Mag-log in
"Dua bulan menikah dan belum ada tanda-tanda? Kamu ini perawat, Renata. Harusnya kamu lebih tahu cara mengurus kesuburan, bukan cuma tahu cara mengurus orang sakit."
Suara bernada rendah namun tajam itu berasal dari Helena. Wanita paruh baya dengan pakaian elegan itu duduk tenang di kursi makan sambil menyesap teh kamomilnya seolah sedang membicarakan cuaca.
Namun, bagi Renata, ketenangan mertuanya justru jauh lebih mengintimidasi daripada bentakan.
Renata yang kini berusia 28 tahun hanya bisa meremas jemarinya yang masih basah di depan wastafel dapur. Pernikahan ini adalah transaksi.
Demi melunasi utang biaya operasi jantung ayahnya yang mencapai ratusan juta di Rumah Sakit Theodore milik keluarga suaminya, Renata terpaksa setuju masuk ke lingkaran keluarga terpandang ini.
Sebagai perawat di rumah sakit yang sama, gaji bulanan Renata sebenarnya cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
Namun, untuk cicilan utang medis sebesar itu, ditambah biaya obat-obatan pasca-operasi yang tidak di-cover asuransi, penghasilannya jelas tidak akan pernah cukup.
Menikah dengan Adrian adalah satu-satunya jalan pintas agar ayahnya tetap mendapatkan perawatan intensif.
Setelah mendengar ucapan dingin mertuanya itu, Renata kemudian menarik napas perlahan. "Kami masih berusaha, Ma. Adrian juga sangat sibuk di rumah sakit belakangan ini."
"Jangan gunakan kesibukan Adrian sebagai alasan. Rumah sakit ini mengeluarkan dana besar untuk menyelamatkan jantung ayahmu yang hampir mati itu bukan untuk mendapatkan menantu yang tidak bisa memberikan apa-apa,” jawab Helena yang tak mau tahu dengan alasan Renata.
Helena kemudian bangkit dan melangkah mendekati Renata.
"Kamu pikir dengan berpakaian seragam perawat setiap hari dan membantu mencuci piring di sini sudah cukup? Tugas utamamu di rumah ini adalah memberikan cucu untuk keluarga Theodore. Kamu utang budi pada kami, Renata. Dan rahimmu itu adalah jaminannya."
Kalimat itu telak menghantam harga diri Renata. Namun, yang bisa ia lakukan hanyalah mengepalkan tangan di balik tubuhnya. Ada desakan kuat di dadanya untuk berteriak, untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa Adrian bahkan tidak pernah sudi menyentuhnya.
Sejak malam pertama, suaminya selalu tidur di kamar terpisah dan kerap pulang larut dengan aroma parfum wanita lain. Namun, kontrak perjanjian yang mengikatnya membuat Renata terpaksa menelan kembali kata-katanya.
"Saya tahu kewajiban saya, Ma, dan saya akan berusaha," jawab Renata sembari berusaha menatap mata Helena dengan sisa-sisa martabat yang ia miliki, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Bagus kalau kamu sadar diri,” ucap Helena lagi.
"Bukan seperti itu cara berbicara dengan anggota keluarga, Bibi."
Sebuah suara bariton yang tenang membuat Renata dan Helena menoleh bersamaan. Di ambang pintu dapur, berdiri Daniel—sepupu Adrian.
Pria tinggi tegap itu masih mengenakan kemeja rapi dengan jas dokter yang tersampir di lengannya. Ia baru saja menyelesaikan shift malamnya.
Helena mendengus pelan dengan raut wajahnya berubah sinis. "Jangan ikut campur, Daniel. Urus saja urusanmu sendiri. Lagipula, bagaimana kabar pernikahanmu? Kudengar masih sedingin biasanya."
Mendengar sindiran itu, tampaknya Daniel tidak terpancing. Wajahnya tetap datar, tipikal dokter spesialis bedah yang terkenal dingin dan minim ekspresi, baik di rumah sakit maupun di rumah besar ini.
Ia hanya mengalihkan pandangannya pada Renata sambil melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.
"Renata, bukankah besok kamu masuk shift pagi jam enam? Ini sudah jam sebelas malam. Sebaiknya kamu segera istirahat. Kurang tidur bisa menurunkan performamu di ruang rawat," ucap Daniel datar.
Renata agak tertegun. Selama dua bulan tinggal di sini, Daniel adalah orang yang paling jarang berinteraksi dengannya. Mereka hanya sesekali berpapasan di koridor rumah sakit tanpa bertegur sapa.
Mendengar pria itu membelanya atau setidaknya memberi alasan untuk menyudahi obrolan ini, membuat Renata sedikit lega.
"Daniel, aku belum selesai bicara dengannya," potong Helena dengan nada memperingatkan.
Daniel mengedikkan bahu sekilas. "Aku hanya mengingatkan aturan rumah sakit, Bibi. Pekerjaan Renata menyangkut nyawa pasien. Aku permisi ke kamar dulu."
Pria itu berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Helena yang bahkan tampak kesal mendengar ucapan keponakan iparnya itu.
Setelah punggung Daniel menghilang, Helena kembali memfokuskan tatapannya pada Renata. Langkahnya maju satu tapak dan memangkas jarak di antara mereka hingga Renata bisa mencium aroma parfum mahal mertuanya yang mendominasi udara.
"Dengar baik-baik, Renata," bisik Helena dengan suara yang begitu mengerikan. "Gaji perawatmu itu tidak akan pernah bisa menebus harga obat-obatan kronis ayahmu jika keluarga ini lepas tangan. Jika dalam bulan ini kamu belum juga hamil..."
Helena menjeda kalimatnya, tengah memberikan penekanan yang sarat ancaman psikologis.
"Aku pribadi yang akan meminta pihak administrasi mencoret nama ayahmu dari daftar pasien prioritas. Kita lihat seberapa lama ayahmu bisa bertahan tanpa pasokan obat dari rumah sakit ini."
Dinding berlapis panel kayu jati gelap dan ornamen keemasan di Private VIP Suite restoran Le Grand Palais memancarkan keanggunan yang menyesakkan.Bau harum hidangan berkelas dan aroma anggur mahal bercampur dengan ketegangan pekat yang menyelimuti seluruh ruangan.Di ujung kepala meja makan oval raksasa itu, duduk sosok Rommy Gideon.Wajah tua Rommy dipenuhi garis-garis tegas dengan mata elang yang masih berkilat tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang jauh lebih mengintimidasi daripada Harry atau Anton.Di sisi kanannya duduk Anton bersama Helena, sementara di sisi kirinya ada Harry yang duduk tegak dengan raut dingin.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara tanpa dipancing terlebih dahulu. Seluruh jajaran keluarga tampak begitu segan, menata setiap kata dan gestur tubuh mereka dengan kehati-hatian tingkat tinggi.Renata duduk kaku di kursinya, berada di sebelah suaminya, Adrian.Tepat di seberang meja, Daniel duduk bersanding dengan Giselle yang mengenakan gaun malam
Pencahayaan redup di dalam rest room pribadi Direktur Medis baru saja kembali tenang saat Renata selesai merapikan helai demi helai pakaian kerjanya.Tubuhnya masih terasa begitu lelah, pegal, dan agak lengket di beberapa bagian, sisa dari pergulatan panas dan gairah brutal bersama Daniel di atas sofa kulit beberapa saat lalu.Setiap kali ia melangkah, sensasi hangat yang pekat di kedalaman rahimnya seolah terus berdenyut, mengingatkan bahwa cairan biologis milik Daniel masih tersimpan rapi di dalam tubuhnya.Renata berdiri di depan cermin raksasa yang kini agak berembun, memoleskan bedak tipis untuk menutupi rona merah di pipinya serta merapikan tatanan rambutnya yang sempat berantakan.Bzzzt... Bzzzt...Ponsel kerja Renata yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.Getaran panjang itu memutus keheningan ruangan dengan denting nada panggil khusus yang seketika membuat dada Renata berdesir hebat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Renata merogoh benda persegi tersebut, mel
Pintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Renata beradu kontras dengan hawa panas yang mendidih dari tubuh Daniel."D-Daniel... ada kaca di sini," desah Renata tercekat, matanya membelalak menatap pantulan tubuh mereka berdua di dalam cermin."Bagus," bisik Daniel parau di leher Renata, jemari tegapnya merayap tangkas membuka kancing kemeja kerja Renata satu per satu."Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku, Renata."Tanpa menanggalkan seluruh pakaiannya, Daniel menyingkap rok kerja Renata hingga menumpuk di pingga
Pesan singkat terenkripsi itu bergetar halus di dalam saku seragam administrasi Renata, memutus ketenangan rapuh yang baru saja dibangun Widya di sampingnya.Dengan jemari dingin yang sedikit bergetar, Renata merogoh ponselnya di bawah kolong meja, membaca sederet kalimat pendek tanpa nama pengirim yang ia hafal luar kepala:“Ke ruang kerjaku sekarang. Lewat koridor VIP belakang.”Renata menelan ludah kaku. Ia menoleh perlahan ke arah Widya yang sedang sibuk mengetik di komputer bangsal."Wid, aku... aku harus menyerahkan berkas revisi inventaris ini ke lantai atas sebentar," cicit Renata, menyusun alasan sehalus mungkin.Widya menghentikan jemarinya, lalu menatap Renata dengan binar mata mendukung."Pergilah. Ingat pesanku tadi, Ren. Jangan kelihatan panik," bisiknya lembut sembari mengedipkan sebelah mata.Renata mengangguk pelan, meremas map tebal di dadanya lalu melangkah keluar dari ruang administrasi bangsal
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan administrasi bangsal yang sepi, Renata langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putar di balik meja komputer.Ia meletakkan tumpukan map itu secara sembarangan, lalu menyandarkan punggungnya dengan helaan napas yang terputus-putus.Pandangan mata Renata menatap kosong ke arah layar monitor yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata.Pikirannya melayang jauh, sama sekali tidak bisa difokuskan pada angka-angka dan data medis di hadapannya.Detektif swasta... rekaman CCTV hotel... lantai dua belas.Kata-kata Giselle beberapa saat lalu terus bergaung liar di dalam kepalanya bagaikan gema teror yang tak bertepi.Renata memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Bayangan bagaimana Daniel menuntunnya menyusuri lorong privat kamar nomor 1208 semalam melintas begitu nyata.Jika detektif
Napas Giselle memburu hebat, dadanya naik turun seiring dengan gelombang amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.Wajah cantiknya yang biasa dipoles dengan keanggunan palsu kini memerah padam, dipenuhi raut kesetanan atas sikap dingin dan kata-kata menohok yang baru saja dilontarkan oleh suaminya."Brengsek kamu, Daniel!" jerit Giselle tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu pikir kamu bisa berdiri di kursi Direktur Medis ini tanpa sokongan dari keluargaku dan restu dari Paman Harry?!"Daniel tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.Pria tegap itu tetap duduk bersandar dengan tenang, menatap Giselle yang sedang meledak-ledak di hadapannya bagaikan menyaksikan pertunjukan teater yang menjengkelkan.Pandangan matanya yang tajam dan pekat sama sekali tak memancarkan rasa takut, rasa bersalah, apalagi penyesalan.Sikap tak tergerak dari Daniel justru kian menyu







