LOGIN"Kamu habis menangis?"
Pertanyaan bernada rendah, tajam, dan penuh penekanan itu langsung membuat Renata terkesiap.
Ia pun buru-buru memalingkan wajah sambil menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan secara kasar, lalu menunduk dalam-dalam. "Ma-maaf, Dokter Daniel. Aku benar-benar tidak sengaja menabrak Anda tadi. Permisi—"
"Apa yang membuatmu menangis? Adrian?" potong Daniel dengan tatapan yang begitu lekat menatap Renata.
Mendengar nama suaminya disebut, dada Renata kembali berdenyut perih. Namun, ia buru-buru menggelengkan kepala. "Bukan... bukan karena Adrian, Dokter."
"Adrian sama sekali tidak pantas ditangisi oleh siapa pun, termasuk dirimu. Jangan buang air matamu untuk hal tidak berguna,” ucap Daniel seraya menatap Renata dengan pandangan mengintimidasi yang sanggup mengunci pergerakan wanita itu.
Sebelum Renata sempat mencerna ketegangan di antara mereka, Daniel mengulurkan tangan kirinya, dan menyodorkan sebuah cup kopi hangat yang baru saja ia bawa dari lounge khusus dokter spesialis.
"Minum ini," ujar Daniel dingin, namun sarat akan perintah.
Renata melirik cup kopi itu, lalu menggeleng pelan dengan canggung. "Terima kasih, Dokter Daniel, tapi aku tidak—"
Belum sempat Renata menyelesaikan kalimat penolakannya, Daniel sudah maju satu langkah. Tekanan aura dominan dari pria bertubuh tegap itu membuat Renata refleks menahan napas.
Tanpa suara, Daniel meraih jemari kanan Renata, membuka telapak tangan wanita itu, dan langsung menaruh cup kopi hangat tersebut di sana. Sentuhan kulit Daniel yang kokoh dan hangat sempat membuat Renata membeku seketika.
"Kalau bukan karena Adrian, lalu apa yang sebenarnya membuatmu menangis?" tanya Daniel lagi, dengan sepasang mata elangnya mengunci pandangan Renata dengan tajam.
Renata menelan salivanya dengan pelan sambil meremas cup kopi di tangannya. Tentu saja ia tidak bisa memberitahu Daniel tentang kegilaan yang baru saja terjadi di ruangan Adrian.
Bagaimana mungkin ia bercerita bahwa ibu mertuanya mengancam akan menghentikan pengobatan ayahnya, sementara Adrian dengan santai menyuruhnya mencari pria lain di luar sana untuk dihamili asal kontrak mereka selesai? Itu terlalu menjijikkan.
"Aku... aku hanya sedikit kelelahan karena shift pagi kemarin, Dokter," dusta Renata dengan suara lirih. "Kalau begitu, aku pamit terlebih dahulu. Pekerjaanku di bangsal masih banyak yang belum selesai. Permisi.”
Renata membungkukkan badannya sekilas dan memutar tubuh, bersiap melangkah pergi demi menghindari tatapan Daniel yang seolah bisa membaca isi kepalanya.
Namun, baru dua langkah kakinya berayun, langkah Renata terhenti spontan usai mendengar suara langkah sepatu hak tinggi yang mendekat, diikuti panggilan bernada manja yang familier.
"Daniel, Sayang!"
Seorang wanita cantik dengan pakaian desainer ternama yang sangat mencolok melangkah anggun menyusuri koridor rumah sakit. Wanita itu adalah Giselle Amanda, istri sah dari Daniel Gideon.
Giselle berhenti tepat di depan Daniel, langsung menggelayutkan tangannya di lengan kokoh sang suami, mengabaikan keberadaan Renata sepenuhnya seolah perawat itu hanyalah angin lalu.
"Kenapa ponselmu susah sekali dihubungi, sih? Aku mengirim pesan sejak satu jam yang lalu," ucap Giselle dengan nada merajuk, mengerucutkan bibirnya dengan manis sambil menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.
Daniel tidak melepaskan tangan Giselle, namun tubuhnya tetap tegak, kaku, dan dingin. "Aku baru saja keluar dari ruang operasi, Giselle. Ada apa kamu ke sini?" tanyanya datar tanpa ekspresi.
"Uang bulanan yang kemarin sudah habis untuk bayar butik, Sayang," bisik Giselle lembut, lalu jemarinya bergerak manja merapikan kerah kemeja Daniel sebelum menyodorkan ponsel pintarnya yang menampilkan aplikasi perbankan.
"Malam ini aku ada arisan berlian dengan teman-teman sosialitaku. Kirimkan ke rekeningku sekarang ya? Pliis... kamu kan tahu posisimu sebagai Direktur Medis di sini juga berkat relasi dari keluargaku."
Meskipun disampaikan dengan senyuman manis dan nada merayu, kalimat terakhir Giselle adalah sebuah tuntutan yang jelas.
Renata yang berdiri tidak jauh dari sana refleks menahan napas. Ia mengira Daniel akan langsung menuruti atau setidaknya merasa tersudut. Namun, dugaannya salah besar.
Daniel menurunkan tangan Giselle dari lengannya dengan gerakan perlahan namun tegas. Tidak ada gurat kepanikan atau kemarahan yang meledak di wajah tampannya. Hanya ada tatapan sedingin es yang membuat atmosfer di koridor itu mendadak mencekam.
"Aku baru mengirimkan dana dua hari yang lalu, Giselle. Dan rumah sakit ini berkembang karena kompetensiku, bukan karena makan malam formal yang dibuat keluargamu," ucap Daniel, suaranya begitu tenang namun sarat akan otoritas yang mutlak dan tak terbantahkan.
Daniel memasukkan satu tangannya ke saku celana, menatap istrinya dari ketinggian fisiknya yang intimidatif. "Pulanglah. Jangan bawa urusan dompet pribadimu ke koridor rumah sakit saya."
Giselle langsung terdiam, bahkan senyum manjanya pun sontak membeku. Di depan ketegasan Daniel yang begitu berkuasa, wanita sosialita itu tidak berani membantah atau membuat keributan.
Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan kekesalan yang tertahan oleh wibawa suaminya yang terlalu dominan.
Renata yang menyaksikan hal itu dari jarak dekat merasakan debaran aneh di dadanya.
Di rumah besar keluarga Gideon, Daniel memang terkenal dingin dan jarang bicara, namun melihat bagaimana pria itu mengendalikan situasi dengan satu kalimat datar tanpa kehilangan harga dirinya sebagai lelaki, membuat Renata sadar betapa kuatnya pengaruh Daniel.
Melihat bagaimana dinginnya hubungan pernikahan Daniel dan bagaimana manipulatifnya Giselle bertingkah, akhirnya kini Renata mengerti arti dari ucapan ibu mertuanya kemarin malam.
'Jadi ini pernikahan hambar yang dimaksud oleh ibunya Adrian?' bisiknya dalam hati.
Dinding berlapis panel kayu jati gelap dan ornamen keemasan di Private VIP Suite restoran Le Grand Palais memancarkan keanggunan yang menyesakkan.Bau harum hidangan berkelas dan aroma anggur mahal bercampur dengan ketegangan pekat yang menyelimuti seluruh ruangan.Di ujung kepala meja makan oval raksasa itu, duduk sosok Rommy Gideon.Wajah tua Rommy dipenuhi garis-garis tegas dengan mata elang yang masih berkilat tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang jauh lebih mengintimidasi daripada Harry atau Anton.Di sisi kanannya duduk Anton bersama Helena, sementara di sisi kirinya ada Harry yang duduk tegak dengan raut dingin.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara tanpa dipancing terlebih dahulu. Seluruh jajaran keluarga tampak begitu segan, menata setiap kata dan gestur tubuh mereka dengan kehati-hatian tingkat tinggi.Renata duduk kaku di kursinya, berada di sebelah suaminya, Adrian.Tepat di seberang meja, Daniel duduk bersanding dengan Giselle yang mengenakan gaun malam
Pencahayaan redup di dalam rest room pribadi Direktur Medis baru saja kembali tenang saat Renata selesai merapikan helai demi helai pakaian kerjanya.Tubuhnya masih terasa begitu lelah, pegal, dan agak lengket di beberapa bagian, sisa dari pergulatan panas dan gairah brutal bersama Daniel di atas sofa kulit beberapa saat lalu.Setiap kali ia melangkah, sensasi hangat yang pekat di kedalaman rahimnya seolah terus berdenyut, mengingatkan bahwa cairan biologis milik Daniel masih tersimpan rapi di dalam tubuhnya.Renata berdiri di depan cermin raksasa yang kini agak berembun, memoleskan bedak tipis untuk menutupi rona merah di pipinya serta merapikan tatanan rambutnya yang sempat berantakan.Bzzzt... Bzzzt...Ponsel kerja Renata yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.Getaran panjang itu memutus keheningan ruangan dengan denting nada panggil khusus yang seketika membuat dada Renata berdesir hebat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Renata merogoh benda persegi tersebut, mel
Pintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Renata beradu kontras dengan hawa panas yang mendidih dari tubuh Daniel."D-Daniel... ada kaca di sini," desah Renata tercekat, matanya membelalak menatap pantulan tubuh mereka berdua di dalam cermin."Bagus," bisik Daniel parau di leher Renata, jemari tegapnya merayap tangkas membuka kancing kemeja kerja Renata satu per satu."Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku, Renata."Tanpa menanggalkan seluruh pakaiannya, Daniel menyingkap rok kerja Renata hingga menumpuk di pingga
Pesan singkat terenkripsi itu bergetar halus di dalam saku seragam administrasi Renata, memutus ketenangan rapuh yang baru saja dibangun Widya di sampingnya.Dengan jemari dingin yang sedikit bergetar, Renata merogoh ponselnya di bawah kolong meja, membaca sederet kalimat pendek tanpa nama pengirim yang ia hafal luar kepala:“Ke ruang kerjaku sekarang. Lewat koridor VIP belakang.”Renata menelan ludah kaku. Ia menoleh perlahan ke arah Widya yang sedang sibuk mengetik di komputer bangsal."Wid, aku... aku harus menyerahkan berkas revisi inventaris ini ke lantai atas sebentar," cicit Renata, menyusun alasan sehalus mungkin.Widya menghentikan jemarinya, lalu menatap Renata dengan binar mata mendukung."Pergilah. Ingat pesanku tadi, Ren. Jangan kelihatan panik," bisiknya lembut sembari mengedipkan sebelah mata.Renata mengangguk pelan, meremas map tebal di dadanya lalu melangkah keluar dari ruang administrasi bangsal
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan administrasi bangsal yang sepi, Renata langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putar di balik meja komputer.Ia meletakkan tumpukan map itu secara sembarangan, lalu menyandarkan punggungnya dengan helaan napas yang terputus-putus.Pandangan mata Renata menatap kosong ke arah layar monitor yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata.Pikirannya melayang jauh, sama sekali tidak bisa difokuskan pada angka-angka dan data medis di hadapannya.Detektif swasta... rekaman CCTV hotel... lantai dua belas.Kata-kata Giselle beberapa saat lalu terus bergaung liar di dalam kepalanya bagaikan gema teror yang tak bertepi.Renata memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Bayangan bagaimana Daniel menuntunnya menyusuri lorong privat kamar nomor 1208 semalam melintas begitu nyata.Jika detektif
Napas Giselle memburu hebat, dadanya naik turun seiring dengan gelombang amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.Wajah cantiknya yang biasa dipoles dengan keanggunan palsu kini memerah padam, dipenuhi raut kesetanan atas sikap dingin dan kata-kata menohok yang baru saja dilontarkan oleh suaminya."Brengsek kamu, Daniel!" jerit Giselle tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu pikir kamu bisa berdiri di kursi Direktur Medis ini tanpa sokongan dari keluargaku dan restu dari Paman Harry?!"Daniel tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.Pria tegap itu tetap duduk bersandar dengan tenang, menatap Giselle yang sedang meledak-ledak di hadapannya bagaikan menyaksikan pertunjukan teater yang menjengkelkan.Pandangan matanya yang tajam dan pekat sama sekali tak memancarkan rasa takut, rasa bersalah, apalagi penyesalan.Sikap tak tergerak dari Daniel justru kian menyu







