แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Leona Valeska
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-06 14:54:34

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Dokter Daniel.”

Keesokan paginya, Renata mendatangi ruang kerja Direktur Medis. Ia harus membahas keputusan sepihak Daniel semalam sebelum rumor di rumah sakit ini menggelinding semakin liar.

Semalam, setelah makan malam yang menegangkan itu selesai, Daniel langsung pergi, tak memberi Renata celah untuk memprotes.

“Ada apa, Renata?” tanya Daniel tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen tebal di hadapannya. Jemarinya yang kokoh memegang pulpen, menorehkan tanda tangan dengan gerakan tegas dan efisien.

Renata menghela napas, mengumpulkan keberanian sebelum melangkah mendekati meja besar dari kayu jati tersebut. "Keputusanmu semalam... itu terlalu gegabah, Dokter.”

Mendengar kalimat itu, gerakan tangan Daniel terhenti. Ia meletakkan pulpennya tanpa suara, lalu bersandar pada kursi kebesarannya.

Sepasang mata elangnya menatap Renata, menciptakan tekanan tak kasatmata yang seketika membuat atmosfer ruangan terasa menyempit.

"Terlalu gegabah untuk apa?" tanyanya dengan nada rendah yang tenang, namun menuntut penjelasan.

"Untuk memindahkan aku ke sini," Renata menelan ludah, mencoba menstabilkan suaranya yang mendadak gugup di bawah tatapan itu.

"Semua yang dikatakan keluarga Anda semalam ada benarnya. Aku hanya perawat biasa. Aku tidak memiliki kualifikasi manajemen elit untuk menjadi asisten pribadi seorang Direktur Medis. Tindakan Dokter semalam hanya akan membuat mereka semakin menyudutkanku."

"Kamu pikir aku peduli dengan opini mereka?" sahut Daniel datar. Sudut bibirnya terangkat tipis, memancarkan kepercayaan diri mutlak dari pria yang tahu persis posisinya tidak akan bisa digoyang oleh siapa pun.

"Tapi aku yang menanggung konsekuensinya, Dokter!" seru Renata frustrasi, meski ia tetap menahan volumenya agar tidak terdengar hingga keluar pintu yang kedap suara.

Daniel melepas kacamata bacanya, meletakkannya di atas meja dengan ketukan pelan yang terdengar seperti ketukan palu sidang. Ia pun menegakkan tubuh dan menumpu kedua tangannya di atas meja, menatap Renata dengan intensitas yang pekat.

"Patuhi saja perintahku, Renata," ucap Daniel dengan nada suara yang berat dan penuh otoritas yang tidak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.

"Tugasmu di ruangan ini adalah mengatur jadwalku dan menyelesaikan tugas medis yang kuberikan. Lakukan bagianmu dengan profesional, maka aku jamin tidak akan ada satu orang pun di rumah sakit ini yang berani mengusikmu. Termasuk Helena."

Renata tersenyum miris, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya yang pucat. "Hidup dengan tenang? Bagaimana mungkin aku bisa tenang sementara aku hidup di bawah satu atap dengan keluarga yang memperlakukan rahimku seperti barang jaminan?"

Daniel terdiam sejenak. Matanya yang tajam menelisik jemari Renata yang bergetar hebat menahan emosi. Tatapannya kian menggelap, dipenuhi kalkulasi dingin khas seorang pria dominan.

"Kalau posisimu seberbahaya itu, kenapa kamu tidak penuhi saja keinginan mereka?" tanya Daniel kemudian.

Renata mengernyitkan dahi, tidak mengerti dengan arah pembicaraan pria di depannya. "Maksud Anda?"

Daniel melipat kedua tangannya di dada, pembawaannya begitu tenang seolah sedang memberikan solusi medis yang logis.

"Berikan saja anak untuk mereka. Bukankah Helena hanya meminta seorang cucu, dan Kakek meminta cicit? Berikan, dan amankan posisi ayahmu di bangsal rumah sakit ini secara permanen. Selesai."

Mendengar solusi yang terdengar begitu mudah namun kenyatannya mustahil itu, pertahanan Renata runtuh. Kepalanya menggeleng pelan, meratapi nasibnya yang terkunci di semua sisi.

"Memberikan anak?" cicit Renata dengan pandangan kosong dan getir.

"Adrian bahkan enggan menyentuhku seujung kuku pun sejak malam pertama kami. Dia jijik melihatku. Bagaimana mungkin aku bisa hamil jika suamiku sendiri tidak pernah sudi meniduriku?!"

Deg.

Keheningan seketika mencekik ruangan itu.

Kesadaran Renata kembali dengan sentakan hebat. Ia langsung mengangkat tangan kanan, membekap mulutnya sendiri dengan mata yang membola horor.

Jantungnya berdentum bertalu-talu. Ia baru saja lolos membongkar rahasia paling krusial dan memalukan dalam pernikahannya dengan Adrian, rahasia yang seharusnya ia bawa sampai mati demi keselamatan pengobatan ayahnya.

Di seberang meja, Daniel tidak lagi bersandar santai. Pria itu perlahan berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi tegap di balik jubah dokter putihnya mendadak memancarkan aura intimidasi yang luar biasa kuat. Kedua alisnya bertaut rapat, ekspresi datarnya berubah menjadi ketegangan yang pekat dan berbahaya.

Daniel berjalan memutari meja kerjanya yang luas. Setiap ketukan langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng peringatan bagi Renata.

Renata refleks mundur selangkah demi selangkah, namun Daniel terus maju hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Pria itu berdiri menjulang di depan Renata, mengurung wanita itu dengan dominasinya yang mutlak.

"Apa maksudmu, Renata?" tanya Daniel.

Suaranya kini lebih rendah dari sebelumnya, namun getaran kemarahan yang tertahan di dalamnya membuat bulu kuduk Renata berdiri.

Daniel menundukkan sedikit kepalanya, mengunci mata Renata dengan tatapan tajam yang menembus langsung ke dasar manik matanya.

"Adrian... tidak pernah menyentuhmu? Katakan sekali lagi."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 117

    Dinding berlapis panel kayu jati gelap dan ornamen keemasan di Private VIP Suite restoran Le Grand Palais memancarkan keanggunan yang menyesakkan.Bau harum hidangan berkelas dan aroma anggur mahal bercampur dengan ketegangan pekat yang menyelimuti seluruh ruangan.Di ujung kepala meja makan oval raksasa itu, duduk sosok Rommy Gideon.Wajah tua Rommy dipenuhi garis-garis tegas dengan mata elang yang masih berkilat tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang jauh lebih mengintimidasi daripada Harry atau Anton.Di sisi kanannya duduk Anton bersama Helena, sementara di sisi kirinya ada Harry yang duduk tegak dengan raut dingin.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara tanpa dipancing terlebih dahulu. Seluruh jajaran keluarga tampak begitu segan, menata setiap kata dan gestur tubuh mereka dengan kehati-hatian tingkat tinggi.Renata duduk kaku di kursinya, berada di sebelah suaminya, Adrian.Tepat di seberang meja, Daniel duduk bersanding dengan Giselle yang mengenakan gaun malam

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 116

    Pencahayaan redup di dalam rest room pribadi Direktur Medis baru saja kembali tenang saat Renata selesai merapikan helai demi helai pakaian kerjanya.Tubuhnya masih terasa begitu lelah, pegal, dan agak lengket di beberapa bagian, sisa dari pergulatan panas dan gairah brutal bersama Daniel di atas sofa kulit beberapa saat lalu.Setiap kali ia melangkah, sensasi hangat yang pekat di kedalaman rahimnya seolah terus berdenyut, mengingatkan bahwa cairan biologis milik Daniel masih tersimpan rapi di dalam tubuhnya.Renata berdiri di depan cermin raksasa yang kini agak berembun, memoleskan bedak tipis untuk menutupi rona merah di pipinya serta merapikan tatanan rambutnya yang sempat berantakan.Bzzzt... Bzzzt...Ponsel kerja Renata yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.Getaran panjang itu memutus keheningan ruangan dengan denting nada panggil khusus yang seketika membuat dada Renata berdesir hebat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Renata merogoh benda persegi tersebut, mel

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 115

    Pintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Renata beradu kontras dengan hawa panas yang mendidih dari tubuh Daniel."D-Daniel... ada kaca di sini," desah Renata tercekat, matanya membelalak menatap pantulan tubuh mereka berdua di dalam cermin."Bagus," bisik Daniel parau di leher Renata, jemari tegapnya merayap tangkas membuka kancing kemeja kerja Renata satu per satu."Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku, Renata."Tanpa menanggalkan seluruh pakaiannya, Daniel menyingkap rok kerja Renata hingga menumpuk di pingga

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 114

    Pesan singkat terenkripsi itu bergetar halus di dalam saku seragam administrasi Renata, memutus ketenangan rapuh yang baru saja dibangun Widya di sampingnya.Dengan jemari dingin yang sedikit bergetar, Renata merogoh ponselnya di bawah kolong meja, membaca sederet kalimat pendek tanpa nama pengirim yang ia hafal luar kepala:“Ke ruang kerjaku sekarang. Lewat koridor VIP belakang.”Renata menelan ludah kaku. Ia menoleh perlahan ke arah Widya yang sedang sibuk mengetik di komputer bangsal."Wid, aku... aku harus menyerahkan berkas revisi inventaris ini ke lantai atas sebentar," cicit Renata, menyusun alasan sehalus mungkin.Widya menghentikan jemarinya, lalu menatap Renata dengan binar mata mendukung."Pergilah. Ingat pesanku tadi, Ren. Jangan kelihatan panik," bisiknya lembut sembari mengedipkan sebelah mata.Renata mengangguk pelan, meremas map tebal di dadanya lalu melangkah keluar dari ruang administrasi bangsal

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 113

    Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan administrasi bangsal yang sepi, Renata langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putar di balik meja komputer.Ia meletakkan tumpukan map itu secara sembarangan, lalu menyandarkan punggungnya dengan helaan napas yang terputus-putus.Pandangan mata Renata menatap kosong ke arah layar monitor yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata.Pikirannya melayang jauh, sama sekali tidak bisa difokuskan pada angka-angka dan data medis di hadapannya.Detektif swasta... rekaman CCTV hotel... lantai dua belas.Kata-kata Giselle beberapa saat lalu terus bergaung liar di dalam kepalanya bagaikan gema teror yang tak bertepi.Renata memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Bayangan bagaimana Daniel menuntunnya menyusuri lorong privat kamar nomor 1208 semalam melintas begitu nyata.Jika detektif

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 112

    Napas Giselle memburu hebat, dadanya naik turun seiring dengan gelombang amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.Wajah cantiknya yang biasa dipoles dengan keanggunan palsu kini memerah padam, dipenuhi raut kesetanan atas sikap dingin dan kata-kata menohok yang baru saja dilontarkan oleh suaminya."Brengsek kamu, Daniel!" jerit Giselle tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu pikir kamu bisa berdiri di kursi Direktur Medis ini tanpa sokongan dari keluargaku dan restu dari Paman Harry?!"Daniel tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.Pria tegap itu tetap duduk bersandar dengan tenang, menatap Giselle yang sedang meledak-ledak di hadapannya bagaikan menyaksikan pertunjukan teater yang menjengkelkan.Pandangan matanya yang tajam dan pekat sama sekali tak memancarkan rasa takut, rasa bersalah, apalagi penyesalan.Sikap tak tergerak dari Daniel justru kian menyu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status