แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Iola
Valerie menatap deretan kata itu tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya. Dia tidak membalas. Bahkan tidak memiliki emosi berlebih. Dia hanya membuka aplikasi pesan antar di ponselnya, lalu memasukkan alamat yang diberikan Azka.

Kemudian, memesan satu kotak kondom untuk dikirim ke sana. Dia tahu Azka sengaja memprovokasinya, tetapi dia benar-benar sudah lelah bertengkar dengan Azka dan malas membuat keributan lagi.

Keesokan paginya, Valerie sedang mengepang rambut Selfi yang masih mengantuk dengan sabar, ketika pintu kamar didorong terbuka.

Azka datang.

"Papa!"

Mata Selfi langsung berbinar. Dia membuka kedua tangan kecilnya, lalu berlari memeluk sang ayah. Azka membungkuk dan mengangkat putrinya ke dalam pelukan dengan cekatan, lalu menimangnya ringan.

"Selfi semalam nggak ketemu Papa langsung kangen ya?" Dia tersenyum sambil menggesekkan dagunya ke pipi putrinya, membuat Selfi tertawa cekikikan.

Valerie berdiri di depan meja rias dengan masih memegang sisir, diam-diam memandangi pemandangan itu. Seberantakan apa pun hubungan mereka, di depan Selfi, Azka memang seorang ayah yang nyaris tak bisa dicela.

Mungkin dia bukan suami yang baik, tetapi dalam menjaga dunia polos putri mereka, dia dan Valerie memiliki kesepahaman yang sama. Setidaknya semua urusan wanita-wanita di luar sana tidak pernah sampai menyentuh Selfi sedikit pun.

Setelah menggoda putrinya beberapa saat, Azka akhirnya mengangkat mata memandang Valerie. Nada bicaranya biasa saja, seolah pesan penuh penghinaan semalam tidak pernah ada.

"Hari ini kita bawa Selfi vaksin, aku nggak salah ingat, 'kan?"

"Hm, janjinya jam sembilan."

Valerie menunduk, melanjutkan mengepang sisi rambut lainnya dengan suara datar.

"Oke, aku antar kalian."

Karena bangun terlalu pagi, Selfi tertidur di kursi keselamatan anak dalam perjalanan ke rumah sakit. Jari Azka mengetuk ringan setir mobil sebelum tiba-tiba dia tertawa pelan. Dia menoleh melirik Valerie, sorot matanya menyiratkan rasa penasaran dan sedikit godaan.

"Semalam aku kira yang datang bakal wartawan bawa kamera, atau polisi penggerebekan. Ternyata cuma kurir makanan. Valerie, itu nggak terlalu mirip kamu."

Valerie menatap pemandangan kota yang melesat mundur di luar jendela, suaranya nyaris tanpa emosi.

"Bukannya kamu memang ingin Nyonya Kinanjar yang tahu diri dan nggak buat masalah untukmu?"

Azka tersedak oleh ucapan itu sesaat, lalu kembali berkata, "Tenang saja. Bagaimanapun juga, kamulah istriku yang sah. Mereka cuma hiburan sesaat."

Kata-kata itu seperti jarum kecil yang menusuk pelan dada Valerie. Tidak mematikan, tetapi meninggalkan rasa nyeri samar. Valerie tersenyum tipis tanpa menjawab.

Dulu saat menikahinya, Azka berkata hanya akan ada dirinya seorang seumur hidupnya. Sekarang, "hiburan sesaat" itu muncul satu demi satu tanpa henti.

Mobil berhenti di depan rumah sakit komunitas. Valerie terlebih dahulu mengeluarkan sebuah berkas dari tasnya, lalu menyerahkannya kepada Azka.

"Tanda tangan dulu. Tahun depan Selfi masuk TK, ada data yang perlu diverifikasi."

Tumpukan dokumen itu cukup tebal, dan di dalamnya terselip surat perjanjian cerai.

Azka bahkan tidak melihatnya. Dia langsung mengeluarkan pena dari saku jas, lalu menandatangani namanya satu demi satu.

"Hal kecil begini kamu urus saja sendiri." Dia mengembalikan dokumen itu, lalu membuka pintu mobil dan turun. Kemudian, dia berjalan ke sisi lain untuk menggendong Selfi yang masih tertidur.

Pada saat itu, keributan terdengar dari pintu masuk rumah sakit. Seorang wanita berwajah pucat sedang didorong kasar oleh petugas loket pembayaran. "Kalau nggak punya uang, cepat minggir! Banyak orang lagi antre di belakang!"

Wanita itu terhuyung dan hampir jatuh.

Azka melirik sekilas ke arah sana. Tatapan Valerie juga ikut berpindah. Dia mengenali wanita itu. Salah satu wanita yang dulu pernah diputus Azka demi dirinya.

Valerie berkata datar, "Mau bantu nggak? Lumayan, kenalan lama."

Sudut bibir Azka melengkung sambil mengangkat putrinya keluar dari mobil. "Apa hubungannya sama aku? Aku sudah bilang, hari ini putriku yang paling penting."

Baru selesai vaksinasi, saat Valerie kembali mengangkat kepala, sosok Azka sudah tidak terlihat lagi.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Azka masuk.

[ Ada urusan mendadak yang harus diurus. Kamu bawa Selfi pulang dulu. Beberapa hari lagi ulang tahunnya, aku janji bakal benar-benar menemaninya. ]

Valerie mematikan layar ponsel tanpa ekspresi. Dia tidak lagi peduli apa yang hendak dilakukan Azka. Dia sendiri membawa putrinya ke restoran khusus anak-anak.

Sesuai dugaan, tagar "Pewaris Grup Kinanjar jadi pahlawan penyelamat wanita di depan rumah sakit" sudah muncul di trending.

Foto yang dipasang adalah jepretan candid di depan rumah sakit. Valerie memandang Selfi yang sedang menyuap es krim sedikit demi sedikit, lalu melunakkan nada bicaranya, "Selfi, kalau ... nanti Mama dan Papa sudah nggak tinggal bersama lagi, kamu mau ikut Mama?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 22

    Setelah kejadian itu, Azka tidak pernah muncul lagi. Hari-hari berlalu dengan tenang, seperti lembar demi lembar halaman buku yang dibalik.Studio Valerie perlahan mulai berjalan di jalurnya. Dia menggubah musik untuk sebuah film dokumenter independen. Melodi yang hening dan penuh kehidupan itu ternyata mendapat banyak pujian dari kalangan industri.Undangan kerja sama pun mulai berdatangan.Namun, Valerie memilih dengan sangat hati-hati. Dia hanya menerima proyek yang benar-benar menghargai musik itu sendiri. Dia tidak lagi membutuhkan dukungan dari gelar atau identitas siapa pun. Dia hanya "Valerie sang komposer".Selfi juga telah beradaptasi dengan lingkungan barunya dan mendapatkan teman-teman baru di sekolah yang baru.Revan mengisi kekosongan peran seorang ayah, bahkan melakukan lebih dari itu. Dia akan menemani Selfi membuat kerajinan tangan yang kekanak-kanakan, dengan sabar menjawab berbagai pertanyaan aneh yang muncul dari imajinasi kecilnya, dan berjaga di samping tempat tid

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 21

    Revan perlahan mengangkat pandangannya ke arah Azka. Tatapannya dipenuhi ejekan yang tidak disembunyikan sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat tipis. Dengan suara tegas, dia berkata, "Saudara?""Azka, siapa yang bilang kami saudara kandung?""Maaf membuatmu kecewa. Aku bukan kakak kandung." Dia berhenti sejenak, lalu menoleh kepada Valerie. "Aku memang dipersiapkan keluarga mereka untuk menjadi calon suami Valerie. Aku tumbuh bersamanya, menjaganya, dan menunggunya.""Latar belakangku bersih, riwayatku bersih, dan sejak awal sampai sekarang, di hati dan mataku hanya ada dia seorang. Nggak akan pernah ada orang lain.""Lalu ...."Revan kembali mengunci pandangannya pada wajah Azka yang sudah pucat pasi."Sekarang ada seseorang di sisinya. Orang itu adalah aku. Mengerti?"Kata "calon suami yang dipersiapkan keluarga" bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, meledak keras di benak Azka. Dia menatap Revan dengan tidak percaya, lalu memandang Valerie yang membiarkan semua itu terjadi,

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 20

    Terus-menerus menghindar dan menghalangi bukanlah solusi terbaik. Semakin dia menghindar, semakin erat Azka menempel. Justru itu akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam di hati putrinya.Valerie membutuhkan sebuah pembicaraan yang benar-benar tuntas. Bukan untuk rujuk kembali, melainkan untuk mengakhiri semuanya.Beberapa hari kemudian, setelah mengetahui bahwa Azka kembali mengirim sejumlah mainan mahal ke rumah ibunya, Valerie mengambil inisiatif meneleponnya.Telepon langsung diangkat."Valerie?""Besok pukul tiga sore, di Kafe Ocean." Suara Valerie datar tanpa emosi sedikit pun. "Kita perlu bicara. Berdua saja."Tanpa menunggu tanggapan Azka, dia langsung menutup telepon. Valerie tidak memberinya kesempatan untuk menawar, membantah, atau menyiapkan kata-kata.Di seberang sana, Azka memegang ponselnya dan terdiam selama beberapa detik. Tak lama kemudian, sudut bibirnya tak kuasa tersenyum.Tuh, lihat, 'kan? Dia tahu Valerie tidak akan mampu bertahan.Perang dingin, memblokir kon

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 19

    "Azka, dengarkan baik-baik. Valerie adalah adik yang dibesarkan dan selalu dijaga dengan sepenuh hati olehku!""Dulu gimana kamu bersumpah akan memperlakukannya dengan baik? Lalu apa yang terjadi? Kamu membiarkan sampah nggak tahu diri itu berkali-kali menindasnya, bahkan hampir membuat Selfi kehilangan nyawanya! Sekarang kamu masih berani datang kemari bicara soal urusan keluarga? Bicara soal orang luar?"Setiap kali Revan mengucapkan satu kalimat, wajah Azka menjadi semakin buruk.Detail-detail yang selama ini sengaja dia abaikan, kini dipaparkan dengan terus terang oleh Revan. Azka merasa sangat malu. Dia memaksakan diri untuk tertawa sinis. "Itu cuma kecelakaan! Zara dia ....""Diam!" bentak Revan langsung. Tatapannya dipenuhi rasa jijik yang tidak disembunyikan sedikit pun."Jangan sebut nama wanita itu lagi di sini. Tempat adikku nggak pantas dikotori sama dia! Sekarang aku kasih kamu peringatan terakhir. Segera lenyap dari hadapan adikku. Mulai sekarang, jangan dekati dia lagi d

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 18

    Namun sebelum Valerie benar-benar sempat melangkah maju, kehidupan tenang yang baru saja dia bangun kembali terusik.Saat itu, Valerie sedang membungkuk di depan meja audio untuk menyesuaikan hasil rekaman alat musik gesek yang baru selesai direkam. Pintu studio diketuk pelan. Dia mengira orang yang datang adalah teknisi rekaman yang sudah membuat janji sebelumnya. Oleh karena itu, dia bahkan tidak mendongak sedikit pun saat menjawab, "Silakan masuk."Pintu terbuka. Namun, tidak ada seorang pun yang masuk. Hanya keheningan yang perlahan menyebar.Gerakan Valerie terhenti. Dia perlahan berdiri tegak.Azka berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan mantel abu-abu gelap yang rapi, tubuhnya tinggi dan tegap. Di tangannya ada sebuah kotak hadiah. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tatapannya berat saat memandang Valerie.Azka yang memecah keheningan terlebih dahulu dengan suara yang tenang, "Ternyata kamu bersembunyi di sini demi mencari ketenangan?"Valerie meletakkan headphone yang ada di tangan

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 17

    Alis Revan sedikit berkerut, begitu tipis hingga hampir tidak terlihat. Namun, sesaat kemudian dia kembali memasang senyum santai khasnya."Ada apa ini? Bu, jangan-jangan Ibu lagi mengajak Valerie mengenang masa-masa susah? Jangan sampai adikku menangis lagi. Dia sekarang aset paling berharga di keluarga kita."Ibu Valerie melotot ke arahnya. "Lidahmu memang nggak bisa diam." Dia berdiri lalu berkata, "Sudahlah, kalian ngobrol saja. Ibu pulang dulu."Sebelum pergi, dia menepuk punggung tangan Valerie pelan. Tatapannya menyiratkan makna yang sulit dijelaskan. Lalu, dia benar-benar pergi.Studio kembali sunyi. Kini hanya tersisa mereka berdua.Revan berjalan ke depan meja kerja Valerie. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. Jarak mereka langsung menjadi sangat dekat. Aroma khas tubuhnya seketika memenuhi ruang di sekitar Valerie."Komposer hebat kita lagi mentok ide?" Sudut bibirnya terangkat dengan senyum menggoda yang sudah sangat familier."Keningmu berke

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 9

    Tatapan Azka jatuh pada alat perekam itu. Sebelum dia sempat bergerak, wajah Zara di belakangnya sudah berubah lebih dulu. Suaranya langsung dipenuhi tangis, air matanya mengalir deras."Bukan ... itu bukan suaraku ... palsu, semuanya palsu ....""Nyonya Kinanjar sebegitu membenciku ya? Merusak repu

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 8

    Setelah mengantar Selfi kembali ke vila dan memberi beberapa instruksi detail kepada pengasuh, Valerie mengurung diri di ruang kerja. Proses perceraian tinggal beberapa hari lagi selesai. Dia tidak ingin menimbulkan masalah tambahan lagi.Kalau Azka ingin mengakui anak Zara, biarkan saja. Kebetulan

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 7

    Hari peringatan 100 hari wafatnya ayah Azka, langit tampak muram. Valerie mengarahkan para pelayan menyiapkan semuanya dengan rapi. Itu adalah bentuk penghormatannya kepada pria tua yang memperlakukannya dengan baik semasa hidup.Suara mesin mobil terdengar dari luar rumah. Tanpa perlu menoleh, Vale

  • Hadiah Mengejutkan Di Malam Tahuh Baru   Bab 6

    Valerie bahkan tidak melihat wajah Azka. Dia langsung mengangkat layar ponselnya.Di sana terpampang email tuntutan dari pihak merek, surat pemutusan kerja sama, serta laporan perkiraan kerugian besar dari studio. Tatapan Azka menyapu layar itu dan alisnya sedikit mengernyit."Cuma kecelakaan kecil.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status