Share

Bab 2

Penulis: Leona Valeska
last update Tanggal publikasi: 2026-07-06 14:14:17

Keesokan paginya, karena Adrian tidak pulang ke rumah, Renata akhirnya memilih untuk menemui Adrian di rumah sakit.

Tok! Tok!

"Masuk," terdengar sahutan malas dari dalam.

Renata kemudian mendorong pintu perlahan.

Di balik meja kerja yang luas, Adrian tampak sedang bersandar santai di kursi kebesarannya, tengah sibuk menatap layar ponsel dengan senyum geli yang langsung luntur begitu melihat siapa yang datang.

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Adrian ketus. "Aku sudah bilang, jangan pernah menemuiku di rumah sakit kalau tidak penting. kamu hanya akan membuang waktuku, Renata."

Setelah menutup pintu, Renata melangkah menghampiri suaminya itu. "Adrian... ini penting. Semalam Mama menemuiku di dapur."

Mendengarnya, Adrian langsung memutar bola mata malas. "Lalu? Paling wanita tua itu hanya memarahimu seperti biasa, kan?”

"Mama menuntutku untuk segera hamil, Adrian!" ucap Renata penuh dengan keputusasaan.

"Beliau bilang... kalau dalam bulan ini aku belum juga hamil, beliau akan menghentikan seluruh pasokan obat rawat jalan Ayah. Nama Ayah akan dicoret dari daftar pasien prioritas dan dikeluarkan dari rumah sakit ini. Aku mohon, bicaralah pada Mamamu—"

"Brengsek! kamu ke sini hanya untuk mengeluh soal itu, hah?!"

Teriakan menggelegar dari Adrian seketika membuat Renata tersentak kaget.

Adrian lalu bangkit dari kursinya dan menatap Renata dengan pandangan sarat akan kejijikan.

"Dengar ya, Renata! Urusan Mama yang menuntut cucu itu masalahmu, bukan masalahku! kamu pikir aku peduli dengan nyawa ayahmu yang sudah sekarat itu? Jangan menggangguku dengan drama bodohmu!"

"Tapi kita harus melakukan sesuatu, Adrian," cicit Renata frustasi. "Bagaimana aku bisa hamil kalau kamu sendiri... kamu bahkan tidak pernah sudi menyentuhku sejak malam pertama kita?"

Adrian tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Renata barusan. "Menyentuhmu? kamu sadar diri tidak, huh?" desis Adrian kemudian menatap seragam perawat Renata yang longgar dan wajah polosnya tanpa riasan.

"kamu pikir aku mau menyentuh wanita miskin menjijikkan, tidak modis, apalagi seksi seperti dirimu? Selera cintaku tinggi, Renata. Kulitmu yang kasar dan aroma tubuhmu yang seperti obat-obatan rumah sakit ini membuat gairahku mati total!"

Ucapan Adrian barusan menghantam tepat ke ulu hatinya, menguliti sisa-sisa harga diri yang mati-matian ia pertahankan sebagai seorang wanita. Hinaan itu begitu kejam, begitu telanjang, diucapkan oleh pria yang secara hukum adalah suaminya sendiri.

Sebelum Renata sempat bersuara, Adrian merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah dompet kulit mewah, dan menarik sebuah kartu kredit berwarna hitam legam dari dalamnya, lalu melemparkannya dengan kasar tepat ke dada Renata.

Kartu plastik tipis itu sempat mengenai dagu Renata sebelum akhirnya jatuh mencium lantai marmer yang dingin.

"kamu mau hamil, kan? Ambil kartu hitam itu!" perintah Adrian tanpa perasaan. "Gunakan uang di dalamnya untuk mencari gigolo murah di luar sana yang mau menidurimu dan menghamilimu! Aku tidak sudi membagi spermaku dengan wanita kelas rendah sepertimu!"

Runtuh sudah pertahanan Renata. Air matanya menetes melewati pipi yang pucat. Harga dirinya sudah berada di titik paling rendah, diinjak-injak hingga tak berbentuk oleh sepasang ibu dan anak keluarga Gideon.

"Itu tidak akan pernah terjadi, Adrian!" seru Renata dengan suara serak menahan tangis. "Bagaimana jika orang tuamu tahu kalau aku hamil bukan anak kandungmu? Bagaimana kalau rahasia ini terbongkar?!"

Adrian mendengus dan kembali melangkah mundur sambil bersedekap dada dengan angkuh.

"Aku tidak peduli! Mau itu anak gigolo, anak gelandangan, aku tidak peduli sama sekali! Yang penting di depan kakek dan orang tuaku, kamu hamil saat masih berstatus sebagai istriku. Dengan begitu, aku bisa menjadi pewaris tunggal rumah sakit ini dan mengamankan seluruh harta keluarga Gideon."

Pria itu kemudian berbalik dan mengibaskan tangannya mengusir Renata seolah wanita itu hanyalah lalat pengganggu yang kotor.

"Sekarang, keluar dari ruanganku! Ambil kartu itu dan jangan pernah menggangguku lagi dengan masalah rahimmu itu!"

Namun, Renata tidak sudi menyentuh kartu hitam di lantai tersebut. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia berbalik dan setengah berlari keluar dari ruangan terkutuk itu.

Langkah kakinya membawa Renata menyusuri lorong rumah sakit dengan pandangan yang kabur oleh air mata. Dadanya terasa begitu sesak, seolah oksigen di sekitar telah habis.

Tekanan dari Helena semalam, ditambah hinaan luar biasa dari Adrian barusan, membuat Renata merasa benar-benar tidak berdaya.

Ia merasa dikurung di dalam neraka yang diciptakan oleh seluruh keluarga Gideon, tempat di mana dirinya hanya dianggap sebagai budak pemancing harta tanpa memiliki hak atas tubuhnya sendiri.

Karena terlalu lelah dan fokus pada rasa hancur di dadanya, Renata sama sekali tidak memperhatikan tikungan koridor di depannya.

Bruk!

Tubuh kecil Renata menabrak dada bidang seseorang yang sedang berjalan dari arah berlawanan dengan cukup keras.

Sentuhan fisik yang tiba-tiba itu membuat tubuh Renata yang lemas limbung ke belakang, beruntung sebuah tangan kanan kekar dengan sigap mencengkeram lengan atasnya, menahan Renata agar tidak jatuh terjembab ke lantai koridor.

"Ma-maaf... maafkan saya, saya tidak sengaja—"

Namun, kalimat maafnya langsung terputus di tenggorokan usai ia mendongakkan kepala untuk melihat siapa pria yang baru saja dia tabrak.

Napas Renata tercekat seketika saat matanya yang sembap bertemu pandang dengan sepasang mata elang yang dingin namun menembus langsung ke dalam jiwanya.

"Dok-Dokter Daniel...?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 117

    Dinding berlapis panel kayu jati gelap dan ornamen keemasan di Private VIP Suite restoran Le Grand Palais memancarkan keanggunan yang menyesakkan.Bau harum hidangan berkelas dan aroma anggur mahal bercampur dengan ketegangan pekat yang menyelimuti seluruh ruangan.Di ujung kepala meja makan oval raksasa itu, duduk sosok Rommy Gideon.Wajah tua Rommy dipenuhi garis-garis tegas dengan mata elang yang masih berkilat tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang jauh lebih mengintimidasi daripada Harry atau Anton.Di sisi kanannya duduk Anton bersama Helena, sementara di sisi kirinya ada Harry yang duduk tegak dengan raut dingin.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara tanpa dipancing terlebih dahulu. Seluruh jajaran keluarga tampak begitu segan, menata setiap kata dan gestur tubuh mereka dengan kehati-hatian tingkat tinggi.Renata duduk kaku di kursinya, berada di sebelah suaminya, Adrian.Tepat di seberang meja, Daniel duduk bersanding dengan Giselle yang mengenakan gaun malam

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 116

    Pencahayaan redup di dalam rest room pribadi Direktur Medis baru saja kembali tenang saat Renata selesai merapikan helai demi helai pakaian kerjanya.Tubuhnya masih terasa begitu lelah, pegal, dan agak lengket di beberapa bagian, sisa dari pergulatan panas dan gairah brutal bersama Daniel di atas sofa kulit beberapa saat lalu.Setiap kali ia melangkah, sensasi hangat yang pekat di kedalaman rahimnya seolah terus berdenyut, mengingatkan bahwa cairan biologis milik Daniel masih tersimpan rapi di dalam tubuhnya.Renata berdiri di depan cermin raksasa yang kini agak berembun, memoleskan bedak tipis untuk menutupi rona merah di pipinya serta merapikan tatanan rambutnya yang sempat berantakan.Bzzzt... Bzzzt...Ponsel kerja Renata yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.Getaran panjang itu memutus keheningan ruangan dengan denting nada panggil khusus yang seketika membuat dada Renata berdesir hebat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Renata merogoh benda persegi tersebut, mel

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 115

    Pintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Renata beradu kontras dengan hawa panas yang mendidih dari tubuh Daniel."D-Daniel... ada kaca di sini," desah Renata tercekat, matanya membelalak menatap pantulan tubuh mereka berdua di dalam cermin."Bagus," bisik Daniel parau di leher Renata, jemari tegapnya merayap tangkas membuka kancing kemeja kerja Renata satu per satu."Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku, Renata."Tanpa menanggalkan seluruh pakaiannya, Daniel menyingkap rok kerja Renata hingga menumpuk di pingga

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 114

    Pesan singkat terenkripsi itu bergetar halus di dalam saku seragam administrasi Renata, memutus ketenangan rapuh yang baru saja dibangun Widya di sampingnya.Dengan jemari dingin yang sedikit bergetar, Renata merogoh ponselnya di bawah kolong meja, membaca sederet kalimat pendek tanpa nama pengirim yang ia hafal luar kepala:“Ke ruang kerjaku sekarang. Lewat koridor VIP belakang.”Renata menelan ludah kaku. Ia menoleh perlahan ke arah Widya yang sedang sibuk mengetik di komputer bangsal."Wid, aku... aku harus menyerahkan berkas revisi inventaris ini ke lantai atas sebentar," cicit Renata, menyusun alasan sehalus mungkin.Widya menghentikan jemarinya, lalu menatap Renata dengan binar mata mendukung."Pergilah. Ingat pesanku tadi, Ren. Jangan kelihatan panik," bisiknya lembut sembari mengedipkan sebelah mata.Renata mengangguk pelan, meremas map tebal di dadanya lalu melangkah keluar dari ruang administrasi bangsal

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 113

    Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan administrasi bangsal yang sepi, Renata langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putar di balik meja komputer.Ia meletakkan tumpukan map itu secara sembarangan, lalu menyandarkan punggungnya dengan helaan napas yang terputus-putus.Pandangan mata Renata menatap kosong ke arah layar monitor yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata.Pikirannya melayang jauh, sama sekali tidak bisa difokuskan pada angka-angka dan data medis di hadapannya.Detektif swasta... rekaman CCTV hotel... lantai dua belas.Kata-kata Giselle beberapa saat lalu terus bergaung liar di dalam kepalanya bagaikan gema teror yang tak bertepi.Renata memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Bayangan bagaimana Daniel menuntunnya menyusuri lorong privat kamar nomor 1208 semalam melintas begitu nyata.Jika detektif

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 112

    Napas Giselle memburu hebat, dadanya naik turun seiring dengan gelombang amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.Wajah cantiknya yang biasa dipoles dengan keanggunan palsu kini memerah padam, dipenuhi raut kesetanan atas sikap dingin dan kata-kata menohok yang baru saja dilontarkan oleh suaminya."Brengsek kamu, Daniel!" jerit Giselle tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu pikir kamu bisa berdiri di kursi Direktur Medis ini tanpa sokongan dari keluargaku dan restu dari Paman Harry?!"Daniel tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.Pria tegap itu tetap duduk bersandar dengan tenang, menatap Giselle yang sedang meledak-ledak di hadapannya bagaikan menyaksikan pertunjukan teater yang menjengkelkan.Pandangan matanya yang tajam dan pekat sama sekali tak memancarkan rasa takut, rasa bersalah, apalagi penyesalan.Sikap tak tergerak dari Daniel justru kian menyu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status