로그인Keesokan paginya, karena Adrian tidak pulang ke rumah, Renata akhirnya memilih untuk menemui Adrian di rumah sakit.
Tok! Tok!
"Masuk," terdengar sahutan malas dari dalam.
Renata kemudian mendorong pintu perlahan.
Di balik meja kerja yang luas, Adrian tampak sedang bersandar santai di kursi kebesarannya, tengah sibuk menatap layar ponsel dengan senyum geli yang langsung luntur begitu melihat siapa yang datang.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Adrian ketus. "Aku sudah bilang, jangan pernah menemuiku di rumah sakit kalau tidak penting. kamu hanya akan membuang waktuku, Renata."
Setelah menutup pintu, Renata melangkah menghampiri suaminya itu. "Adrian... ini penting. Semalam Mama menemuiku di dapur."
Mendengarnya, Adrian langsung memutar bola mata malas. "Lalu? Paling wanita tua itu hanya memarahimu seperti biasa, kan?”
"Mama menuntutku untuk segera hamil, Adrian!" ucap Renata penuh dengan keputusasaan.
"Beliau bilang... kalau dalam bulan ini aku belum juga hamil, beliau akan menghentikan seluruh pasokan obat rawat jalan Ayah. Nama Ayah akan dicoret dari daftar pasien prioritas dan dikeluarkan dari rumah sakit ini. Aku mohon, bicaralah pada Mamamu—"
"Brengsek! kamu ke sini hanya untuk mengeluh soal itu, hah?!"
Teriakan menggelegar dari Adrian seketika membuat Renata tersentak kaget.
Adrian lalu bangkit dari kursinya dan menatap Renata dengan pandangan sarat akan kejijikan.
"Dengar ya, Renata! Urusan Mama yang menuntut cucu itu masalahmu, bukan masalahku! kamu pikir aku peduli dengan nyawa ayahmu yang sudah sekarat itu? Jangan menggangguku dengan drama bodohmu!"
"Tapi kita harus melakukan sesuatu, Adrian," cicit Renata frustasi. "Bagaimana aku bisa hamil kalau kamu sendiri... kamu bahkan tidak pernah sudi menyentuhku sejak malam pertama kita?"
Adrian tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Renata barusan. "Menyentuhmu? kamu sadar diri tidak, huh?" desis Adrian kemudian menatap seragam perawat Renata yang longgar dan wajah polosnya tanpa riasan.
"kamu pikir aku mau menyentuh wanita miskin menjijikkan, tidak modis, apalagi seksi seperti dirimu? Selera cintaku tinggi, Renata. Kulitmu yang kasar dan aroma tubuhmu yang seperti obat-obatan rumah sakit ini membuat gairahku mati total!"
Ucapan Adrian barusan menghantam tepat ke ulu hatinya, menguliti sisa-sisa harga diri yang mati-matian ia pertahankan sebagai seorang wanita. Hinaan itu begitu kejam, begitu telanjang, diucapkan oleh pria yang secara hukum adalah suaminya sendiri.
Sebelum Renata sempat bersuara, Adrian merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah dompet kulit mewah, dan menarik sebuah kartu kredit berwarna hitam legam dari dalamnya, lalu melemparkannya dengan kasar tepat ke dada Renata.
Kartu plastik tipis itu sempat mengenai dagu Renata sebelum akhirnya jatuh mencium lantai marmer yang dingin.
"kamu mau hamil, kan? Ambil kartu hitam itu!" perintah Adrian tanpa perasaan. "Gunakan uang di dalamnya untuk mencari gigolo murah di luar sana yang mau menidurimu dan menghamilimu! Aku tidak sudi membagi spermaku dengan wanita kelas rendah sepertimu!"
Runtuh sudah pertahanan Renata. Air matanya menetes melewati pipi yang pucat. Harga dirinya sudah berada di titik paling rendah, diinjak-injak hingga tak berbentuk oleh sepasang ibu dan anak keluarga Gideon.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Adrian!" seru Renata dengan suara serak menahan tangis. "Bagaimana jika orang tuamu tahu kalau aku hamil bukan anak kandungmu? Bagaimana kalau rahasia ini terbongkar?!"
Adrian mendengus dan kembali melangkah mundur sambil bersedekap dada dengan angkuh.
"Aku tidak peduli! Mau itu anak gigolo, anak gelandangan, aku tidak peduli sama sekali! Yang penting di depan kakek dan orang tuaku, kamu hamil saat masih berstatus sebagai istriku. Dengan begitu, aku bisa menjadi pewaris tunggal rumah sakit ini dan mengamankan seluruh harta keluarga Gideon."
Pria itu kemudian berbalik dan mengibaskan tangannya mengusir Renata seolah wanita itu hanyalah lalat pengganggu yang kotor.
"Sekarang, keluar dari ruanganku! Ambil kartu itu dan jangan pernah menggangguku lagi dengan masalah rahimmu itu!"
Namun, Renata tidak sudi menyentuh kartu hitam di lantai tersebut. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia berbalik dan setengah berlari keluar dari ruangan terkutuk itu.
Langkah kakinya membawa Renata menyusuri lorong rumah sakit dengan pandangan yang kabur oleh air mata. Dadanya terasa begitu sesak, seolah oksigen di sekitar telah habis.
Tekanan dari Helena semalam, ditambah hinaan luar biasa dari Adrian barusan, membuat Renata merasa benar-benar tidak berdaya.
Ia merasa dikurung di dalam neraka yang diciptakan oleh seluruh keluarga Gideon, tempat di mana dirinya hanya dianggap sebagai budak pemancing harta tanpa memiliki hak atas tubuhnya sendiri.
Karena terlalu lelah dan fokus pada rasa hancur di dadanya, Renata sama sekali tidak memperhatikan tikungan koridor di depannya.
Bruk!
Tubuh kecil Renata menabrak dada bidang seseorang yang sedang berjalan dari arah berlawanan dengan cukup keras.
Sentuhan fisik yang tiba-tiba itu membuat tubuh Renata yang lemas limbung ke belakang, beruntung sebuah tangan kanan kekar dengan sigap mencengkeram lengan atasnya, menahan Renata agar tidak jatuh terjembab ke lantai koridor.
"Ma-maaf... maafkan saya, saya tidak sengaja—"
Namun, kalimat maafnya langsung terputus di tenggorokan usai ia mendongakkan kepala untuk melihat siapa pria yang baru saja dia tabrak.
Napas Renata tercekat seketika saat matanya yang sembap bertemu pandang dengan sepasang mata elang yang dingin namun menembus langsung ke dalam jiwanya.
"Dok-Dokter Daniel...?"
"Selamat pagi, Staf Judes favoritku!" sapa sebuah suara ramah di depan meja administrasi.Langkah kaki santai itu terhenti tepat di depan kaunter tempat Widya sedang sibuk mengetik laporan harian.James kembali datang dan menyapa Widya dengan senyum jahilnya yang membuat Widya kesal setengah mati.Widya menghentikan jemarinya di atas papan ketik, mendongak tajam menatap pria tampan berbaju dokter itu."Bisa tidak pagi-pagi begini kamu tidak usah memancing emosiku, Dokter James?" sembur Widya ketus."Aku ke sini cuma mau bertanya dengan sopan, kenapa kamu galak sekali?" goda James terkekeh pelan."Mau tanya apa lagi?! Jangan ganggu pekerjaanku kalau tidak ada urusan penting!" sahut Widya mendelik.Rona merah tipis mendadak muncul di pipinya akibat rasa kesal yang berbaur malu mengingat kejadian kemarin.James menyandarkan kedua sikunya di atas kaunter kayu, menatap Widya dengan binar mata jenaka."Tenang dulu, Staf Judes. Apakah Daniel sudah datang ke rumah sakit pagi ini?" tanya James
"Daniel, bagaimana kalau rencana ini justru menghancurkan kita berdua nanti?" bisik Renata.Suara Renata bergetar halus di tengah heningnya kabin mobil yang terasa makin sempit.Melihat wajah Renata yang diliputi keraguan dan beban pikiran yang berat, Daniel mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi Renata untuk menenangkan wanita itu."Hentikan pikiran burukmu itu, Renata," potong Daniel dengan nada suara yang amat lembut namun penuh penekanan.Ibu jarinya menyapu sisa kebasahan di pipi Renata, mengalirkan sensasi hangat yang menenangkan gelisah wanita itu.Pria tegap itu meminta Renata dengan tegas agar berhenti memikirkan rumitnya masalah keturunan dan ancaman jabatan tersebut."Semua ancaman dari Pria Tua itu adalah urusanku, kamu tidak perlu ikut memikirkannya," tegas Daniel.Matanya menatap dalam-dalam, mengunci pandangan Renata agar tidak berpaling sedikit pun darinya.Ia menegaskan bahwa semua itu adalah urusan dan permainannya sendiri, bukan hal yang harus membebani pikiran
"Daniel... kamu tidak sedang bercanda, kan?" bisik Renata dengan suara bergetar.Matanya berkaca-kaca menatap pria di sampingnya, merasa dadanya mendadak dihantam rasa sesak yang luar biasa.Renata tertegun membisu mendengar penuturan itu; dadanya berdesir perih saat fakta rumit di lingkaran keluarga Gideon kembali membentang di depan matanya."Aku pernah bercanda tentang hal sepenting ini padamu, Renata?" balas Daniel balik bertanya.Tatapan matanya yang pekat mengunci wajah pucat Renata tanpa memberi celah sedikit pun untuk menghindar.Keheningan di dalam kabin mobil yang terisolasi itu makin menambah beban berat di antara mereka berdua."Lalu... apa jawabanmu pada Paman Harry?" tanya Renata dengan napas menahan tercekat.Ia meremas pinggiran pakaiannya dengan erat, mencoba memberanikan diri untuk menggali lebih dalam.Renata menatap wajah tegas Daniel dan bertanya apakah pria itu menyetujui perintah gila dari ayahnya untuk mencari surrogate mother."Menurutmu aku tipe pria yang aka
"Daniel, bisakah kamu membantuku menaikkan sandaran kursi ini?" bisik Renata lirih.Suara Renata terdengar parau di tengah heningnya kabin mobil yang masih hangat oleh sisa-sisa gairah.Usai peraduan gairah yang melelahkan di dalam mobil, keheningan menyeruak menyelimuti keduanya."Kemari, biarkan aku yang merapikan pakaianmu dulu," sahut Daniel dengan nada suara rendah.Tangan tegapnya bergerak cekatan mengancingkan kemeja kerja Renata yang sempat terbuka berantakan.Sambil merapikan kancing kemejanya yang berantakan dan menata helai rambutnya, Renata akhirnya memberanikan diri."Sebenarnya... ada apa dengan panggilan telepon dari ayahmu tadi siang?" tanya Renata pelan.Matanya menatap lekat garis rahang Daniel yang mendadak kembali mengeras kaku saat pertanyaan itu terucap.Ia penasaran mengenai alasan di balik panggilan telepon dari ayah Daniel, Harry Gideon, yang sempat menyulut amarah pria itu sebelumnya."Pria tua itu selalu tahu cara merusak suasana hatiku," geram Daniel menaha
"Daniel, pelankan mobilnya! Kita bisa kecelakaan kalau kamu menyetir seperti ini!" jerit Renata panik.Jarum spedometer di hadapan mereka terus merangkak naik, membelah keheningan malam yang makin pekat.Daniel menginjak pedal gas secara mendalam, membelah kegelapan malam hingga mobil beratap gelap itu melaju kencang menuju sebuah sudut jalanan yang sunyi dan terisolasi di bawah rindangnya pepohonan."Diam dan nikmati saja perjalanannya, Renata," potong Daniel dengan suara berat dan parau.Napasnya memburu tajam, diwarnai rasa cemburu dan hasrat terpendam yang siap meledak kapan saja.Tanpa mematikan mesin, Daniel menepikan mobilnya, melepas sabuk pengaman, dan langsung merengkuh tubuh Renata ke dalam pangkuannya secara dominan."D-Daniel! Apa yang kamu lakukan? Ini di dalam mobil!" seru Renata terperanjat.Namun ucapan Renata seketika teredam saat jemari tegap Daniel mencengkeram tengkuknya dengan sangat erat.Pertengkaran singkat mereka meluas menjadi lecutan gairah yang tak tertaha
"Masuk ke mobil sekarang, Renata, sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku!" dorong Daniel tegas.Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Renata makin ketat hingga meninggalkan bekas kemerahan.Suasana dingin malam di pinggir jalan seketika mencekam saat Daniel menarik paksa pergelangan tangan Renata dan membawanya masuk ke dalam mobil mewah milik pria itu."Dokter Daniel, tunggu dulu! Anda tidak bisa memperlakukan Renata secara kasar seperti ini!" seru Dokter Julian.Langkah kaki Julian yang sempat ragu kini terhenti tepat beberapa meter di samping mobil mewah tersebut.Dokter Julian yang terpaku menyaksikan kejadian tersebut berusaha mencegah, namun intimidasi tajam dari tatapan mata elang Daniel membuat lidah dokter muda itu membeku kaku."Sekali lagi kamu ikut campur, kariermu di rumah sakit ini selesai malam ini juga," ancam Daniel dingin.Daniel memutar kepalanya lambat, melempar tatapan membunuh yang sanggup meremukkan keberanian siapa pun.Sensasi membeku seketika melingkup







