LOGIN"Sampai kapan kalian akan membuatku menunggu?"
Pertanyaan bernada berat dan berwibawa dari Rommy Gideon langsung menghentikan denting sendok di atas piring.
Sesi makan malam formal di kediaman utama keluarga Gideon mendadak hening. Sebagai tetua sekaligus pendiri jaringan Rumah Sakit Gideon, titah Rommy adalah hukum.
Pandangan tajam Rommy tertuju lurus pada Daniel. "Daniel. kamu sudah satu tahun menikah dengan Giselle. Kenapa belum ada tanda-tanda? Apa kamu terlalu sibuk di ruang operasi sampai lupa kewajibanmu di rumah?"
Giselle yang duduk di samping Daniel segera meletakkan sendoknya. Wajah anggunnya siang tadi mendadak berubah drastis. Dengan rapi, ia memasang raut wajah murung, matanya berkaca-kaca menatap Rommy.
"Maafkan kami, Kakek," ucap Giselle dengan suara bergetar yang dibuat-buat, jemarinya bergerak menyentuh lengan Daniel.
"Kami sudah berkonsultasi ke dokter spesialis. Hasilnya... kesuburan Daniel yang agak kurang. Jadi, kami harus berusaha lebih ekstra dan membutuhkan waktu."
Mendengar itu, Renata refleks menahan napas. Tuduhan itu luar biasa sensitif bagi harga diri seorang pria, terlebih Daniel adalah Direktur Medis. Renata melirik Daniel, bersiap melihat sepupu suaminya itu murka.
Namun, Daniel justru bersikap sangat tenang. Pria itu hanya mengunyah potongan dagingnya tanpa minat, seolah kebohongan istrinya hanyalah angin lalu yang tidak berhak mengusik ketenangannya.
"Dokter juga manusia, Kakek. Ada hal yang tidak bisa dipaksakan medis," ujar Daniel datar, sembari menutup pembahasan tentang dirinya dengan efisien.
"Kurang subur? Oh, astaga, sayang sekali," Helena tiba-tiba menyambar. Ibu mertua Renata itu lantas tersenyum puas, lalu melirik Giselle dengan pandangan kemenangan yang tersamarkan.
Helena kemudian menepuk pundak Adrian yang duduk di sebelah Renata. "Kalau soal penerus, Kakek tidak perlu cemas. Adrian dan Renata sedang berusaha sangat keras akhir-akhir ini. Benar kan, Adrian?"
Adrian hanya bergumam malas sambil mengangguk formal.
"Keluarga kami tidak punya masalah genetika seperti itu. Adrian sangat sehat," lanjut Helena dengan nada sombong. "Aku pastikan, dalam satu atau dua bulan lagi, Renata akan hamil dan memberikan cicit untuk Kakek!"
Mendengar klaim gila itu, Renata tidak lagi menunduk pasrah seperti biasanya. Ia mendongakkan kepala, menatap mertuanya dengan tatapan tidak percaya yang berusaha ia sembunyikan. Jantungnya berdegup kencang dibakar rasa panik yang realistis.
Logikanya berputar cepat; bagaimana bisa ia hamil jika Adrian bahkan enggan menyentuh ujung kukunya?
Perkataan Helena barusan justru mempercepat lonceng kematian bagi pasokan obat ayahnya jika dalam dua bulan ia gagal menunjukkan hasil.
Di tengah ketegangan yang merayapi Renata, Daniel tiba-tiba meletakkan serbetnya ke meja. Gerakannya begitu tenang dan presisi, menarik perhatian semua orang di ruangan tanpa perlu bersuara.
"Bicara soal Renata," suara bariton Daniel memecah keheningan.
Mata elangnya beralih, mengunci pandangan tepat pada manik mata Renata yang bergetar. "Asisten pribadi medisku baru saja mengajukan resign sore tadi karena mau menikah. Posisi itu kosong."
Suasana ruang makan kembali riuh saat arah pembicaraan mendadak berubah.
"Aku perhatikan rekam medis pasien di bawah tanggung jawab Renata di bangsal selalu rapi dan tanpa cacat. Kurasa dia kompeten untuk mengisi posisi asisten pribadiku," lanjut Daniel.
Sontak, tawa Adrian pecah, disusul oleh kekehan merendahkan dari Helena dan Giselle.
"Menjadikan Renata asisten pribadimu?" Adrian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tawa mengejek. "kamu sedang mengigau atau apa, Daniel? Seleramu dalam memilih pekerja ternyata serendah itu?"
"Benar, Daniel. kamu ini Direktur Medis," timpal Giselle dengan senyum sinis. "Jangan membuat malu dengan membawa perawat biasa yang tidak tahu apa-apa tentang manajemen elit ke ruanganmu."
Cemoohan itu mendominasi meja makan. Namun, kali ini Renata tidak membiarkan dirinya terlihat menyedihkan dengan menangis. Ia meremas roknya di bawah meja, menahan emosinya.
Sebagai perawat yang meniti karier dari bawah dengan hasil kerja kerasnya sendiri, dituduh tidak kompeten hanya karena status sosialnya membuat harga diri Renata terusik. Ia ingin membantah, tetapi posisinya terlalu lemah di hadapan keluarga ini.
Namun, Daniel dengan pembawannya yang tenang dan dingin tak menanggapi ocehan keluarganya itu.
Pria itu hanya menegakkan tubuhnya dan menyandarkan punggung pada kursi, namun aura dominan yang memancar dari tubuh tegapnya seketika membungkam gelak tawa di ruangan itu.
Ruang makan mendadak mencekam hanya karena perubahan tatapan Daniel yang berubah sedingin es.
"Aku tidak sedang meminta pendapat kalian," tegas Daniel.
Suaranya tidak tinggi, namun berat dan sarat akan otoritas mutlak yang tidak mengizinkan adanya bantahan. Ketampanannya yang tegas terlihat begitu mengintimidasi di bawah lampu kristal ruang makan.
Daniel melirik Rommy yang hanya diam mengamati dengan ketertarikan tinggi, lalu tatapannya kembali jatuh pada Renata yang kini menatapnya lurus.
"Sambil menunggu dia hamil seperti yang Bibi katakan tadi, daripada jadwal shift-nya di bangsal berantakan dan mengganggu kondisi fisiknya, aku yang akan bertanggung jawab penuh atas pekerjaannya. Renata akan menjadi asisten pribadiku..."
Daniel menggantung kalimatnya sejenak, tengah memberikan penekanan yang mengunci keputusan. "...mulai besok pagi."
Pintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Renata beradu kontras dengan hawa panas yang mendidih dari tubuh Daniel."D-Daniel... ada kaca di sini," desah Renata tercekat, matanya membelalak menatap pantulan tubuh mereka berdua di dalam cermin."Bagus," bisik Daniel parau di leher Renata, jemari tegapnya merayap tangkas membuka kancing kemeja kerja Renata satu per satu."Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku, Renata."Tanpa menanggalkan seluruh pakaiannya, Daniel menyingkap rok kerja Renata hingga menumpuk di pingga
Pesan singkat terenkripsi itu bergetar halus di dalam saku seragam administrasi Renata, memutus ketenangan rapuh yang baru saja dibangun Widya di sampingnya.Dengan jemari dingin yang sedikit bergetar, Renata merogoh ponselnya di bawah kolong meja, membaca sederet kalimat pendek tanpa nama pengirim yang ia hafal luar kepala:“Ke ruang kerjaku sekarang. Lewat koridor VIP belakang.”Renata menelan ludah kaku. Ia menoleh perlahan ke arah Widya yang sedang sibuk mengetik di komputer bangsal."Wid, aku... aku harus menyerahkan berkas revisi inventaris ini ke lantai atas sebentar," cicit Renata, menyusun alasan sehalus mungkin.Widya menghentikan jemarinya, lalu menatap Renata dengan binar mata mendukung."Pergilah. Ingat pesanku tadi, Ren. Jangan kelihatan panik," bisiknya lembut sembari mengedipkan sebelah mata.Renata mengangguk pelan, meremas map tebal di dadanya lalu melangkah keluar dari ruang administrasi bangsal
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan administrasi bangsal yang sepi, Renata langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putar di balik meja komputer.Ia meletakkan tumpukan map itu secara sembarangan, lalu menyandarkan punggungnya dengan helaan napas yang terputus-putus.Pandangan mata Renata menatap kosong ke arah layar monitor yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata.Pikirannya melayang jauh, sama sekali tidak bisa difokuskan pada angka-angka dan data medis di hadapannya.Detektif swasta... rekaman CCTV hotel... lantai dua belas.Kata-kata Giselle beberapa saat lalu terus bergaung liar di dalam kepalanya bagaikan gema teror yang tak bertepi.Renata memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Bayangan bagaimana Daniel menuntunnya menyusuri lorong privat kamar nomor 1208 semalam melintas begitu nyata.Jika detektif
Napas Giselle memburu hebat, dadanya naik turun seiring dengan gelombang amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.Wajah cantiknya yang biasa dipoles dengan keanggunan palsu kini memerah padam, dipenuhi raut kesetanan atas sikap dingin dan kata-kata menohok yang baru saja dilontarkan oleh suaminya."Brengsek kamu, Daniel!" jerit Giselle tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu pikir kamu bisa berdiri di kursi Direktur Medis ini tanpa sokongan dari keluargaku dan restu dari Paman Harry?!"Daniel tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.Pria tegap itu tetap duduk bersandar dengan tenang, menatap Giselle yang sedang meledak-ledak di hadapannya bagaikan menyaksikan pertunjukan teater yang menjengkelkan.Pandangan matanya yang tajam dan pekat sama sekali tak memancarkan rasa takut, rasa bersalah, apalagi penyesalan.Sikap tak tergerak dari Daniel justru kian menyu
Ketegangan di dalam ruang kerja administrasi kian menebal, membakar oksigen hingga terasa amat menghimpit dada.Giselle masih berdiri tegap di hadapan Daniel dengan mata membelalak penuh kemurkaan dan tuntutan, menanti jawaban atas tuduhan yang dilemparkannya.Daniel tak langsung merespons.Dengan ketenangan yang dingin mutlak, pria tegap itu memalingkan wajahnya perlahan, menoleh ke arah Renata yang duduk terpaku di balik meja kerja."Renata, tinggalkan ruangan ini sekarang," perintahkan Daniel dengan intonasi rendah yang berat dan tak tertolak."Bawa berkas pendataan pasien hari ini dan selesaikan tugasmu di area administrasi bangsal utama."Renata meremas sudut map di tangannya, merasakan debar jantungnya melonjak drastis.Ia menatap Daniel sebentar, menangkap pancaran mata pekat pria itu yang seolah berbisik menenangkannya.Tanpa berani menyela atau membuang waktu, Renata segera berdiri, merapikan tumpukan dokumen dengan jemari gemetaran, lalu melangkah cepat melewati Giselle.Pin
Ancaman dingin yang terlontar dari bibir Giselle membekukan seluruh udara di dalam ruangan kerja administrasi.Renata tetap bergeming di kursi kerjanya, menahan gemetar di jemarinya saat Giselle melangkah perlahan menuju jendela besar, menatap ke arah pelataran parkir rumah sakit dengan raut wajah penuh tuntutan egoistis."Aku akan memastikan wanita itu tahu diri," gumam Giselle lagi dengan nada suara pelan namun sarat dendam yang pekat."Dia hanya alat. Jika Daniel mengira bisa menyembunyikan ibu pengganti pilihan pribadinya dari aku, dia sangat salah besar."Dada Renata naik turun tak beraturan.Setiap kata yang keluar dari mulut Giselle rasanya bagaikan duri tajam yang menusuk tepat di ulu hatinya.Kepalanya mulai berdenyut nyeri, membayangkan skenario terburuk jika detektif swasta suruhan Giselle benar-benar menemukan rekaman CCTV atau jejak keberadaan mereka di hotel semalam."Giselle, dengarkan aku dulu..." sela Renata mencoba memecah dominasi emosi iparnya itu."Kamu harus berp







