تسجيل الدخولSuara sirine merah meraung-raung di dalam ruangan bawah tanah, membuat suasana menjadi sangat mencekam dan panas. Ratih dan Adrian yang tadinya tersenyum lebar, kini berubah pucat pasi melihat tulisan di layar monitor."Kunci palsu? Bagaimana mungkin kunci itu palsu, Elara!" teriak Adrian dengan nada suara yang melengking panik.Elara menatap kunci perak di tangannya yang kini mulai mengeluarkan asap hitam dan bau logam terbakar. Ia teringat pesan ayahnya bahwa kunci ini tidak akan membuka pintu surga, melainkan menjadi penentu akhir segalanya."Ayah sudah menduga kalian akan melakukan ini, kalian tidak akan pernah bisa memiliki kekuatannya!" balas Elara sambil melempar kunci itu ke lantai.Ratih mencoba melompat turun ke ruang bawah tanah, namun pintu baja raksasa itu justru mulai menutup dengan sangat cepat. "Adrian, lakukan sesuatu! Reset sistemnya sebelum seluruh tempat ini meledak berkeping-keping!"Adrian dengan liar menekan tombol-tombol pada perangkat layar sentuh, namun siste
Elara mematung di depan meja kerja ayahnya, jantungnya serasa berhenti berdetak saat mendengar suara itu. Ia perlahan menoleh ke arah tangga kayu yang menuju ke lantai dua toko bukunya."Adrian? Bagaimana mungkin kamu bisa ada di sini setelah apa yang terjadi di Jakarta?" tanya Elara dengan nada yang penuh kecurigaan.Adrian berjalan turun dengan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket hitam yang tampak sangat mahal dan rapi. "Toko buku ini adalah tempat pertama yang aku datangi setelah gedung Sudirman itu meledak berkeping-keping."Elara menggenggam kunci perak itu lebih erat di dalam sakunya, menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam sarang serigala. "Jadi selama ini kamu bekerja untuk Naga Perak, bukan untuk Smith atau organisasi Naga Hitam?"Adrian tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan perjuangan Elara selama beberapa bulan terakhir ini. "Smith hanyalah perantara kecil, Elara, Naga Perak adalah pemilik sebenarnya dari semua teknologi yang ada di darahmu
Elara mematung di pinggir jalan, matanya tidak berkedip menatap wanita yang baru saja keluar dari mobil mewah itu. Cahaya lampu mobil yang silau membuat bayangan wanita itu tampak seperti hantu yang bangkit dari kuburan."Ibu? Tidak mungkin, Ibu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu dalam kecelakaan itu!" teriak Elara dengan suara yang pecah karena syok.Wanita itu melangkah mendekat, wajahnya terlihat sangat tenang dan hampir tidak menua sedikit pun sejak terakhir kali Elara melihatnya. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna abu-abu dengan pin naga perak yang berkilau di kerahnya."Dunia ini penuh dengan tipuan, Elara, termasuk kematian yang sengaja dipalsukan demi keamanan organisasi," ucap wanita itu dengan suara yang sangat lembut.Elara mundur beberapa langkah, tangannya meraba saku jaket untuk memastikan kunci perak itu masih ada di sana. Ia tidak tahu apakah harus merasa bahagia atau justru merasa terancam dengan kehadiran sosok yang sangat ia rindukan ini."Kalau Ibu masi
Elara tersentak melihat foto dirinya terpampang jelas di halaman depan koran tersebut. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari bahwa pelariannya kini menjadi tontonan seluruh negeri."Siapa Anda? Apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Elara dengan suara tertahan, mencoba tetap tenang di tengah guncangan kereta.Penumpang itu perlahan menurunkan korannya, menampakkan wajah seorang pria paruh baya yang terlihat sangat biasa. Namun, sorot matanya tajam dan ia mengenakan pin perak kecil di balik kerah jaketnya yang kusam."Aku hanya seorang kurir yang dikirim untuk memastikan kamu sampai di Kediri dengan selamat," jawab pria itu sambil melirik ke arah pintu gerbong.Elara semakin curiga karena pria ini mengetahui tujuannya, padahal ia baru saja memutuskan untuk pulang beberapa jam yang lalu. Ia menggenggam kunci perak di sakunya, bersiap untuk lari jika pria ini mencoba melakukan gerakan mencurigakan."Aku tidak butuh perlindungan dari orang-orang yang menyebutku sebagai buronan nega
Elara membeku di tempat duduknya saat mendengar pesan suara dari ponsel petugas medis itu. Ia melirik Aris yang wajahnya semakin pucat, seolah pria itu tahu bahwa pelarian mereka baru saja memasuki babak yang lebih gila. "Siapa Naga Perak? Kenapa mereka juga mengincarku setelah semua kekacauan ini?" bisik Elara dengan suara yang hampir tidak keluar.Aris mencoba bangkit, tapi rasa sakit di bahunya membuatnya kembali tersungkur ke bantal ambulans yang keras. "Jangan percaya siapa pun di sini, Elara. Naga Perak bukan musuh seperti Smith, tapi mereka jauh lebih berbahaya karena mereka bergerak di dalam hukum."Petugas medis di depan menoleh sekilas, tatapannya yang tadi ramah kini berubah menjadi dingin dan penuh selidik. Ia mematikan ponselnya dengan cepat, lalu mengetuk kaca kecil yang menghubungkan kabin belakang dengan sopir ambulans."Kita tidak jadi ke rumah sakit sipil, rutenya diubah ke markas pusat komando udara sekarang juga!" teriak petugas itu kepada sang sopir.Ambulans itu
Elara merasa dunianya yang tadi gelap mendadak dipenuhi secercah harapan yang sulit dipercaya. Ia mencengkeram lengan petugas medis itu dengan sangat kuat sampai buku jarinya memutih."Siapa yang selamat? Tolong katakan dengan jelas siapa orang itu!" desak Elara dengan suara yang gemetar hebat.Petugas itu tampak ragu sejenak sebelum akhirnya membimbing Elara menuju sebuah ambulans yang baru saja tiba di lokasi. "Dia ditemukan di ruang kedap suara yang sangat dalam, luka-lukanya parah tapi detak jantungnya sangat stabil."Begitu pintu ambulans terbuka, Elara melihat sosok pria yang terbaring lemas di bawah timbunan selimut oksigen. Wajahnya penuh luka gores dan bahunya dibalut perban tebal, namun ia perlahan membuka mata saat mendengar langkah Elara."Aris? Kamu... kamu benar-benar masih hidup?" tangis Elara pecah seketika di samping tandu tersebut.Aris mencoba tersenyum meskipun setiap gerakan wajahnya tampak memberikan rasa sakit yang luar biasa baginya. "Aku bilang aku akan melind






