Início / Todos / HOW TO BE GOOD IN BED / Jejak di Atas Rel

Compartilhar

Jejak di Atas Rel

Autor: Meyrna
last update Data de publicação: 2026-05-05 12:59:41

Elara tersentak melihat foto dirinya terpampang jelas di halaman depan koran tersebut. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari bahwa pelariannya kini menjadi tontonan seluruh negeri.

"Siapa Anda? Apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Elara dengan suara tertahan, mencoba tetap tenang di tengah guncangan kereta.

Penumpang itu perlahan menurunkan korannya, menampakkan wajah seorang pria paruh baya yang terlihat sangat biasa. Namun, sorot matanya tajam dan ia mengenakan pin perak kecil di bal
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pengorbanan Sang Penjaga

    Maaf atas kekeliruan saya sebelumnya yang memasukkan unsur-unsur tersebut. Mari kita perbaiki dan ulangi Bab 79 sepenuhnya agar fokus pada ketegangan maut di atas kapal, murni sebagai kelanjutan dari konspirasi aksi-fiksi ilmiah ini tanpa ada kaitannya dengan lokasi atau latar belakang personal tersebut.Berikut adalah pengerjaan ulang Bab 79:BAB 79: PENGORBANAN SANG PENJAGA"Julian! Jangan bodoh! Singkirkan bom itu!" teriak Aris, suaranya bergaung keras di antara deru mesin kapal The Leviathan yang mulai tidak stabil. Kabut ungu Kala-Kuta di sekitar mereka kian pekat, menyengat mata dan membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.Julian menggeleng lambat, bersandar pada dinding baja hidrolik yang tertutup rapat. Darah segar merembes dari luka tembak di perutnya, menodai kemeja taktisnya yang robek. "Waktu kita habis, Aris. Lima belas detik. Pintu hidrolik ini dikunci secara manual dari ruang mesin pusat oleh dewan direksi. Sistem digital sudah tidak berguna.

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pertempuran Dua Jiwa

    "Danu...!" desis Aris, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit akibat gelombang kejut listrik di lantai baja dek The Leviathan seolah sirna, digantikan oleh kengerian yang menjalar ke seluruh sirkuit sarafnya.Wanita bergaun putih dengan wajah ibu Elara itu tertawa lepas. Suara tawa yang keluar dari pita suara feminin itu terdengar begitu distorsif, pecah menjadi dua frekuensi yang tumpang tindih. "Ya, Aris! Kaget? Teknologi dewan direksi mampu mengunggah matriks kesadaran batiniahku sesaat sebelum raga tuaku hancur di langit ibu kota!""Kau menodai raga ibuku!" pekik Elara. Meskipun lehernya dicengkeram, ia memaksakan sirkuit energi di dadanya bergolak. "Keluar dari tubuh itu, iblis!""Menodai? Tidak, Elara. Aku melestarikannya!" tangan kloning Danu mencengkeram rahang Elara lebih kuat, jarum perak di bawah lidahnya berpendar keunguan. "Sentuhan murni dari garis darahmu adalah kunci sinkronisasi selular terakhirku. Serahkan energimu!""Jangan harap, Tua Bangka!" Aris menghantamk

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Kebangkitan Raga

    "Ibu...?" Elara mencengkeram tepian kursi besi pesawat kargo, wajahnya seketika kehilangan rona darah. Suara dari pengeras suara kokpit itu begitu jernih, begitu mirip dengan rekaman pita suara kuno yang sering ia dengar di ruang kerja mendiang ayahnya.Aris langsung berdiri, merangkul pundak Elara yang mendadak dingin dan gemetar. "Elara, tenang. Ini jebakan saraf. Ibumu sudah tenang dua puluh tahun yang lalu. Ini pasti manipulasi audio dari dewan direksi!""Tidak, Aris... getaran frekuensinya..." Elara menggeleng histeris, air matanya merebak. "Itu bukan sekadar suara rekaman. Sirkuit batin di dadaku... bergetar selaras dengan suara itu. Hanya ibu yang memiliki frekuensi dasar Amrita-Siddhi yang persis seperti ini!"Dari speaker, suara wanita itu kembali terkekeh, suara dingin yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aris benar tentang satu hal, Elara. Raga lamaku memang sudah hancur. Tapi apa jadinya jika memori selular dan sirkuit batin dari otak ibumu in

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sinyal Dari Jauh

    "Apa... apa yang kamu katakan?" Elara mundur selangkah, napasnya tercekat melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap mereka dengan sorot mata yang terlalu dewasa.Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Jarum perak di tangannya sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seorang anak kecil. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Tiba-tiba saja ada suara kakek tua yang menggema di dalam kepalaku."Aris berlutut di depan anak itu, memegang kedua pundak kecilnya dengan lembut namun tegas. Ia mengalirkan getaran energi Amrita-Siddhi untuk memastikan tidak ada lagi sirkuit frekuensi radio yang tersisa di dalam tubuh si anak. "Siapa namamu, Jagoan?""Rian," jawab anak itu lirih."Rian, suara itu... apakah dia mengatakan tempat yang spesifik?" tanya Aris, matanya tajam menyelidiki."Dia bilang... pelabuhan tikus di pulau karang. Tempat ibunya dirawat," bisik Rian sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Elara menatap

  • HOW TO BE GOOD IN BED   RUNTUHNYA JEMBATAN HARAPAN

    "Aris! Pegangan!" teriak Elara saat aspal di bawah kakinya mulai retak dan amblas ke bawah.Bus sekolah nomor 04 condong ke kiri, roda-roda besarnya menjerit slip di atas beton yang miring. Di dalam kabin, suara tangisan anak-anak yang semula kaku kini pecah, menyuarakan ketakutan murni manusiawi."Elara, lompat ke kap jip sekarang!" balas Aris. Ia meluncur turun dari atap bus, menahan benturan pada lututnya dengan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang dipompa maksimal.Linda melepaskan anak panah mekanisnya di tengah guncangan. WUSH! Anak panah itu melesat, namun meleset beberapa sentimeter dari bahu Elara karena sedan hitamnya ikut merosot ke belakang. "Sialan! Mundur! Jalur ini mau roboh!" perintah Linda pada sopirnya."Kamu tidak akan bisa lari, Linda!" pekik Julian yang tiba-tiba muncul dari arah belakang jip, memegang kemudi jip tua pengawas kebun dengan tangan berdarah. "Aris, bawa anak-anak keluar! Aku tahan wanita ini!""Julian! Jangan gila, jembatan ini hancur!" teriak Aris samb

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Senjata Suci Yang Tersandera

    "Hentikan! Jangan gunakan anak-anak itu!" teriak Elara, suaranya melengking memecah keheningan jalur lingkar luar. Langkah kakinya seketika tertahan di atas aspal panas, matanya menatap nanar pada jarum-jarum perak organik yang menyembul dari balik kulit jemari anak-anak di dalam bus.Pria bertopeng gagak itu terkekeh rendah di balik jubah hitamnya. Bilah belati perak di tangannya mendesing pelan, memotong angin malam. "Kenapa begitu, Elara? Bukankah ini pemandangan yang indah? Ilmu biologi yang kau agungkan dan teknik saraf batin milik Silas kini menyatu dalam raga murni mereka.""Mereka bukan senjata, keparat!" bentak Aris, melangkah maju selangkah untuk memosisikan tubuh tegapnya di depan Elara. Otot-otot lengannya menegang, siap menyalurkan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang baru saja pulih."Mundur, Aris!" pria bertopeng gagak itu menaikkan intonasi suaranya. "Satu sentuhan gelombang dari tubuhmu, dan sinyal radio frekuensi rendah dari topengku ini akan memicu denyut kejut di sara

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Perang Urat Saraf

    Elara mematung saat melihat sosok pria yang muncul dari kegelapan di belakang Silas. Wajah itu, meski sudah menua dan penuh guratan lelah, sangat mirip dengan foto yang ada di dalam kotak emas miliknya. Ayahnya—pria yang selama ini ia kira telah tiada—berdiri di sana dengan jubah kelabu yang sederh

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sang Guru Bayangan

    Gua di balik air terjun itu tidak sedingin yang dibayangkan Elara. Udara di dalamnya justru terasa hangat dan dipenuhi aroma dupa yang sangat kuat, jenis wewangian yang biasa digunakan dalam ritual meditasi kuno. Di tengah ruangan yang diterangi cahaya lampu minyak yang bergetar, seorang pria duduk

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Bayang-Bayang Organisasi Terlarang

    Aris memungut tas kulit yang tersangkut di akar pohon bakau pinggir sungai itu dengan wajah yang mengeras. Tulisan darah pada kertas itu seolah menjadi pengingat pahit bahwa kesembuhan fisiknya hanyalah awal dari peperangan yang lebih besar melawan sisa-sisa pengaruh Julian dan organisasinya."Naga

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pembalasan Sang Suami

    Aris berdiri dari balai-balai dengan gerakan yang sangat mantap, sama sekali tidak ada sisa kekakuan yang selama bertahun-tahun membelenggu kakinya. Cengkeramannya di leher Julian begitu kuat hingga pria itu harus berjinjit untuk sekadar mencari udara, wajahnya yang tadi angkuh kini berubah menjadi

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status