Beranda / Semua / HOW TO BE GOOD IN BED / Rahasia Naga Perak

Share

Rahasia Naga Perak

Penulis: Meyrna
last update Tanggal publikasi: 2026-05-05 00:05:32

Elara membeku di tempat duduknya saat mendengar pesan suara dari ponsel petugas medis itu. Ia melirik Aris yang wajahnya semakin pucat, seolah pria itu tahu bahwa pelarian mereka baru saja memasuki babak yang lebih gila.

"Siapa Naga Perak? Kenapa mereka juga mengincarku setelah semua kekacauan ini?" bisik Elara dengan suara yang hampir tidak keluar.

Aris mencoba bangkit, tapi rasa sakit di bahunya membuatnya kembali tersungkur ke bantal ambulans yang keras. "Jangan percaya siapa pun di sini, E
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Terjebak di Palung Hitam

    Guncangan dahsyat melanda sekoci kapsul seketika setelah instrumen elektronik mereka mati total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti ruang sempit itu, menyisakan kepanikan yang beradu dengan deru air laut di luar dinding baja. Sentuhan mekanis yang dingin terasa mencengkeram dasar kapsul, menarik mereka turun menjauhi permukaan dengan kecepatan yang mengerikan."Aris! Sistem hidrolik penyeimbang tidak berfungsi!" teriak Elara, tangannya meraba-raba dalam gelap hingga menemukan lengan kokoh suaminya."Tahan napasmu, Elara! Gunakan sirkuit Kumbhaka untuk menstabilkan tekanan udara di paru-parumu!" Aris mendekap tubuh Elara, menggunakan berat badannya sendiri untuk mengunci posisi mereka di kursi penumpang agar tidak terhempas dinding kabin.BZZZZT... CLANG!Bunyi benturan logam raksasa bergema. Sekoci mereka mendadak berhenti berguncang, digantikan oleh suara desisan udara kompresi yang dilepaskan dalam volume besar. Perlahan, lampu indikator darurat di langit-langit sekoci menyala kem

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pengorbanan Sang Penjaga

    Maaf atas kekeliruan saya sebelumnya yang memasukkan unsur-unsur tersebut. Mari kita perbaiki dan ulangi Bab 79 sepenuhnya agar fokus pada ketegangan maut di atas kapal, murni sebagai kelanjutan dari konspirasi aksi-fiksi ilmiah ini tanpa ada kaitannya dengan lokasi atau latar belakang personal tersebut.Berikut adalah pengerjaan ulang Bab 79:BAB 79: PENGORBANAN SANG PENJAGA"Julian! Jangan bodoh! Singkirkan bom itu!" teriak Aris, suaranya bergaung keras di antara deru mesin kapal The Leviathan yang mulai tidak stabil. Kabut ungu Kala-Kuta di sekitar mereka kian pekat, menyengat mata dan membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.Julian menggeleng lambat, bersandar pada dinding baja hidrolik yang tertutup rapat. Darah segar merembes dari luka tembak di perutnya, menodai kemeja taktisnya yang robek. "Waktu kita habis, Aris. Lima belas detik. Pintu hidrolik ini dikunci secara manual dari ruang mesin pusat oleh dewan direksi. Sistem digital sudah tidak berguna.

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pertempuran Dua Jiwa

    "Danu...!" desis Aris, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit akibat gelombang kejut listrik di lantai baja dek The Leviathan seolah sirna, digantikan oleh kengerian yang menjalar ke seluruh sirkuit sarafnya.Wanita bergaun putih dengan wajah ibu Elara itu tertawa lepas. Suara tawa yang keluar dari pita suara feminin itu terdengar begitu distorsif, pecah menjadi dua frekuensi yang tumpang tindih. "Ya, Aris! Kaget? Teknologi dewan direksi mampu mengunggah matriks kesadaran batiniahku sesaat sebelum raga tuaku hancur di langit ibu kota!""Kau menodai raga ibuku!" pekik Elara. Meskipun lehernya dicengkeram, ia memaksakan sirkuit energi di dadanya bergolak. "Keluar dari tubuh itu, iblis!""Menodai? Tidak, Elara. Aku melestarikannya!" tangan kloning Danu mencengkeram rahang Elara lebih kuat, jarum perak di bawah lidahnya berpendar keunguan. "Sentuhan murni dari garis darahmu adalah kunci sinkronisasi selular terakhirku. Serahkan energimu!""Jangan harap, Tua Bangka!" Aris menghantamk

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Kebangkitan Raga

    "Ibu...?" Elara mencengkeram tepian kursi besi pesawat kargo, wajahnya seketika kehilangan rona darah. Suara dari pengeras suara kokpit itu begitu jernih, begitu mirip dengan rekaman pita suara kuno yang sering ia dengar di ruang kerja mendiang ayahnya.Aris langsung berdiri, merangkul pundak Elara yang mendadak dingin dan gemetar. "Elara, tenang. Ini jebakan saraf. Ibumu sudah tenang dua puluh tahun yang lalu. Ini pasti manipulasi audio dari dewan direksi!""Tidak, Aris... getaran frekuensinya..." Elara menggeleng histeris, air matanya merebak. "Itu bukan sekadar suara rekaman. Sirkuit batin di dadaku... bergetar selaras dengan suara itu. Hanya ibu yang memiliki frekuensi dasar Amrita-Siddhi yang persis seperti ini!"Dari speaker, suara wanita itu kembali terkekeh, suara dingin yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aris benar tentang satu hal, Elara. Raga lamaku memang sudah hancur. Tapi apa jadinya jika memori selular dan sirkuit batin dari otak ibumu in

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sinyal Dari Jauh

    "Apa... apa yang kamu katakan?" Elara mundur selangkah, napasnya tercekat melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap mereka dengan sorot mata yang terlalu dewasa.Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Jarum perak di tangannya sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seorang anak kecil. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Tiba-tiba saja ada suara kakek tua yang menggema di dalam kepalaku."Aris berlutut di depan anak itu, memegang kedua pundak kecilnya dengan lembut namun tegas. Ia mengalirkan getaran energi Amrita-Siddhi untuk memastikan tidak ada lagi sirkuit frekuensi radio yang tersisa di dalam tubuh si anak. "Siapa namamu, Jagoan?""Rian," jawab anak itu lirih."Rian, suara itu... apakah dia mengatakan tempat yang spesifik?" tanya Aris, matanya tajam menyelidiki."Dia bilang... pelabuhan tikus di pulau karang. Tempat ibunya dirawat," bisik Rian sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Elara menatap

  • HOW TO BE GOOD IN BED   RUNTUHNYA JEMBATAN HARAPAN

    "Aris! Pegangan!" teriak Elara saat aspal di bawah kakinya mulai retak dan amblas ke bawah.Bus sekolah nomor 04 condong ke kiri, roda-roda besarnya menjerit slip di atas beton yang miring. Di dalam kabin, suara tangisan anak-anak yang semula kaku kini pecah, menyuarakan ketakutan murni manusiawi."Elara, lompat ke kap jip sekarang!" balas Aris. Ia meluncur turun dari atap bus, menahan benturan pada lututnya dengan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang dipompa maksimal.Linda melepaskan anak panah mekanisnya di tengah guncangan. WUSH! Anak panah itu melesat, namun meleset beberapa sentimeter dari bahu Elara karena sedan hitamnya ikut merosot ke belakang. "Sialan! Mundur! Jalur ini mau roboh!" perintah Linda pada sopirnya."Kamu tidak akan bisa lari, Linda!" pekik Julian yang tiba-tiba muncul dari arah belakang jip, memegang kemudi jip tua pengawas kebun dengan tangan berdarah. "Aris, bawa anak-anak keluar! Aku tahan wanita ini!""Julian! Jangan gila, jembatan ini hancur!" teriak Aris samb

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Tamu Tak Diundang

    Layar monitor di dinding studio menampilkan wajah seorang wanita dengan riasan tajam yang tampak kacau. Rambut panjangnya sedikit berantakan, dan matanya berkilat penuh amarah ke arah kamera gerbang. Elara membeku di pelukan Julian, napasnya yang tadi menderu karena gairah mendadak terhenti oleh ra

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Permainan Kendali

    Lampu kristal di ruang tengah mansion Atmajaya berpendar redup, kontras dengan gejolak di dada Elara. Kepergian Adrian ke Singapura pagi buta tadi terasa seperti oksigen segar yang dipompakan ke dalam paru-parunya yang sesak. Seminggu. Ia memiliki waktu tujuh hari penuh tanpa harus bersandiwara men

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Kedatangan Instruktur Predator

    Pukul sembilan tepat. Elara berdiri di depan cermin besar studio pribadinya, merapikan sport bra dan legging ketat yang terasa seperti kulit kedua. Ruangan ini kedap suara, tersembunyi di lantai dua mansion, jauh dari jangkauan para pelayan yang sibuk di bawah."Nyonya, tamu Anda sudah tiba." Suara

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Malam yang Dingin

    "Ke dokter? Seorang Adrian Atmajaya harus mengemis pada dokter agar bisa melayani istrinya? Tidak akan pernah!"Suara Adrian menggelegar. Elara terpaku di tepi ranjang, menatap suaminya yang berdiri kaku seolah baru saja melarikan diri dari sebuah pertempuran."Aku tidak bermaksud mempermalukanmu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status