Wajah Deva langsung berubah. Rahangnya mengeras, matanya menghitam menahan amarah yang selama ini terkubur.“Jaga omonganmu, Za,” ucapnya pelan tapi tajam, setiap kata seperti pisau.Deva melangkah lebih dekat, menatap Reza tanpa gentar.“Kamu tahu nggak siapa penyebab kematian mama dan papa aku?” suaranya bergetar,denagn amarah memuncak. “Itu semua karena mama kamu,” lanjutnya dengan suara rendah namun penuh kebencian.“Wanita pelakor itu telah menghancurkan keluarga aku… sampai papa aku mati.”Reza tersentak, lalu menggeleng keras.“Apa yang kamu bilang?!” suaranya meninggi, emosinya meledak.“Mama aku bukan pelakor!”Ia menunjuk Deva dengan mata merah.“Mama Mas itu

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 87

    Renita mendengus kesal lalu memukul dada Deva pelan.“Kamu ini masih sempat-sempatnya mikir mesum!” omelnya, wajahnya memerah.Deva meringis berlebihan sambil memegang dadanya.“Aww… sakit, Ren,” keluhnya dramatis.Renita langsung panik, refleks meraih tangan Deva.“Mas sakit? Maaf… aku kekencengan ya?” ucapnya khawatir.Deva membuka satu mata, senyum licik langsung muncul.“Hmm… bisa sembuh sih,” katanya santai.“Tapi ada syaratnya!”Renita menyipitkan mata, curiga.“Syarat apaan lagi?”Deva mendekat, suaranya direndahkan.“Cium bibir Mas dulu. Baru Mas maafin.”“Dasar modus!” Renita mendecak, tapi ujung bibirnya melengkung.Ia akhirnya mengecup bibir Deva singkat, nyaris malu-malu." Cup... "Deva tersenyum puas.“Nah, gitu dong. Langsung sembuh.”Belum sempat Renita membalas, suara dari luar terdengar jelas.“Renita! Kamu di mana, Ren?”Reza memanggil Renita dari luar. Wajah Renita langsung pucat.“Itu suara Mas Reza…” bisiknya panik.“Mas, gimana ini?”Deva menghela napas, sorot m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 86

    Deva mengangkat tangannya, mengusap air mata di pipi Renita dengan ibu jarinya, sentuhannya lembut tapi penuh penegasan.“Jangan nangis,” ucapnya pelan.“Mas sudah nggak apa-apa, beneran.”Renita menggeleng, bibirnya bergetar.“Tetap aja aku khawatir, Mas,” sahutnya lirih.“Aku takut kamu kenapa-kenapa…”Sudut bibir Deva terangkat tipis. Ada rasa haru di matanya.“Mas malah senang kamu khawatir,” katanya jujur.Tiba-tiba ia mendengar suara perut Renita yang keroncongan.“Eh…” Deva melirik perut Renita.“Kamu belum makan dari kemarin, ya?”Renita menunduk, wajahnya memerah malu.“Belum, Mas,” jawabnya pelan.“Tadi Mas Reza nawarin makan…”Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada pahit.“Tapi ternyata dia cuma mau minta uang. Buat ngajak Mama sama Tania makan.”Rahang Deva langsung mengeras. Tatapannya berubah tajam.“Ren,” katanya tegas namun tetap lembut,“kenapa kamu kasih terus?”Ia menggenggam tangan Renita lebih erat.“Gara-gara kamu terlalu baik, mereka jadi nggak mikir.

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 85

    Setelah mereka pergi, Renita melangkah pelan ke arah UGD. Ia berhenti di balik kaca pintu, mengintip ke dalam dengan jantung berdebar.Lama banget Nathalia di dalam… batinnya gelisah.Jangan-jangan Mas Deva sudah siuman, tapi dia sengaja nggak bilang ke siapa-siapa…Renita menggigit bibir, matanya meneliti keadaan sekitar.Gimana caranya aku bisa masuk tanpa ketahuan mereka… pikirnya resah.“Ren.”suara pria tua serak memanggil namanya. Renita tersentak. Tubuhnya refleks menegang saat mendengar suara itu.Ia menoleh dan mendapati Hendra berdiri tak jauh darinya.“I-iya, Pak,” jawab Renita cepat, berusaha terlihat tenang.“Ada apa ya?” tanya Renita penasaran. Diana ikut mendekat, wajahnya tampak cemas.“Kamu lihat Nathalia keluar belum?” tanyanya.Renita menggeleng pelan.“Belum, Bu,” katanya hati-hati.“Masih di dalam, sepertinya.”Hendra menyipitkan mata, menatap Renita penuh selidik.“Kamu ngapain berdiri di depan UGD?” tanyanya curiga.Renita menelan ludah, lalu menjawab dengan na

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 84

    Reza mendekat, nada suaranya dibuat lembut seolah penuh perhatian.“Sayang, kamu makan dulu ya,” katanya sambil menatap Renita.“Pasti kamu lapar. Dari kemarin belum makan apa-apa.”Renita memalingkan wajah, suaranya datar, nyaris tak bertenaga.“Aku nggak lapar, Mas.”Reza menghela napas berlebihan, lalu mengusap perutnya sendiri.“Tapi Mas lapar, sayang,” ucapnya manja, setengah mengeluh.Renita menoleh sekilas, tatapannya dingin.“Ya kamu bisa beli sendiri, kan.”Reza langsung manyun.“Mas nggak bawa uang,” katanya cepat.“Kemarin uangnya kepakai buat beli baju.”“Nah, ini juga salah kamu,” lanjutnya menyalahkan,“kenapa nggak bawain Mas baju di koper.”Renita menatapnya tak percaya.“Terus maksud Mas… mau minta uang sama aku?” tanyanya pelan tapi menusuk.Reza mengangguk tanpa rasa bersalah.“Iya,” katanya ringan.“Mau minta siapa lagi? Mama juga nggak mungkin ngasih.”Renita tertawa kecil, getir.“Aku kan habis jatuh ke jurang, Mas,” ucapnya lirih.“Mana mungkin aku bawa uang.”R

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 83

    Nathalia mendengus keras, wajahnya memerah menahan emosi.“Mas Deva mikirin dia?” katanya sinis.“Masa sih dia itu cuma adik iparnya? Atau jangan-janga dia sengaja bikin Maa Deva celaka.”Renita menatap Nathalia tegas, dadanya terasa sesak.“ Mbak Nathalia jangan asal menuduh saya, tidak mungkin seperti itu? “Hendra melirik Nathalia, berusaha menurunkan suasana.“Mungkin Deva menyebut nama Renita karena…”“Dia orang terakhir yang bersama Deva sebelum dievakuasi.”“Itu saja,” lanjut Hendra cepat.“Refleks alam bawah sadar.”Nathalia menoleh tajam.“Jadi menurut Papa itu wajar?”Diana maju selangkah, suaranya dibuat lembut tapi menusuk.“Betul, Sayang. Apa yang dibilang Papa,sudah ya jangan dibesar-besarkan.”“Orang kritis memang sering mengigau.”Ia melirik Renita sekilas, lalu menatap dokter.“Lagipula, yang paling tepat masuk kan calon istrinya bukan kamu.”Nathalia langsung menyambar kesempatan itu.“ Betul apa yang dibilang Mama saya, Dok. ““Lebih baik saya saja yang masuk.”Ia m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status