Beranda / Romansa / Hamil Tapi Perawan / Bab 6 Tinggal Bersama

Share

Bab 6 Tinggal Bersama

Penulis: Asri Faris
last update Terakhir Diperbarui: 2023-09-05 00:14:11

"Kemasi pakaianmu Tsabi, atau kamu tidak akan membawa apa pun dari sini?" bisik pria itu tepat di dekat telinganya. Hembusan napasnya hangat menyapu pipi, membuat bulu kuduk Tsabi meremang seketika.

Gadis itu menoleh dengan wajah memanas dan tubuh deg degan. Takut sekali kalau tiba-tiba suami dadakannya itu mengambil haknya dengan paksa. Pergerakannya yang tiba-tiba benar-benar hampir membuatnya jantungan.

"Aku sedang menunggumu, bisa bergerak sekarang?" ucap Shaka gemas lama-lama melihat Tsabi hanya diam.

"Aku mau pamit dulu dengan abi dan ummi," ucap Tsabi melangkah keluar dari kamar. Jantung masih berdetak tak beraturan. Biar bagaimanapun dirinya seorang perempuan normal, didekati pria berstatus halal tentu membuatnya berpikir macam-macam.

Shaka menghela napas kasar. Baginya waktunya sangat berharga. Dia adalah orang yang hampir tidak pernah sabar menunggu, mengapa berurusan dengan perempuan itu membuatnya seperti tertahan dengan waktu.

Kesal, membuat pria itu tak tahan lalu ikut menyusulnya keluar. Walaupun hanya bisa melihat drama pamit istrinya yang cukup memangkas waktunya, setidaknya lebih baik daripada harus menunggu di kamar.

"Maafkan Tsabi Ummi, Abi, demi Allah ... Tsabi tidak pernah melakukan hal yang hina sebelum menikah, tetapi Tsabi akan mencoba ikhlas dengan apa yang terjadi. Do'akan Tsabi bisa menjalani rumah tangga baru Tsabi," ucap perempuan berhijab hitam itu sendu.

Ummi Shali memeluk putrinya dengan mata basah. Ia juga merasa tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Kini putrinya telah bersuami dan menjadi seorang istri, melepas dengan orang asing tentu ada gurat khawatir di hatinya.

"Ummi mendoakan semoga pernikahan kalian bahagia. Mohon ampun lah sama Allah ... semoga selalu ada jalan kebaikan untuk kalian," ucap Ummi Shali sebenarnya masih sangat kecewa. Namun, tak bisa marah saat kata perpisahan itu mewarnai malam itu.

Begitupun Ustadz Aka, merasa sangat kecolongan dan gagal menjadi ayah yang baik hingga bisa terjadi seperti ini. Setiap hari bahkan mendengungkan kebaikan, mengajarkan moral untuk anak didiknya. Tibalah dikasih ujian seberat ini benar-benar membuat hatinya masih menyisakan luka.

"Jaga dirimu baik-baik, Nak. Do'aku menyertaimu, patuhilah suamimu selama dalam kebaikan," pesan Ustadz Aka yang sama sedihnya.

"Jangan khawatir Abi, Shaka akan menjaga Tsabi," sahut Shaka tiba-tiba sudah di belakangnya. Pria itu memang misterius sekali, seperti kemunculannya yang merubah hidupnya bahkan statusnya.

"Titip Tsabi, Ka, mulai hari ini tanggung jawabku berpindah padamu. Abi menjaganya dengan penuh cinta, kuharap kamu juga mampu melakukannya," ucap Ustadz Aka memasrahkan putrinya dengan perasaan campur aduk.

"Akan aku jaga amanah Abi sebisa yang Shaka mampu. Do'akan kami bisa terus menguatkan dalam suka maupun duka. Insya Allah ... Shaka akan selalu menjaganya," ucap Shaka yakin.

Tsabi yang mendengar itu semakin bimbang. Tadi pria itu nampak mengerikan, tetapi kali ini terdengar bijak. Sikapnya benar-benar membuat seorang Tsabi Queren dibuat bimbang. Keduanya berjalan meninggalkan pesantren.

"Silahkan masuk Tuan," interupsi seorang supir membukakan pintu mobilnya. Mempersilahkan keduanya masuk setelah barang bawaannya dikemas di bagasi mobilnya.

"Masuklah ...!" ucap Shaka menginterupsi istrinya.

Tsabi masuk mobil dengan perasaan tak karuan. Meninggalkan rumah orang tuanya yang selalu memberikan kenyamanan. Juga meninggalkan pekerjaannya yang menemani hari-harinya. Selepas lulus S1nya, Tsabi ikut mengajar di TPQ Al Hasan khususnya anak-anak. Ekspektasinya setelah menikah bisa tetap menjalankan kegiatannya itu sebelum sibuk mempunyai momongan. Namun, setelah diboyong Shaka, apakah perempuan itu masih tetap bisa berkegiatan di luar tanpa batasan.

Hening, tak ada yang bicara di dalam mobil yang memberikan kenyamanan itu. Sebenarnya mulut Tsabi gatal ingin menanyakan banyak hal, tetapi ia segan dan enggan untuk bertanya banyak hal dengan suaminya yang terlihat begitu dingin.

Setelah berkendara berpuluh menit, akhirnya sampai juga di sebuah hunian yang begitu besar nan mewah. Pria itu langsung turun begitu seseorang membukakan pintunya. Disusul Tsabi yang dipersilahkan setelahnya. Terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam berbaris menunduk hormat saat pria berstatus suaminya itu berjalan.

"Selamat datang kembali Tuan, selamat datang Nona," ucap seorang memberikan selamat dengan sopan.

Shaka tidak menyahut, tetap berjalan tertata memasuki rumahnya. Tsabi yang baru pertama masuk ke rumah itu mengucapkan salam seperti biasa. Mengedarkan pandangan saat tak ada satu orang pun yang menyahuti. Sebenarnya dia memasuki rumah apa, kenapa banyak sekali orang-orang yang menjaga di sini.

"Antar dia ke kamar utama!" titah Shaka pada seseorang yang baru saja menerima jas miliknya yang baru saja dilepas.

"Siap Tuan," jawab wanita berseragam yang sepertinya pelayan di rumah itu.

"Mari Nona," ujarnya mempersilahkan. Berjalan lebih dulu memberi petunjuk.

"Buk, ibuk bekerja di sini? Orang-orang di luar itu siapa? Kenapa rumah ini dijaga banyak orang?" tanya Tsabi tentu saja kepo.

"Iya Nona, panggil saja saya Bik Lusi, saya yang akan membantu semua keperluan Nona di sini."

"Namaku Tsabi, panggil aku Tsabi. Mas Shaka itu tinggal di sini tanpa orang tuanya ya? Mereka ke mana? Atau ada tapi aku tidak melihatnya?" Tsabi merasa aneh, sedari masuk kenapa dia tidak melihat kedua orang tua Shaka. Bukankah anaknya baru saja menikah, mereka juga tidak hadir di acara pernikahannya.

"Siap Nona, silahkan beristirahat, panggil saya jika butuh sesuatu," ucap wanita yang memperkenalkan diri bernama Lusi itu keluar.

Tsabi langsung mengedarkan pandangan. Netranya liar mengitari ruangan kamar yang didominasi dengan ruangan serba putih dan hitam. Nampak begitu luas, dengan ranjang besar di tengahnya. Perempuan itu sebenarnya lelah, tetapi lebih memilih rebahan di sofa karena merasa begitu asing dan tidak nyaman.

Sementara Shaka, pria itu langsung sibuk di ruang pribadinya. Ruangan kerja dan diskusi yang tidak boleh sembarangan orang memasukinya. Ini termasuk ruangan terlarang di antara banyaknya ruangan di rumah itu. Kamar utama dan juga ruang pribadinya. Hanya orang yang berkepentingan yang bisa masuk ke sana.

Usai melakukan kegiatannya di ruang kerja, Shaka keluar cukup larut. Hal itu yang membuat Tsabi bertanya-tanya, ke mana perginya suaminya. Bukankah tadi pria itu sempat mengingatkan kalau malam ini malam pengantin mereka. Kenapa pria itu menghilang begitu saja.

Tsabi langsung menoleh begitu derit pintu terdengar dibuka. Shaka muncul dengan wajah lelah.

"Belum tidur?" tanya Shaka sembari menutup pintunya.

"B-belum," jawabnya terbata. Membenahi getaran jantungnya yang makin deg degan saat pria itu melepas kemejanya begitu saja. Menyisakan tubuh kekarnya terpampang nyata.

"Kenapa?" tanya Shaka dengan santai. Saat Tsabi bahkan kebingungan menetralkan ekspresi wajahnya. Tubuh setengah telanjangnya terpampang nyata di depannya.

"Nggak ada," jawab Tsabi menelan saliva gugup. Ditatap sedemikian intens oleh mata elangnya yang penuh misterius. Terlebih mulai berjalan mendekatinya tanpa kata. Kenapa Tsabi harus setakut ini, bukankah Shaka adalah suaminya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (14)
goodnovel comment avatar
Ida Nur
Shaka perlakukan Shabi dengan baik ya karena dia korban dari perbuatanmu
goodnovel comment avatar
Duma Candrakasi Harahap
hey,,,shaka,,please,,jgn dingin x lah jd suami,,,ntr kasian tsabj yg ada takut lg
goodnovel comment avatar
Asri Faris
Shaka Alkhalifi kak, bener
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 150

    "Tapi apa Mas?" Tsabi yang penasaran langsung mencicipinya. Tidak ada masalah, rasanya juga cukup enak. Namun, ia sedikit eneg ketika mendapati isian bawang bombainya."Hehehe. Seharusnya kamu bikin lebih banyak lagi. Aku suka, kalau ukurannya kecil gini kurang sayang.""Ish ... bikin worry saja. Habisin semuanya Mas, aku kenyang.""Kapan kamu makan?" Sedari bangun Shaka belum melihat istrinya mengisi perutnya."Lihatin kamu udah kenyang. Aku belum lapar, udah minum susu tadi," jawab Tsabi benar adanya."Sini aku suapin," ujar pria itu membagi sisa gigitannya.Sebenarnya Tsabi agak mual dengan bawang bombay, tetapi isian itu kurang menarik tanpa umbi satu itu.Tsabi baru mengunyah beberapa suapan, tetapi dia merasa semakin eneg. Wanita itu langsung beranjak dari kursi seraya menutup mulutnya.Shaka yang melihat itu langsung berdiri menyusul. Paling tidak bisa melihat istrinya dalam kesusahan."Sayang, maaf, kamu beneran mual?" ucap pria itu iba. Kasihan sekali melihat Tsabi yang menda

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 149

    "Kamu juga capek kan Mas, kenapa mijitin?" tanya wanita itu sembari menyender di kepala ranjang. "Lelahku hilang saat melihat senyum kamu sayang," ujar Shaka jujur. Sedamai itu ketika menatap wajahnya yang teduh. Selalu menenangkan. "Bisa aja kamu Mas," jawab Tsabi tersenyum. Ditemani gini saja sudah mengembalikan moodnya. Apalagi dipijitin begini, sungguh Mas Shaka suami yang romantis dan pengertian. Perlahan netra itu mulai berat. Seiring sentuhan lembut yang mendamaikan. Tsabi terlelap begitu saja. Melihat itu, Shaka baru menyudahi pijitanya, dia membenahi posisi tidur istrinya agar lebih nyaman. Sebenarnya ada hasrat rindu yang menggebu, apalagi memang pria itu sudah beberapa hari tak berkunjung. Namun, nampaknya waktu dan keadaan kurang memberikan kesempatan. Tsabi juga terlihat lelah akibat aktivitas seharian di luar. Shaka akan menundanya besok sampai waktu memungkinkan. Agar keduanya sama-sama nyaman. Terutama Tsabi yang saat ini tengah hamil muda. Kadang moodian. Shaka h

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 148

    "Nggak jadi aja ya, perasaan aku nggak enak," kata Shaka yang sebenarnya takut kalau nanti istrinya bakalan sakit hati lagi. "Kenapa, kalau dia nggak mau ketemu sama aku, mungkin mau dijengukin kamu. Kita bisa bawakan makanan kesukaan Angel dan mukena. Aku yakin dia mau berubah. Kita tidak boleh memusuhinya Mas.""Kenapa sih kamu jadi orang baik banget. Dia udah jahat banget loh sama kamu, sama keluarga kita. Wajar kan kalau pada akhirnya aku nggak respect.""Sangat wajar, itu namanya naluriah. Ketika seseorang disakiti terus membalas. Aku cuma mau kasih ini Mas, mana tahu dia bisa terketuk hatinya untuk melakukan kebaikan.""Oke, nanti aku antar," ucap Shaka pada akhirnya. Mereka benar-benar mengunjungi Angel yang saat ini dalam tahanan. Akibat perbuatannya, Angel harus menerima sanksi berat. Mendapatkan kurungan yang tak sebentar. Karena mencoba melakukan penganiayaan dan juga pembunuhan."Ngapain kalian ke sini? Puas lihat aku di sini seperti ini," sentak Angel menatap sinis pasu

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 147

    Sepekan telah berlalu, tapi kesedihan nampaknya masih membekas di hati Shaka. Suasana hatinya beberapa hari ini sedang tidak baik-baik saja. Beruntung Tsabi adalah istri yang begitu perhatian dan pengertian. Wanita itu sangat sabar menemani suaminya yang dalam suasana duka.Hari ini pria itu sudah mulai beraktivitas kembali seperti biasanya. Toko dan bengkelnya juga sudah mulai dibuka kembali. Setelah sepekan tutup total karena dalam suasana berkabung. Ibunya memang belum meninggalkan banyak kenangan manis dengannya. Namun, sebagai seorang anak pasti sangat kehilangan ditinggalkan orang yang telah melahirkannya untuk selamanya. "Mas, ini ganti kamu hari ini," ujar Tsabi menyiapkan pakaian ganti suaminya. Walaupun beraktivitas di samping rumahnya, tentu Tsabi tak pernah lupa mengurusi pakaian suaminya juga untuk kesehariannya. Santai, tapi bersih dan tertata. "Makasih sayang," jawab Shaka memakainya begitu saja di depan istrinya. Sudah tidak tabu lagi. Bahkan menjadi pemandangan men

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 146

    Tepat pukul lima sore hari Nyonya Jesy menghembuskan napasnya yang terakhir. Shaka sangat terpukul dengan kepergian ibunya. Pria itu tersedu sembari membacakan ayat-ayat suci di dekat ibunya. Tsabi mengusap lembut punggung Shaka setelah menyelesaikan surat yasin menutup doa ibu mertuanya. "Yang ikhlas Mas, biar mommy tenang," ucap Tsabi menguatkan. Dia tahu ini berat, hanya doa terbaik untuk almarhum mommy yang sekarang bisa ia lakukan. Wanita itu langsung menghubungi keluarganya. Ummi Shali, Ustadz Aka, dan Khalif serta beberapa orang abdi dalem langsung bertolak ke rumah sakit. Tentu saja untuk mengurus kepulangan dan juga pemakamannya. Beberapa orang lainnya nampak sudah bersiap menunggu jenazah pulang ke rumah duka. Suasana mengharu biru saat jenazah itu tiba dan hendak disholatkan. Ustadz Aka sendiri yang mengimaminya. Berhubung waktu belum terlalu malam, almarhum langsung dikuburkan malam itu juga. Tepatnya setelah sholat maghrib. Semuanya seakan berjalan begitu cepat. Padah

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 145

    "Tsabi, apa yang terjadi sayang?" Ummi Shali dan suaminya langsung bertolak ke rumah menantunya begitu mendapatkan kabar dari Shaka. "Zayba jatuh Ummi, dia sepertinya sangat kaget," jelas Tsabi mengingat bocah kecil itu terlepas dari troli. Salah satu karyawan toko yang menggendongnya dan langsung mengamankan bayi itu. "Astaghfirullah ... Mas, cucuku gimana ini. Kita bawa ke tukang pijat.""Kenapa bisa sampai seteledor itu menjaga anak kecil. Bukankah kamu di rumah?""Tsabi tidak enak badan abi, tadi habis periksa. Aku nitip ke mommy, tapi malah ada musibah begini.""Kamu sakit?" tanya Ummi Shali menatap dengan serius. "Sakit, tapi sebenarnya—" Tsabi terdiam, agak ragu berkata jujur saat ini. Namun, bukankah kabar baik itu harus berbagi. "Sebenarnya apa?" tanya Abi Aka giliran yang menatapnya. "Zayba mau punya adik, Ummi," kata Tsabi malu dan ragu membagi kabar bahagia tersebut. "Kamu hamil lagi?" tanya Ummi cukup kaget. Baby Zayba belum genap satu tahun sudah mau punya bayi. Ba

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 144

    "Ide menarik, boleh dicoba kalau nanti gagal.""Maaf ya, belum bisa bahagiakan kamu," ucap Shaka tiba-tiba. Baru saja mau bangkit, sepertinya ada saja halangannya. "Aku nggak ngerasa gitu kok, maaf juga kalau masih banyak mengeluh selama jadi istri kamu." Tsabi mencoba menerima dan bersabar dengan ujian yang datang dari keluarga Shaka. Dia juga harus bisa menerima keluarganya juga bukan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hampir satu purnama Angel menumpang di rumah mereka. Semua Tsabi lalui dengan tidak mudah. Karena wanita itu sering berulah dengan sengaja. Beruntung Shaka yang pengertian memperlakukan Tsabi dengan penuh perhatian. "Sayang, kamu pucet sakit?" tanya Shaka memperhatikan istrinya yang sepertinya kurang enak badan. "Agak pusing Mas, perlu minum obat kayaknya." Beruntung ini hari libur, jadi Tsabi tidak harus berangkat mengajar. "Ya sudah tiduran saja, mumpung libur juga. Tidak usah mengerjakan apa pun. Zayba hari ini full sama abi.""Makasih Mas," jawab

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 143

    "Nggak bisa Mas, aku kan kemarin sudah izin. Kamu sarapan dulu ya, terus minum obat. Nanti biar Zayba sama Mbok Tini. Kemarin juga seharian sama Mbok Tini."Shaka yang tengah rebahan meraih pinggang istrinya agar duduk makin dekat. Pria itu memposisikan kepalanya tepat di pangkuan istrinya dengan manja. "Obatnya kamu," katanya sembari menenggelamkan wajahnya ke perut Tsabi. Tangan kanannya memeluk erat. Seolah tidak mengizinkan wanita itu untuk beranjak dari sisinya."Aku bikinin sarapan ya, terus minum obat.""Pingin sarapan kamu, yank, aku tidak semangat," kata pria itu mode rewel. Bisa begini juga ternyata cowok yang super dominan itum"Dih ... aku belum bersih lah. Tapi udah mau sembuh kok. Kamu kenapa jadi manja gini sih Mas. Nanti aku kabari kalau udah selesai.""Kangen, namanya juga kangen ya gini. Kamu cuek banget dari kemarin."Repot kalau suaminya mode rewel. Sakit sedikit manjanya ngalahin bayi. Tsabi tidak leluasa bergerak sama sekali. Tiba-tiba Zayba juga merengek. Tsab

  • Hamil Tapi Perawan   Bab 142

    "Kamu ngapain sih Mas ngikutin mulu, tidur sana!" omel Tsabi melihat suaminya mengekor dirinya. "Ya itu Zayba rewel, mana tahu kamu butuh bantuan.""Nggak, aku pikir kamu malah nggak ingat pulang," jawabnya ketus. Efek lelah dan juga tubuhnya sedikit tidak enak badan, membuat Tsabi sewot sendiri. "Kok ngomongnya gitu, aku pasti pulang lah. Ya walaupun akhirnya malam. Maaf, tadi ikut ngaji dulu.""Ya nggak pa-pa kan, aku juga nggak pernah ngelarang juga. Kamu mau ngapain aja terserah kamu. Lagian ada Khalif kok yang bisa bantuin ke mana-mana.""Memangnya tadi ke mana? Kamu nggak telpon kan?""Seharusnya kamu ingat memberi kabar. Bukannya nungguin aku hubungi kamu. Memangnya aku sempat apa telpan telpon terus Zayba sakit begini.""Zayba masih sakit?" Tsabi tidak menjawab, melainkan menatapnya dengan merotasi matanya jengah. Bukankah pria itu tahu tadi pagi juga Tsabi sudah mengeluh kalau bayinya sakit. Apa seorang pria tidak sepeka itu. Perempuan itu kembali masuk ke kamar seraya me

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status